“Untung bapak kamu banyak duit, mun mak, dak sudi nyak nyusui nikeu.”
Kelebihan kadar hormon proklaktin dan pertemuan tidak sengajanya dengan Rizal membawa Nadya pada pilihan nekat—menjadi ibu susu untuk Adam putra Rizal yang mengalami kelainan dan alergi susu formula.
Namun, siapa sangka kehadiran Rizal dan juga sang putra Adam justru memberi kenyamanan untuk Nadya. Meski disertai fitnah dan anggapan buruk Sartini—Ibu mertua Rizal, yang menginginkan Rizal turun ranjang dengan Dewi adek kandung Almarhum istri Rizal.
Bagaimana Nadya menjalani kehidupan barunya dan akankah dia menemukan apa yang dia cari pada diri Rizal dan Adam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Susu 6
Matahari mulai merangkak tinggi, memberikan semburat kuning gading yang hangat. Dedaunan bergoyang pelan tertiup angin bukit yang membawa aroma pedas perkebunan lada.
Di kejauhan suara speaker tukang sayur berdengung, memanggil para ibu-ibu yang selalu berkumpul di teras-teras rumah.
Berada di daerah yang cukup terpencil dengan akses jalan yang sulit, membuat sebagian penduduk desa terutama ibu-ibu mengandalkan tukang sayur keliling untuk membeli kebutuhan sehari-hari mereka. Mobil pickup dengan ban racing itu diubah layaknya pasar berjalan, menyusuri tiap sudut kampung bahkan gang-gang tersempitnya sekalipun.
Nadya baru saja menyelesaikan menjemur baju miliknya dan juga Adam saat Bu Harmi keluar dari rumah, wanita paruh baya itu berniat menghampiri mobil tukang sayur yang terparkir di halaman tetangga depan rumah mereka.
“Kamu ada pengen sesuatu nggak, Nad?” tanyanya saat melihat Nadya di teras rumah.
“Nggak ah, Bu. Itu udah ada banyak makanan,” jawab Nadya.
Yessy gadis muda yang biasa membantu beberes di rumah itu menyahut dengan suara cemprengnya. “Kalo di tawarin tuh langsung mau gitu lo, Yuk. Ayuk Nadya mah apa-apa nggak mau, beda sama si ono.”
Senyum simpul terbit di wajah manis Nadya, sekilas ia menengok ke arah Adam yang sengaja ia tidurkan di teras, menikmati tamparan matahari pagi sebelum ia mandikan.
“Tumben kamu nggak bubuk, Ndut.” Sapanya pada si anak susu yang sedikit ngulet sambil memainkan lidahnya.
Ia kemudian mengangkat Adam, menimangnya penuh kasih sayang sambil sesekali mencium pipi gembul bocah bayi itu.
Yessy yang melihat bagaimana Nadya menimang Adam tersenyum sendu, matanya yang sipit sedikit berkaca-kaca. Ia lalu berjalan mendekat, mengusap pelan kepala Adam.
“Nggak nyangka Adam bisa segendut ini sekarang, keinget waktu di RS badannya penuh kabel, mana biru betul,” kenang gadis yang sudah bekerja cukup lama di rumah Rizal.
Ia kemudian menghela napas pelan, menatap nanar wajah polos Adam. “Kasian betul nasib bocah ini, padahal lahirnya udah ditunggu bertahun-tahun, eh … pas lahir malah ditinggal meninggal emaknya.”
“Namanya takdir, Yes, kita nggak pernah tau,” sahut Nadya seraya mencium kembali pipi gempal Adam. “Yang penting kan sekarang Adam sehat, insyaallah jadi anak pinter biar Ibunya juga bangga.” lanjutnya.
“Bener, Yuk. Untung aja ketemu Ayuk Nadya. Nggak kebayang kalo Adam juga ikut Ayuk Sukma, bisa gila bener Bang Rizal, sekarang aja udah bisa ketawa, kemarin-kemarin, cuma diem di kamar kalo pas pulang ambil ganti atau ada perlu di kantor.” Cerita Yessy sambil terus mengusap kepala Adam.
Nadya hanya tersenyum tipis menanggapi cerita Yessy, bukan karena tidak ingin mendengar hanya saja, dia merasa itu bukan ranahnya untuk tau dan tidak ada gunanya juga dia tahu, toh tugasnya hanya sebagai ibu susu bukan calon ibu untuk Adam.
“Ya sudah, Yes, aku mau mandikan Adam dulu, ntar keburu nenek ama tantenya dateng Adam belum ganteng bisa panas kuping kita,” gadis berwajah manis itu kemudian membawa Adam masuk ke rumah berniat melulur badan Adam dengan baby oil sebelum dimandikan.
Namun, baru saja ia sampai kamar dan melepas baju Adam, suara tinggi Bu Sar melengking dari depan pintu.
“Astaga! Jam segini belum mandi cucuku?! Kamu ngapain aja Nadya? Nggak bisa liat apa mata kamu sekarang jam berapa?!” hardik wanita dengan alis lancip itu.
Nadya sedikit terjingkat mendengar teriakan Bu Sar, ia lalu memejamkan mata sejenak sambil menarik napas dalam—meredakan emosi yang hampir pecah.
