NovelToon NovelToon
THE SEER'S VISION..Pacarku Sang Peramal

THE SEER'S VISION..Pacarku Sang Peramal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Nia Rmdhn

Rian, cowok populer ber-skill indigo, effort banget ngejagain Arini yang amat dicintainya lewat penglihatan masa depan yang nggak pernah fail.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RED FLAG DI LAPANGAN BASKET

Bel istirahat bunyi nyaring banget, seolah jadi komando buat seisi sekolah buat healing sejenak. Rian nggak pakai lama langsung otw ke kelas Arini.

"Rin, liat aku main basket yuk di lapangan?" ajak Rian sambil nyender di pintu kelas dengan gaya sok keren.

Arini senyum tipis. "Boleh, tapi aku mau ke kantin dulu bentar bareng Siska. Laper banget,".

"Ya udah, aku duluan ke lapangan ya. Kalau udah kelar urusan perut, kamu langsung ke sana liat pacar kamu yang paling jago ini main," balas Rian penuh percaya diri.

"Iya, Rian... Bawel deh,".

Setelah kelar dari kantin, Arini dan Siska jalan ke pinggir lapangan. Ternyata, yang nonton Rian bukan cuma Arini.

Cewek-cewek dari kelas lain juga pada kumpul, matanya nggak lepas dari gerakan Rian. Mereka bisik-bisik kagum, ada juga yang terang-terangan teriak histeris.

"Cemburu ya lo?" goda Siska sambil nyenggol bahu Arini.

"Nggak, apa sih! B aja," ucap Arini, padahal hatinya sedikit cemburu.

Siska ketawa puas. "Haha, ya udah sabar-sabar aja ya. Rian itu emang top tier di sini. Selain jago meramal, dia ganteng dan jago basket. Paket lengkap, Rin!".

"Ya ngapain juga gue cemburu? Lagian Rian kan udah jadi pacar gue," ucap Arini berusaha terlihat santai.

"Rin, kayaknya lo harus pantau Rian 24/7 deh. Takutnya ada yang diam-diam mau tikung," kompor Siska lagi.

"Ya nggak apa-apa kalau Rian-nya emang mau," jawab Arini sok cuek.

"Yeuu... yakin lo ikhlas Rian sama cewek lain? Stop cap, Rin!".

"Ih, udah ah apa sih lo, Sis!" Arini makin salah tingkah.

Tiba-tiba, cewek-cewek di pinggir lapangan makin histeris. "Rian! Rian! Gila, jago banget!".

Rian yang baru aja masukin bola ke ring langsung menatap Arini. Dia berteriak kencang biar kedengaran se lapangan, "Jago lah! Kan pacarnya Arini!".

Seketika, cewek-cewek yang tadi teriak langsung nengok ke arah Arini. Suasana jadi awkward. "Hah? Pacarnya Rian? Gila sih, dia bisa dapetin Rian? Ya udah deh, nggak usah teriakin pacar orang," bisik mereka pelan sambil mundur teratur.

Tiba-tiba, suasana happy itu rusak pas Yusa datang dengan muka ketus. Tanpa aba-aba, dia langsung narik tangan Arini.

"Rin, kita harus ke kelas sekarang. Bahas soal uang kas. Lo juga, Siska!" tarik Yusa paksa.

Rian yang liat itu langsung berhenti main. Dia lari menghampiri mereka dengan muka merah padam. "Ngapain lo narik-narik tangan Arini?!" bentak Rian.

"Ada urusan kelas, Rian. Penting," jawab Yusa dingin.

"Ya emang nggak bisa dibahas pas jam pelajaran?!".

"Nggak bisa. Pas masuk kelas ya belajar, bukan bahas ginian," sahut Yusa nggak mau kalah.

Rian makin emosi. "Ya tapi lo nggak usah narik-narik tangan Arini juga! Dia pacar gue!".

Yusa malah senyum sinis. "Ya lo nggak usah posesif gitu lah. Gue ada urusan penting sama Arini. Lagian lo kan beda kelas, jangan ikut campur urusan kelas orang!".

"Ya udah, tapi tangan cewek gue nggak usah lo pegang-pegang!" Rian langsung narik kerah baju Yusa. Suasana makin panas.

"Udah, udah! Stop! Rian, Yusa, please stop!" Arini panik. "Jangan berantem di sekolah! Kalian mau kena skors kepala sekolah?!".

"Tapi dia narik-narik tangan kamu, Rin! Aku nggak terima dia pegang-pegang kamu!" seru Rian.

