Kalau kamu pikir pertemanan itu selalu hangat, penuh tawa, dan saling ngerti, kamu salah. Kadang, yang paling dekat sama kita justru bikin capek. Kadang, kita tersenyum di tengah keramaian tapi tetap merasa sendiri.
Aku—Naya—sering berada di posisi itu. Selalu ada, selalu bergerak, tapi jarang disebut. Aku bantu semua orang, tapi yang diingat cuma orang lain. Aku ketawa supaya terlihat aman, padahal di dalam, capeknya nggak ketulungan.
Novel ini bukan tentang keajaiban atau penyelesaian dramatis. Ini cerita tentang hari-hari yang panjang, keputusan kecil yang bikin greget, dan hubungan yang tetap ada tapi nggak lagi sama. Tentang bagaimana rasanya ikut bergerak di tengah orang-orang yang nggak selalu peduli, dan belajar bertahan sambil menahan rasa bingung dan lelah.
Kalau kamu pernah merasa tersisih meski berada di tengah keramaian, atau tersenyum padahal capek banget, cerita ini mungkin bakal terasa familiar.
Selamat membaca. Jangan kaget kalau....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 Nota yang Hilang
Pagi itu aku bangun dengan badan yang rasanya belum pulih sama sekali dari kemarin. Bangun tidur bukan karena segar, tapi karena kebiasaan. Kepala masih berat, kaki masih pegal, dan pikiran langsung muter ke satu hal bahkan sebelum aku benar-benar melek: hari ini pasti ribet.
Aku datang ke sekolah lebih pagi dari kebanyakan orang. Udara masih dingin, halaman masih sepi. Aula belum dibuka penuh, tapi beberapa panitia sudah ada. Aku taruh tas di kursi, duduk sebentar, lalu buka catatan kecil yang selalu aku bawa. Isinya daftar pengeluaran. Nominal-nominal yang aku hafalin setengah mati.
Uang 550 ribu itu masih kerasa berat di kepalaku. Aku cek ulang catatan. Air mineral. Snack. Plastik. Frozen food. Ongkos bensin. Semua ada. Semua aku ingat. Aku selalu ingat angka, walaupun kadang lupa hal lain. Tara datang sekitar lima belas menit setelahku. Mukanya masih sama kayak kemarin: capek tapi ditahan. “Kamu udah makan?” dia nanya. Aku geleng. “Belum.”
Dia duduk di sebelahku. “Nanti aku beliin ya.” Aku mau nolak, tapi nggak jadi. Nggak ada tenaga buat nolak. Kami diem sebentar. Nunggu yang lain datang. Aula pelan-pelan rame lagi. Suara kursi digeser. Suara orang ketawa kecil. Suara langkah kaki. Rara datang agak siang. Bukan paling terakhir, tapi juga bukan awal. Rambutnya rapi. Bajunya bersih. Dia kelihatan siap. Lebih siap dari aku. Dia langsung ke meja depan, buka map, mulai ngecek sesuatu. Aku perhatiin dari jauh, sambil beresin plastik sisa kemarin. “Naya,” dia manggil. Aku nengok. “Iya?”
“Kemarin beli kecap berapa?” Pertanyaan itu datang tiba-tiba. Nggak ada pembuka. Nggak ada konteks.
“Kecap?” aku ngulang, sambil mikir. “Dua botol. Total tiga puluh dua ribu.” Rara berhenti nulis. Nengok ke aku. “Nota-nya mana?” Aku refleks buka tas. Cari dompet kecil. Cari lipatan kertas. Kosong. Aku berhenti. Tanganku kaku. “Sebentar,” kataku. Suaraku turun. Aku balikkan isi tas. Buku. Pulpen. Charger. Catatan. Tapi nggak ada nota. Aku tarik napas. Pelan. “Mungkin ketinggalan di rumah.” Rara naruh pulpen. “Nggak bisa.” Aku nengok. “Kenapa?”
“Semua harus ada nota.” Nada suaranya datar. Tapi dingin. Aku ngerasa ada yang mulai naik dari perut ke dada. Bukan marah, lebih ke panik yang ditahan. “Kecapnya kan ada,” kataku. “Bisa dicek.”
Rara geleng. “Bukan itu masalahnya. Masalahnya nota.” Beberapa orang mulai ngeliat ke arah kami. Aku sadar posisi kami sekarang nggak lagi privat. Semua bisa dengar.
“Aku ingat belinya,” aku lanjut, agak cepat. “Tokonya di sebelah warung ayam. Aku sama Tara.” Tara langsung nyaut. “Iya, aku ikut.” Rara nengok ke Tara sebentar, lalu balik ke aku. “Tapi tetap harus ada bukti.” Aku nunduk. Kepala makin panas. Aku ngerasa kecil banget di momen itu. Kayak anak yang lupa PR dan disidang di depan kelas. “Kalau aku cari?” kataku. “Aku bisa balik ke toko.”
