NovelToon NovelToon
EMOSI BERJILID

EMOSI BERJILID

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Farhan bercerai dengan Sinta, wanita yang ia nikahi selama tiga belas tahun. . Farhan jatuh cinta dengan wanita lain,, maka Sinta memilih mundur.

Setelah perceraiannya Farhan menikahi wanita pujaannya itu. Rani seorang janda beranak satu bernama Claudia. Sosok wanita rapuh, yang selalu membutuhkan dirinya. Farhan ingin jadi seseorang yang dibutuhkan di dalam keluarga. Tidak seperti Sinta yang terlalu mandiri.

bagaimana kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PANIK

Sinta terbangun, tenggorokannya terasa kering. Ia pun bangkit dari tidurnya dan menurunkan kaki.

Matanya menatap jam dinding, baru setengah tiga dini hari. Sinta pun bangkit dan pergi ke lantai bawah.

Ia meminum air untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Lalu kembali ke lantai atas.

Ketika di sana, ia menatap pintu kamar Leo, putra sulungnya. Perlahan ia membukanya. Lalu menatap Leo yang meringkuk di ranjang dengan selimut membungkus seluruh tubuhnya.

Sinta perlahan masuk, membuka sedikit selimut. Lalu pemandangan di sana membuatnya sakit.

Leo tidur sambil memeluk foto keluarga yang masih tersisa. Matanya memerah, pipinya basah. Masih terisak pelan, airmata Sinta pun jatuh perlahan.

Perempuan itu mengelus kepala Leo. Sejuta penyesalan hadir menyiksa batinnya.

'Maafkan Bunda, Nak," perlahan ia membungkuk dan mencium pelipis putranya.

Menarik pelan foto dan menatap gambar di sana. Ia, Farhan dan dua anaknya yang tersenyum bahagia. Sinta sangat tau kapan itu. Farhan membawa mereka jalan-jalan. Sinta dapat hadiah mobil mewah karena keberhasilannya membangun toko.

"Kesuksesan yang aku banggakan membuatku tinggi hati, Mas," bisiknya lirih.

Ia menarik laci nakas dan meletakkan foto itu di sana. Kembali menatap putranya yang masih terlelap. Kembali ia menciumnya penuh kasih sayang.

"Suatu hari, kamu akan mengerti, Nak," gumamnya lalu meninggalkan kamar itu.

Setelah menutup pintu, ia ke kamar si bungsu, Adrian. Ketika masuk, bocah itu tidur dengan perut terbuka dan selimut yang jatuh di lantai. Sinta tersenyum, ia membenahi posisi tidur Adrian, lalu menyelimutinya dengan benar.

Mengusap pelan kepala putranya dan memberi kecupan pelan.

"Sehat-sehat ya, Nak. Bunda sangat menyayangimu," gumamnya pelan.

Ia pun berdiri dan meninggalkan kamar Adrian. Menutup pelan pintu dan kembali ke kamarnya. Sampai di sana, ia duduk di tepi ranjang.

Dulu, Farhan yang selalu bangun jam segini untuk menunaikan sholat Sunnah. Sinta sangat tau betapa rajinnya sang mantan suami dengan ibadahnya.

"Ibadahmu tetap tak bisa mengalihkan dirimu dengan wanita lain yang bukan mahram, Mas!" Sinta tertawa sinis.

"Kau tak bisa menundukkan pandanganmu. Kau hanya mementingkan ego mu saja!" Sinta masih merasa dirinya benar.

Sinta merebahkan tubuhnya, namun matanya menatap langit-langit kamar tanpa kedip. Dadanya naik turun, pikirannya penuh, saling berkelahi.

Ia bangkit lagi. Duduk bersila di atas ranjang, memeluk lututnya sendiri.

“Kalau kau benar-benar imam yang baik, Mas… kau tidak akan meninggalkanku,” gumamnya pahit.

Tangannya mengepal.

“Aku yang bekerja siang malam. Aku yang ingin membuktikan diri. Tapi aku tak pernah mengkhianati pernikahan ini,” bisiknya seolah Farhan duduk di depannya.

