Rahmat hanyalah siswa SMA biasa—miskin, bodoh, diremehkan, dan dipaksa menanggung hutang satu miliar yang ditinggalkan ayahnya.
Ibunya terbaring di rumah sakit, deb collector bernama tomy terus mengancamnya, memukuli Rahmat sampai hampir mau mati, ia diberi waktu lagi selama dua bulan.
Waktu hanya tersisa dua bulan. Saat segalanya terasa mustahil, sebuah suara muncul di kepalanya.
[Sistem Analisis Nilai Aktif.]
[Menampilkan nilai sebenarnya dari segala hal]
Dari jam tangan rongsok bernilai jutaan, hingga saham perusahaan raksasa yang diam-diam akan runtuh—Rahmat kini bisa melihat apa yang tak terlihat orang lain.
Namun dunia investasi bukan taman bermain.
Satu kesalahan berarti kehancuran.
Satu langkah terlambat berarti ibunya menjadi “jaminan”.
Bisakah seorang bocah 16 tahun membalikkan nasibnya, menembus dunia finansial yang penuh manipulasi, dan menumbangkan perusahaan yang menghancurkan keluarganya?
(bismillah, ayo ramai, support penulis kecil ini yaallah 😭🙏wkw)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9.5—Dipanggil ke BK dan ketertarikan seorang ketos
Rahmat berbalik dan berjalan menuju tangga. Potensi balasan? Kalau di cerita-cerita pasti sekarang dia akan tenar, banyak yang balas dendam aka kejadian ini, tapi bodoh amat. Ia bisa mengatasi kapan saja.
Ia berjalan menuju kelas Seolah tidak terjadi apa-apa
Di lantai dua, seseorang menyaksikan semuanya.
Alya. Tangannya menggenggam pagar besi koridor, tatapan tidak berkedip sama sekali. Rahmat tidak terlihat panik sama sekali, tidak takut, justru seperti gerakan anak yang ahli bela diri. Itu terukur, efisien, dan tanpa celah sama sekali.
Dan yang paling aneh— Setelah selesai, ia tidak terlihat bangga.Seperti itu hal biasa.
“Hebat, aku baru tahu dia bisa gini …”
Di bawah, bisik-bisik berubah arah.
“Rahmat ngebantai mereka…”
“Gila, cepet banget gerakannya.”
“Ardi aja nggak bisa ngapa-ngapain.”
“Kalau gitu Pantes Alya…”
Label mulai berubah, dari anak pendiam menjadi sesuatu yang lain. Beberapa pandangan gadis-gadis juga mulai berubah, Rahmat terlihat lebih keren dari biasanya.
Mereka jadi menganggap wajar kalau Alya tertarik..
Sementara Rahmat terlihat kerepotan dengan banyaknya respon positif, akun media sosialnya langsung penuh akan video pertarungan tadi.
Grub sekolah juga jadi ramai.
“Sialan, durjana mana pula yang videoin ini?”
Namun belum sampai ke kelas, suara berat terdengar dari belakang.
“Rahmat.”
Ia berhenti.
Pak Hendra, guru BK, berdiri beberapa meter darinya. Tatapan tegas. “Ke ruang BK sekarang.”
Beberapa siswa langsung diam.
Rahmat mengangguk singkat. Inilah kenapa ia benci media.
Di dalam ruang BK, suasana lebih sunyi.
Pak Hendra duduk bersandar, menatapnya cukup lama sebelum berbicara. “Kamu tahu saya tidak suka kekerasan di sekolah.”
Rahmat menjawab tenang, “Saya juga tidak, Pak.”
“Lalu tadi apa?”
“Pembelaan diri.”
Hening.
Pak Hendra menyilangkan tangan. “Saya dengar kamu tidak mulai duluan, ya? Saya lihat videonya juga.”
“Iya, mereka yang mulai. Aku cuma membela diri, pak.”
Guru itu menatapnya lebih dalam. “Ardi bukan anak yang mudah diam. Hati-hati. Masalah seperti ini jarang selesai sekali.”
Kalimat itu bukan ancaman.
Tapi peringatan.
Rahmat mengangguk. “Terima kasih, Pak.”
“Oke kalau gitu, kamu boleh balik ke kelas. Jangan buat kegaduhan lagi, ya!”
Saat keluar dari ruang BK, ia melihat beberapa siswa masih meliriknya dengan cara berbeda.
Bukan lagi sekadar penasaran, ada rasa segan, rasa hormat dan sedikit takut.
***
Sementara itu di ruangan kelas yang sepi. Ruang itu bertulis ruang osis, seorang gadis berambut pendek dengan almamater merah terlihat duduk di kursi dengan santai, ia melihat video yang baru-baru ini viral.
Bagi seorang ketua osis seperti dia para Ardi dan the gang adalah pengganggu sekolah yang menimbulkan banyak masalah, ia sudah menerima banyak laporan pembulian, kekerasan, bahkan transaksi tidak lazim dari mereka.
Ia sudah lama ingin memberantas geng itu, tapi menunggu waktu yang tepat karena mereka juga punya banyak koneksi diluar sekolah dengan kelompok lain
Dan sekarang mereka dikalahkan oleh satu pemuda entah berantah.
Gadis itu tersenyum melihat pergerakan di video barusan. Gerakannya stabil, mantap, terlihat profesional, tidak ada gerakan yang terbuang-buang.
Sebagai salah satu anak polisi yang mendapatkan pelatihan beladiri secara keras oleh orang tuanya dia tahu, bahwa gerakan Rahmat bukan sembarangan.
Itu adalah gerakan yang dilatih beberapa tahun.
“Ini semua jadi makin menarik."
"Apa langkah kita selanjutnya, Anisa?"
seorang pria yang menggunakan almamater sepertinya bertanya. Ia terlihat sedang menikmati permen yang ia beli di kantin. "apa kamu tertarik dengan bocah itu?"
"ya, kamu Seharusnya juga tahu sendiri. Sebagai sesama anak dari polisi yang dilatih, kamu tahu kan pergerakan orang ini bukan level yang ada di kelas anak SMA, ini luar biasa."
"jadi apa yang ingin kamu katakan?" tanya pria itu lagi. "jangan bilang kamu mau melibatkan dia dengan 'kasus itu?'"
Gadis bernama Anisa itu tersenyum simpul. Kasus yang baru-baru ini terjadi, walau masih sedikit dan minim informasi, mereka membutuhkan bantuan personil kekuatan dan Rahmat terlihat lebih dari cukup.
"Ya. Ide yang menarik bukan?"
"sinting! Melibatkan warga biasa seperti dia otakmu pasti gak beres, aku gak mau ikut campur. Kalau kamu ingin bernegosiasi dengannya maka lakukanlah sendiri." pria itu melambaikan tangan, membalikkan badan.
"memang itu niatku."
Sebelum pergi pria itu menambah. "dan jangan paksakan dirimu, aku tahu dirimu anak polisi dan kandidat yg akan mengganti ayahmu, tapi dirimu masih terlalu cepat untuk ikut campur. Biar orang dewasa saja yang mengatasi ..."
Dan pria itupun melambaikan tangan kali ini benar-benar pergi.
Biarkan orang dewasa yang mengatasi ya? Setelah banyaknya SDM polisi yang bekerja secara tidak becus, membiarkan sebuah kasus terlantar, sebagai anak dari komandan polisi dan punya kekuasaan yang cukup mana bisa dia melakukan itu. Dia punya tanggung jawab.
"selama mempunyai kekuatan, maka datang tanggung jawab yang besar juga," gumamnya.