Namaku Aluna Putri Sagara, panggil saja Aluna. Aku memiliki keluarga yang sangat bahagia. Ayahku seorang PNS dan ibuku memiliki usaha jahit yang cukup terkenal di Semarang. Aku sendiri adalah seorang honorer di sekolah dasar. Aku mempunyai kakak laki-laki bernama Sultan, dia bekerja sebagai PNS seperti ayah di instansi yang sama. Aku juga memiliki Adik perempuan yang bernama Alika yang saat ini masih sekolah. Namun, hidupku berubah drastis ketika ayah meninggal dunia.Langit seolah runtuh dan kebahagiaan yang kami dapat selama ini ikut hilang bersama dengan Ayah. Ibu sakit-sakitan, Kak Sultan dan istrinya Mbak Nisa mulai berubah dan menjauh, Alika yang butuh biaya untuk kuliah nanti.
Begitu banyak beban yang aku tanggung setelah Ayah tiada. Awalnya aku kerja sebagai guru honorer kini banting setir menjadi Wanita Panggilan seorang CEO pemilik klub tempatku bekerja.Marko Bumi Ferdinand. Nama itu adalah pemilik diriku sekarang. Dia butuh anak untuk mewarisi perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HANCURNYA CEMARA
Cinta itu semula berjalan indah. Selama empat tahun, Marwan adalah bagian dari hidupku yang tidak terpisahkan. Ia selalu ada di sisiku, mendukung, menenangkan, bahkan menjadi penyemangat saat aku merasa lelah bekerja sebagai guru honorer. Bersamanya, aku merasa masa depan bukanlah sesuatu yang menakutkan. Ia sering mengantarku pulang naik motor atau mobilnya, meski ia berasal dari keluarga kaya ia tak pernah sombong kepadaku atau keluargaku.
Kami pernah bermimpi membangun rumah kecil dengan halaman penuh bunga dan punya dua anak yang ceria. Aku membayangkan mengenakan gaun pengantin sederhana, sementara Marwan menatapku dari ujung pelaminan dengan senyum penuh cinta. Semua terasa mungkin kala itu.
Namun, kisah cinta kami ternyata tak semulus yang kukira. Keluarganya, keluarga terpandang dengan latar belakang mapan, semua berprofesi sebagai PNS, ditambah usaha-usaha yang tersebar di beberapa kota, tidak pernah benar-benar menerima kehadiranku.
Aku hanyalah anak seorang penjahit dan pegawai negeri biasa. Menurut mereka, aku tidak sepadan. “Wan, kau anak lelaki satu-satunya. Kau harus mencari pasangan yang bisa membawa nama baik keluarga. Bukan gadis yang bahkan gajinya saja hanya sekadar guru honorer.” begitu ucapan ibunya yang pernah kudengar dari balik telepon.
Marwan memang membelaku. Ia berkata, “Luna, aku enggak peduli. Aku mencintaimu. Kita sudah bersama selama ini, kan?” Tapi aku bisa merasakan tekanan besar di balik kata-katanya. Ada kelelahan di matanya setiap kali harus berdebat dengan keluarganya soal aku.
**
Akhirnya, keluarganya mengambil langkah yang tak pernah kuduga. Marwan dikirim ke Jakarta, katanya untuk meniti karier yang lebih baik. Aku tahu, alasan sebenarnya bukan hanya itu, mereka ingin menjauhkan Marwan dariku.
Hari kepergiannya adalah salah satu hari paling berat. Stasiun penuh sesak dengan penumpang, namun aku merasa hanya ada aku dan Marwan di tengah keramaian itu. Ia menggenggam tanganku erat, jemarinya dingin namun enggan melepaskan.
“Luna, tunggu aku. Aku akan kembali." katanya, suaranya bergetar menahan tangis.
Aku mengangguk, berusaha percaya. “Aku akan menunggu.” Hatiku merintih, tapi aku berusaha menahan air mata agar tidak jatuh di depannya.
