💗 Dijodohkan dengan keponakannya malah tergoda dengan pamannya.
------------- 💫
Viona dijodohkan dengan anak dari sahabat mendiang ayahnya yang bernama Farel. Awalnya Viona menyetujui, namun kehadiran Arsen yang merupakan paman dari Farel menggoyahkan hatinya.
Bukan sekedar ingin ikut menjaga, tapi sikap yang Arsen tunjukkan lebih dari itu. Kedekatan yang terjalin diantara keduanya membawa mereka pada hubungan yang tak seharusnya.
"Jatuhnya begitu alami. Ataukah, kamu memang sengaja ingin menggodaku?" - Arsen.
Ketika rahasia hubungan mereka mulai terbongkar, ketegangan melanda keluarga besar. Viona harus memilih antara memenuhi harapan mendiang ayahnya dengan menikahi Farel, atau mengikuti hatinya yang menginginkan Arsen.
📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23 : Rencana Farel untuk bisa dekat dengan Viona.
Sinar matahari menyinari lantai atas kantor, menerobos celah tirai jendela ruang kerja Arsen pada siang itu. Arsen duduk di kursi kebesarannya, matanya fokus pada layar laptopnya namun pikirannya melayang jauh ke kejadian tadi pagi. Setelah beberapa saat termenung, akhirnya dia mengambil telepon dan menghubungi sekretarisnya.
"Sinta, tolong panggil Viona ke ruangan saya sekarang," ucapnya dengan nada tegas.
"Baik, Pak Arsen," suara Sinta terdengar jelas dari ujung saluran.
Lima belas menit kemudian suara ketukan pintu terdengar, Arsen mempersilahkan masuk dan menutup laptopnya. Viona masuk dengan ragu-ragu, wajahnya tampak sedikit tegang dan tidak tahu kenapa tiba-tiba Arsen memanggilnya ke ruangan.
"Ada apa Paman memanggilku?" tanya Viona setelah Sinta pergi dan pintu tertutup rapat.
Arsen berdiri dan melangkahkan kakinya mendekat, menarik tangan Viona mendekat begitu dia sudah berdiri didepan gadis itu. Dia menatap wajah Viona sejenak sebelum berbicara.
"Sepertinya hari ini kita tidak akan pulang bareng, aku hanya ingin berpesan supaya kamu bisa menjaga diri dengan baik." ucap Arsen.
Viona mengerutkan sedikit keningnya, "Kenapa tiba-tiba bicara seperti itu? Apa Paman tidak percaya aku bisa menjaga diriku sendiri?"
"Bukan tidak percaya," Arsen mengulas senyum tipis, "Tapi kadang kamu suka ceroboh,"
Arsen mengangkat tangan satunya untuk menyentuh lembut pipi Viona, mengusap sedikit bagian bawah kelopak matanya yang tampak sedikit lelah. "Apa semalam kamu tidak bisa tidur lagi karena memikirkan ciuman kita?"
Viona langsung terkejut, wajahnya mulai memerah. Dia mencoba menurunkan tangan tangan Arsen dari pinggangnya, namun Arsen justru menggenggamnya semakin erat.
"Bicara ya bicara saja, Paman. Kenapa harus selalu dekat-dekat seperti ini," protesnya dengan nada cepat, "Kalau tidak ada hal lain yang perlu dibicarakan lagi, aku akan kembali ke ruanganku sekarang!"
Arsen mendekatkan sedikit wajahnya, tatapannya kini berubah serius, "Aku serius dengan ucapanku tadi, Viona. Aku ingin kamu bisa menjaga diri dengan baik."
Viona menatap Arsen dalam diam, dia bisa melihat keseriusan di mata pria yang berdiri di hadapannya ini. Sebuah keseriusan yang membuat jantungnya berdebar semakin cepat, namun juga memberikan rasa aman yang sulit dia jelaskan.
"Aku tahu Paman khawatir," ucapnya pelan, matanya menjelajahi mata Arsen. "Tapi kenapa Paman tiba-tiba bersikap seperti ini? Aku hanya akan pulang dengan Farel, tapi Paman bersikap seolah aku akan menghadapi bahaya yang besar," lanjut Viona dengan suara yang semakin pelan, matanya tidak bisa lepas dari pandangan Arsen.
Arsen menghela napas pelan, kemudian menjauhkan sedikit wajahnya. Dia menurunkan tangannya dari pinggang Viona dan menyilangkan kedua tangannya didepan dada, matanya mengamati penampilan Viona dari bawah sampai ke atas.
Viona mulai merasa tidak nyaman dengan tatapan Arsen, dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, "Kenapa menatapku seperti itu? Jangan berfikir untuk berbuat mesum padaku di kantor."
