Arumi kehilangan segalanya dalam satu malam bayinya yang baru lahir tewas dalam kecelakaan tragis, dan ibunya kini kritis di rumah sakit tanpa biaya. Namun, takdir mempermainkannya; meski bayinya tiada, ASI Arumi tetap mengalir deras—sebuah pengingat menyakitkan akan kehilangan yang ia alami
Di sisi lain, Arlan Arkananta, seorang CEO dingin yang berkuasa, menyimpan rahasia besar. Ia memiliki seorang putra bayi bernama Leon yang keberadaannya disembunyikan dari dunia dan pihak keluarga besar. Leon menolak semua susu formula dan perawat, hingga hanya aroma tubuh Arumi yang mampu menenangkannya.
Terdesak oleh biaya rumah sakit, Arumi terpaksa menandatangani kontrak "Iblis". Ia bersedia menjadi ibu susu rahasia di mansion tersembunyi milik Arlan dengan aturan ketat: Dilarang mengungkap identitas bayi, dilarang keluar tanpa izin, dan yang paling berat—dilarang memiliki keterikatan emosional.
Namun, di balik tembok mansion yang dingin, Arumi menemukan bahwa Leon bukan sekadar bayi biasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: JEBAKAN DI BALIK JAS PUTIH
Pagi di Fakultas Kedokteran biasanya riuh dengan diskusi jurnal medis, namun bagi Arumi, setiap langkah di koridor kini terasa seperti berjalan di atas hamparan duri yang tak terlihat.
Kehadiran Raka—yang kini menyamar sebagai mahasiswa pascasarjana dengan kacamata hitam dan buku tebal yang tak pernah dibacanya—memberikan rasa aman sekaligus canggung.
Arlan benar-benar tidak main-main; suaminya itu telah memasang barikade perlindungan yang membuat Arumi merasa seperti aset negara yang sangat berharga.
Di ujung koridor, dr. Adrian sudah menunggu. Pria itu tampak segar, jas putihnya rapi tanpa kerutan sedikit pun. Ia tersenyum ramah saat melihat Arumi, sebuah senyum yang kini membuat Arumi merasa waspada setelah peringatan keras dari Arlan semalam.
"Arumi, kau tepat waktu," sapa Adrian. Ia melirik Raka yang berdiri dua meter di belakang Arumi dengan tatapan menilai. "Pengawal yang gigih. Apakah suamimu berpikir kampus ini adalah zona perang?"
"Keamanan adalah prioritas bagi Arlan, Dok," jawab Arumi singkat.
"Tentu. Mari masuk, kita punya jadwal di laboratorium farmakologi hari ini. Ada penelitian tentang senyawa baru untuk pasien jantung yang ingin kutunjukkan padamu. Ini bisa jadi bahan skripsimu nanti," ajak Adrian.
Arumi mengikuti Adrian masuk ke laboratorium khusus yang hanya bisa diakses oleh dosen dan asisten peneliti. Raka tertahan di pintu masuk karena aturan sterilisasi ruangan. "Saya akan menunggu di sini, Nyonya," bisik Raka.
Di dalam laboratorium yang hening, Adrian mulai sibuk dengan tabung reaksi dan mikroskop. Ia menjelaskan dengan sangat detail, menunjukkan dedikasi seorang ilmuwan yang brilian. Arumi sempat terhanyut; ia rindu pada diskusi intelektual seperti ini. Namun, saat Adrian memintanya mengambil sampel cairan di lemari pendingin ujung ruangan, Arumi melihat sesuatu yang janggal.
Di atas meja kerja Adrian, terdapat sebuah amplop cokelat yang setengah terbuka. Di sudutnya menyembul sebuah foto. Arumi tidak bermaksud mengintip, namun matanya menangkap gambar yang sangat familiar: Ibunya.
Bukan foto ibunya yang sekarang sedang terbaring di rumah sakit, melainkan foto ibunya sepuluh tahun lalu saat masih bekerja di Klinik Grha Medika, sedang bersalaman dengan seorang pria yang wajahnya dicoret dengan tinta merah.