Kereta melaju, meninggalkan aku yang berdiri dengan dada sesak. Suara peluit kondektur masih terngiang lama, bersamaan dengan rasa kehilangan yang menyakitkan. Aku tak pernah tahu bahwa janji itu hanyalah kata-kata kosong yang takkan pernah ditepati.
**
Awalnya, Marwan masih menghubungiku. Pesan singkat, panggilan di malam hari, cerita tentang pekerjaannya di kota besar. Namun perlahan, semuanya berkurang. Hingga suatu hari, aku tak bisa lagi menghubunginya sama sekali.
Nomorku diblokir. Semua media sosialku ia hapus dari daftar pertemanan. Seperti orang asing, aku terbuang dari kehidupannya.
Aku mencoba mencari penjelasan. Kukirim email, pesan lewat teman-teman lama, bahkan kucoba menghubungi keluarganya. Namun tak ada jawaban. Semuanya seperti tembok dingin yang tak tertembus. Malam-malamku penuh tangis, menatap layar ponsel yang sepi, menunggu notifikasi yang tak pernah datang.
Rasanya seperti ditikam tanpa diberi kesempatan bertanya. Aku patah hati, benar-benar hancur. Selama hampir satu tahun, aku hidup dalam bayang-bayang kehilangan. Aku berusaha tegar di depan keluarga, tersenyum seolah baik-baik saja, tapi malam-malamku selalu penuh air mata. Aku gagal move on. Aku bahkan masih menyimpan jaketnya, mencium aroma parfum yang perlahan pudar seiring waktu.
**
Belum selesai aku merajut luka, sebuah kabar buruk datang. Ayah jatuh sakit mendadak. Kami sekeluarga panik, membawanya ke rumah sakit, berdoa siang malam. Suara monitor detak jantung menemani setiap malamku di ruang rawat. Namun takdir berkata lain.
Ayah menghembuskan napas terakhirnya di suatu sore yang muram. Dunia seperti runtuh seketika. Aku merasa separuh jiwaku tercabut. Ayah adalah tiang keluarga, cahaya yang menuntun langkah kami. Tanpanya, rumah Cemara kami terasa gelap dan hampa.
Ibu tak sanggup menahan duka. Sejak saat itu, tubuhnya sering sakit-sakitan. Usaha jahitnya yang dulu ramai kini bangkrut. Mesin jahit yang dulu berdenting ceria hanya terdiam di sudut rumah, berdebu, seolah meratap bersama kami. Pelanggan yang dulu antre kini satu per satu hilang.
Ekonomi keluarga merosot drastis. Kami hanya bertahan dari tabungan peninggalan Ayah, yang semakin hari semakin menipis.
**
Di tengah keterpurukan, Alika lulus sekolah. Ia berkata dengan suara bergetar, “Kak, aku enggak usah kuliah. Aku kasihan sama Ibu dan Kakak.”
Aku menatapnya, hatiku pedih. “Jangan bilang begitu, Dik. Kamu harus kuliah. Biar aku yang pikirkan soal biaya.” Aku ingin ia mendapatkan masa depan yang lebih baik dariku.
Meski berat, aku bertekad. Masa depan adikku tak boleh berhenti hanya karena keadaan. Alhamdulillah, kecerdasan Alika membuka jalan. Ia lulus SNPTN di salah satu universitas ternama di provinsi seberang. Ia juga mendapat beasiswa penuh selama delapan semester.
Namun tetap saja, biaya kost, buku Mdan uang jajan menjadi tanggung jawabku. Aku tak mengeluh, tapi setiap malam aku berdoa agar Allah memberi kekuatan. Aku rela mengorbankan semua demi melihat adikku terus belajar.
**
Aku berhenti mengajar karena gajinya kecil dan dibayarkan tiap tiga bulan sekali, tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Aku mencoba pekerjaan lain.
Pertama, aku diterima di perusahaan distributor. Hanya enam bulan aku bertahan, kontrakku tak diperpanjang. Katanya perusahaan sedang efisiensi. Aku pulang dengan wajah lesu, memeluk Ibu yang juga menangis.
