"Kecerdasanmu mati di jalanan bersama jaket kurirmu, Arka."
Hinaan Sarah di hari kelulusannya menjadi luka terdalam bagi Arka, pria yang rela putus kuliah demi membiayai hidup gadis itu. Diinjak-injak oleh Rian Wijaya sang pewaris korporat, Arka mencapai titik nadir hingga sebuah suara dingin bergema: [Sistem Sovereign Architect Aktif].
Sistem ini tidak memberinya uang instan, melainkan 'mata' untuk melihat celah busuk di balik kemegahan kota. Bermodal sepuluh ribu rupiah dan otak jenius yang dianggap sampah, Arka mulai merancang arsitektur balas dendamnya.
Bukan dengan senjata, tapi dengan memutus urat nadi ekonomi sang konglomerat. Satu per satu gedung pencakar langit akan bertekuk lutut, dan Sarah akan menyadari bahwa pria yang ia buang adalah penguasa tunggal atas cetak biru dunianya.
"Selamat datang di permainanku. Di sini, aku adalah arsiteknya, dan kau hanyalah debu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
## **Bab 10: Tawar-menawar dengan Masa Lalu**
Bau tajam karbol dan antiseptik menyerbu indra penciuman Arka saat ia perlahan membuka mata. Langit-langit ruangan itu putih bersih, sangat kontras dengan dapur panti asuhan yang berantakan dan bersimbah darah dalam ingatannya yang terakhir. Ia mencoba menggerakkan tangan kanannya, namun rasa nyut-nyutan yang hebat di pergelangan tangan membuatnya mendesis tertahan.
"Jangan dipaksa. Kau beruntung tendonmu tidak putus saat menangkis tongkat besi itu."
Suara itu dingin namun tenang. Arka menoleh dan menemukan Elina Clarissa sedang duduk di kursi samping tempat tidur, menyilangkan kaki dengan anggun sambil membaca laporan di tabletnya. Ia tidak lagi memakai gaun biru, melainkan kemeja sutra putih yang lengannya digulung hingga siku.
"Panti... anak-anak?" suara Arka parau, tenggorokannya terasa seperti padang pasir yang kering.
"Aman. Aku sudah menempatkan tim keamanan profesional di sana secara permanen. Ibu Fatimah juga baik-baik saja, meski dia tidak berhenti menangis mengkhawatirkan 'anak nakal' yang mencoba jadi pahlawan," Elina meletakkan tabletnya dan menatap Arka dengan intensitas yang membuat Arka merasa seperti sedang dipindai.
**[Status Sistem: Sinkronisasi 85%.]**
**[Kondisi Fisik: Pemulihan Jaringan Otot 40%.]**
**[Bisikan Insting: Elina tidak hanya di sini untuk menjagamu. Dia sedang mengukur investasinya.]**
"Hendra Wijaya?" tanya Arka lagi.
"Dia licik. Preman-preman itu tidak punya catatan kriminal yang terhubung langsung dengannya. Mereka hanyalah 'orang asing' yang mencoba merampok panti asuhan," Elina tersenyum getir. "Tapi serangan sibernya gagal total. Kau berhasil mengunci akses servernya sebelum kau pingsan. Dia sekarang sedang sibuk menambal lubang keuangan di perusahaannya sendiri."
Tiba-tiba, pintu kamar rawat inap itu diketuk pelan. Seorang perawat masuk dengan wajah ragu. "Maaf, Nona Clarissa. Ada seorang wanita di luar yang bersikeras ingin menjenguk Tuan Arka. Dia bilang namanya Sarah."
Udara di ruangan itu seolah membeku. Arka bisa merasakan jantungnya berdegup lebih kencang, sebuah reaksi biologis yang belum bisa ia kendalikan sepenuhnya meski Sistem mencoba menstabilkannya.
Elina menaikkan sebelah alisnya, melirik Arka dengan tatapan yang sulit diartikan. "Sepertinya masa lalumu cukup gigih, Arsitek. Mau aku mengusirnya?"
