persahabatan sederhana dari anak SMA ,yang mulai menumbuhkan benih cinta tapi ego masa muda mereka lebih tinggi dari pada rasa cintanya.ada hal yang ingin di sampaikan tapi tak mungkin Untuk di utarakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Tentang Teleskop dan Langit yang Tidak Pernah Menghakimi
Malam di bukit utara Bandung selalu terasa seperti pelukan yang dingin tapi jujur. Anginnya membawa aroma pinus dan tanah basah, menusuk sela-sela kemeja flanel saya yang sudah saya lapisi dengan jaket tebal pemberian Ayah. Saya berdiri di sana, di samping Si Kumbang yang bannya masih terasa sangat baru dan kaku—hasil dari tabungan saya sendiri, karena amplop cokelat dari Kayla masih tersimpan rapi di laci meja rumah, tidak tersentuh.
Dara sedang sibuk mengatur tripod teleskopnya dengan ketelitian seorang ahli bedah. Di sebelahnya, Senja duduk di atas tikar plastik, memegang termos berisi cokelat panas. Dia memakai kupluk rajut yang menutupi telinganya, membuatnya terlihat sangat kecil di tengah hamparan rumput yang luas.
"Bumi, geser sedikit ke kiri. Kamu menghalangi koordinat Vega," gumam Dara tanpa menoleh. Mata kanannya masih melekat pada lensa bidik.
"Maaf, Dara. Saya lupa kalau di sini saya cuma benda langit yang tidak punya cahaya sendiri," kata saya sambil melangkah mundur.
"Semua benda di sini punya cahaya, Bumi. Hanya saja ada yang memancarkannya, dan ada yang cuma memantulkannya. Masalahnya adalah kamu mau jadi yang mana?" Dara akhirnya mendongak, menatap saya dengan tatapan datarnya yang menembus malam.
Senja menyodorkan segelas cokelat panas ke arah saya. "Minum dulu, Bumi. Biar hatinya tidak ikut membeku seperti udara di sini."
Kami bertiga duduk diam di bawah kubah langit yang sangat luas. Di atas sana, ribuan bintang berkelap-kelip seperti butiran berlian yang tumpah di atas beludru hitam. Tidak ada bising motor sport Arkan, tidak ada drama mading, dan tidak ada air mata Kayla yang menuntut perhatian. Hanya ada kesunyian yang megah.
Tiba-tiba, dari arah jalan setapak di bawah bukit, terdengar suara langkah kaki yang ragu-ragu. Daun-daun kering berkerisik tertindih sepatu yang sepertinya bukan sepatu gunung. Saya menoleh, dan jantung saya sempat berhenti berdetak sesaat.
Itu Kayla.
Dia memakai jaket denim yang saya tahu itu adalah jaket lama yang sering dia pakai saat kami masih sering main bareng dulu. Dia berdiri di pinggir lapangan rumput, wajahnya tampak pucat terkena sisa cahaya bulan. Dia sendirian. Tidak ada Arkan, tidak ada teman-teman organisasinya.
"Bumi... aku boleh ikut?" suaranya kecil, hampir kalah oleh desau angin pinus.
Dara tidak menoleh, dia tetap sibuk dengan teleskopnya. "Bukit ini milik umum, Kayla. Tapi kalau kamu cari panggung mading, di sini tidak ada lampu sorot."
Kayla menunduk, dia berjalan mendekat ke arah tikar kami dengan langkah yang sangat hati-hati. "Aku tidak cari mading, Dara. Aku cuma... aku cuma merasa sangat sepi di rumah. Arkan terus menelepon, tapi aku tidak mau angkat. Aku ingat Bumi pernah bilang kalau malam ini ada meteor, jadi aku nekat ke sini naik taksi."
Senja menggeser duduknya, memberikan sedikit ruang di tikar. "Duduklah, Kayla. Cokelatnya masih hangat."
Kayla duduk di ujung tikar, agak jauh dari saya. Suasana mendadak menjadi sangat canggung. Kehadiran Kayla seperti sebuah anomali di tengah sistem tata surya kami yang baru saja stabil.
"Lihat ke atas," perintah Dara tiba-tiba.
Detik itu juga, sebuah garis cahaya melesat cepat di langit. Sangat terang, lalu menghilang dalam sekejap. Disusul oleh garis kedua, ketiga, dan seterusnya. Hujan meteor Lyrid sedang memamerkan kehebatannya.
"Wah..." Kayla berbisik pelan. Air matanya jatuh, tapi kali ini bukan air mata kemarahan atau manipulasi. Itu adalah air mata kekaguman. "Bagus banget ya, Mi. Ternyata benar kata kamu, bintang jatuh itu tidak pernah bohong soal indahnya."
Saya menatap langit, lalu menatap Kayla sekilas. "Dia tidak indah karena jatuh, Kay. Dia indah karena dia berani terbakar untuk menunjukkan keberadaannya. Dan dia tidak butuh tepuk tangan untuk tetap bersinar."
Kayla terdiam. Dia memeluk lututnya erat-aruh. "Aku minta maaf, Bumi. Aku benar-benar minta maaf atas segalanya. Melihat bintang seluas ini, aku merasa masalah mading dan Arkan itu... picik sekali. Aku sudah merusak persahabatan kita hanya untuk sesuatu yang ternyata cuma debu."
Saya menghirup napas dalam-dalam. Oksigen dingin memenuhi paru-paru saya. "Saya sudah memaafkan kamu, Kay. Tapi memaafkan bukan berarti saya bisa kembali ke orbit yang sama. Saya sudah menemukan poros baru saya di sini, bersama Dara dan Senja."
Malam itu, kami berempat duduk di bawah hujan meteor. Kayla tidak lagi mencoba merayu saya, Arkan tidak lagi menjadi topik pembicaraan, dan Senja tetap diam menjaga kehangatan cokelatnya. Untuk pertama kalinya, saya merasa benar-benar bebas. Bukan bebas karena dendam, tapi bebas karena saya sudah tidak lagi memiliki beban untuk menjadi pahlawan bagi orang yang tidak menghargai saya.
Nama saya Bumi. Dan hari ini, saya belajar bahwa meskipun bintang-bintang itu sangat jauh, mereka bisa memberikan kehangatan yang lebih nyata daripada orang yang berada tepat di samping kita tapi hatinya tertutup kabut ego.