Alea mengira hidupnya sudah berakhir ketika cinta pergi meninggalkan depresi yang menyesakkan. Baginya, toko buku tua itu adalah bunker—tempat ia bisa menangis tanpa suara dan menghilang di antara deretan rak. Ia tidak butuh penyelamat, ia hanya butuh dibiarkan sendiri.
Sampai Aksa Pratama hadir setiap pukul empat sore.
Pria itu dingin, kaku, dan menyimpan luka broken home yang sama dalamnya. Aksa tidak datang dengan kata-kata manis. Ia hadir lewat kehadiran yang intens, lewat kopi hitam yang pahit, dan lewat sebuah catatan misterius yang membuat jantung Alea nyaris berhenti.
“Gerbang kost-mu tidak dikunci semalam. Ada seseorang yang berdiri di depan kamarmu selama satu jam sebelum aku datang. Hati-hati.”
Di tengah trauma masa lalu dan ketakutan akan rumah yang retak, Alea terjebak dalam tanya: Apakah Aksa adalah rumah yang bisa ia pilih untuk pulang? Ataukah pria itu adalah rahasia lain yang lebih berbahaya dari sekadar masa lalu yang menghantuinya?
Sebuah kisah tentang dua jiwa yang rapuh, bukan untuk saling menyembuhkan dengan keajaiban, tapi untuk saling menemani dalam luka—hingga mereka sadar bahwa rumah bukan sesuatu yang diwarisi, melainkan sesuatu yang dipilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Anggriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 - Celah yang Terlihat
Pukul empat kurang lima menit. Cahaya matahari sore yang mulai condong ke barat menerobos masuk melalui jendela besar toko, menciptakan garis-garis siluet tajam yang memanjang di antara deretan rak buku kayu. Udara di dalam ruangan terasa statis dan gerah, hawa panas khas sore hari yang membuat siapa pun merasa enggan untuk melakukan aktivitas berat. Di langit-langit, pengeras suara kecil mengalunkan instrumen city pop Jepang yang ceria, persis seperti janji Alea kemarin. Namun, irama musik yang cepat itu terasa sangat kontras dengan kecemasan yang merayap lambat di bawah kulit Alea.
Alea sedang berada di meja kerja kecil di sudut ruangan, membelakangi pintu masuk. Ia sedang memfokuskan seluruh konsentrasinya untuk menyampul sebuah buku tua edisi terbatas. Debu-debu kecil tampak berterbangan di udara, tertangkap oleh sorotan cahaya sore yang miring. Jemarinya yang lentik bergerak sangat hati-hati; ia memotong plastik pelindung dengan presisi, lalu melipatnya perlahan agar tidak ada gelembung udara yang terjebak di permukaan sampul kulit buku tersebut.
“Tumben lagunya asyik, Al. Biasanya kan lagu 'dunia mau kiamat' terus yang diputar sampai aku ikut-ikutan pengen nangis,” celetuk Dinda yang baru saja muncul dari pintu ruang staf di belakang konter.
Dinda meletakkan setumpuk buku baru dengan bunyi gedebuk kecil. Ia menyeka dahinya dengan tisu, lalu mengipas-ngipaskan kerah seragamnya.
“Duh, jam empat sore tapi panasnya masih kerasa sampai ke tulang ya,” lanjutnya.
Alea tersentak kecil, hampir saja gunting yang ia pegang menyayat plastik sampul. “Oh, lagi pengen suasana baru aja, Din. Biar nggak sumpek melulu,”jawabnya tanpa menoleh, berusaha menjaga nada suaranya tetap stabil.
Dinda menyipitkan mata, berjalan mendekat dan bersandar di meja konter tepat di samping Alea.
“Suasana baru atau ada orang baru yang minta ganti suasana? Aku lihat kemarin si pria kaku berbaju mahal itu lama banget duduk di kursi pojok. Kalian ngobrolin apa, sih? Dia nggak macam-macam, kan?”
Alea berhenti bergerak sejenak. “Cuma pelanggan biasa, Din. Dia cuma tanya-tanya soal buku koleksi lama dan sedikit mengomentari musik kita. Nggak ada yang spesial.”
“Pelanggan biasa nggak bakal bikin seorang Alea yang biasanya tenang jadi salah tingkah begini,”goda Dinda sambil terkekeh pelan.
“Lihat deh, kamu motong plastiknya miring gitu. Kamu grogi ya?”
Alea menghela napas, meletakkan guntingnya. “Din, jangan mulai deh. Dia itu cuma... orang yang terlalu banyak bicara soal hal-hal yang nggak perlu dia tahu.”
“Oh ya? Tapi dia ganteng banget, kan? Tipe-tipe CEO di novel yang bisa beli gedung ini cuma buat pamer,” sahut Dinda lagi. Namun, tawanya mendadak berhenti saat pandangannya beralih ke jendela depan.
“Eh, itu dia datang lagi, kan? Gila, jamnya presisi banget. Dia itu manusia atau robot?”
Alea menoleh pelan. Lonceng pintu berdenting nyaring tepat saat jarum jam menyentuh angka empat. Aksa Pratama berdiri di sana. Siluet tubuhnya yang tegap dan tinggi terbingkai oleh cahaya oranye matahari sore yang menyilaukan. Hari ini ia tampil berbeda, hanya mengenakan kaos polo hitam polos yang melekat pas di tubuhnya, mempertegas bahu dan dadanya yang bidang.
“Aku ke belakang dulu deh, aura cowok itu serem banget. Aku merasa seperti rakyat jelata yang mau disidang,” bisik Dinda cepat-cepat. Sebelum Alea sempat menahan tangannya, Dinda sudah menghilang ke balik rak buku.
