NovelToon NovelToon
Ramadan'S Promise

Ramadan'S Promise

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: ayuwidia

Dilarang memplagiat karya!


"Dia memilih kakakku..." --Hawa--

"Dan aku memilihmu. Bukan karena tidak ada pilihan lain, Hawa. Tapi karena memang hanya kamu yang aku mau." --Ramadan--

Hawa terpaksa menelan kenyataan pahit saat Damar--sahabat sekaligus laki-laki yang dicintainya, justru melamar Hanum--kakak kandungnya.

Di tengah luka yang menganga, hadir Ramadan sebagai penyejuk jiwa. Tak sekadar menawarkan cinta, Ramadan juga menjadi kompas yang menuntun Hawa keluar dari gelapnya kecewa menuju cahaya ketulusan yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 8 Ramadan's Promise (Janji Ramadan)

Happy reading

Hawa merasa sedikit lega begitu skripsinya berpindah tangan ke dosen pembimbing. Satu dari sekian penyumbang keriuhan otak sudah berkurang.

Ia tidak langsung pulang, melainkan mampir ke kantin untuk melepas penat.

Namun ketika ingin memesan segelas orange juice, ia berpapasan dengan Damar yang sudah membawa dua gelas jus kesukaannya itu.

"Udah aku pesenin, Wa. Kita duduk di tempat biasa," ujar Damar tanpa menunggu persetujuan. Raut wajahnya sendu. Ada kabut kesedihan yang tampak jelas di matanya, namun ia samarkan dengan sebaris senyum khas.

Hawa menarik napas panjang, coba meredam gejolak di dada sebelum akhirnya menyerah pada langkah Damar--lelaki yang telah membuatnya skeptis pada kata 'persahabatan' dan 'cinta'.

Mereka duduk di pojok ruang. Tempat favorit yang kini terasa sempit, menghimpit, dan menyesakkan bagi Hawa.

Dulu, di sinilah sepasang sahabat itu membangun dunia kecil di sela kesibukan kampus, sebelum akhirnya Damar meruntuhkannya hanya dengan satu keputusan: melamar Hanum.

"Wa, tadi aku melihatmu masuk ke dalam masjid bersama pelayan Warung Merapi itu. Jujur, aku nggak rela kamu punya hubungan spesial dengannya. Kalian jauh berbeda. Dan menurutku, dia nggak pantas mendekati gadis sepertimu." Kalimat itu jatuh pelan dari bibir Damar, memecah atmosfer hening yang sejenak tercipta.

Hawa meletakkan gelas yang baru saja ia sesap isinya. Mencoba untuk tetap tenang meski dadanya bergemuruh karena amarah yang serasa ingin meledak.

Ia sungguh tidak menyangka, Damar sampai hati merendahkan Rama hanya karena pekerjaan sampingan yang digeluti.

Di mata Hawa, Damar baru saja kehilangan wibawa. Dia bukan Damar yang ia kenal dulu.

Benaknya membisikkan tanya; mungkinkah perkataan Damar barusan adalah reaksi berlebihan seorang sahabat? Atau justru... kecemburuan seorang lelaki yang memendam rasa cinta?

Hawa segera menepis. Ia berusaha untuk tidak peduli. Sebab baginya, Damar bukan lagi sahabat tempatnya berbagi kasih sayang dan keluh kesah, melainkan calon suami Hanum--kakaknya.

Ada batas tegas yang harus ia jaga. Sebab sedikit saja hatinya goyah, ia bukan hanya mengkhianati dirinya sendiri, tapi juga meruntuhkan dunia Hanum.

"Rama, lelaki hebat. Dia sosok pemuda yang mandiri dan ulet. Bukan anak mami yang mau beli apa-apa tinggal minta ayah atau bunda. Dan asal kamu tahu, apa yang dia kerjakan itu bukan rendahan, tapi mulia, halal, dan berkah."

Suara Hawa bernada rendah, namun tegas dan penuh penekanan.

Damar terpaku, rahangnya mengatup rapat hingga urat di lehernya menegang. Tiada terpikir olehnya, Hawa akan sejauh itu berdiri di garda terdepan untuk Rama. Membela laki-laki yang 'mungkin' kastanya jauh di bawah mereka.

Rasa panas yang asing menjalar di dadanya--sebuah kecemburuan yang mencekik.

