NovelToon NovelToon
Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:205.1k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.

"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.

"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."

Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.

"Ning, ayo nikah sama Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 28

Ridho terhuyung, tangannya mencengkeram setir. Pandangannya bergetar. Bayangan-bayangan itu datang bertubi-tubi—Ning berdiri di bawah matahari pucat, Ning berjalan dengan kruk, Ning tersenyum samar seperti menahan sesuatu yang ingin runtuh. Kepalanya berdenyut, nyeri itu merambat dari pelipis ke tengkuk.

“Kenapa… kenapa lagi?” gumamnya parau.

Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang. Rasa sakit itu seperti ombak yang menabrak ingatan—tidak utuh, tidak jelas, tapi cukup kuat untuk membuatnya ingin lari. Ridho menyalakan mesin, memutuskan pergi. Ia tak sanggup berdiri lebih lama di sana, tak sanggup menatap Ning lagi tanpa tahu apa yang sedang mengejarnya.

Rumah itu menyambutnya dengan keheningan. Bukan rumah Pak Hasto—ini rumah Bu Pur dan Pak Pur, orang tuanya. Begitu pintu terbuka, Ridho langsung melangkah cepat ke kamar.

“Ridho?” suara Bu Pur menyusul, cemas. “Kamu kenapa pulang tiba-tiba?”

Ridho tak menoleh. “Pusing, Bu. Mau tidur.”

Bu Pur mengejar sampai ambang pintu kamar. “Makan dulu—”

“Nanti,” potong Ridho lembut, tapi tegas. “Kepala saya berat.”

Pintu tertutup. Ridho menjatuhkan tubuh ke kasur. Dunia berputar pelan, lalu gelap. Tidur menelannya seperti pelarian yang paling aman.

Ia terbangun beberapa jam kemudian dengan napas lebih teratur. Keringat membasahi punggungnya. Kepalanya masih terasa sisa-sisa nyeri, tapi tidak lagi menggila. Ridho duduk, melepas jaket, membuka lemari untuk berganti baju.

Sebuah buku terjatuh.

Bunyi jatuhnya kecil, tapi cukup membuat jantungnya berdebar. Ia memungutnya—sampul cokelat lusuh, sudut-sudutnya tumpul. Ridho membuka halaman pertama.

Foto.

Bukan satu. Beberapa. Foto seorang gadis berjilbab, tersenyum malu-malu. Wajah yang sama. Mata yang sama. Kruk di sampingnya.

“Ning…” Nama itu keluar tanpa izin.

Kepalanya kembali berdenyut. Seperti ada palu memukul-mukul dari dalam. Ridho menutup buku itu cepat-cepat, dadanya naik turun.

Tok. Tok. Tok.

“Ridho?” Bu Pur mengetuk. “Kamu baik-baik saja?”

Ridho menyelipkan buku itu ke balik tumpukan pakaian, tangannya gemetar. “Iya, Bu. Sebentar.”

Ia membuka pintu. Bu Pur menatap wajahnya lekat-lekat. "Masih sakit?"

Ridho menggeleng pelan.

“Kamu pucat begitu. Kalau sakit kamu jangan dipaksakan kerja.”

Ridho memaksakan senyum. “Udah mendingan kok.”

Bu Pur menghela napas, lalu tersenyum tipis. “Ayo makan. Ayah kamu nunggu.”

Di meja makan, Pak Pur sudah duduk. Obrolan ringan mengalir—tentang cuaca, tentang berita pagi. Ridho mengangguk di sana-sini, berusaha tampak normal. Ia menahan diri untuk tidak menyentuh kepalanya.

Pintu depan terbuka. Dewi masuk, wajahnya terkejut. “Mas? Kok di sini?”

Ridho berdiri. “Tadi pusing. Maaf nggak ngabarin.”

Dewi menatapnya, seolah ingin bertanya lebih jauh. “Kamu kenapa nggak ngajak aku?”

“Dadakan,” jawab Ridho cepat. “Aku… butuh istirahat.”

Dewi mengangguk pelan, meski sorot matanya menyimpan tanya. “Ya sudah. Lain kali bilang.”

Ridho mengangguk. Ia menutup rapat tentang foto, tentang gadis bernama Ning. Tentang nyeri yang datang bersama wajah itu.

****

Sementara itu, Pak Hasto berdiri di depan kontrakan sederhana. Pagar kecil, pot tanaman berjajar rapi. Ning menyambut dengan senyum hangat.

“Masuk, Yah.”

Di dalam, rumah itu bersih, rapi, dan hangat. Tak ada barang berlebihan, tapi semuanya tertata. Aroma masakan masih menggantung.

“Mas Yuda yang kerjain semua,” kata Ning malu-malu. “Dari pagi. Ning sampai enggak tau harus nglakuin apa.”

Pak Hasto menatap putrinya lama, matanya berkaca-kaca. “Alhamdulillah. Itu artinya, dia lelaki yang tepat. lelaki yang meratukan mu. Alhamdulillah ya, Ning?”

Ning tersenyum mengangguk setuju.

Yuda pulang sore itu, menyapa sopan.

"Loh, ada Ayah?"

Pak Hasto tersenyum.

"Maaf Mas, tadi enggak sempat kabarin kalau Ayah jadi datang ke sini." Ning mencium punggung tangan yuda.

"Enggak papa," sahutnya mencium kening Ning.

"Karena suamimu udah datang, Ayah pulang dulu ya," katanya pamit.

"Loh, kok udah mau pulang, Yah?" tanya Yuda duduk di kursi kayu.