Ia teringat caranya dulu berbicara—tegas, dingin, merasa mampu berdiri sendiri. Merasa tak lagi butuh bahu tempat bersandar.

Dan kini… bahu itu benar-benar pergi.

“Kenapa sekarang aku yang hancur?” tanyanya pada dirinya sendiri.

Air mata jatuh lagi. Kali ini lebih deras.

Bukan hanya karena Farhan, tapi karena ia melihat dampaknya pada anak-anaknya.

Ia memeluk bantal kosong di sebelahnya. Dulu tempat Farhan bersujud sebelum subuh. Dulu tempat ia bersandar setelah lelah berjualan.

“Kau selalu memilih masjid, bukan rumah,” lirih Sinta

Tanpa sadar, azan subuh menggema dari kejauhan. Lembut, menusuk, seperti teguran.

Sinta menghela nafas panjang, hatinya masih sakit akibat pengkhianatan.

"Aku tak akan membujuk anak-anak untuk tidak membencimu ... Tidak!" gelengnya keras.

Air mata jatuh di punggung tangannya.

“Aku tidak akan menjadi peredam lukamu, Mas. Biar kau rasakan sendiri akibatnya,” gumamnya getir.

Dari kejauhan, suara azan subuh masih menggema, merambat pelan, namun tajam—seperti pisau yang tak terlihat.

Hayya ‘alash shalāh….!

Deg!

Hayya ‘alash shalāh….!

"Sinta ... Kamu nggak sholat?!' suara Farhan seperti menusuk telinganya.

Ia terkejut, tak ada Farhan di sana, Sinta kembali menangis, menutup mulutnya agar suaranya tak terdengar.

Matanya tak lepas dari lipatan sajadah dan mukena di atas nakas khusus. Sudah lama ia tak sujud, kelelahan, kegetiran dan hatinya yang masih morat-marit akibat perceraian.

Leo berdiri di depan kamarnya, menatap ibunya yang menangis. Bocah pra remaja itu mengepal erat tangannya. Matanya memerah, bibirnya mengatup rapat, rahangnya mengeras.

'Ini semua gara-gara Ayah!" ujarnya dalam hati penuh kemarahan.

Sementara di rumah lain, Farhan baru saja selesai sholat subuh. Ia terbangun di ruang kerjanya. Sedikit terkejut karena biasanya jika ia tertidur, Sinta pasti akan membangunkannya dan menyuruhnya pindah ke kamar.

Farhan mengusap wajahnya, mengembus pelan nafas dari mulut.

"Sudah tidak ada Sinta ..." tapi ingatannya malah ke perempat itu dan dua anaknya.

Perlahan hatinya bergetar pelan tetapi begitu menusuk. Sangat sakit' sampai-sampai Farhan menekan dadanya kuat-kuat.

'Ya Allah ... Sakit sekali ... Apa aku telah menyakiti Sinta, Ya Allah ... Aku menyakiti ibu dari kedua anakku?"

Perlahan, Farhan menjatuhkan dirinya ke kursi kerja. Dada itu masih terasa ditekan oleh sesuatu yang tak kasatmata. Sakitnya bukan di tubuh—melainkan di tempat yang tak bisa diobati siapa pun selain Allah.

“Ya Allah…” suaranya parau.

Farhan mengolah nafas, sampai rasa sakit di dada mereda. Lalu, airmatanya luruh tanpa sebab. Tapi yang Farhan tau, jika ia telah menyakiti Sinta terlebih kedua buah hatinya.

Sedangkan di kamar Sinta, perempuan itu belum beranjak untuk sholat. Leo mengetuk pintu, Sinta terkejut, ia buru-buru menghapus jejak basah di wajahnya.

"Bunda ... Bunda nggak sholat?" tanya Leo.

Deg!

Pertanyaan yang sama, tapi dari dua orang yang berbeda.

"Bunda lagi halangan, Nak," jawabnya bohong.

"Bun ... setidaknya jika kita dikhianati manusia. Kita nggak akan pernah mengkhianati Allah," sahut Leo lalu pergi meninggalkannya.