"Kamu membandingkan aku dengannya?" suara Damar terdengar bergetar.

"Kamu memuji laki-laki lain di depan sahabatmu sendiri, Wa?" imbuhnya, berusaha menahan ledakan emosi.

Hawa menatap Damar dengan tatapan nanar. Di balik binar matanya yang berkaca, ada luka yang tak terucap, namun sangat nyata terlihat.

"Aku nggak bermaksud membandingkan kamu dengan Rama, tapi menuturkan fakta... bahwa harga diri seseorang tidak ditentukan oleh seberapa banyak harta ayahnya, atau seberapa tinggi derajat keluarganya di mata manusia, tapi... dari bagaimana dia berdiri di atas kakinya sendiri, tanpa meminta atau mengiba belas kasih orang lain."

Ia memberi penekanan kuat pada kata tidak. Sebisa mungkin terlihat tegar di hadapan Damar.

"Kamu menyukainya?"

Suara Damar terdengar parau. Matanya berkaca, memancarkan luka yang tak sanggup lagi ia tutupi. Ada rasa ngilu yang menusuk ulu hati saat pertanyaan itu akhirnya terlepas.

"Ya, aku menyukainya."

Hawa tidak berdusta. Ia memang menyukai pribadi Rama, mengagumi akhlaknya. Tapi hanya sebatas itu. Bukan cinta. Dan mungkin... belum.

Seusai memberi jawaban, Hawa bergegas membawa tubuhnya beranjak. Langkahnya terburu, membelah keramaian kantin.

Ia meninggalkan Damar yang kini mematung di tengah riuhnya denting sendok dan gelak tawa para mahasiswa.

Damar terpaku, diam tak bergerak. Ia tersiksa oleh rasa yang tak kuasa diungkapkan pada Hawa--sahabat sekaligus gadis yang diam-diam ia cintai.

Selama ini Damar mengira, hanya dialah satu-satunya lelaki yang menempati ruang khusus di hati Hawa. Ia tak pernah benar-benar tahu bahwa namanya memang bertahta tunggal di relung rasa gadis itu. Namun, itu dulu--sebelum ia melakukan kesalahan fatal yang meremukkan hati.

.

.

Hawa berjalan dengan langkah gontai, menyeret kakinya yang terasa lunglai tanpa arah tujuan pasti.

Ia tidak pernah bermimpi... hubungan persahabatannya dengan Damar yang dulu hangat, akan berakhir semenyedihkan ini.

"Hawa..." Suara itu milik Rama.

Ia menghentikan laju Vespa-classic nya tepat di sisi Hawa.

Seketika ayunan kaki Hawa terhenti. Gadis bermata bulat itu membuang napas berat, lantas menoleh ke arah Rama.

"Mau ke mana, Non?" tanya Rama--berusaha mencairkan suasana.

Hawa menggeleng lemah. Melayangkan tatapan sendu yang bisa dipahami oleh Rama.

"Nggak tahu, Ram," gumamnya lirih, hampir tertelan suara mesin Vespa.

"Pulang atau... mau ikut melihat pameran karya seni?"

"Di mana?"

"Di pendopo Abi--" ucapan Rama terhenti sejenak. Ia berdeham canggung sambil meralat kalimatnya. "Maksudku, di Pendopo Bagaskara. Ada pameran kecil di sana siang ini."

Hawa terdiam sejenak, menimbang tawaran itu.

Akhirnya, sebuah anggukan kecil menjadi jawabannya. Ia butuh pergi sejauh mungkin untuk membungkam riuh di kepala dan hatinya, setidaknya untuk sementara waktu.

"Aku pesenin Go-Car ya?" tawar Rama lembut.

Hawa mengernyit tipis. "Kenapa nggak bonceng aja?" tanyanya.

"Besok kalau udah halal." Rama tertawa kecil usai melontarkan kata-kata itu. Bukan sekadar candaan, melainkan sebuah pernyataan jujur yang lahir dari palung hati.

Hawa mengira ucapan Rama hanyalah kelakar ringan. Ia menanggapi dengan senyum tipis, bukan dengan ekspresi berlebihan, sebab ada sisa trauma yang membuatnya takut untuk kembali menaruh harapan pada kata-kata manis.

"Gimana, mau aku pesenin Go-Car?"

Hawa mengejapkan mata, berusaha mengusir sisa-sisa lamunan pahitnya, kemudian mengangguk lemah.

