Zayna Almeera adalah badai yang dipaksa berhenti di sebuah desa tenang. Terbiasa dengan gemerlap kota, ia merasa dunianya runtuh saat harus menukar kehidupan mewahnya dengan ubin pesantren yang dingin. Ia datang membawa duri, siap menusuk siapa pun yang mencoba menjinakkan kebebasannya.
Di sana, ia bertemu Gus Haidar. Pemuda itu seperti telaga luas yang tak terusik; bicaranya tenang, tatapannya terjaga, dan dunianya hanya berisi pengabdian. Bagi Zayna, Haidar adalah teka-teki silang yang menyebalkan. Namun bagi Haidar, Zayna adalah kebisingan yang tiba-tiba membuat kesunyiannya terasa lebih lengkap.
Antara keras kepalanya Zayna dan sabarnya Haidar, ada sebuah cerita tentang bagaimana rasa pahit harus dibiarkan mengendap agar manisnya bisa dinikmati. Zayna ingin lari, tapi hatinya justru perlahan tertambat pada ketenangan yang tak pernah ia temukan di riuhnya kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengejar alif dan getaran yang salah alamat
Zayna Almeera tidak suka kalah. Dan baginya, perasaan "baper" yang muncul karena sandal dan sarung tempo hari adalah tanda kekalahan harga diri. Maka, ia menyusun rencana baru: ia akan menunjukkan pada Gus Haidar bahwa dia bisa menguasai dunia pesantren dengan cepat, lalu setelah itu dia akan minta pulang sebagai "lulusan tercepat".
"Zoy, ajari aku baca Alif-Ba-Ta yang pakai nyanyian itu," perintah Zayna pagi-pagi buta.
Zoya nyaris tersedak air minumnya. "Mbak Zay mau ngajar anak-anak TPA (Taman Pendidikan Al-Qur'an) sore nanti?"
"Iya! Aku mau jadi asisten guru. Aku mau lihat wajah si Gus Kaku itu kalau lihat aku bisa menjinakkan bocah-bocah ingusan. Pasti dia bakal terpesona, terus merasa aku sudah cukup pintar, dan akhirnya... tadaaa! Aku dipulangkan ke Jakarta!"
Sore harinya, di serambi masjid yang sejuk, puluhan anak kecil berkumpul. Zayna duduk di tengah-tengah mereka dengan kerudung yang kali ini dipakai dengan benar—meski tetap saja, kacamata hitamnya dikalungkan di leher sebagai ciri khas.
Gus Haidar berdiri di kejauhan, memantau dari balik pilar. Ia tampak terkejut melihat Zayna sedang memegang Iqra satu.
"Oke, adik-adik yang lucu tapi jangan narik-narik baju kakak ya," Zayna mulai membuka kelasnya. "Ini namanya huruf Alif. Bayangkan ini seperti tiang listrik di depan mall, lurus dan tegak. Kalau yang ini Ba, bayangkan seperti mangkok bakso yang tumpah sambalnya satu di bawah. Paham?"
Anak-anak itu tertawa riuh. Cara mengajar Zayna yang sangat tidak ortodoks ternyata membuat mereka antusias. Gus Haidar mendekat perlahan, langkahnya terhenti tepat di belakang Zayna yang tidak menyadari kehadirannya.
"Kak Zayna, kalau yang ini huruf apa?" tanya seorang anak kecil sambil menunjuk huruf Jim.
"Oh, itu? Itu namanya huruf Jim. Bayangkan seperti perut Ayah setelah makan besar, terus ada satu biji jeruk di tengahnya," jawab Zayna santai.
"Bukan biji jeruk, Mbak Zayna. Itu titik cahaya," sebuah suara rendah masuk ke dalam percakapan.
Zayna tersentak dan hampir terjungkal ke belakang. Ia menengadah dan mendapati wajah Gus Haidar yang—untuk pertama kalinya—tampak tidak sedingin biasanya. Ia tetap menjaga pandangan ke arah kitab di tangan anak-anak, tapi sudut bibirnya tampak sedikit berkedut.