Lagi dan lagi dada Sinta terasa sakit, bukan sakit karena patah hati. Tapi tamparan dari kata-kata Leo, putranya yang mungkin sudah akil baligh.

Sinta gegas menyusul Leo, tak lupa menyambar mukena dan turun ke bawah, di sana Leo sudah berdiri tegak menghadap Kiblat.

"Nak ... tunggu!" Leo menoleh.

"Bunda lupa kalau sudah bersih ...," sambungnya menutup malu.

Lalu ia menggelar sajadah di belakang Leo. Bocah pra remaja itu tersenyum, lalu kembali menghadap kiblat dan tak lama bertakbir.

"Allahuakbar!" Sinta pun mengikutinya.

Pagi menjelang, Sinta sudah selesai menyiapkan bekal untuk anak-anaknya. Matanya berbinar melihat semua makanan adalah kesukaan Leo dan Adrian. Hingga tiba-tiba ....

Leo berlari turun dengan wajah pucat.

"Bunda ... Adik demam!"

"Apa?" Sinta terperanjat.

Ia langsung berlari ke atas, masuk kamar Adrian. Meraba keningnya. Panas.

"Astaghfirullah, Adrian!" pekiknya panik. Leo menangis, otaknya pun buntu.

Ia mencoba menggendong tubuh Adrian. Tapi tidak seinci-pun tubuh putranya terangkat. Mata Sinta terbelalak.

Teringat dulu, ia dengan gagahnya mengangkat galon ke atas dispenser di depan Farhan. Dengan gagahnya mengangkat tangga untuk mengganti bohlam kamar.

Ia begitu angkuh dan mengatakan jika tanpa Farhan, ia bisa melakukan apa saja.

Namun kini ... tubuh Adrian sama berat dengan galon, tidak lebih ringan dari tangga setinggi dua meter.

Sinta tak mampu ...

'Bunda. .. adek Bunda ... Huuuu ... Hiks ... Hiks!" Leo masih menangis.

Sinta mengambil ponsel, hanya satu nama yang ada di pikirannya.

"Halo ... Mas ... Adrian demam, panas tinggi ...."

Bersambung

Huhuhu

Next?!

1
Atik Marwati
kan..kan..mau selingkuh lagi cari yg katanya sempurna...😤😤
Atik Marwati
anak orang kaya tapi kekurangan gizi🥺🥺
Atik Marwati
anak anaknya Sam binasih ditinggal akhirnya Farhan yang jemput
Atik Marwati
anaknya empat ya... kasihan yang 2 masak ga di ingat sih..
Serli Ati
ah...pasti Rani buat alasan sambil bermanja dengan Farhan dan Farhan pasti percaya apa yg dikatakan rani dan masalah selesai dech, Rani merasa aman.
Serli Ati
ah....istri Soleha yg manja dan penurut Farhan memang selalu membutuhkan uang Farhan ya, semoga Rani bisa membuka mata dan hati Farhan utk melihat keburukan dan tipu muslihat Rani yg telah menjerat leher dan meruntuhkan rumah tangganya terdahulu.
Atik Marwati
kelihatan belangnya sekarang...rasakan Farhan
Atik Marwati
🧐🧐🧐
vania larasati
lanjut kak
Serli Ati
sungguh malang nasib Farhan istri tua yg setia tapi mandiri dan ambisius istri muda yg manja, tamak dan rakus hanya ingin menguasai harta saja Farhan saja.
dewi: tp ms mending yg pertama lah mnrt aq ms bisa di beri pengertian pelan2 dr pd istri kedua
total 1 replies
nurry
lanjuuuuttt
nurry
nah sekarang puyeng kan Bu Rani 😄
nurry
sama-sama gila kakak 😄😄😄
nurry
wah wah wah Rani mulai gak jujur sama Farhan, hati2 main api kalo kebakar gosong 😄
nurry
set dah Rani 😬
nurry
astaga Rani 😬
Atik Marwati
berharap dapat berlian ternyata krikil...
vania larasati
lanjutt kak
vania larasati
lanjut kak
Atik Marwati
sama sama anak kandung kok begitu..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!