Arumi kehilangan segalanya dalam satu malam bayinya yang baru lahir tewas dalam kecelakaan tragis, dan ibunya kini kritis di rumah sakit tanpa biaya. Namun, takdir mempermainkannya; meski bayinya tiada, ASI Arumi tetap mengalir deras—sebuah pengingat menyakitkan akan kehilangan yang ia alami
Di sisi lain, Arlan Arkananta, seorang CEO dingin yang berkuasa, menyimpan rahasia besar. Ia memiliki seorang putra bayi bernama Leon yang keberadaannya disembunyikan dari dunia dan pihak keluarga besar. Leon menolak semua susu formula dan perawat, hingga hanya aroma tubuh Arumi yang mampu menenangkannya.
Terdesak oleh biaya rumah sakit, Arumi terpaksa menandatangani kontrak "Iblis". Ia bersedia menjadi ibu susu rahasia di mansion tersembunyi milik Arlan dengan aturan ketat: Dilarang mengungkap identitas bayi, dilarang keluar tanpa izin, dan yang paling berat—dilarang memiliki keterikatan emosional.
Namun, di balik tembok mansion yang dingin, Arumi menemukan bahwa Leon bukan sekadar bayi biasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: RAHASIA DI BALIK PINTU TERKUNCI
Matahari baru saja menyelinap di balik gorden sutra berwarna abu-abu perak ketika Arumi terbangun. Selama beberapa detik, dia merasa linglung, bertanya-tanya mengapa langit-langit kamarnya begitu tinggi dan dihiasi ukiran gypsum yang rumit, bukan lagi plafon berjamur di kontrakan sempitnya. Kemudian, rasa nyeri yang lembut di dadanya mengingatkannya: dia berada di kediaman Arlan Arkananta. Dia adalah ibu susu untuk seorang bayi yang identitasnya disembunyikan dari dunia.
Arumi bangkit dari tempat tidur king-size yang terasa terlalu empuk untuk tubuhnya yang lelah. Dia segera menuju kamar bayi yang terhubung langsung dengan kamarnya melalui sebuah pintu rahasia. Di sana, Leon sudah terbangun. Bayi mungil itu tidak menangis, dia hanya menatap langit-langit boks bayinya dengan mata bulat yang bening—mata yang sangat mirip dengan milik Arlan, namun tanpa kebencian di dalamnya.
"Selamat pagi, Sayang," bisik Arumi lembut. Saat dia mengangkat Leon, bayi itu menggeliat dan mengeluarkan suara gumaman kecil yang membuat hati Arumi mencair.
Namun, kedamaian itu segera terusik. Pintu utama kamar bayi terbuka dengan kasar. Arlan berdiri di sana, sudah mengenakan setelan jas tiga potong berwarna biru navy yang sangat formal. Wajahnya tampak lelah, seolah dia tidak tidur sepanjang malam, namun auranya tetap mengintimidasi.
"Kenapa dia belum mandi?" tanya Arlan tanpa basa-basi, matanya melirik jam tangan Rolex-nya.
"Setiap menit di rumah ini memiliki jadwal, Arumi. Jangan biarkan dia menjadi pemalas hanya karena kau terlalu lambat bangun."
Arumi tersentak. "Tuan, dia baru saja bangun. Saya sedang bersiap untuk memberinya makan."
"Lakukan dengan cepat. Setelah itu, pengasuh senior, Bi Inah, akan memberikan daftar aturan tambahan padamu. Ingat, kau dilarang keluar dari area sayap kanan mansion ini tanpa seizinku.
Dan satu lagi," Arlan melangkah mendekat, auranya yang dominan memenuhi ruangan.
"Jangan pernah membawa Leon ke dekat jendela besar. Ada banyak lensa kamera yang mengintai dari kejauhan. Satu foto saja bocor, kau tidak akan pernah melihat ibumu lagi."
Arlan pergi bahkan sebelum Arumi sempat menjawab. Pria itu memperlakukan anaknya seperti sebuah rahasia negara yang berbahaya, bukan seperti manusia yang butuh kasih sayang.
Siang harinya, setelah Leon tertidur lelap pasca menyusu, Arumi merasa sesak terus berada di dalam kamar yang luas namun tertutup itu. Dia memberanikan diri keluar ke koridor sayap kanan. Mansion ini terasa seperti labirin yang sunyi. Para pelayan bekerja tanpa suara, mereka tampak terlatih untuk menjadi "hantu" yang tidak terlihat oleh majikannya.
Saat berjalan menyusuri lorong yang dihiasi lukisan-lukisan abstrak mahal, Arumi melewati sebuah pintu kayu jati yang berbeda dari pintu lainnya. Pintu itu digembok dengan kunci digital, namun entah karena kelalaian seseorang, lampunya berkedip hijau—menandakan pintu itu tidak tertutup sempurna.
Naluri penasaran Arumi memuncak. Dengan tangan bergetar, dia mendorong pintu itu sedikit. Ternyata itu adalah sebuah kamar wanita. Namun, kondisinya sangat kontras dengan bagian rumah lainnya yang rapi. Kamar itu terasa dingin dan berdebu. Di atas meja rias, berserakan botol-botol parfum yang sudah kosong dan beberapa perhiasan yang tergeletak sembarangan.
