NovelToon NovelToon
Bara'S Kitchen: Sepotong Kisah Di Setiap Gigitan

Bara'S Kitchen: Sepotong Kisah Di Setiap Gigitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Horor / Slice of Life / Komedi
Popularitas:517
Nilai: 5
Nama Author: W. Prata

“Orang bilang, masakan Bara bisa bikin orang menangis, jatuh cinta, atau mati. Tergantung niat pemesannya.”

Bara Mahendra, koki pelit yang terjebak masa lalu, hanya ingin hidup tenang dan cuan. Namun, di *Bara's Kitchen*, ketenangan adalah mitos. Bersama Lintang, admin Gen Z gila konten, dan Mang Ojak dengan mobil bututnya, Bara harus menghadapi pesanan-pesanan tak masuk akal.

Siapkan nyali sebelum mencicipi. Karena di dapur ini, kenyang saja tidak cukup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W. Prata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ARC 6 - CH 31 : Melanggar

KRESEK.

Suara seretan langkah kaki dari atas tumpukan daun kering itu terdengar pelan, namun gaungnya memantul mengerikan di dinding-dinding batu Goa Suro.

Udara sore yang tadinya sejuk seketika anjlok menjadi dingin yang menggigit tulang. Angin berhembus dari dalam lubang gelap itu, membawa serta kombinasi aroma yang membuat perut mual: wangi bunga melati yang sangat menyengat, bercampur dengan bau anyir besi berkarat yang identik dengan darah segar.

Lintang berdiri membeku bak patung es. Ponsel cerdas di tangannya nyaris terlepas. Gadis Gen Z yang biasanya tak pernah kehabisan kata-kata untuk mendebat bosnya itu, kini bahkan tidak sanggup menarik napas. Tenggorokannya seolah dicekik oleh tangan kasat mata.

Sreg... Sreg... Sreg...

Suara seretan itu semakin dekat. Mengarah keluar dari kegelapan goa menuju mulut luar yang ditutupi oleh akar-akar beringin raksasa.

Bara Mahendra, sang koki tiran yang tidak pernah percaya pada takhayul, merasakan insting purbanya menyala terang benderang. Alarm tanda bahaya di kepalanya berteriak memekakkan telinga. Logika kapitalisnya yang selalu mengukur segala sesuatu dengan uang dan untung-rugi mendadak tumpul di hadapan teror tak berwujud ini.

Mata Bara menyipit, mencoba menembus kegelapan goa. Di balik tirai akar beringin yang menjuntai, dia melihatnya.

Sebuah siluet.

Tingginya tidak wajar, mungkin nyaris mencapai dua setengah meter, membungkuk hingga kepalanya nyaris menyentuh langit-langit goa. Sosok itu tidak berjalan layaknya manusia. Tubuhnya bergerak patah-patah, dengan satu kaki diseret secara paksa. Tidak ada wajah yang terlihat, hanya kegelapan pekat, namun Bara bisa merasakan sepasang 'mata' sedang menatap lurus ke arah mereka berdua dengan kebencian yang luar biasa pekat.

‘Itu bukan manusia’. Satu kesimpulan itu menghantam otak Bara dengan keras.

Bara tidak menjerit. Dia tidak histeris. Mode bertahan hidupnya mengambil alih sepenuhnya. Dengan gerakan secepat kilat, tangan kanannya mencengkeram erat lengan Lintang.

"Lari," desis Bara tertahan, suaranya sangat rendah dan tajam.

Lintang masih terpaku, matanya melotot kosong ke arah goa. Tubuhnya tremor hebat.

"Gue bilang LARI, Lintang!" bentak Bara, kali ini nyaris berteriak.

Tanpa menunggu persetujuan gadis itu, Bara menarik lengan Lintang dengan kekuatan penuh, memaksanya berbalik badan. Tarikan kasar itu sukses memecahkan kelumpuhan Lintang. Gadis itu tersentak, napasnya memburu, dan kakinya akhirnya mulai bergerak mengikuti langkah panjang bosnya.

Mereka berlari menerobos rimbunnya hutan bambu kuning.

Pemandangan estetik dengan cahaya golden hour yang tadi diagung-agungkan Lintang sudah lenyap tak berbekas. Matahari turun dengan sangat cepat, jauh lebih cepat dari yang seharusnya. Semburat senja di langit berubah menjadi warna jingga keunguan yang mencekam waktu surup, batas antara siang dan malam di mana makhluk tak kasat mata mulai menguasai bumi.