"Iya, Yud. Kalau lama-lama nanti malah dicariin sama si Sumi."

Yuda mengangguk paham.

Pak Hasto pamit dengan hati ringan. Ia pulang membawa syukur—anaknya hidup lebih baik.

****

Malam turun. Ning duduk di tepi ranjang, kaki diselonjorkan. Yuda berlutut di depannya, tangannya hangat memijat perlahan.

“Mas, jangan,” Ning menahan. “Mas capek kerja.”

Yuda tersenyum. “Enggaklah, kan ntar juga dicas.”

Pipi Ning bersemu merah. "Cas apaan?" gumamnya namun masih dapat didengar Yuda.

Suaminya itu tertawa, "Ya dicas. Biar bertenaga lagi. Jadi, ini mijitnya enggak gratis ya."

Jarinya berhenti di bagian kaki yang pincang. Ning meringis kecil. “Sakit.”

Yuda menatapnya khawatir. “Ning… gimana kalau kita periksa lagi? Ke dokter. Siapa tahu masih bisa.”

Ning terdiam. "Tapi... Ibuk bilang..."

"Itu kan kata ibu, bukan kata dokter."

"Tapi Mas, untuk cek ke dokter uangnya enggak sedikit. Butuh banyak."

Yuda tersenyum... Senyum yang menyimpan sesuatu...

1
bibuk Hannan & Afnan
hayuh loh, kalian semuanya knp tdk jujur sedari awal saat Ranu sadar siuman dr koma mengenalkan Ning sebagai anggota keluarga baru status nya istri Yudha biar tdk ada kesalah pahaman
Agunk Setyawan
Ning dimanfaatin Bu anggun orangvtua egois Yuda juga aneh knp g jujur
sutiasih kasih
knapa g jujur aj bu anggun... demi kbaikan smua org....
krn klo diam & mnyembunyikan fakta.... yg ada semakin mnmbah masalah...🙄🙄
Ariany Sudjana
muak lama-lama dengan keluarga Yuda, apalagi Bu anggun, uang ada, tapi menyodorkan Ning untuk menemani Ranu terapi, dan ga mau jujur kaalu Ning itu istrinya Yuda
Sapna Anah
kenapa ga jujur aja sebelum terlambat makin d tutupi justru makinmenyskitkan bagi Ranu dan ning
muthia
bu Anggun egois, kasian ning😭
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
smakin ngeselin in novel, banyak ahli terapys knp nyusahin ning, udh gt si anggun jg gak bil kl ning istri yuda, bodohnya lg ning juga gak bilang kl sdh nikah, ah
Bunda Juna
ibunya goblok greget bnget knpa gak jujur dari awal .....
Sri Rahayu
knp sih ngga terus terang ma Ranu...kl Ning itu istri nya Yuda...ya resiko lah apa yg akan Ranu rasakan, drpd.bohong trs nanti terlalu dlm perasaan Ranu pd Ning... lanjut Thorr😘😘😘
mama
bu anggun soplak.. greget bgt.. tak skip aja lah nunggu semuanya kebongkar aj baru tau rasa.. buat ning ny pergi jauh thor setelah tau semuanya.. biar Yuda sama anggun kalang kabut nyari🤣.. enk aj ning mau di manfaatin cuma buat kesembuhan ranu.. gk mikir ati ny ning blas km yud sm bu anggun😭
Arin
Mending jujur sekarang sebelum terlalu jauh. Daripada nunggu nanti-nanti Bu Anggun
Arieee
sembunyikan terus biar anak u saling benci😡😡😡😡😡😡
Nurmaulida Zahra
satu kata egois untuk keluarga yuda
Sri rahayu
demi anaknya hidup dia menghancurkan anaknya yg lain .sungguh kejam Bu anggun .seharusnya setelah Ranu bangun jujur sebenarnya Ning udah menikah dengan Yuda .jadi Ranu tidak mengharap Ning terlalu dalam
Sri rahayu
kasihan Ning tidak tau sekenario orang tua Yuda dan Yuda sendiri .dia seperti pion yg diumpankan kepada Ranu supaya Ranu mau berusaha tetap hidup dan berjalan seperti sedia kala .mungkin nanti Ning di suruh menikah dengan Ranu .dan Ning tidak tau sekenario yg mereka ciptakan
sutiasih kasih
mna ktegasanmu dbg suami yud....
jgnlah krna ibumu km tega mmbuat ning dlm posisi sulit... pdhl km pun jga merasakn ancaman dlm rmh tanghamu...
boleh bakti trhdp org tua yud.... tpi mnolak hal yg akn mmbuat rmh tanggamu hncur jga suatu keharusan yuda........
krna prmintaan ibumu itu konyol... & mrmaksakn khendaknya...🙄🙄
Indah Puspia Sari
klw percya y bodoh ,udah tes DNA tp klw percya y bodoh
Indah Puspia Sari
klw percya y bodoh ,udah tes DNA tp klw percya y bodoh
Arieee
demi anak yang sakit anak yang sehat ditekan sampai sakit hati🤧🤧🤧🤧
Ariany Sudjana
Yuda bodoh, ga mau bicara sama Ning, apa yang dirasakan. Ning juga bodoh, suami pulang kerja, kok tetap urus Ranu, suaminya dulu yang diprioritaskan. Bu anggun juga bodoh, kan orang kaya, kenapa Ning yang disuruh jadi terapisnya Ranu? ini yang akan menghancurkan rumah tangga Yuda dan Ning
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!