"Dokter Adrian... ini?" tanya Arumi, suaranya bergetar.
Adrian berbalik, wajahnya yang tadi ramah mendadak berubah menjadi datar dan dingin. Ia tidak tampak terkejut rahasianya terbuka. Ia justru meletakkan tabung reaksinya dan berjalan mendekati Arumi.
"Kau sangat teliti, Arumi. Itulah kenapa aku selalu menyukaimu sejak dulu," ucap Adrian. Ia mengambil amplop itu dan melemparkannya ke atas meja. "Kau ingin tahu siapa pria yang dicoret itu? Itu adalah ayahku. dr. Wirayudha, kepala riset yang dipecat secara tidak hormat oleh ayah Arlan karena menolak memalsukan data malapraktik sepuluh tahun lalu."
Arumi mundur selangkah, jantungnya berdegup kencang. "Jadi... kau mendekatiku bukan karena ingin membantuku kuliah?"
"Awalnya, aku mendekatimu karena aku memang mengagumimu. Tapi setelah aku tahu kau adalah wanita yang dinikahi Arlan Arkananta, semuanya berubah. Keluarga Arkananta telah menghancurkan karir ayahku hingga beliau depresi dan mengakhiri hidupnya. Sekarang, aku ingin Arlan merasakan apa yang aku rasakan. Kehilangan segalanya... termasuk kau."
Sebelum Arumi sempat berteriak memanggil Raka, Adrian melakukan sesuatu yang tak terduga. Ia mengambil sebotol cairan dari rak obat-obatan terlarang (narkotika golongan IV yang digunakan untuk riset) dan dengan sengaja menjatuhkannya ke lantai dekat kaki Arumi hingga pecah.
"Apa yang kau lakukan?!" teriak Arumi.
Seketika itu juga, pintu laboratorium terbuka. Bukan Raka, melainkan Dekan Fakultas dan beberapa petugas keamanan kampus yang tampak sudah "diundang" tepat waktu.
"Ada apa ini?" tanya Dekan dengan wajah merah padam.
"Maaf, Dekan," ucap Adrian dengan nada yang berpura-pura sedih dan panik. "Saya memergoki Arumi sedang mencoba mengambil morfin dosis tinggi dari lemari penyimpanan. Saat saya mencoba mencegahnya, dia menjatuhkannya.
Saya rasa... dia mengalami tekanan mental yang hebat karena masalah keluarganya."
Arumi membelalak. "Itu bohong! Dia yang menjatuhkannya sendiri!"
Petugas keamanan segera mendekat. Raka mencoba masuk, namun ia dihadang oleh lebih banyak petugas. Di dunia akademis, kesaksian seorang dokter berprestasi seperti Adrian jauh lebih berharga daripada pembelaan seorang mahasiswa yang memiliki latar belakang kontroversial.
"Arumi Salsabila, tindakan ini adalah pelanggaran berat. Kamu harus ikut kami ke ruang disiplin," perintah Dekan.
Arumi menoleh ke arah Adrian. Pria itu menatapnya dengan senyum kemenangan yang tipis, sebuah seringai iblis yang tersembunyi di balik jas putih sucinya. Arumi menyadari bahwa ia telah masuk ke dalam lubang buaya yang sengaja digali untuk menjatuhkan reputasi Arlan melalui dirinya.
Berita tentang "Istri Arlan Arkananta mencuri obat terlarang di kampus" meledak di media sosial dalam hitungan menit. Arlan, yang sedang memimpin rapat penting di A&A Venture, langsung berdiri saat melihat notifikasi di ponselnya.
Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengambil kunci mobilnya dan keluar dari ruang rapat, meninggalkan para investor yang kebingungan.
Tiga puluh menit kemudian, Arlan sampai di gedung rektorat. Ia masuk seperti badai yang siap menghancurkan apapun yang menghalanginya. Raka menyambutnya dengan wajah penuh penyesalan. "Maaf, Tuan, saya tidak diperbolehkan masuk ke lab..."
