NovelToon NovelToon
Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Status: tamat
Genre:CEO / Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Keluarga & Kasih Sayang / Tamat
Popularitas:3.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: uutami

"Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?"
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki, seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.

"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.

"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."

Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.

"Ning, ayo nikah sama Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 28

Ridho terhuyung, tangannya mencengkeram setir. Pandangannya bergetar. Bayangan-bayangan itu datang bertubi-tubi... Ning berdiri di bawah matahari pucat, Ning berjalan dengan kruk, Ning tersenyum samar seperti menahan sesuatu yang ingin runtuh. Kepalanya berdenyut, nyeri itu merambat dari pelipis ke tengkuk.

"Kenapa… kenapa lagi?" gumamnya parau.

Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang. Rasa sakit itu seperti ombak yang menabrak ingatan... tidak utuh, tidak jelas, tapi cukup kuat untuk membuatnya ingin lari. Ridho menyalakan mesin, memutuskan pergi. Ia tak sanggup berdiri lebih lama di sana, tak sanggup menatap Ning lagi tanpa tahu apa yang sedang mengejarnya.

Rumah itu menyambutnya dengan keheningan. Bukan rumah Pak Hasto... ini rumah Bu Pur dan Pak Pur, orang tuanya. Begitu pintu terbuka, Ridho langsung melangkah cepat ke kamar.

"Ridho?" suara Bu Pur menyusul, cemas. "Kamu kenapa pulang tiba-tiba?"

Ridho tak menoleh. "Pusing, Bu. Mau tidur."

Bu Pur mengejar sampai ambang pintu kamar. "Makan dulu..."

"Nanti," potong Ridho lembut, tapi tegas. "Kepala saya berat."

Pintu tertutup. Ridho menjatuhkan tubuh ke kasur. Dunia berputar pelan, lalu gelap. Tidur menelannya seperti pelarian yang paling aman.

Ia terbangun beberapa jam kemudian dengan napas lebih teratur. Keringat membasahi punggungnya. Kepalanya masih terasa sisa-sisa nyeri, tapi tidak lagi menggila. Ridho duduk, melepas jaket, membuka lemari untuk berganti baju.

Sebuah buku terjatuh.

Bunyi jatuhnya kecil, tapi cukup membuat jantungnya berdebar. Ia memungutnya... sampul cokelat lusuh, sudut-sudutnya tumpul. Ridho membuka halaman pertama.

Foto.

Bukan satu. Beberapa. Foto seorang gadis berjilbab, tersenyum malu-malu. Wajah yang sama. Mata yang sama. Kruk di sampingnya.

"Ning…" Nama itu keluar tanpa izin.

Kepalanya kembali berdenyut. Seperti ada palu memukul-mukul dari dalam. Ridho menutup buku itu cepat-cepat, dadanya naik turun.

Tok. Tok. Tok.

"Ridho?" Bu Pur mengetuk. "Kamu baik-baik saja?"

Ridho menyelipkan buku itu ke balik tumpukan pakaian, tangannya gemetar. "Iya, Bu. Sebentar."

Ia membuka pintu. Bu Pur menatap wajahnya lekat-lekat. "Masih sakit?"

Ridho menggeleng pelan.

"Kamu pucat begitu. Kalau sakit kamu jangan dipaksakan kerja."

Ridho memaksakan senyum. "Udah mendingan kok."

Bu Pur menghela napas, lalu tersenyum tipis. "Ayo makan. Ayah kamu nunggu."

Di meja makan, Pak Pur sudah duduk. Obrolan ringan mengalir... tentang cuaca, tentang berita pagi. Ridho mengangguk di sana-sini, berusaha tampak normal. Ia menahan diri untuk tidak menyentuh kepalanya.

Pintu depan terbuka. Dewi masuk, wajahnya terkejut. "Mas? Kok di sini?"

Ridho berdiri. "Tadi pusing. Maaf nggak ngabarin."

Dewi menatapnya, seolah ingin bertanya lebih jauh. "Kamu kenapa nggak ngajak aku?"

"Dadakan," jawab Ridho cepat. "Aku… butuh istirahat."

Dewi mengangguk pelan, meski sorot matanya menyimpan tanya. "Ya sudah. Lain kali bilang."

Ridho mengangguk. Ia menutup rapat tentang foto, tentang gadis bernama Ning. Tentang nyeri yang datang bersama wajah itu.

****

Sementara itu, Pak Hasto berdiri di depan kontrakan sederhana. Pagar kecil, pot tanaman berjajar rapi. Ning menyambut dengan senyum hangat.

"Masuk, Yah."

Di dalam, rumah itu bersih, rapi, dan hangat. Tak ada barang berlebihan, tapi semuanya tertata. Aroma masakan masih menggantung.

"Mas Yuda yang kerjain semua," kata Ning malu-malu. "Dari pagi. Ning sampai enggak tau harus nglakuin apa."

Pak Hasto menatap putrinya lama, matanya berkaca-kaca. "Alhamdulillah. Itu artinya, dia lelaki yang tepat. lelaki yang meratukan mu. Alhamdulillah ya, Ning?"

Ning tersenyum mengangguk setuju.

Yuda pulang sore itu, menyapa sopan.

"Loh, ada Ayah?"

Pak Hasto tersenyum.

"Maaf Mas, tadi enggak sempat kabarin kalau Ayah jadi datang ke sini." Ning mencium punggung tangan yuda.

"Enggak papa," sahutnya mencium kening Ning.

"Karena suamimu udah datang, Ayah pulang dulu ya," katanya pamit.

"Loh, kok udah mau pulang, Yah?" tanya Yuda duduk di kursi kayu.

"Iya, Yud. Kalau lama-lama nanti malah dicariin sama si Sumi."

