Zayna Almeera adalah badai yang dipaksa berhenti di sebuah desa tenang. Terbiasa dengan gemerlap kota, ia merasa dunianya runtuh saat harus menukar kehidupan mewahnya dengan ubin pesantren yang dingin. Ia datang membawa duri, siap menusuk siapa pun yang mencoba menjinakkan kebebasannya.
Di sana, ia bertemu Gus Haidar. Pemuda itu seperti telaga luas yang tak terusik; bicaranya tenang, tatapannya terjaga, dan dunianya hanya berisi pengabdian. Bagi Zayna, Haidar adalah teka-teki silang yang menyebalkan. Namun bagi Haidar, Zayna adalah kebisingan yang tiba-tiba membuat kesunyiannya terasa lebih lengkap.
Antara keras kepalanya Zayna dan sabarnya Haidar, ada sebuah cerita tentang bagaimana rasa pahit harus dibiarkan mengendap agar manisnya bisa dinikmati. Zayna ingin lari, tapi hatinya justru perlahan tertambat pada ketenangan yang tak pernah ia temukan di riuhnya kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seblak air mata dan aroma surga yang terlarang
Strategi K-Pop kemarin gagal total. Zayna kini harus berkutat dengan kertas-kertas berisi tulisan Arab Pegon yang bentuknya lebih mirip cacing kepanasan daripada sebuah lirik lagu. Jemarinya ternoda tinta, dan hatinya meronta.
"Zoy, aku nggak tahan. Perutku ini sudah terbiasa diisi pasta, minimal nasi padang lah. Di sini tempe lagi, tahu lagi. Aku merasa lama-lama kulitku bakal berubah jadi kedelai," keluh Zayna sambil melempar penanya ke lantai.
Zoya yang sedang menghafal Imrithi hanya tersenyum sabar. "Mbak Zay, makanan pesantren itu berkah. Biar hati tenang, pikiran terang."
"Pikiran terang sih iya, tapi lambungku gelap gulita, Zoy!" Zayna tiba-tiba mendapat ide cemerlang. Matanya berbinar nakal. "Aku punya aplikasi sakti. Kalau aku pesan seblak level 10 dengan ekstra ceker dan makaroni, terus aku minta abang ojeknya lempar lewat pagar belakang, kamu mau nggak?"
Zoya membelalak. "Mbak, itu pelanggaran berat! Kalau ketahuan keamanan, bisa digundul!"
"Tenang, pimpinan keamanannya kan si 'Gus Penjaga Lantai' itu. Dia kan nggak pernah nengok ke atas, paling cuma liat sandal abang ojeknya doang."
Satu jam kemudian, di pojok pagar belakang yang rimbun dengan pohon bambu, Zayna berdiri waspada. Bau kencur dan cabai yang menyengat mulai tercium dari balik tembok. Itu adalah aroma "surga" yang sudah lama ia rindukan.
Puk! Sebuah bungkusan plastik mendarat dengan selamat di semak-semak.
"Yes! Skor satu kosong buat Zayna!" serunya tanpa sadar.
Namun, saat Zayna hendak memungut hartanya, sebuah bayangan panjang jatuh menutupi bungkusan seblak itu. Zayna membeku. Sepatu sandal kulit berwarna cokelat tua yang sangat bersih berada tepat di samping plastiknya.
Zayna mendongak perlahan. Dan benar saja, di sana berdiri Gus Haidar. Ia sedang memegang sebuah kitab kecil, tampaknya sedang melakukan murojaah (setoran hafalan) sambil berjalan di area sunyi itu.
"Mbak Zayna," suara Haidar membelah kesunyian, datar namun berwibawa. "Saya tidak tahu kalau pohon bambu di pesantren ini bisa berbuah plastik merah."
Zayna dengan cepat menyembunyikan plastik itu di balik punggungnya, meski uap pedasnya mulai membuat hidungnya gatal. "Eh, Gus Haidar. Lagi cari inspirasi ya? Ini... ini bukan apa-apa kok Gus. Ini cuma... sampah yang jatuh dari langit. Saya lagi mau membuangnya ke tempat sampah. Sosok santriwati teladan, kan?"
"Sampah yang baunya sampai ke gerbang depan?" Haidar masih tidak menatap wajah Zayna. Ia menatap ke arah rumpun bambu yang bergoyang ditiup angin. "Mbak Zayna, aroma kencur itu sangat jujur. Ia tidak bisa berbohong seperti lisan."
Zayna menyerah. Ia mengeluarkan plastik itu. "Oke, oke! Ini seblak! Saya lapar, Gus! Di sini makanannya terlalu sehat buat jiwa saya yang penuh dosa ini. Tolonglah, sekali ini saja. Jangan sita seblak saya. Ini level 10, perjuangannya berat!"
Haidar terdiam sesaat. Zayna bersiap untuk mendengar ceramah panjang atau ancaman pengusiran (yang sebenarnya ia harapkan). Namun, Haidar justru melakukan sesuatu yang tak terduga.
Ia merogoh saku kokonya, mengeluarkan sebuah sapu tangan bersih, lalu memberikannya kepada Zayna—tanpa menyentuh tangannya.
"Makanlah di kantin, jangan di sini. Banyak nyamuk," ujar Haidar pelan.
Zayna melongo. "Hah? Nggak disita? Nggak dihukum?"
"Hukumannya adalah..." Haidar menjeda langkahnya yang hendak pergi. "Mbak Zayna harus membagi seblak itu dengan Zoya. Dan setelah makan, Mbak harus membersihkan area ini dari sisa aroma cabai agar tidak mengganggu santri lain yang sedang menghafal. Satu lagi..."
Haidar menunduk lebih dalam, namun Zayna bisa melihat jakun pemuda itu bergerak, seperti menahan tawa atau sesuatu yang lain.
"Level 10 itu terlalu pedas untuk lambung yang belum terbiasa dengan doa. Lain kali, pesan yang level 3 saja. Saya tidak ingin wali santri saya—maksud saya, Ayah Mbak—khawatir karena anaknya sakit perut di hari ketiga."
Haidar pergi dengan langkah cepat, meninggalkan Zayna yang berdiri mematung memegang plastik seblak dan sapu tangan harum gaharu.
"Zayna menatap punggung Haidar yang menjauh. 'Wali santri saya?' gumamnya bingung. 'Kenapa dia peduli banget sama lambungku?' Sementara itu, di balik tembok kelas, Haidar mengusap dadanya yang berdegup kencang. Ia tahu betul, seblak itu dipesan dari kedai langganannya dulu saat ia masih di luar. Ia hanya tak menyangka, selera mereka bisa sekembar itu."
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
dari sekian banyaknya novel yg aku baca Cuma In yg Membuat Aku pangling Dan kagum Banget dengan Stiap Untaian katanya, Aplgi sangat Puitis banget
yg Lainnya Nanti Dluu hehehehhe,
yang Lain Tentang Apa Thor Law tentang percintaan Aku mau baca 🤭🤭🤭?
udah banyak Up Hari in
Pdhal aku bruu sja mendapatkan kesenangan Mlah Di BKIN Tak Karuan lgii
sring2 yaa Thor up 3 bab Biar Aku tambah smngat Bacanya
bercanda Thor mksih Thor Udah BKIN Novel SE kece In, Smangat Thor up nya law bisa 3 bab pun gpp