Satu tahun lalu, Michael—sang pewaris SM Corporation—diselamatkan oleh wanita bertopeng misterius berjuluk "Si Perempuan Gila". Terpaku pada mata indahnya, Michael berjanji akan memberikan apa pun sebagai balasan hutang nyawa.
Kini, Michael dipaksa menikahi Shaneen, putri konglomerat manja yang ia anggap membosankan dan lemah. Michael tidak tahu bahwa di balik sikap manja dan keluhan konyol istrinya, Shaneen adalah sang legenda bertopeng yang selama ini ia cari.
Permainan kucing dan tikus dimulai. Di siang hari ia menjadi istri yang merepotkan, namun di malam hari, ia adalah ratu kegelapan yang memegang nyawa suaminya sendiri. Akankah Michael menyadari bahwa wanita yang ia tidak sukai adalah wanita yang paling ia gilai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma di Balik Apartemen
Mobil Rolls-Royce hitam milik Michael berhenti perlahan di depan apartemen megah milik Shaneen. Suasana malam di The Golden Coast sangat sunyi, hanya suara jangkrik dan deburan ombak jauh di kejauhan.
Michael mematikan mesin. Ia menoleh ke samping, menatap Shaneen yang tampak tertidur pulas bersandar di kursi kulit mobil. Cahaya lampu jalan yang remang-remang menyinari wajah gadis itu, membuatnya tampak begitu polos dan tidak berbahaya.
Michael tidak langsung membangunkan Shaneen. Ia justru mendekat, sangat dekat hingga napasnya terasa di pipi Shaneen. Ia ingin mencari bukti—bukan dengan kata-kata, tapi dengan indranya.
Jebakan Kecil di Dalam Mobil. Michael sengaja menyenggol tas tangan Shaneen hingga jatuh ke lantai mobil.
Brak!
Suara itu cukup keras untuk mengejutkan siapa pun. Michael memperhatikan kelopak mata Shaneen dengan sangat teliti. Jika dia adalah "Perempuan Gila", refleks matanya akan langsung tajam dan waspada.
Namun, Shaneen hanya melenguh pelan. Ia membuka matanya dengan sayu, berkedip berkali-kali seolah bingung di mana dia berada. "Michael...? Sudah sampai ya? Aduh, tas aku jatuh..." ucapnya dengan suara serak yang manja.
Shaneen membungkuk untuk mengambil tasnya, dan saat itulah Michael menangkap sesuatu. Saat Shaneen bergerak, dari balik leher gaunnya, tercium aroma yang sangat tipis namun tajam. Bukan hanya strawberry mint, tapi ada jejak asap tembakau yang pekat yang menempel di serat kain gaunnya.
Michael membantu mengambilkan tas itu, namun tangannya sengaja berlama-lama menyentuh jemari Shaneen. "Shaneen, kau habis dari mana sebelum menemuiku tadi sore?"
"Kan aku sudah bilang, aku di butik fiting baju seharian, Michael! Capek banget tahu," Shaneen cemberut, lalu merapikan rambut Ash Grey-nya yang sedikit berantakan.
Michael terdiam. Fiting baju? Tapi kenapa baunya seperti seseorang yang baru saja menghabiskan satu cerutu di ruang tertutup tanpa ventilasi?
Michael menatap dahi Shaneen yang tadi siang ia jentik. Masih ada bekas merah tipis di sana. Ia merasa ditarik ke dua arah.
Satu sisi hatinya berkata: Dia adalah gadis kecil yang dulu selalu menangis karena jentikan jarimu. Dia hanya butuh perlindunganmu.
Tapi sisi predatornya berbisik: Gadis kecil itu sudah mati. Wanita di depanmu ini sedang memakai topeng yang sangat tebal.
"Kenapa liatin aku terus? Mau cium ya?" Goda Shaneen sambil tertawa kecil, ia segera merogoh tasnya dan memasukkan satu butir permen strawberry mint ke mulutnya dengan cepat.
Lagi-lagi wangi strawberry itu, batin Michael.
"Turunlah. Sudah malam," ucap Michael singkat, meski tangannya justru menarik tengkuk Shaneen dan mendaratkan ciuman singkat di dahinya—tepat di bekas jentikannya tadi. "Jangan merokok diam-diam, Shaneen. Itu tidak baik untuk kesehatanmu."
Shaneen membeku sesaat. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena cinta, tapi karena ia tahu Michael sudah mencium bau asap itu. Namun, ia tetap mempertahankan ekspresi bingungnya. "Merokok? Kamu jangan aneh-aneh deh."