Arka terdiam sejenak. Ia melihat ke jendela, ke arah langit Tanjungbalai yang mulai memucat karena fajar. "Biarkan dia masuk. Ada sesuatu yang ingin kupastikan."
---
Sarah masuk dengan langkah yang sangat pelan, seolah takut lantai rumah sakit itu akan retak jika ia menginjaknya terlalu keras. Ia masih memakai pakaian yang sama dengan malam sebelumnya, namun kini basah kuyup karena hujan dan penuh noda lumpur. Matanya merah dan sembab.
Di tangannya, ia memegang sebuah tas kulit kecil yang ia dekap erat-erat di depan dadanya.
Elina berdiri, memberikan ruang namun tetap berada di sudut ruangan, menyandarkan punggungnya ke tembok sambil melipat tangan. Kehadirannya di sana terasa seperti pengadil yang tak kasat mata.
"Arka..." Sarah berlutut di samping tempat tidur. Ia tidak berani menyentuh tangan Arka yang diperban. "Aku... aku melihat preman-preman itu dibawa pergi dari panti semalam. Aku melihatmu dibawa ambulans. Aku tidak bisa tidur..."
Arka menatapnya tanpa ekspresi. "Kau sudah melihatku. Sekarang pergilah, Sarah. Ibumu butuh kau di rumah sakit."
"Aku tidak bisa pergi sebelum memberikan ini," Sarah membuka tasnya dengan tangan gemetar. Ia mengeluarkan sebuah *flashdisk* berwarna merah tua. "Ini adalah cadangan data dari komputer pribadi Rian. Sebagai orang humas, aku punya akses untuk mengarsipkan semua korespondensi pribadinya selama setahun terakhir."
Arka menyipitkan mata. Instingnya mulai bekerja.
"Kenapa kau memberikannya padaku? Kau tahu jika Rian atau Hendra tahu kau memiliki ini, mereka tidak akan segan-segan menghancurkanmu dan ibumu," tanya Arka dingin.
"Karena aku lelah menjadi boneka, Arka," suara Sarah bergetar, namun ada nada ketegasan yang baru di sana. "Selama ini aku berpikir aku melakukan segalanya demi Ibu, tapi ternyata aku hanya memberi makan monster yang akan memakan kita semua. Di dalam sini... ada bukti transfer ke rekening gelap di luar negeri yang digunakan Hendra untuk menghindari pajak pelabuhan. Ini adalah satu-satunya cara untuk memastikan mereka tidak pernah bisa menyentuh panti asuhanmu lagi."
---
Arka menatap *flashdisk* itu. Ini adalah senjata nuklir di dunia bisnis. Jika data ini benar, Wijaya Group tidak hanya akan kehilangan saham, tapi juga izin operasional mereka.
"Apa yang kau inginkan sebagai imbalan?" Arka bertanya, suaranya tetap skeptis. "Uang? Perlindungan? Atau kau ingin aku menerimamu kembali?"
Sarah menunduk, air matanya jatuh mengenai sprei putih rumah sakit. "Aku tidak cukup berani untuk bermimpi kembali padamu, Arka. Aku tahu pintu itu sudah tertutup dan aku sendiri yang menguncinya malam itu. Aku hanya ingin... aku ingin kau membiarkan aku membantu ibuku dengan caraku sendiri. Jangan hancurkan dia saat kau menghancurkan Wijaya. Dia tidak bersalah."
Arka merasakan perih di dadanya, bukan karena Sistem, tapi karena sisa-sisa kemanusiaan yang masih tertinggal. Ia melihat Sarah bukan lagi sebagai wanita cantik yang mempesona di hari kelulusan, tapi sebagai jiwa yang hancur yang mencoba menebus dosa yang terlalu besar.
"Elina," panggil Arka.
Elina mendekat, mengambil *flashdisk* itu dari tangan Sarah dengan ujung jarinya. "Aku akan meminta tim IT-ku memeriksanya. Jika isinya asli, Sarah... kau baru saja membeli tiket keluar dari neraka ini."