"Terserah kamu aja, Ram."

Rama mengulas senyum. Ia mulai menggerakkan jari di atas layar ponsel dengan lincah, memesan taksi online untuk membawa Hawa ke Pendopo Bagaskara--bangunan klasik dan estetik yang berada di tengah pedesaan.

Hening tercipta di antara mereka. Rama berdiri tegap di sisi jalan, membelakangi arah angin agar debu jalanan tak mengenai Hawa, sementara gadis itu menunduk, diam-diam meresapi rasa aman dan nyaman yang menyusup ke relung jiwa.

Tanpa menunggu lama, mobil putih yang dipesan Rama menepi tepat di hadapan mereka.

Dengan cekatan, Rama membukakan pintu belakang untuk Hawa, namun tetap menjaga jarak dengan sangat sopan.

Sebelum Hawa benar-benar masuk ke dalam kabin mobil, Rama menatapnya dengan binar tulus yang menenangkan.

"Jangan sedih lagi, ya. Tenang, ada aku," ucap Rama lirih namun mantap. Sebuah janji yang bukan sekadar bualan, melainkan pernyataan sikap yang siap ia buktikan.

Sesaat, Hawa tertegun. Meraba rasa hangat yang menjalar hingga ke dada ketika mendengar kalimat itu.

Ia meyakini, ada ketulusan yang tersirat di sana.

🍁🍁🍁

Bersambung

1
Nofi Kahza
iya, rejekinya lebih dari cukup. cukup belikah Hawa gamis segedung-gedungnya🤭
Nofi Kahza
Ram, kamu sengaja ya bikin Hawa pingsan karena salting?🤣
Nofi Kahza
Pak Asep datang sedetik di saat jantung Hawa nyaris copot🤭
Nofi Kahza
mau komen, tapi salfok sama komen kak Naj di atas. itu artinya apa ya?🤭
Nofi Kahza
ciieee... salting ni yeeeee🤣
Nofi Kahza
jantungnya aman kan Rama...🤭🤭
ren_iren
bakal malu setengah hidup itu nanti emaknya hawa😂😂😂
yg dikira perintis ternyata pewaris 😂😂
ren_iren
pelayan warung merapi tp aslinya mas Rama itu pewaris lo... jgn underestimate dulu mas Damar🤭😁😂
Ayuwidia: Tau aja, Kak 😄
total 1 replies
Mila Mulitasari
gimana reaksi bu gistara kalau tahu pemuda yg diremehkan adalah anak sahabatnya sendiri
Ayuwidia: Mungkin syok berat, Kak 😄
total 1 replies
Najwa Aini
uangmu banyak sekali Rama, aslinya...
boleh lah kasih thr kami para pembacamu ini
Ayuwidia: Bukan cuma pembaca yg dikasih, tapi othornya juga 😆
total 1 replies
Najwa Aini
sok kenal pada owner kafe..padahal ya emang kenal banget...
Ayuwidia: Betoel
total 1 replies
Najwa Aini
Nah si Rama kalau udah mode khotbah..Bi .Ijah pun pasti meleyott
Ayuwidia: Penulisnya pun mleyot
total 1 replies
Najwa Aini
Itu sih mobil bapaknya sendiri
Ayuwidia: Tahu ajah
total 1 replies
Najwa Aini
Semuanya nyaman dibaca kok...
upps..belum apa² dah komen
Ayuwidia: Saking nyamannya, yg baca cuma singgah. Nggak mau kenalan sama othornya 😆
total 1 replies
Ririn Rira
Bener kata Rama nggak ada yang nama nya membawa sial.
Ayuwidia: Betoel, Kak
total 1 replies
Nofi Kahza
kapan lagi bisa dicintai cowok keren kayak Rama coba. terima aja cintanya ya Hawa. aku restuin😆
Ayuwidia: Iya, Mak 😆
total 1 replies
Nofi Kahza
setuju sih aku..
Nofi Kahza
mending sudahin semuanya skrg, Damar.
Nofi Kahza
Nah betul. Bi Ijah kok gaul sih cara pikirnya. Nggak kolot kayak ortunya Hawa yg jelas2 lebih berpendidikan👍
Ayuwidia: dipaksa gaul sama othornya 😎
total 1 replies
Nofi Kahza
Bi Ijah tauuuuk aja😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!