"Gus! Jangan muncul kayak hantu dong, bikin kaget aja!" protes Zayna sambil merapikan duduknya.
"Jim bukan perut yang kenyang," Haidar duduk di lantai, berjarak dua meter dari Zayna. "Jim itu seperti wadah. Jika di tengahnya ada titik, ia menjadi berharga. Seperti hati manusia; tanpa titik iman di tengahnya, ia hanya ruang kosong yang luas namun hampa."
Anak-anak itu terdiam, mendengarkan dengan takjub. Zayna pun terdiam, namun ia segera kembali ke mode jahilnya.
"Ya elah, Gus. Anak kecil mana paham soal ruang hampa. Mereka tuh pahamnya bakso sama jeruk!" Zayna mencebikkan bibir. "Lagian, Gus ngapain ke sini? Mau sidak kurikulum jeruk saya ya?"
"Saya ke sini untuk memastikan..." Haidar menggantung kalimatnya. Ia mengambil satu Iqra yang tergeletak. "Bahwa gurunya tidak salah mengeja. Karena jika gurunya salah jalan, murid-muridnya akan tersesat di hutan."
Haidar kemudian menatap ke arah kerumunan anak-anak, namun suaranya jelas ditujukan untuk Zayna. "Mbak Zayna, mengajar itu bukan soal seberapa cepat mereka pintar. Tapi seberapa sabar kita menemani mereka di saat mereka masih buta akan huruf."
Zayna tertegun. Ia melihat Haidar mulai membantu seorang anak mengeja dengan penuh kelembutan. Suara Haidar saat melafalkan huruf-huruf hijaiyah terdengar seperti musik yang paling indah yang pernah Zayna dengar—jauh lebih merdu dari lagu Hype Boy kesukaannya.
Tanpa sadar, Zayna memperhatikan sisi wajah Haidar dari samping. Rahangnya yang tegas, namun sorot matanya yang teduh (meski tetap menunduk). Ada rasa nyaman yang aneh yang mulai merayap di hati Zayna.
"Gus," panggil Zayna pelan, hampir tak terdengar.
"Dalem? (Ya?)" jawab Haidar singkat.
"Kenapa Gus nggak pernah mau liat muka saya? Apa saya seburuk itu sampai-sampai Gus takut dosa cuma gara-gara liat hidung saya?"
Haidar berhenti mengajar. Suasana serambi masjid mendadak sunyi, hanya ada suara angin yang memainkan daun pohon kamboja.
"Bukan karena Mbak buruk," ucap Haidar, suaranya kini selembut sutra yang belum rusak. "Justru karena saya takut, jika saya melihat Mbak sekali saja, saya tidak akan pernah bisa memalingkan pandangan lagi. Dan saya belum siap untuk kehilangan dunia saya hanya demi satu tatapan yang belum halal bagi saya."
Zayna membeku. Seluruh argumen lucunya menguap ke langit.
"Sore itu, Zayna belajar satu hal: bahwa di pesantren ini, diamnya seseorang bisa lebih berisik daripada teriakan, dan tundukan kepala bisa menjadi pernyataan cinta yang paling keras. Sementara Haidar kembali berzikir dalam hati, berusaha keras agar detak jantungnya tidak terdengar oleh anak-anak kecil yang sedang asyik bermain dengan huruf Jim mereka."
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
dari sekian banyaknya novel yg aku baca Cuma In yg Membuat Aku pangling Dan kagum Banget dengan Stiap Untaian katanya, Aplgi sangat Puitis banget
yg Lainnya Nanti Dluu hehehehhe,
yang Lain Tentang Apa Thor Law tentang percintaan Aku mau baca 🤭🤭🤭?
udah banyak Up Hari in
Pdhal aku bruu sja mendapatkan kesenangan Mlah Di BKIN Tak Karuan lgii
sring2 yaa Thor up 3 bab Biar Aku tambah smngat Bacanya
bercanda Thor mksih Thor Udah BKIN Novel SE kece In, Smangat Thor up nya law bisa 3 bab pun gpp