NovelToon NovelToon
Murim'S Engineer

Murim'S Engineer

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Time Travel / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Seorang insinyur muda cerdas mati dan transmigrasi ke dunia murim.ingin membuktikan jika ilmu pemgetahuan mampu mengalahkan seni bela diri murim

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Musim Panas Setelah Perang

Tiga bulan setelah perang.

Markas Klan Gong perlahan pulih dari luka-lukanya. Bekas-bekas pertempuran masih terlihat di mana-mana—tembok yang berlubang, rumah yang hangus, tanah yang menghitam oleh darah. Tapi di sela-sela kehancuran itu, tunas-tunas baru mulai tumbuh.

Aku duduk di beranda paviliun, menggendong Hyun yang sudah mulai bisa tengkurap sendiri. Dia kuat, bayi itu. Lahir di tengah perang, nyaris mati karena demam, tapi sekarang matanya penuh rasa ingin tahu, menatap dunia dengan takjub.

Hyerin duduk di sampingku, menjahit baju kecil untuknya. Tangannya yang biasa memegang pedang kini terampil memegang jarum. Wajahnya lebih tenang sekarang—beban dendam sudah lepas, meskipun luka di hati pasti masih ada.

"Oppa, Jin-wook mau bicara denganmu."

Aku menoleh. "Tentang apa?"

"Dia bilang ada perkembangan di selatan."

---

Jin-wook duduk di ruang kerjaku dengan wajah serius.

Dalam tiga bulan, pemuda ini tumbuh pesat. Dari seorang perantau yang baru pulang, kini dia jadi andalan utama Klan Gong. Panglima perang, kata orang-orang. Tapi dia tetap rendah hati.

"Klan Selatan hancur," laporannya. "Tanpa pemimpin, pasukan mereka tercerai-berai. Beberapa faksi saling berebut kekuasaan. Yang lain melarikan diri jadi bandit."

"Bandit?"

"Iya. Kelompok-kelompok kecil yang merampok desa-desa di perbatasan. Mereka berbahaya, tapi bukan ancaman besar."

Aku mengangguk. "Bagus. Tapi kita tetap harus waspada. Binatang terluka paling berbahaya."

"Setuju. Aku sudah perkuat patroli di perbatasan."

---

Setelah Jin-wook pergi, aku merenung.

Perang ini sudah usai, tapi bukan berarti semuanya selesai. Klan Selatan mungkin hancur, tapi klan lain akan melihat kita dengan cara baru—sebagai kekuatan yang harus diperhitungkan. Atau sebagai ancaman yang harus dihancurkan.

Aku harus membangun lebih dari sekadar benteng. Aku harus membangun sistem yang bisa bertahan lama.

---

Hari-hari berikutnya kuhabiskan untuk merancang masa depan.

Pertama: pendidikan. Akademi Jin terus berkembang. Sekarang tidak hanya anak-anak, tapi juga orang dewasa yang ingin belajar baca tulis. Beberapa bahkan tertarik pada sains—mereka ingin tahu bagaimana mesiu bekerja, bagaimana meriam dibuat.

Kedua: ekonomi. Dengan bantuan Song Hwa, kami mulai memproduksi barang-barang untuk dijual ke klan lain. Bukan senjata—itu terlalu berbahaya—tapi alat pertanian, peralatan dapur, dan barang-barang logam lainnya. Kualitasnya lebih baik dari produksi lokal, jadi laris manis.

Ketiga: diplomasi. Jin-wook dan Hyerin bergantian mengirim utusan ke klan-klan tetangga. Bukan untuk meminta bantuan, tapi untuk menawarkan kerja sama. Perlahan, dukungan mulai datang.

---

Suatu sore, Hyerin bertanya.

"Oppa, apa kau bahagia?"

Pertanyaan yang sama seperti dulu, tapi sekarang konteksnya berbeda.

Aku menatapnya. "Bahagia? Aku tidak tahu. Tapi aku... puas. Dengan apa yang kita capai. Dengan apa yang kita bangun."

Dia tersenyum. "Aku juga. Meskipun kadang masih sedih kalau ingat ayah dan paman."

"Itu wajar. Mereka akan selalu ada di hati kita."

Dia meraih tanganku. "Oppa, aku hamil lagi."

Dunia berhenti.

"Apa?"

"Aku hamil. Dua bulan."

Aku menatap perutnya yang masih datar. Lalu menatap Hyun yang tertidur di buaian. Lalu kembali ke Hyerin.

"Kau... kau yakin?"

Tabib sudah periksa. Katanya sehat."

Aku tertawa. Tawa pertama dalam berbulan-bulan. Tawa bahagia.

"KITA PUNYA ANAK LAGI!"

Hyerin tertawa, meskipun matanya berkaca-kaca. "Oppa, kau teriak."

"BIARLAH! INI KABAR BAHAGIA!"

---

Malam itu, kami berpesta kecil di paviliun.

Hanya keluarga dan sahabat terdekat. Jin-wook, Song Hwa, Baek Dongsu, dan beberapa yang lain. Makan sederhana, arak buatan sendiri, dan banyak tawa.

Song Hwa, yang lukanya sudah sembuh, mengangkat gelas. "Untuk Tuan dan Nona! Semoga anak kedua sehat dan kuat!"

"Untuk Hyun! Untuk bayi baru!" sambut Baek Dongsu dengan mata satu yang berbinar.

Aku minum, meskipun tidak biasa. Rasanya hangat di tenggorokan, hangat di hati.

Hyerin di sampingku, menggendong Hyun. Bayi itu ikut tertawa melihat keramaian, meskipun tidak tahu apa-apa.

Di luar, bintang-bintang bersinar terang.

---

Tapi di tengah kebahagiaan, selalu ada bayangan.