Aksa berjalan lurus menuju tempat Alea berada. Langkah kakinya yang berat dan mantap menggema di atas lantai kayu. Begitu sampai di depan meja, ia meletakkan sebuah kantong kecil berwarna putih bersih dengan pita perak yang terikat rapi di atas meja kayu itu.
“Untukmu,” ucapnya pendek. Suaranya bariton, tenang, namun memiliki daya tekan yang kuat.
Alea mengerutkan kening, menatap kantong itu dengan rasa waswas. “Apa ini? Kamu salah orang? Aku tidak sedang merayakan apa pun hari ini, Aksa.”
“Penawar untuk lagu-lagumu yang sudah tidak sedih lagi,” sahut Aksa sembari menyandarkan satu sikunya di meja konter. Ia menatap Alea dengan intensitas yang begitu dalam. “Dan sebagai kompensasi karena aku sudah mengusik 'diammu' kemarin.”
Alea memberanikan diri membuka kantong itu. Di dalamnya terdapat sebuah stoples kaca kecil berisi macarons warna-warni, serta sebuah amplop kecil berwarna putih tanpa nama.
“Aku nggak bisa terima ini, Aksa. Ini terlalu berlebihan hanya untuk kunjungan singkat.”
“Itu bukan hadiah,” timpal Aksa, melipat tangan di depan dada. “Anggap saja itu biaya sewa kursi yang aku duduki selama satu jam kemarin. Aku paling benci merasa berhutang, bahkan untuk hal sekecil kenyamanan udara di toko ini.”
Aksa kemudian mencondongkan tubuhnya melewati meja konter, memangkas jarak hingga wajah mereka hanya terpaut beberapa senti. Alea bisa mencium aroma kopi hitam yang kuat bercampur dengan wangi maskulin kayu cendana.
“Aku nggak tertarik memperbaiki barang yang benar-benar hancur, Alea,” bisik Aksa, suaranya kini terdengar lebih berat.
“Aku hanya tertarik pada sesuatu yang retak, karena retakan itu menunjukkan ada sesuatu yang berharga di dalamnya. Tapi sebelum kamu memutuskan untuk sembuh, kamu harus tahu bahwa ada rahasia yang tidak bisa selamanya kamu sembunyikan di lantai atas.”
“Apa maksudmu? Lantai atas itu cuma gudang dan rak buku tua,” balas Alea dengan suara bergetar.
“Makanya, periksa sendiri,” jawab Aksa pendek. Tanpa menunggu balasan, ia membalikkan badan dan berjalan keluar menuju parkiran yang mulai dilingkupi bayangan panjang.
“Al? Dia ngomong apa tadi?” Dinda muncul kembali dengan wajah penuh rasa ingin tahu. “Kok wajahmu pucat banget?”
“Din, aku ke atas sebentar ya. Tolong jaga kasir sebentar saja,” ucap Alea dengan suara parau.
Begitu sampai di tangga kayu, Alea merobek segel amplop putih itu. Sebuah kunci cadangan toko yang sudah berkarat jatuh ke telapak tangannya. Bersamaan dengan itu, ada sepotong kertas:
“Lantai dua, rak paling ujung kiri. Di balik buku 'The Great Gatsby'. Seseorang menaruh ini di sana kemarin sore. Dan orang itu bukan aku. Kamu terlalu sibuk melamun sampai tidak sadar siapa yang masuk ke rumahmu sendiri.”
Darah Alea seolah membeku. Ia berlari menaiki sisa anak tangga dan menuju rak yang dimaksud Aksa. Ia menemukan sebuah amplop cokelat kusam di balik buku bersampul emas. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat tiga lembar foto jatuh ke lantai.
Foto pertama adalah dirinya dan Hanif saat liburan di Yogyakarta. Foto kedua adalah foto polaroit Alea sedang menangis tersedu di pojok toko pada hari pertama ia putus. Dan foto ketiga adalah foto Alea tadi malam, diambil dari arah jalan raya saat ia sendirian di kasir.
Alea membalikkan foto-foto itu. Terdapat tulisan tangan menggunakan pulpen hitam dengan tinta yang masih sedikit basah, meninggalkan noda di jemarinya.
Di balik foto Yogyakarta:
“Kebahagiaan ini sudah kedaluwarsa. Berhenti memajangnya di kepalamu jika kamu ingin tetap bernapas.”
Di balik foto tangisannya:
“Wanita hancur di foto ini tidak pantas mendiami toko buku ini selamanya. Kamu bukan hantu, Alea. Kembalilah ke dunia nyata”
Di balik foto tadi malam:
“Seseorang memiliki kunci yang kamu pegang sekarang. Dia tidak hanya mengamati diammu, dia sedang menunggu kamu benar-benar sendirian.”
Alea terduduk lemas di lantai kayu. Bagaimana bisa Aksa menemukan ini? Tepat saat itu, ponsel di saku celemeknya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
“Macarons-nya dimakan, Alea. Gula itu bagus untuk otakmu yang sedang panik. Jangan lupa kunci pintu belakang malam ini. Aku masih bisa melihatmu dari sini.”
Alea tersentak dan langsung menoleh ke arah jendela besar lantai dua. Di seberang jalan, di bawah cahaya matahari pukul empat yang mulai meredup, mobil hitam Aksa masih terparkir diam. Lampu depannya menyorot tajam ke arah toko, seolah sedang menjaga satu-satunya pintu masuk yang tersisa bagi Alea.