"Jawab jujur pertanyaan saya, apa kamu orang yang tidur dikamar hotel saya?" tanya Kaivandra Sanzio Artamevia.
Seana Xaviera Levannia menatap mata pria berbahaya itu, sebelum akhirnya perlahan&amp melangkah mundur. "B-bukan saya kok Pak--"
..
Kaivandra Sanzio Artamevia, seorang pria yang paling dikenal di kota ini. Di pria kejam dan haus darah dengan kecenderungan menggunakan metode brutal, dan tidak menusiawi. Tidak ada wanita yang berani mendambakannya, meskipun Zio diberkahi dengan penampilan yang tampan.
Tanpa diduga, seorang wanita berhasil tidur dengannya ketika dia sedang dalam keadaan mabuk! Ketika Zio mengacak-acak seluruh dunia hanya untuk mencari wanita misterius itu, dia baru menyadari bahwa tubuh sekretarisnya semakin berisi.
Apakah kebenaran yang selama ini ditutup rapat-rapat, akan terbongkar lewat kecurigaan Zio?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violetta Gloretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Mike menatap Melani dengan tatapan tajamnya, menunjukkan ketidaksetujuannya. "Kamu itu terlalu impulsif!."
Melani bukan hanya impulsif, dia juga lupa apa yang tidak boleh dilakukannya. Pikiran Melani menjadi kosong karena Mike terus menerus menceramahinya. Dan sela itu, Melani juga berkali kali meminta maaf atas keledorannya, tetapi Mike menolak untuk mendengarkan penjelasannya.
Saat itu, Ardila, saingan Melani yang juga ingin mendapat posisi setelah Mike pensiun, baru saja datang setelah menyelesaikan urusannya. Ketika melihat Melani mendapatkan omelan yang panjang, senyum puas terlihat di wajah Ardila.
Setelah selesai mencrramahi Melani, Mike berkata. "Mulai sekarang, hanya Seana yang bertanggung jawab menangani semua urusan penting dan tidaknya Pak Zio. Kalian semua, tidak ada yang boleh membagi pekerjaan kalian dengan Seana! Kalau Seana pulang kerja agak terlambat dari jam kerjanya, kalian semua harus bekerja lembur untuk membantunya menyelesaikan pekerjaannya." Itulah yang Mike katakan didepan para karyawan yang menonton, dan pengumuman ini termasuk ditujukan untuk Melani.
"Ardila, kamu ikut saya!." Mike masih dengan perasaan marahnya, berjalan pergi.
Beruntungnya, Mike mengetahui hal ini lebih awal. Jika sesuatu terjadi pada Seana ketika wanita itu sudah sampai di Enfield Corporation, Sanzio pasti akan memecat seluruh departemen asisten. Mike selalu bertanya-tanya, mengapa Sanzio begitu protektif terhadap wanita dari kampung itu. Dia juga sudah melakukan beberapa penyelidikan di belakang Sanzio, dan mengetahui padahal Sanzio dan Seana belum pernah bertemu sebelumnya, jadi apa yang sebenarnya terjadi?
Ketika Ardila berjalan melewati Melani, dia menoleh dan menatap Melani dengan angkuh.
Melani menggertakkan giginya karena marah. Setelah Ardila masuk ke kantor bersama Mike, Melani langsung menoleh tajam kearah Yunita. "Kenapa lo liat-liat?."
Yunita tidak ingin repot-repot menjawab, dia hanya membuang pandangannya dan pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.
Namun, Melani merasa perlu melampiaskan kekesalannya karena melihat Mike bersama Ardila. Jadi, dia menyusul langkah Yunita dan melempar dokumen-dokumen itu tepat didepan Yunita. "Pergi dan antar dokumen-dokumen ini!."
Yunita menatapnya dengan tajam. "Kak Melani tadi ngga denger ya, Pak Mike bilang apa? Kita semua harus membantu Seana mengerjakan tugasnya, bukan membantu tugas kakak!."
Kemarahan Melani seakan sudah mencapai titik mendidih. Dia belum pernah menghadapi situasi seperti ini di perusahaan. Karena dia sangat mahir dalam pekerjaannya, semua karyawan biasanya akan mendengarkannya dan menuruti semua perintahnya.
"Dan, belum ada yang bilang kalau Kak Melani bakalan jadi asisten eksekutif di perusahaan ini!." Yunita kembali buka suara.
Selain itu, meskipun Melani cakap dalam pekerjaannya, dia benar-benar buruk dalam hubungan interpersonal. Setidaknya ada setengah dari karyawan Kaivandra Internasional Group yang tidak menyukainya. Mungkin Melani berpikir bahwa seorang asisten eksekutif hanya perlu melakukan pekerjaannya dengan baik, dan tidak masalah apakah orang lain menyukainya atau tidak. Namun pada titik ini, semua orang tidak lagi membutuhkan alasan untuk mentolerir perilaku Melani yang buruk.
Saat itulah interkom Yunita berdering, dan dia segera mengangkatnya. "Halo, ini dari departemen asisten Kaivandra Internasional Group."
"Yunita, pergi ke ruang rapat bersama Pak Zio sekarang." Perintah Mike.
Yunita melirik Melani sembari menyeringai. "Baik, Pak Mike."
Kebetulan, Melani juga dapat mendengar suara Mike, dan wajahnya bahkan lebih merah pada dari sebelumnya. Melani tidak menyangka semua kerja kerasnya akan sia-sia seperti ini. Dia sekarang di cap buruk oleh Mike.
Yunita merapikan kemeja dan rambutnya, siap pergi ke ruang rapat.
"Itu cuma rapat. Ngga perlu terlalu bahagia." Kata Melani dengan kesal.
"Keliatan banget syiriknya. Gue tau kok ini cuma rapat. Makanya jangan sok nyuruh-nyuruh Seana cuma demi posisi yang belum tentu jadi milik Kakak!." Balas Yunita.
Melani mendengus marah, tetapi Yunita tidak ingin mempedulikannya.
...
Sementara itu, Seana baru saja sampai di supermarket depan kantor. Rupanya pasta di dapur Sanzio sudah kadaluarsa, dan Seana harus pergi membeli yang baru.
Seana mengeluarkan ponselnya setelah merasa ragu, dia ragu dengan stok makanan apa lagi yang di perlukan didapur kecil itu.
...
Sanzio sudah berada di dalam ruang rapat. Ketika dia mendapati Seana menghubungi ponselnya. Karena rapat belum dimulai, Sanzio mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Ada apa?." Tanyanya dingin.
Dada Seana terasa sesak ketika mendengar suara dingin Sanzio, tetapi Seana dengan rendah hati bertanya. "Maaf, Pak. Tapi saya tadi ngga sempet cek didapur ada garam sama cuka ngga, ya?."
Ekspresi Sanzio menjadi gelap.
Yunita duduk disebelah kanan Sanzio, sementara manajer keuangan duduk disebelah kiri Sanzio.
Keduanya bisa mendengar suara Seana di telepon, dan mengetahui apa yang sedang Seana tanyakan.