Tiga minggu kemudian, surat dari utara datang lagi. Kali ini, bukan dari Dae-ho, tapi dari ajudannya.

"Jin Tae-kyung,

Maaf mengabarkan berita duka. Patriark Kang Dae-ho gugur dalam pertempuran melawan faksi konservatif. Mereka menyerangnya saat dia sedang memimpin pasukan ke perbatasan. Meskipun menang, dia terluka parah dan meninggal tiga hari kemudian.

Sebelum meninggal, dia berpesan: 'Katakan pada saudaraku di selatan, jangan sedih. Aku sudah hidup dengan cara yang kuinginkan. Jaga cincin itu. Dan jaga keluarganya.'

Salam duka,

Ajudan Park"

---

Surat itu jatuh dari tanganku.

Dae-ho... mati.

Saudaraku. Satu-satunya pria di dunia ini yang kupanggil saudara.

Hyerin mengambil surat itu, membacanya. Wajahnya pucat.

"Oppa..."

Aku diam. Tidak bisa bicara.

Di dalam, ada yang hancur. Tapi di luar, aku harus kuat.

---

Malam itu, aku duduk sendirian di bukit belakang.

Bulan purnama bersinar, sama seperti malam pertama aku dan Dae-ho bertemu di kedai teh. Waktu itu dia menawariku kerja sama, tapi berakhir jadi persahabatan.

Sekarang dia pergi.

Aku meraba cincin giok di jariku. Cincin pemberiannya. "Tanda persahabatan," katanya dulu.

Maaf, Dae-ho. Aku tidak bisa membantumu.

Tapi aku akan jaga warisanmu. Aku akan jaga klanmu, kalau suatu hari mereka butuh.

Janji.

---

Pemakaman Dae-ho diadakan di Utara, tapi aku tidak bisa datang. Perjalanan terlalu jauh, dan Hyerin hamil. Tapi aku mengirim utusan dengan surat panjang dan cincin itu—sebagai tanda penghormatan terakhir.

Beberapa minggu kemudian, kabar dari Utara: faksi konservatif sudah ditumpas. Klan Utara sekarang dipimpin oleh adik Dae-ho, seorang pemuda berusia dua puluh tahun. Dia mengirim surat padaku, meminta bimbingan.

Aku membalas dengan satu pesan: "Jaga klanmu. Jaga rakyatmu. Dan jangan lupa, kakakmu adalah saudaraku. Kalau kau butuh bantuan, aku akan datang."

---

Musim panas berlalu. Musim gugur tiba.

Daun-daun menguning berguguran. Hyun mulai merangkak. Perut Hyerin semakin membesar.

Aku menghabiskan waktu lebih banyak di rumah. Mengajar Hyun hal-hal sederhana—meskipun dia belum ngerti. Membacakan cerita untuknya. Menemaninya tidur.

Hyerin kadang menggoda, "Oppa, kau seperti nenek-nenek."

Aku tertawa. "Aku hanya tidak mau kehilangan waktu. Dulu, di duniaku, aku terlalu sibuk bekerja sampai lupa hidup. Sekarang, aku ingin menikmati setiap detik."

Dia tersenyum, lalu meringis.

"Kontraksi?"

"Palsu. Sudah biasa."

---

Hari kelahiran anak kedua tiba di tengah musim dingin.

Salju turun lebat di luar, tapi di dalam paviliun, kehangatan menyelimuti. Hyerin berteriak, para tabib sibuk, dan aku mondar-mandir di luar seperti terakhir kali.

Kali ini, prosesnya lebih cepat.

Dalam tiga jam, tangis bayi terdengar.

Seorang tabib keluar dengan senyum lebar. "Selamat, Tuan! Bayi perempuan, sehat!"

Aku masuk. Hyerin terbaring lemas, tapi tersenyum. Di dadanya, bayi mungil berambut hitam menangis keras.

"Oppa... lihat... anak kita..."

Aku mendekat, menatap wajah mungil itu.

"Jin Bi," bisikku. "Selamat datang, Putri Kecil."

---

Malam itu, dengan bayi di gendongan dan Hyun tidur di samping, aku merenung.

Dua anak. Istri yang setia. Klan yang mulai bangkit. Sahabat yang telah pergi.

Hidup ini campur aduk—suka dan duka silih berganti. Tapi di sinilah aku. Bertahan. Melanjutkan.

Di luar, salju terus turun, menutupi dunia dengan putih bersih. Seperti awal baru.

Aku mencium kening Hyerin, lalu kening Jin Bi.

"Terima kasih," bisikku pada takdir. "Terima kasih telah memberiku keluarga ini."

---

[Bersambung ke Bab 31]

1
Q. Zlatan Ibrahim
terimakasi atas semangatnya
SR07
semangat updatenya bro
.
halo semua.. saya pembaca baru 👋😊
Q. Zlatan Ibrahim: terimakasih atas dukunganya
total 1 replies
SR07
ayo semangat updatenya 💪
SR07
lanjut bro
Q. Zlatan Ibrahim: terima kasih...masih harus banyak belajar
total 5 replies
Mika Dion
mantap Thor isi babnya panjang lain dari yg lain
Q. Zlatan Ibrahim: siap om mika
total 2 replies
Mika Dion
masih sepi...mungkin Krn masih baru y
Mika Dion
mampir thor
Nona Dalla
ini yang aku tunggu" sejak tadii 😄🤣
Kang Nyimak
semangat teruss
Kang Nyimak
SENI ADALAH LEDAKAN
Q. Zlatan Ibrahim: mencoba memadukan sains ditengah dunia bela diri
total 2 replies
Kang Nyimak
sebagus ini sepi?, serius?
Q. Zlatan Ibrahim: mkasih bang..masih belajar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!