Arumi melangkah masuk lebih dalam. Matanya tertuju pada sebuah bingkai foto yang telungkup di atas nakas. Dia mengambilnya. Di dalam foto itu, ada seorang wanita cantik berambut panjang dengan gaun merah, sedang merangkul lengan Arlan. Arlan di foto itu tampak berbeda—dia tersenyum, sebuah senyum tulus yang membuat wajahnya tampak sepuluh tahun lebih muda.
Di bawah foto itu, ada selembar kertas kecil yang sudah agak kuning. Tulisan tangannya tampak terburu-buru: "Maafkan aku, Arlan. Aku tidak bisa menjadi apa yang kau inginkan. Bayi ini adalah kutukan bagiku."
Jantung Arumi berdegup kencang. Bayi ini... kutukan? Apakah wanita ini ibu kandung Leon? Kenapa dia meninggalkan bayi setampan dan selucu Leon?
"Apa yang kau lakukan di sini?!"
Suara gelegar itu membuat Arumi menjatuhkan bingkai foto tersebut. Kaca bingkainya pecah berantakan di atas lantai marmer. Arlan berdiri di ambang pintu, wajahnya memerah karena amarah yang luar biasa. Dia melangkah masuk dengan cepat dan mencengkeram bahu Arumi hingga wanita itu merintih kesakitan.
"Siapa yang memberimu izin masuk ke kamar ini?!" desis Arlan. Matanya berkilat marah, namun ada sorot luka yang mendalam di sana.
"P-pintunya terbuka, Tuan... saya tidak bermaksud—"
"Keluar!" bentak Arlan. Dia mendorong Arumi hingga wanita itu hampir terjatuh. Arlan kemudian berlutut, memungut foto yang pecah itu dengan tangan gemetar. "Kau hanyalah pekerja di sini, Arumi. Jangan pernah menginjakkan kakimu di ruangan ini lagi, atau aku akan membuangmu ke jalanan saat ini juga tanpa sepeser pun uang!"
Arumi berlari kembali ke kamarnya dengan air mata yang mulai mengalir. Dia menyadari bahwa di mansion ini, ada luka yang lebih besar daripada sekadar kebutuhan Leon akan ASI. Arlan Arkananta adalah pria yang sedang hancur, dan dia melampiaskan kehancurannya pada dunia sekelilingnya.
Sore harinya, Arumi mencoba menenangkan diri di balkon kecil yang tertutup tanaman rambat, satu-satunya tempat di mana dia bisa menghirup udara luar tanpa melanggar perintah Arlan. Namun, dari lantai bawah, dia melihat seorang pria mengenakan setelan jas abu-abu sedang berbicara dengan para penjaga gerbang.
Pria itu adalah Bram, asisten pribadi Arlan. Bram dikenal sebagai "tangan kanan" yang lebih kejam daripada Arlan dalam hal efisiensi. Dari balkon, Arumi bisa mendengar potongan pembicaraan mereka karena suasana mansion yang sangat sunyi.
"Pastikan wanita itu tidak membawa apa pun dari dalam mansion. Periksa sampah yang dia buang, periksa pakaiannya. Aku tidak percaya pada wajah polosnya. Dia pasti punya motif tersembunyi," ucap Bram dengan nada dingin pada kepala keamanan.
Arumi mundur perlahan. Dia terjepit. Di satu sisi, dia harus menghadapi Arlan yang temperamental, dan di sisi lain, dia diawasi oleh Bram yang mencurigainya seperti pencuri.
Malam kembali datang, membawa kesunyian yang mencekam. Arumi kembali duduk di kursi goyangnya, memberikan ASI pada Leon yang kini menatapnya dengan tangan kecil yang berusaha menggapai wajah Arumi. Di saat itulah, pintu kamarnya terbuka perlahan.
Bukan Arlan yang masuk, melainkan Arlan yang sedang mabuk. Dia berjalan sempoyongan, aroma alkohol menyengat dari pakaiannya. Arlan berhenti di depan Arumi, menatap pemandangan wanita itu sedang menyusui anaknya. Amarahnya tadi siang tampaknya telah menguap, digantikan oleh kerapuhan yang menyedihkan.
Arlan berlutut di kaki Arumi, menyandarkan kepalanya yang berat di lutut wanita itu.
"Kenapa dia meninggalkannya, Arumi?" gumam Arlan lirih, suaranya hampir tidak terdengar.
"Kenapa dia menyebut anakku sendiri sebagai kutukan?"
Arumi terpaku. Tangannya yang bebas secara ragu-ragu menyentuh rambut hitam Arlan yang berantakan. Untuk sesaat, dia tidak melihat seorang CEO yang kejam. Dia hanya melihat seorang pria yang baru saja dikhianati oleh orang yang paling dia cintai.
"Tuan Arlan..."
"Jangan pergi," bisik Arlan lagi, jemarinya mencengkeram ujung kain daster Arumi. "Jangan tinggalkan Leon seperti yang dia lakukan. Aku akan memberimu apa saja... hanya, jangan biarkan dia tumbuh tanpa rasa hangat."
Malam itu, di bawah temaram lampu tidur, sebuah perjanjian tanpa kata tercipta. Arumi menyadari bahwa tugasnya di rumah ini jauh lebih berat daripada sekadar menyusui. Dia harus menyembuhkan dua nyawa yang sama-sama kehilangan arah. Namun, dia juga tahu, semakin dia masuk ke dalam kehidupan Arlan, semakin besar risiko hatinya akan hancur untuk kedua kalinya.
Sebab, di dunia Arlan Arkananta, cinta adalah kelemahan yang mematikan.