“Baru jam delapan, lagi pula Adam habis berjemur biar kulitnya nggak kuning,” jelas Nadya.
“Alah, alasan aja kamu itu. Dasarnya pemalas, pagi-pagi bukannya cepet ngurusin Adam malah gosip sama Yessy.” Tuduh wanita paruh baya itu, tatapannya sinis ke arah Nadya yang mulai mengoleskan baby oil ke badan Adam.
Nadya hanya menghela napas berat, enggan menanggapi ocehan Bu Sar. Namun, ucapan Bu Sar berikutnya berhasil memancing amarah gadis manis itu.
“Rizal itu bayar kamu buat ngurusin anaknya, bukan buat malas-malasan, apalagi cari kesempatan dalam kesempitan. Jangan mentang-mentang Rizal itu duda kamu bisa seenaknya, kamu pikir Rizal bakal ngelirik kamu. Cih … Rizal itu cinta mati sama Sukma, kalau pun dia mau cari ganti, itu yang setara sama Sukma, bukan perempuan tidak jelas seperti kamu.” oceh Bu Sar.
Sekuat tenaga Nadya menahan amarahnya, ia melirik sejenak ke arah Bu Sar yang berdiri sambil bersedekap di sampingnya, lalu kembali fokus pada pekerjaannya.
Bu Sar yang merasa tak di tanggapi oleh Nadya semakin naik pitam, dengan gerakan sedikit kasar ia menarik lengan Nadya.
“Heh! Anak nggak punya sopan santun, kalau orang ngomong itu di jawab jangan diem aja, kamu bisu atau mati kutu karena niat terselubung kamu kebaca sama saya. Dasar anak kota tidak tau malu, kamu pikir bisa membodohi orang desa kaya saya. Ka—”
Brak!
Tanpa aba-aba botol baby oil yang di pegang Nadya terlempar ke pintu kamar. Rahang gadis itu mengetat, sorot matanya mengeras.
“Keluar dari kamar ini sebelum kesabaran saya benar-benar habis.” cicit Nadya.
“Berani benar ka—”
“Keluar saya bilang!” Teriak Nadya tanpa memperdulikan Yessy dan Bu Harmi yang berdiri di depan pintu dengan raut bingung.
Bu Harmi yang menyadari ketegangan itu buru-buru masuk kamar, lalu menarik Bu Sar untuk keluar kamar, kemudian dengan cepat mengunci pintu. Samar suara Bu Sar masih mengoceh tak terima atas tindakkan Nadya yang tiba-tiba.
Di kamar yang masih meninggalkan atmosfer panas, badan Nadya merosot hingga terduduk di sisi ranjang, kedua tangannya menangkup kepala, napasnya tersengal. Melihat kondisi Nadya, Bu Harmi lekas menghampiri, mengusap lembut punggung gadis manis itu, seraya menenangkan dengan suara pelan.
“Sabar, Nad,” bisiknya, sambil menghela napas dalam.
“Maafkan Nadya, Bu,” lirihnya dengan suara tertahan.
“Nggak apa-apa, Nad, Ibu paham dengan yang kamu rasakan. Kamu sabar, ya, kita tunggu Rizal pulang, nanti biar dia yang bicara sama Bu Sar,” sahut Bu Harmi. “Sudah, sekarang kamu tenangkan diri kamu, biar Adam Ibu yang memandikan.” lanjut wanita paruh baya itu seraya beranjak dari tempatnya.
Ia kemudian meminta Yessy untuk menyiapkan air hangat untuk mandi Adam, juga segelas air hangat untuk minum Nadya. Yessy dengan cekatan menyiapkan semua, lalu membawanya ke kamar Nadya.
“Minum dulu, Yuk, biar agak tenang,” ucap Yessy sambil menyodorkan segelas air hangat untuk Nadya.
Nadya menerima air dari Yessy, ada raut canggung di wajahnya yang sedikit sembab. “Maaf, ya, Yes. Jadi bikin kamu sama Ibu panik pagi-pagi.”
“Nggak apa-apa, Yuk. Wajar Ayuk Nadya emosi, harusnya tadi jangan dilempar ke pintu, tapi jejelin ke mulutnya sekalian. Heran sama itu orang, dari zaman dulu mulutnya nggak ada kapoknya, lama-lama mencor kena semen kamar mandi itu orang.” Omel Yessy yang turut geram saat mendengar keributan yang terjadi.
Senyum tipis terbit dari wajah sembab Nadya, ia lalu menepuk pelan punggung Yessy seraya beranjak dari duduknya. “Kamu itu kalo ngomong suka bener, Yes.”
Yessy terkekeh pelan, satu tangannya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Habisnya emosi bener sama itu orang. Nggak anak nggak emak sama aja, mulutnya nggak pernah sekolah. Kayanya serumah itu cuma Alm. Ayuk Sukma yang waras. Bener nggak, Bu?” tanyanya kemudian kepada Bu Harmi yang baru selesai memandikan Adam.
“Sudah sifatnya mau bagaimana lagi,” sahut Bu Harmi.
.
.
.
“Kamu tega sekali sama mama, Zal!”
Bersambung.
Siapa yang setuju sama Yessy ... ✋️✋️✋️
Semangat 🔥