"Rian, udah ya... tenangin diri kamu. Aku mohon, jangan berantem lagi. Aku nggak mau kamu kena skors lagi, Rian," pinta Arini dengan mata berkaca-kaca.

Siska ikut menenangkan. "Udah, Rian. Lagian Arini sama gue juga kok, nggak cuma berdua sama Yusa,"

Yusa makin memprovokasi. "Lo denger kan kata Siska? Gue nggak berdua doang sama Arini. Lagian baru pacar aja udah posesif banget. Red flag banget lo!".

"Eh, kurang ajar lo ya! Sini lo!" Rian mau menerjang lagi.

"Udah Rian, stop please! Dengerin aku!" Arini menahan dada Rian. "Yusa, Siska, ayo masuk kelas. Gue nggak mau makin ribut!".

Yusa dan Siska akhirnya jalan ke kelas, Arini menyusul dari belakang. Sebelum pergi, Arini menoleh sebentar ke arah Rian. "Rian, tenangin diri kamu ya. Jangan berlebihan kayak gitu. Yusa kan emang temen sekelas aku,".

"Tapi Rin, aku nggak suka dia langsung narik tangan kamu gitu tanpa ngomong!" protes Rian.

"Udah ya, aku masuk dulu," Arini akhirnya masuk ke gedung sekolah.

"Anj... emang itu orang!" maki Rian sambil menendang angin.

Gery datang dan merangkul pundak Rian. "Udah, sabar ya. Gue tahu lo baru jadian, makanya sensitive banget. Dah, ayo kita lanjut main aja,".

"Udah, gue udah nggak mood. Masuk kelas dulu gue," Rian jalan menjauh dengan perasaan dongkol.

"Yah! Nggak asik lu, Rian!" teriak Gery kecewa.

Suasana di dalam kelas mendadak jadi heavy pas Arini, Siska, dan Yusa masuk. Arini nggak bisa nahan rasa nggak enaknya gara-gara drama di lapangan tadi. Dia langsung narik napas panjang dan mutusin buat kasih warning keras ke Yusa.

"Yus, gue mohon banget sama lo ya. Mulai sekarang, tolong jaga sikap lo ke gue," ucap Arini dengan nada serius,

matanya natap Yusa tajam. "Lo tau sendiri kan, sekarang Rian udah resmi jadi pacar gue. Gue nggak mau Rian sampai overthinking terus berantem sama lo lagi."

Yusa malah senyum kecut, seolah ngeremehin omongan Arini. "Baru pacar kan, Rin? Not a big deal lah," sahutnya enteng. "Lagian emang salah kalau gue ajak lo bahas uang kas sekarang? Kan demi kepentingan kelas juga."

"Ya emang nggak salah kalau bahas uang kas, Yus. Tapi lo nggak perlu pakai acara narik-narik tangan gue, apalagi depan Rian!" protes Arini makin tegas. "Lo tau sendiri kan Rian itu tipenya emosian dan protective parah. Jangan mancing keributan deh."

Yusa akhirnya terdiam, dia nunduk bentar sambil garuk tengkuknya yang nggak gatal. "Ya udah, gue minta maaf soal itu. Tadi gue refleks aja karena buru-buru," jawabnya dengan suara yang dikecilin.

Siska yang dari tadi cuma nyimak sambil nahan napas akhirnya buka suara buat nengahin. "Aduh, udah, udah! Mending sekarang kita bahas masalah uang kas ini biar cepet kelar," lerai Siska sambil nepuk pundak Arini. "Jangan sampai malah lo nih, Rin, yang jadi biang ribut di sini gara-gara urusan cowok."

Arini akhirnya luluh dan nyoba buat tenangin diri. "Ya udah, iya. Gue minta maaf kalau nada gue tadi rada tinggi," ucap Arini sambil duduk di kursinya.

Tapi jauh di lubuk hatinya, Arini ngerasa ada yang nggak beres. Dia tau Yusa bukan tipe orang yang gampang minta maaf, apalagi soal Rian. Arini cuma bisa berharap "ramalan" Rian soal orang yang akan "hilang" kalau menyakitinya nggak beneran kejadian di sekolah ini.

1
Nurdin Hamzah
mantap thor
Nurdin Hamzah
semangat thor 😄 suka banget sama drama percintaan nya🤣
Niarmdhn: tengcu
total 1 replies
saniscara patriawuha.
saya lebih seneng dimsum mentai....
Niarmdhn: boleeee
total 1 replies
saniscara patriawuha.
lanjottttt deuiiii.....
Niarmdhn: gassss
total 1 replies
saniscara patriawuha.
gasssss polllllll mbokk minnn
Niarmdhn: maaciw ganteng 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!