Shaneen turun dari mobil dengan langkah riang, melambaikan tangan sampai mobil Michael menghilang di kegelapan jalan. Begitu pintu apartemennya tertutup, ekspresi wajah Shaneen berubah total.
"Dia mulai mencium jejakku," gumam Shaneen dingin. Ia berjalan masuk ke dalam rumahnya, menuju sebuah ruangan rahasia di bawah perpustakaan—tempat ia menyimpan peralatan peretas dan senjata-senjatanya.
Shaneen masuk ke ruangan berteknologi tinggi di balik dinding perpustakaan. Di balik dinding itu, Damian sudah berdiri tegak dengan setelan jas hitam yang rapi, diikuti oleh dua baris anak buah bersenjata lengkap yang menunduk hormat saat Shaneen melintas. Ia menghempaskan tubuhnya ke kursi kulit besar, meraih kotak cerutu perak milik ayahnya, dan menyalakannya dengan pemantik api yang sama.
Asap putih mengepul, memenuhi ruangan yang dingin itu. Damian berdiri di sudut, memperhatikan tuannya dengan saksama.
"Selamat datang kembali, Nona," ucap Damian dengan suara rendah dan penuh kepatuhan.
"Michael mulai mencium bau asap di gaun ini, Damian," gumam Shaneen.
"Haruskah kita mengganti parfum mulut atau menetralisir bau pakaian Anda lebih ketat lagi, Nona?" Tanya Damian.
Shaneen menghisap cerutunya dalam-dalam, menatap layar monitor yang menampilkan rekaman pergerakan Don di pinggiran kota. "Tidak. Michael tidak bodoh. Semakin aku menutupinya dengan sempurna, dia akan semakin curiga. Biarkan dia terjebak dalam dilemanya sendiri."
Shaneen tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat kontras dengan rengekannya di mobil tadi.
"Siapa yang sebenarnya kucintai?" Shaneen mengulangi pertanyaan yang ia tangkap dari sorot mata Michael. "Kasihan sekali kau, Michael. Kau sedang jatuh cinta pada dua hantu. Kau mencintai memori gadis kecil yang kau jentik dahinya, dan kau memuja wanita bertopeng yang menyelamatkan nyawamu."
Shaneen menatap pantulan dirinya di monitor yang gelap. "Jika aku membuka topeng ini sekarang, kau akan hancur. Kau tidak akan sanggup melihat bahwa gadis yang kau anggap rapuh ini adalah orang yang sama yang merobek tenggorokan musuhmu tanpa berkedip."
"Laporankan tentang Don," perintah Shaneen singkat, suaranya kini sepenuhnya otoriter.
Damian melangkah maju, membuka sebuah dokumen digital di layar utama. "Don mulai bergerak ke area pelabuhan sektor 4. Dia mengira kita tidak tahu tentang transaksi chip ilegalnya minggu depan. Dia juga sedang mencoba menghubungi informan di dalam SM Corporation untuk mencari celah keamanan Michael."
Shaneen menyeringai, jemarinya yang lentur mulai menari di atas keyboard mekanis, menciptakan barisan kode hijau yang rumit. "Biarkan dia merasa menang. Aku ingin dia merasa sudah memegang leher Michael, tepat di saat itulah aku akan mematahkan tangannya."
Ia mematikan cerutunya di asbak kristal, lalu mengunyah satu butir permen strawberry mint untuk mengembalikan citra "manisnya".
"Damian, pastikan semua senjata dalam kondisi prima. Michael ingin segera meresmikan pertunangan ini. Itu artinya, Don akan menyerang di hari paling bahagia bagi Michael. Dan aku... aku akan memastikan hari itu menjadi hari terakhir Don menghirup udara The Golden Coast."
Shaneen berdiri, menatap barisan anak buahnya yang masih setia menunggu di luar pintu. "Ingat, di depan Michael, aku tetaplah Nona Tizon yang manja dan takut pada kecoak. Tapi di hadapan musuh, aku adalah satu-satunya malaikat maut yang akan mereka temui."
"Dimengerti, Nona," sahut Damian serempak dengan anak buah lainnya.
Shaneen menyentuh dahinya yang memerah akibat jentikan Michael. "Sakit juga jentikannya," gumamnya pelan sambil tersenyum tipis. "Mainlah sepuasmu, Michael. Karena saat semua ini berakhir, aku yang akan memenangkan permainan ini."