"Mas! Mas Bara! Itu apa tadi, Mas?!" jerit Lintang di sela-sela napasnya yang ngos-ngosan. Gadis itu berlari terseok-seok, beberapa kali nyaris tersandung akar bambu yang mencuat dari dalam tanah.

"Nggak usah banyak tanya! Jangan noleh ke belakang! Terus jalan!" sahut Bara tanpa menoleh. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Tangannya tak melepaskan cengkeraman pada lengan kasirnya itu.

Suara gesekan ribuan batang bambu kuning di sekeliling mereka yang tertiup angin senja menciptakan harmoni yang mengerikan. Deritnya terdengar seperti suara rintihan, tangisan, dan sesekali... seperti tawa melengking dari seorang wanita.

Kik... kik... kik...

Lintang menutup telinganya yang bebas dengan sebelah tangan, air mata panik mulai merebak di pelupuk matanya. "Mas, suara apaan itu, Mas?! Gue mau pulang! Gue nggak mau mati di sini, Gue belom nikah sama lu!"

"Fokus ke jalan, Lintang! Lu kira gue mau mati miskin di tengah hutan ginian?!" geram Bara, mencoba menutupi kepanikannya sendiri dengan amarah khasnya.

Bara terus menarik Lintang menembus kerapatan bambu, mencoba mengingat-ingat jalur setapak yang mereka lewati tadi. Logikanya masih berusaha memegang kendali. ‘Kita cuma jalan lurus dari area sawah. Seharusnya dalam lima menit kita udah nemu jalan keluar, atau seenggaknya ngeliat Mang Ojak.’

Namun, lima menit berlalu. Sepuluh menit berlalu. Lima belas menit berlalu.

Jalan keluar itu tak kunjung terlihat.

Ke mana pun mata Bara memandang, yang terlihat hanyalah deretan tiang-tiang bambu kuning yang identik, menjulang tinggi menutupi langit yang kini telah berubah menjadi abu-abu gelap. Tanah yang mereka pijak terasa semakin lembab. Jalan setapak yang tadinya kering berdebu, entah sejak kapan berubah menjadi lumpur basah yang licin.

Langkah Bara perlahan memelan, hingga akhirnya benar-benar berhenti. Napasnya terengah-engah.

"K-kenapa berhenti, Mas?" tanya Lintang dengan napas tersengal, menyandarkan punggungnya ke salah satu batang bambu. Wajah gadis itu pucat pasi, matanya bergerak liar menyapu sekeliling.

Bara mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dengan sebelah tangan. Dia melihat ke sekeliling, memutar tubuhnya tiga ratus enam puluh derajat. Keningnya berkerut dalam.

Pohon beringin besar dengan akar gantung yang menutupi sebuah lubang gelap. Goa Suro.

Mereka kembali ke titik awal.

"Nggak mungkin," gumam Bara pelan, urat di lehernya menonjol. "Kita dari tadi lari lurus ke arah selatan. Gue merhatiin arah angin. Kenapa kita balik lagi ke depan mulut goa ini?"

Lintang langsung jatuh terduduk di atas tanah berlumpur begitu menyadari pemandangan di depannya. Tangisnya pecah. "Kita diputer-puterin, Mas! Kata orang tua zaman dulu, kalau di hutan muter-muter terus, itu namanya disasarin sama penunggu sini! Kita bakal jadi tumbal Goa Suro!"

"Jaga mulut lu, Lintang! Jangan ngomong sembarangan!" bentak Bara, meski suaranya mulai kehilangan ketegasannya.

Bara merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel untuk mengecek GPS atau menghubungi Mang Ojak. Namun, layar ponselnya gelap gulita. Mati total. Padahal dia sangat yakin baterainya masih tujuh puluh persen sebelum berangkat.

Udara di sekitar mereka semakin membeku. Langit di atas benar-benar kehilangan cahayanya, menyisakan kegelapan malam yang perlahan menelan hutan bambu tersebut.

Dan saat itulah, aroma itu kembali.

Wangi bunga melati pekat yang memuakkan, menyusup masuk melalui rongga hidung mereka. Bersamaan dengan itu, suara seretan kaki kembali terdengar dari dalam mulut Goa Suro.

Sreg... Sreg...

Kali ini, suaranya jauh lebih cepat. Sosok itu tidak lagi diam di dalam goa. Ia bergerak keluar.