"Diam, Raka. Urus itu nanti," potong Arlan.
Arlan mendobrak pintu ruang disiplin. Di sana, Arumi duduk di pojok ruangan dengan air mata yang mulai mengalir, sementara Adrian sedang memberikan "kesaksian" palsunya.
"Arlan!" seru Arumi, langsung berlari ke pelukan suaminya.
Arlan mendekap Arumi erat, matanya menatap tajam ke arah Adrian dan Dekan. "Siapa yang berani menyentuh istriku?"
"Tuan Arlan, ini masalah serius. Arumi tertangkap tangan—"
"Tutup mulutmu, Dekan!" bentak Arlan. Ia mengeluarkan sebuah perangkat kecil dari sakunya. "Kau pikir aku membiarkan istriku masuk ke tempat ini tanpa pengamanan ekstra? Anting yang dipakai Arumi bukan hanya perhiasan. Itu adalah alat perekam audio dan video real-time yang terhubung langsung ke server pribadiku."
Wajah Adrian seketika memucat. Ia tidak menyangka Arlan akan sekaku itu dalam hal pengamanan.
Arlan menekan tombol play di tabletnya. Suara Adrian yang mengakui dendamnya dan sengaja menjatuhkan botol obat itu bergema dengan sangat jelas di ruangan tersebut.
Keheningan yang mematikan menyelimuti ruangan. Dekan Fakultas tampak seperti ingin menghilang dari bumi.
"Sekarang," ucap Arlan dengan nada rendah yang sangat mengancam, melangkah mendekati Adrian. "Kau ingin menghancurkanku lewat istriku? Kau menggunakan profesi muliamu untuk balas dendam pribadi?"
Arlan menarik kerah jas putih Adrian dan menghantamkannya ke dinding. "Ayahmu dipecat karena dia memang bersalah, Adrian. Dia memalsukan data untuk keuntungan pribadi, bukan karena ayahku jahat. Dan sekarang, kau akan mengikuti jejaknya ke penjara."
Setelah polisi membawa Adrian, Arlan membawa Arumi keluar dari kampus. Mereka berdiri di parkiran yang mulai sepi. Arumi masih gemetar, shock karena pengkhianatan seseorang yang dulu ia anggap sebagai pahlawan.
"Aku sudah bilang padamu, Arumi," Arlan menghela napas panjang, mengusap air mata di pipi Arumi. "Dunia ini tidak seindah yang kau bayangkan. Orang-orang akan menggunakan kebaikanmu sebagai senjata untuk menusukmu."
"Aku hanya ingin percaya bahwa masih ada orang baik, Arlan," isak Arumi.
Arlan memeluknya lagi, kali ini lebih lembut. "Ada orang baik. Tapi mereka jarang berada di tempat yang penuh dengan perebutan kekuasaan. Mulai sekarang, kau tidak akan kembali ke kampus ini. Aku akan membelikan universitas ini jika perlu, atau kita akan memindahkanmu ke luar negeri di mana kau bisa belajar dengan tenang."
"Tidak," jawab Arumi tegas, mendongak menatap Arlan. "Jika aku lari sekarang, Adrian dan orang-orang yang mendukungnya akan menang. Aku akan tetap di sini. Aku akan membuktikan bahwa aku bisa menjadi dokter hebat tanpa bantuan siapapun, kecuali dukungamu."
Arlan menatap mata Arumi yang penuh tekad. Ia tersenyum, bangga pada wanita yang dulu ia anggap lemah sebagai ibu susu itu. "Baiklah. Tapi jangan salahkan aku jika mulai besok, Raka akan membawa sepuluh orang tambahan untuk menjagamu."
Namun, di balik pohon besar di seberang jalan, seorang pria lain sedang mengamati mereka. Pria itu memegang telepon. "Rencana A gagal. Adrian tertangkap. Kita harus beralih ke Rencana B... sasar ibunya di rumah sakit."
Suara di telepon itu adalah suara wanita yang sangat familiar: Victoria Arkananta