Rara lihat jam. “Sekarang?” Aku angguk. Walaupun aku tahu itu nggak realistis. “Nanti dulu,” katanya. “Ini dicatat dulu aja.” Aku nggak tahu harus ngerasa lega atau tambah kepikiran. Aku balik ke tempat duduk, tapi badan rasanya ringan aneh, kayak habis ditekan terus dilepas setengah. Tara nyamperin aku. “Santai,” katanya pelan. “Kita inget kok.” Aku nggak jawab. Aku buka lagi tas, kali aja nyelip. Tetap nggak ada. Sepanjang pagi, pikiranku kepecah. Setiap kali ada suara kertas disobek atau map dibuka, jantungku ikut loncat. Aku ngerasa diawasi, padahal mungkin cuma perasaanku. Sekitar jam sepuluh, Rara manggil lagi. “Naya, soal pengeluaran kemarin.” Aku berdiri. Kali ini kakiku agak gemetar. “Totalnya berapa?” Aku sebutin satu-satu. Angkanya keluar lancar dari mulutku, tapi kepalaku kosong. Aku nunggu reaksi. Rara nyatet. Lama. Terlalu lama. “Ini nggak pas,” katanya akhirnya. Aku ngerasa darah langsung turun. “Nggak pas gimana?”
“Lebih.”
Aku bengong. “Lebih?”
“Iya. Harusnya nggak segitu.” Aku pengin ketawa. Tapi yang keluar cuma napas panjang. “Rinciannya sudah aku sebutin,” kataku. “Semuanya kepake.” Rara nengok ke aku. Kali ini tatapannya beda. Lebih tajam. “Kamu yakin?” Pertanyaan itu simpel. Tapi nadanya bikin aku ngerasa dituduh. Aku ngerasa semua mata di aula pindah ke arah kami. Ada yang pura-pura sibuk. Ada yang terang-terangan ngeliat. “Iya,” jawabku. “Yakin.” Rara diem sebentar. Lalu bilang satu kalimat yang bikin tenggorokanku kering. “Karena ini uang bersama.” Kalimat itu kayak garis tebal. Jelas. Tegas. Dan menyakitkan. Aku ngerasa posisiku turun satu tingkat. Dari orang yang dipercaya, jadi orang yang harus dibuktikan.
“Aku nggak ngambil apa-apa,” kataku. Suaraku nggak tinggi. Tapi bergetar. Rara nggak langsung jawab. Dia nutup map. “Kita bahas nanti,” katanya. Aku pengin bilang banyak hal. Tapi kata-katanya berhenti di tenggorokan. Aku duduk lagi. Kali ini aku nggak bisa fokus sama apa pun. Suara di sekitar cuma jadi dengung.
Di kepalaku, satu pertanyaan muter terus:kenapa setiap ada yang kurang, aku yang ditanya? kenapa setiap ada yang nggak pas, aku yang disorot? Tara duduk di sebelahku. Tangannya nyentuh lenganku pelan. Nggak bilang apa-apa. Tapi itu cukup bikin aku nggak runtuh di situ. Siang menjelang. Acara jalan. Aku tetap ngerjain tugasku. Angkat barang. Bagi konsumsi. Ngatur ini itu. Seolah nggak ada apa-apa. Tapi di dalam, aku capek luar biasa. Bukan capek fisik. Tapi capek ngerasa harus terus membela diri tanpa pernah benar-benar dituduh secara langsung.
Sore hari, setelah sebagian besar kegiatan selesai, Rara manggil aku lagi. Kali ini lebih sepi. Tinggal beberapa orang. “Kamu beneran nggak simpan nota kecap?” tanyanya. Aku geleng. “Nggak.”
“Yakin nggak jatuh?”
“Yakin.” Dia tarik napas. “Ya sudah.” Cuma itu. Aku berdiri di situ beberapa detik, nunggu lanjutan. Tapi nggak ada. Aku pengin marah. Pengin nangis. Pengin teriak. Tapi yang keluar cuma satu rasa: kosong.
Aku balik ke tempat duduk. Duduk lama. Nggak ngapa-ngapain. Di kepalaku, satu hal mulai jelas: ini bukan soal kecap. Bukan soal nota. Ini soal kepercayaan yang pelan-pelan digeser, tanpa pernah dibicarakan terang-terangan.
Dan hari itu, aku pulang dengan langkah yang lebih berat dari biasanya. Bukan karena tas. Tapi karena perasaan yang mulai nggak aman.
hanya anggota biasa..
🙂🙂🙂
semoga authornya sehat selalu dan tetap semangat, ya..
semangat trs utk berkarya, yah..
🤭🤭🤭