"Berdiri, Lintang!" Bara menarik paksa lengan gadis itu hingga berdiri. Kepanikan yang sesungguhnya akhirnya meruntuhkan tembok rasionalitas sang tiran. "Bangun! Kita lari lagi ke arah sana! Terabas aja semua rimbunan bambu itu!"

Lintang menangis tersedu-sedu, kakinya terasa seperti jelly. "Nggak bisa, Mas... kaki Lintang lemes... Lintang nggak kuat lari lagi..."

"Lu mau mati di sini?!" Bara menatap nyalang ke arah karyawannya itu. Untuk pertama kalinya, Lintang melihat raut ketakutan yang tulus di wajah bosnya yang selalu sedingin es. "Gue bawa lu dari kota ke sini bukan buat setor nyawa ke setan! Nyokap gue nungguin di rumah! Ayo jalan!"

Sreg... Sreg... Sreg!

Suara itu sudah berada di ambang mulut goa. Siluet jangkung membungkuk itu perlahan merangkak keluar dari balik akar beringin. Dalam keremangan malam, Bara bisa melihat sosok itu terbalut kain kusam yang dipenuhi noda lumpur dan bercak merah kehitaman.

Bara tidak berpikir dua kali. Dia berbalik, merangkul pundak Lintang dengan tangan kirinya, setengah memapah dan setengah menyeret gadis itu menembus barikade batang bambu secara membabi buta.

Ranting-ranting kecil dan daun bambu yang tajam menggores lengan, wajah, dan kaki mereka. Bara mengabaikan rasa perihnya. Otaknya mematikan semua reseptor rasa sakit. Dia hanya tahu satu hal: mereka harus keluar dari lingkaran keparat ini.

"Mas... Mas Bara... dia ngikutin di belakang..." isak Lintang lirih, matanya nyaris terpejam karena ketakutan yang memuncak.

Bara bisa mendengarnya. Suara gesekan kain kasar dan langkah kaki menyeret itu terus membayangi mereka, tidak terlalu dekat, tapi juga tidak pernah menjauh. Seolah makhluk itu sedang mempermainkan mangsanya.

"Jangan dengerin! Tutup telinga lu! Baca doa apa aja yang lu hafal!" perintah Bara terengah-engah. Di dalam hatinya sendiri, Bara merapal seluruh surat pendek Al-Quran yang dia ingat sejak pelajaran agama di bangku SD dulu.

Mereka terus berlari tanpa arah di tengah gulita, menerjang apa saja yang ada di depan mereka. Dada Bara terasa seperti akan meledak karena kehabisan pasokan oksigen. Kakinya berat seperti diikat bandul besi.

Hingga tiba-tiba, ujung kaki Bara tersandung sebuah akar pohon yang melintang di tanah.

Keseimbangan pemuda itu goyah. Karena dia sedang menahan beban tubuh Lintang, keduanya jatuh bergulingan ke depan. Menabrak semak belukar yang berduri, sebelum akhirnya terjerembab keras di atas permukaan tanah berbatu.

"Aarggh!" Bara mengerang kesakitan saat bahunya menghantam batu seukuran kepalan tangan.

Lintang menjerit histeris di sebelahnya, memeluk lututnya sendiri di atas tanah.

Bara memaksakan dirinya untuk duduk. Napasnya putus-putus. Matanya bergerak liar menembus kegelapan, bersiap menghadapi sosok jangkung mengerikan yang memburu mereka. Tangan kanannya merogoh saku, menggenggam erat kunci mobil yang ujungnya lancip, bersiap menjadikannya senjata darurat, persetan dengan logika apakah hantu bisa ditusuk atau tidak.

Namun, di tengah deru napasnya yang memburu, sayup-sayup sebuah suara menyapu pendengaran Bara.

"...Hayya 'alal falaaah..."

Suara kumandang azan Maghrib. Terdengar pecah dan berderak dari pelantang suara masjid desa yang jaraknya entah berapa kilometer dari sana.

Bersamaan dengan lantunan azan tersebut, aroma melati dan bau anyir darah yang mengikat paru-paru mereka mendadak lenyap. Menguap begitu saja digantikan oleh bau embun malam dan tanah kering. Suara langkah kaki yang menyeret itu pun tak lagi terdengar. Hilang.

Hutan bambu di sekeliling mereka kembali sunyi senyap, hanya menyisakan suara jangkrik yang mulai bernyanyi.

Bara menurunkan tangannya yang memegang kunci mobil dengan gemetar. Dia menoleh ke depan, dan napasnya nyaris berhenti saking leganya.

