Cinta tidak pernah salah.
Yang salah… hanya waktunya.
Zara mencintai Kenzy dengan cara yang tenang.
Seperti rumah yang selalu menunggu untuk ditinggali.
Seperti doa yang diucapkan pelan setiap malam.
Ia tidak pernah menuntut masa lalu Kenzy.
Ia hanya ingin menjadi masa depan yang dipilihnya.
Namun takdir tidak pernah sesederhana itu.
Karena sebelum Zara… ada Eve.
Perempuan yang pernah menjadi dunia Kenzy.
Yang mencintainya ketika hidup belum dipenuhi luka.
Yang menggenggam tangannya sebelum badai menghancurkan segalanya.
Eve tidak pergi karena tidak mencintai.
Ia pergi karena mencintai terlalu dalam.
Dan ketika ia kembali,
Ia tidak datang untuk merebut.
Ia hanya datang dengan hati yang belum selesai.
Kenzy berdiri di antara dua perempuan yang sama-sama mencintainya dengan cara yang berbeda.
Satu adalah masa lalu yang penuh pengorbanan.
Satu adalah masa kini yang penuh ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 2
Zara Florista
Zara Florista percaya bahwa hidup tidak selalu adil, tapi selalu bisa ditertawakan.
Ia belajar itu sejak kecil.
Kedua orang tuanya meninggal saat ia masih terlalu muda untuk benar-benar memahami kehilangan. Yang ia tahu hanya satu, sejak hari itu, ia tinggal di rumah kecil bercat krem bersama satu-satunya keluarga yang tersisa.
Bibinya….
Bibi Ratna bukan perempuan lembut yang pandai berbicara manis. Ia cerewet, sedikit galak, dan sering mengeluh soal harga cabai yang naik.
Tapi ia mencintai Zara dengan cara paling tulus yang bisa ia lakukan.
“Zara! Air galonnya habis!”
“Iya, Bi!”
“Dan tolong bilang ke supplier bunga itu jangan ngirim mawar setengah layu lagi! Kita bukan tempat latihan sabar!”
“Iya, Bibi!”
Toko kecil mereka berdiri tepat di pinggir jalan raya. Papan namanya sederhana:
Florista.
Nama itu bukan kebetulan. Dulu ibunya yang memilihnya. Katanya, bunga selalu menemukan cara untuk mekar meski ditanam di tanah yang keras.
Zara tumbuh di antara aroma melati, mawar, dan bunga anggrek. Tangannya lincah merangkai buket, menghitung pesanan, dan melayani pelanggan dengan senyum yang selalu tulus.
“Zara, kenapa kamu nggak cari kerja di tempat yang lebih besar?” tanya salah satu pelanggan tetap suatu sore.
Zara hanya tertawa kecil. “Di sini juga besar kok, Bu. Besar tanggung jawabnya.”
Bibi Ratna yang mendengar langsung mendengus.
“Dia itu keras kepala. Banyak yang nawarin kerja di mall, tapi nggak mau.”
Zara menjulurkan lidah pelan ke arah bibinya saat pelanggan itu tak melihat.
Bukan karena ia tidak punya mimpi.
Ia hanya tahu, untuk sekarang, toko kecil ini adalah dunia yang harus ia jaga.
Setiap sore, setelah toko sedikit lengang, Zara biasa berjalan kaki menyusuri jalan menuju pasar kecil di ujung blok untuk membeli kebutuhan tambahan. Jalur itu sudah ia hafal diluar kepala, retakan trotoar, pohon besar di tikungan, sampai bangku taman tua yang catnya mulai mengelupas.
Hidupnya sederhana.
Bangun pagi.
Membantu bibi.
Melayani pelanggan.
Tertawa di sela-sela lelah.
Dan Zara cukup bahagia.
“Zara,” panggil Bibi Ratna suatu malam saat mereka menghitung hasil penjualan.
“Iya, Bi?”
“Kamu nggak pernah kepikiran nikah?”
Zara hampir tersedak teh hangatnya. “Bi! Tiba-tiba banget?”
“Bibi juga… kenapa bibi nggak nikah?” tanya balik zara
“Hidup bibi sudah cukup sibuk mengurus toko sama kamu…”sambil menowel hidung zara.
“Bibi nggak punya waktu lebih untuk mengurus suami…ribet”. Gerutu bibi sambil nyengir.
Lalu zara memeluk bibinya gemas…”Terimakasih ya bi…sudah merawatku dan mendidik ku sampai menjadi gadis secantik ini” mereka berdua tertawa
“Umur kamu nggak kecil lagi zara, meski bibi tidak menikah tapi kamu harus.”
Zara memutar mata dramatis. “Calon aja nggak ada.”
“Banyak kok yang suka kamu.”
“Yang suka banyak, yang serius nggak ada,” balasnya ringan.
Bibi Ratna terdiam sesaat, lalu suaranya melembut.
“Kamu pantas dapat yang terbaik.”
Zara tersenyum, kali ini lebih tenang.
Ia tidak pernah menuntut banyak pada hidup.
Ia hanya ingin cukup.
Cukup bahagia.
Cukup sehat.
Cukup bisa menjaga satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Malam itu, sebelum tidur, Zara berdiri di depan cermin kecil di kamarnya. Rambutnya ia ikat asal, wajahnya polos tanpa riasan.
“Zara Florista,” gumamnya pelan. “Kamu hebat loh.”
Ia selalu berbicara pada dirinya sendiri seperti itu.
Bukan karena percaya diri berlebihan.
Tapi karena tidak ada orang tua yang mengatakan hal itu lagi padanya.
Dan entah kenapa, setiap sore ketika ia berjalan pulang melewati bangku taman tua itu, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan.
Seperti sesuatu sedang menunggu.
Zara tidak tahu bahwa hidupnya akan segera berubah.
Bahwa jalur pulang yang biasa ia lewati akan mempertemukannya dengan seorang lelaki tua berwajah tegas yang pura-pura lupa membawa dompet.
Dan bahwa pertemuan sederhana itu akan menjadi awal dari rangkaian takdir yang jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan.
Untuk sekarang…
Zara Florista hanya seorang gadis penjual bunga.
Dengan tangan yang selalu wangi mawar.
Dan hati yang terlalu mudah iba pada orang asing.