Yuda mengangguk paham.

Pak Hasto pamit dengan hati ringan. Ia pulang membawa syukur... anaknya hidup lebih baik.

****

Malam turun. Ning duduk di tepi ranjang, kaki diselonjorkan. Yuda berlutut di depannya, tangannya hangat memijat perlahan.

"Mas, jangan," Ning menahan. "Mas capek kerja."

Yuda tersenyum. "Enggaklah, kan ntar juga dicas."

Pipi Ning bersemu merah. "Cas apaan?" gumamnya namun masih dapat didengar Yuda.

Suaminya itu tertawa, "Ya dicas. Biar bertenaga lagi. Jadi, ini mijitnya enggak gratis ya."

Jarinya berhenti di bagian kaki yang pincang. Ning meringis kecil. "Sakit."

Yuda menatapnya khawatir. "Ning… gimana kalau kita periksa lagi? Ke dokter. Siapa tahu masih bisa."

Ning terdiam. "Tapi... Ibuk bilang..."

"Itu kan kata ibu, bukan kata dokter."

"Tapi Mas, untuk cek ke dokter uangnya enggak sedikit. Butuh banyak."

Yuda tersenyum... Senyum yang menyimpan sesuatu...

1
Rebecca Jaimin
aku cari ternyata dia masih perawan ngk ada tuh
Rebecca Jaimin
karya yang hebat..mengajar apa itu keredhaan,kemaafan dan keikhlasan serta keindahan didalam semuanya itu..teruskan berkarya yg mampu membuka mata hati nurani..moga kita hidup tidak didasari dgn kepahitan masa lalu,tapi menjadikan teladan dn pengalaman di titi usia untuk menjadi insin yg lebih baik dari kemarin,lebih dewasa hari ini untuk hari ini dan dewasa memotivasikan hari esok..
Marina Tarigan
semoga jgn yg nya lina lqqmembenci ningsih Dewi Ranu dan nenek
Marina Tarigan
lanjut yg tetbsik bagi mereka ksrena sdh kedal dipertengahan jln deh
Marina Tarigan
keyemu kuntilanak cantik. hi hi hiii aku cinta kamu zRanu jgn istri juda pantang kualat kamu nanti Ningsih juga ngeri dan jijik melihatmu . bagus pak Deni anakmu tdk normal
Marina Tarigan
rRanu lesong alias gila alias bodoh mencintai istri orang sadarlah tuan kamu tdk laku ya cinta sm idtri orang ningsih taat agama dia bukan jalang tolol kamu mau hancurkan keluargamu sendiri
Marina Tarigan
ranu gila ys dia sakitin yg di tabrak sampai pincang kamu perlu dijebloskan kepenjsra tanpa bertanggung jswab apapun sm korban tabrskanmu otakmu kemana larinya tolol
Marina Tarigan
la jut ceritanya
Marina Tarigan
lanjutkan semoga semua stroke kecuali ningdih
Marina Tarigan
ya elah Ranu sdh iistrimu pun bisa pisah diambil orang ini kamu tabrak dia menferita tdk punya kuasa pincang tdk punya dans berobat dlm segi apapun tdk afa hakmu persoalkan itu juds menjsga dan merswat sampai operadi juga srmbuh total tdk ada sedikitpun jasamu di tubuh ningsinh berpikir jernih lah demi ketenanganmu ningsih bukan barang bisa diofer sesuma hatimu Arun aneh otakmu
Marina Tarigan
salon ning akan berkembang jgn saling merebut harta kalau orang tuamu tdk bijak biarkan saja tinggalkan semua juga ibumu itu yg tdk tegas sejal awsl doa hanya mikirkan Arun bukan rmh tgha mu
Marina Tarigan
bagus tak usah punya saudara begitu ning nukan pacarmu Ranu gomans sekarang ibu zaanggun radakan akibst perbuatsnmu itu anakmu akan saling menghancurkan
Marina Tarigan
biadap kamu Ranu awal kehancuran keluargamu Anggun
Marina Tarigan
salahkan ibumu tdk berterus terang terus maksa ningsih terus bantu therapimu tuan kelusrgamu tdk punya adab ya kalau adst kami ssngst pantang dekat sm ipsr sendiri apalagi sempst pegang apapun ceritanya mknya sussh dekat sama orang tdl punya adsb khusus ibumu dua2 anaknya tetluka korban ningsih jgn mau lagi ningsih biadap mertuamu itu
Marina Tarigan
pindsh saja Ning sm suamimu ke Salon kalian Ranu tdk tahu ning idtri juda ibu Anggun cari masallah
Marina Tarigan
keluarga kaya raya tapi punya ibu biadap jgn2 anakmu berdua saling membunuh aru tahu rasa dan ning kembali pd ridho karena merema saling mencintai dulu
Marina Tarigan
mama anggun tfk benar seorang ibu wataknya menyakiti anak sendiri Ranu belum tahu Ning istri juda fan dulupun ning bukan pacar Ranu dia merasa bersalah karena menabrkaknya dia mencari diA tdk ning istri adiknya juda apa ibu mau menghilir ning ke anak ibu berdua ning bukan barang ibu apa mau ning punya dua suami atau ibu
Marina Tarigan
ning kan bukan pacar Ranu Ning istrimu biadap sia2 kamu pintar dan masa sangsi sm Ranu dan ning bukan barang tak ada masallah apapun ningsih idyrimu atau kamu mau sm zDewi cerita aneh
Marina Tarigan
ning kan sdj fisayang sangat dinikahi juda dan ning sdh dioperasi hingga mormal kembali pikiran keluarga ini kok picik kali
Marina Tarigan
kepoĺosanmu ning bisa bawa petala pd
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!