"Apa kamu benar-benar berfikir aku akan melakukan hal semacam itu ditempat kerja?" tanyanya sambil menggelengkan kepalanya perlahan, "Aku mengundangmu datang kemari karena aku ingin kamu ikut denganku. Aku akan keluar dengan Olivia, dan aku ingin kamu ikut."
Viona terkejut mendengarnya, dia bahkan sampai lupa jika tempo hari dia sempat dibuat cemburu melihat kedekatan Arsen dengan Olivia. Rasa penasarannya tentang hubungan kedekatan Arsen dengan Olivia bahkan belum terjawab.
"Kalau mau pergi ya pergi saja, untuk apa mengajakku!" jawabnya sedikit ketus, dia memalingkan wajahnya kesamping untuk menghindari tatapan Arsen.
Arsen menurunkan kedua tangannya saat melihat perubahan sikap Viona yang tiba-tiba. Belum sempat dia bersuara, pintu ruangan dibuka dengan Olivia yang datang dengan senyuman diwajahnya.
"Arsen, sudah siap?" gerak Olivia tertahan saat melihat ada Viona yang sedang berdiri ditengah ruangan, "Hai Viona, kamu sudah ada disini rupanya."
Viona hanya mengangguk pelan, berusaha untuk memberikan senyuman ramah, "Hai Kak Olivia."
Olivia berjalan mendekat ke sisi Arsen, melingkarkan tangannya di lengan pria itu, "Viona jadi ikut dengan kita kan?"
"Maaf Kak Olivia, seperti aku tidak bisa ikut." sebelum Arsen sempat menjawab, Viona lebih dulu berbicara. Dia mengangkat sedikit dagunya dan menatap Arsen dengan tatapan yang sedikit menantang namun juga menyimpan rasa sakit yang tersembunyi. "Saya masih ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Selain itu, saya juga tidak ingin mengganggu kalian."
Kata-kata Viona terdengar sangat formal, Arsen bisa merasakan jarak yang tiba-tiba muncul di antara mereka, membuat hatinya terasa sedikit berat. Olivia mengangkat alisnya sejenak, kemudian melihat ke arah Arsen dengan tatapan yang penuh dengan pertanyaan. Arsen menggeleng pelan pada wanita itu sebelum kembali menatap Viona.
"Viona, aku ingin mengajakmu untuk menemani---"
"Maaf Pak Arsen, saya harus kembali ke ruang kerja saya sekarang." potong Viona cepat. Tanpa menunggu tanggapan apapun, dia berjalan ke arah pintu, membuka pintu dan keluar dengan cepat.
Olivia melepaskan tangannya dari lengan Arsen dan menatap pada pintu yang baru saja tertutup. "Ada apa dengan dia? Sepertinya dia sedang marah,"
Olivia menoleh pada Arsen dengan tatapan yang penuh selidik. "Atau... kamu tidak sedang menggoda tunangan keponakan kamu sendiri kan, Arsen Dwi Mahendra?"
Arsen menghela napas dalam-dalam, "Sebaiknya kita berangkat sekarang,"
Dia mengambil jasnya yang tergantung di sandaran kursi dan langsung berjalan menuju pintu. Olivia mengerutkan alis sejenak saat melihat wajah Arsen yang tiba-tiba tampak suram dan penuh beban.
"Wah, sepertinya aku mencium ada bau-bau hubungan terlarang nih disini," batinnya dengan senyuman tipis diwajah, kemudian mengikuti langkah Arsen keluar.
-
-
-
Setelah menyelesaikan pekerjaannya dan jam kerja telah usai, Viona segera turun dan menunggu Farel didepan pintu utama gedung. Tak lama kemudian mobil Farel muncul dan berhenti tepat di depannya. Viona langsung membuka pintu sebelah penumpang dan masuk.
Suasana didalam terasa sangat dingin. Farel fokus mengemudi, sementara Viona tengah memikirkan Arsen yang pergi dengan Olivia.
"Kita tidak langsung pulang ya," ucap Farel tiba-tiba, memecah keheningan diantara mereka berdua.
Viona sedikit terkejut, menoleh ke arah Farel yang masih tidak mengalihkan pandangannya dari jalan. "Memangnya kita akan pergi kemana?"
"Kita akan mampir ke sebuah tempat," jawab Farel dengan nada yang tidak bisa ditolak, menoleh ke arah Viona dengan senyuman penuh makna. "Aku punya kejutan untuk kamu sayang, dan aku jamin kamu pasti bakalan suka."
Viona mengerutkan keningnya, rasa cemas mulai muncul di dalam hatinya. Kejutan? Sebenarnya kejutan apa yang Farel siapkan untuknya? Apakah ini ada hubungannya dengan ucapan Paman Arsen yang memintanya untuk menjaga diri dengan baik tadi siang?
-
-
-
Bersambung...