"Bawa dia ke unit perlindungan di bawah jaringan Clarissa," perintah Arka pada Elina. "Pastikan ibunya mendapatkan perawatan terbaik di rumah sakit ini, tapi jangan biarkan Rian atau Hendra tahu."
Sarah mendongak, matanya penuh dengan rasa terima kasih yang tak terlukiskan. "Terima kasih, Arka. Terima kasih..."
"Jangan berterima kasih padaku," potong Arka. "Ini adalah transaksi bisnis, Sarah. Kau memberikan informasi, dan aku memberikan keamanan. Tidak kurang, tidak lebih."
---
Setelah Sarah pergi di bawah pengawalan orang-orang Elina, ruangan itu kembali sunyi. Elina menatap Arka dengan senyum misterius.
"Transaski bisnis, ya? Kau cukup mahir berbohong pada dirimu sendiri, Arsitek."
"Aku hanya menggunakan sumber daya yang tersedia, Elina," jawab Arka, mencoba mengubah posisi duduknya meski punggungnya terasa kaku.
"Hati-hati, Arka. Di dunia ini, masa lalu adalah jangkar. Jika kau tidak memotong talinya dengan bersih, dia akan menyeretmu ke dasar laut saat kau mencoba membangun menaramu," Elina berjalan menuju pintu. "Aku akan memeriksa data ini. Jika benar, Hendra Wijaya akan mendapati sarapannya pagi ini terasa sangat pahit."
Setelah Elina pergi, Arka kembali sendirian. Ia menatap telapak tangannya yang bebas dari perban.
**[Status: Sinkronisasi 95%.]**
**[Data Baru Diterima: Memetakan Struktur Keuangan Wijaya Group...]**
**[Bisikan Insting: Kekuatan besar datang dengan tanggung jawab moral yang berat. Apakah kau akan menjadi arsitek yang membangun, atau penghancur yang membabi buta?]**
Arka memejamkan mata. Ia teringat kata-kata Sarah di masa lalu: *"Cinta tidak bisa membayar tagihan..."*
Sekarang, ia memiliki lebih dari sekadar uang untuk membayar tagihan. Ia memiliki kekuatan untuk merombak seluruh kota. Namun, melihat Sarah yang hancur, ia menyadari satu hal: kemenangannya atas Rian terasa sedikit hambar jika ia harus kehilangan kemanusiaannya dalam proses itu.
Ia tidak ingin hanya menjadi kaya. Ia ingin diakui. Ia ingin harga dirinya yang dulu diinjak-injak di jalanan, kini menjadi fondasi bagi gedung-gedung yang akan ia bangun.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
*“Kau pikir kau sudah menang? Panti asuhan itu hanyalah awal. Aku akan membuatmu merasakan apa artinya kehilangan segalanya, dimulai dari orang yang paling kau percayai. - H.W.”*
Arka meremas ponselnya. Matanya berkilat dengan cahaya emas yang tajam. Serangan Hendra belum berakhir. Naga tua itu baru saja menunjukkan taringnya yang sesungguhnya.
"Mari kita lihat," bisik Arka pada ruangan yang sepi. "Siapa yang akan bertahan saat seluruh arsitektur kebohonganmu runtuh, Hendra. Aku tidak hanya akan mengambil hartamu. Aku akan mengambil namamu."
Arka mulai mengetik perintah di kepalanya, menggerakkan data streams di dalam kesadarannya. Ia tidak lagi butuh istirahat. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan kali ini, ia tidak akan membiarkan siapa pun terluka lagi demi ambisinya.
---
tapi alurnya terlalu lambat dan bertele tele.
tokoh utama memang mantan kurir,bagus banget ketika ia tak mengkikuti maunya sistem utk jd oportunis dan tak berperasaan.
tp kan oleh sistem dia udah dpt kemampuan analisis utk berani melawan dan berpikir cepat.
jadinya malah membosankan membaca cerita ini.