Sekitar lima puluh meter di depan mereka, tak terhalang oleh bambu atau pepohonan, terlihat hamparan sawah dan cahaya lampu kuning keemasan dari rumah-rumah warga. Mereka telah keluar dari hutan bambu.

"Lintang... buka mata lu. Kita keluar. Kita selamat," ucap Bara parau, masih dengan posisi duduk di tanah.

Lintang perlahan membuka matanya yang sembab. Melihat pemandangan desa di depan sana, gadis itu langsung sujud syukur sambil menangis sesenggukan. "Alhamdulillah ya Allah... gue masih hidup... gue masih bisa nikah sama mas Bara..."

"Den Bara?! Neng Lintang?!"

Sebuah teriakan panik yang sangat familiar memecah keheningan dari arah hamparan sawah.

Bara menoleh. Terlihat pancaran cahaya senter yang bergoyang-goyang mendekat ke arah mereka dengan cepat. Itu Mang Ojak, berlari tergopoh-gopoh bersama dua orang bapak-bapak bersarung yang membawa obor bambu.

"Den Bara! Ya Allah, Gusti!" Mang Ojak langsung menjatuhkan diri di samping Bara, menyorotkan senternya ke arah wajah bos dan rekan kerjanya yang berantakan, penuh keringat, lumpur, dan goresan luka. Wajah asisten paruh baya itu pucat pasi, matanya memerah seperti habis menangis.

"Lu kemana aja sih, Mang?!" sembur Bara, mencoba kembali bersikap tangguh meski suaranya masih bergetar. "Gue suruh nunggu di pinggir sawah malah ngilang! Kita nyasar di dalem tau nggak?!"

Bukannya menjawab, Mang Ojak malah menangis memeluk lengan Bara. "Ya Allah, Den... Abah teh nyariin Aden sama Neng Lintang ke mana-mana! Abah nungguin di gubuk sawah, tapi Aden teh tiba-tiba hilang ditelan bambu! Abah teriak-teriak nggak ada yang nyahut!"

"Lebay lu. Kita cuma masuk bentar nyari ini anak yang keasyikan foto," rutuk Bara, menunjuk Lintang yang masih syok. "Paling kita muter-muter di dalem cuma lima belas menit. Ini kita udah keluar."

Mendengar ucapan Bara, Mang Ojak menghentikan tangisnya. Dia menatap bosnya dengan pandangan horor yang luar biasa.

Dua bapak-bapak warga desa di belakang Mang Ojak saling bertatapan dengan wajah tegang. Salah satu dari mereka, seorang pria tua dengan peci hitam, melangkah maju.

"Lima belas menit gimana maksud sampeyan, Mas?" tanya bapak tua itu, suaranya terdengar berat dan sarat akan ketakutan.

Bara mengerutkan kening, menatap bapak itu bingung. "Ya, lima belas atau maksimal setengah jam lah kita di dalem situ nyari jalan keluar."

Bapak tua itu menelan ludah, menyorotkan senternya ke arah jam tangan analog yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, lalu memperlihatkannya ke arah Bara.

"Mas Bara... Mas sama Mbaknya ini masuk ke hutan bambu itu jam setengah empat sore tadi," ucap bapak itu dengan nada bergetar. "Ini... ini udah jam setengah tujuh malam. Kalian berdua udah hilang di dalam Goa Suro selama tiga jam penuh."

Tubuh Bara membeku. Darahnya serasa berhenti mengalir ke kepala. Tiga jam? Dia sangat yakin mereka hanya berlari selama hitungan belasan menit.

"Mang Ojak lari ke rumah nangis-nangis lapor ke ibu sampeyan kalau kalian hilang. Seluruh warga desa udah siap-siap mau masuk bawa kiai buat nyari jasad kalian besok pagi," lanjut bapak itu, menatap lekat ke arah mata Bara yang mulai membelalak. "Kalian habis lihat apa di dalam sana, Mas? Kalian... udah ngebangunin sesuatu yang nggak boleh dibangunin."

Angin malam kembali berhembus menembus tengkuk Bara. Jauh di belakangnya, dari arah kegelapan hutan bambu, Bara bersumpah dia bisa mendengar suara tawa tertahan yang menggema di udara.

Malam panjang di desa itu, baru saja dimulai.

1
yumin kwan
kok jadi cerita horor sih.... padahal cerita keseharian dapur Bara sudah ok....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!