Lalu aku bekerja di perusahaan F&B, sebagai admin. Dua tahun lamanya aku berusaha keras, meski gajinya pas-pasan. Namun nasib kembali kejam. Karena fitnah dari rekan kerja dan bahkan atasanku sendiri, aku dipecat tanpa alasan yang adil. Hari itu aku menangis sejadi-jadinya di kamar mandi kantor sebelum mengemasi barang-barangku.
Sejak itu, aku menganggur selama satu tahun. Satu tahun penuh penderitaan. Setiap pagi aku bangun dengan rasa hampa, lalu memaksa diriku duduk di depan laptop untuk mencari lowongan. Kadang aku keluar rumah membawa map berisi CV, berjalan di bawah terik matahari menuju perusahaan-perusahaan. Berkali-kali aku mengikuti wawancara, tapi tak pernah ada panggilan lanjutan. Pulang dengan wajah penuh debu dan langkah gontai sudah menjadi rutinitasku.
**
Dalam keputusasaan, aku hanya punya Anti, sahabatku sejak honor dulu. Kami sering bertemu di coffe shop langganan kami sejak dulu atau sekadar berbincang lewat telepon di malam hari.
“Luna, aku tahu ini berat. Tapi kamu kuat. Allah enggak akan kasih ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya.”kata Anti suatu malam. Suaranya lembut, seperti selimut yang menenangkan.
Aku menangis. “Aku capek, Ti. Rasanya semua orang ninggalin aku. Marwan pergi, Ayah meninggal, Ibu sakit, kerjaan enggak ada. Aku harus apa?”
Anti tak banyak memberi solusi, tapi kehadirannya membuatku merasa tidak sendirian. Kadang ia membelikanku roti, sekadar berkata “Makan dulu, jangan kosong perutmu.”
**
Hari-hariku penuh dengan layar ponsel, membuka sosial media hanya untuk mencari lowongan kerja. Setiap kali ada pengumuman, aku bergegas melamar. Kadang harus keluar di bawah terik matahari, menempuh perjalanan jauh untuk wawancara, hanya untuk pulang dengan wajah lesu karena ditolak.
Sementara itu, kebutuhan rumah terus berjalan. Ibu butuh obat-obatan. Alika butuh biaya kuliah, kost dan makan. Kadang aku harus menggadaikan barang kecil, hanya agar bisa bertahan satu minggu lagi.
Yang membuatku semakin sakit hati, Sultan. Kakakku tak pernah benar-benar membantu. Sejak Ayah meninggal, ia tidak pernah memberi nafkah pada Ibu, tidak ikut membiayai Alika.
Yang ada, ia malah sering datang hanya untuk berutang. “Lun, pinjem dulu sejuta. Nanti aku balikin.” katanya. Tapi tak pernah sekalipun uang itu kembali. Aku marah, tapi tak berani membentaknya di depan Ibu.
Aku muak. Aku marah. Tapi di sisi lain, aku tak bisa menolak karena ia kakakku sendiri. Hatiku kian tertekan.
**
Hari demi hari berlalu, membuatku semakin tertekan. Malam-malamku hanya diisi doa dan tangis. Aku merasa sendirian menanggung beban yang seharusnya bisa dipikul bersama. Aku sering menatap langit-langit kamar, bertanya dalam hati: “Sampai kapan aku harus bertahan seperti ini?”
Patah hati, kehilangan, dikhianati, dibebani tanggung jawab dan ditinggalkan oleh orang-orang yang seharusnya bisa jadi sandaran, semuanya menumpuk di pundakku. Aku merasa kecil, rapuh, namun tetap harus berdiri tegak.
Sampai suatu ketika, keadaan mendesak membuatku berdiri di persimpangan jalan. Persimpangan yang tak pernah kubayangkan akan kulewati.
Pilihan itu berat, penuh risiko tapi mungkin satu-satunya jalan agar aku dan keluargaku bisa bertahan hidup.
Dan dari sinilah, takdirku mulai berubah.