Cerita ini mengikuti perjalanan hidup Lauren, seorang gadis yang terlahir dengan kemampuan melihat dunia gaib. Dari masa balita yang penuh ketakutan hingga masa remaja yang penuh tantangan, Lauren didampingi oleh Herza, sesosok arwah mentor. Hidupnya menjadi rumit saat ia bertemu Banyu, pemuda dengan aura misterius yang ternyata merupakan kunci dari rencana besar kekuatan jahat kuno. Lauren harus memilih antara keinginan untuk hidup normal atau menerima takdirnya sebagai pelindung di antara dua dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan di Tengah Sunyi
Dua tahun berlalu, namun ingatan tentang sepasang mata merah di balik lemari itu tidak pernah benar-benar memudar. Bagi Maria, setiap sudut rumah kini terasa seperti perangkap yang siap mengatup. Bagi Lauren yang kini berusia lima tahun, dunia bukan lagi sekadar taman bermain, melainkan riuh rendah suara yang tidak seharusnya ia dengar.
Di taman kanak-kanak, Lauren sering kali ditemukan mematung di depan dinding kelas yang bercat kuning cerah. Sementara teman-temannya berebut perosotan atau saling pamer krayon, Lauren hanya berdiri diam dengan telinga yang ditempelkan ke tembok beton.
"Lauren, ayo warnai bunganya. Kenapa berdiri di situ terus?" tanya Bu Tari, gurunya, dengan nada lembut namun penuh selidik.
Lauren tidak menoleh. Matanya terpaku pada retakan halus di semen.
"Suryo bilang dia haus, Bu. Dia bilang di dalam sini sempit sekali."
Bu Tari mengernyitkan dahi. Di sekolah itu tidak ada murid bernama Suryo.
"Suryo itu siapa, Sayang? Teman baru?"
"Bukan teman. Dia yang tinggal di sini sebelum sekolahnya dibangun. Katanya kakinya terjepit batu," bisik Lauren pelan. Tubuhnya sedikit bergetar, wajahnya yang mungil terlihat pucat pasi di bawah lampu neon yang berkedip.
Laporan dari sekolah hari itu membuat Maria terduduk lemas di meja makan. Ini bukan pertama kalinya. Kemarin Lauren menangis karena mendengar suara tangisan dari dalam saluran air. Hari sebelumnya, dia menolak masuk ke kamar mandi karena ada kakak berbaju putih yang sedang mencuci rambutnya dengan darah.
"Dia hanya sedang fase imajinasi aktif, Maria. Berhenti menatapnya seolah dia itu monster," suara Bram memecah keheningan. Dia baru saja pulang, namun ketegangan di rumah langsung menyambutnya.
"Imajinasi tidak membuat hidungnya berdarah setiap kali dia mendengar bisikan itu, Bram!" Maria menunjuk ke arah Lauren yang sedang meringkuk di sofa.
Gadis kecil itu tampak sangat rapuh. Lingkaran hitam mulai menghiasi bawah matanya yang bulat. Setiap kali bisikan itu datang, energi Lauren seolah tersedot habis. Dia sering mengalami demam tinggi tanpa sebab medis yang jelas. Dokter bilang itu hanya stres ringan, tapi Maria tahu lebih baik.
Malam itu, hujan turun dengan lebat, menciptakan suara berisik di atas atap seng. Lauren terbangun tengah malam. Dia tidak berteriak. Dia hanya duduk diam di atas tempat tidurnya, menatap dinding kamar yang berbatasan dengan gudang.
Tolong... buka pintunya...
Lauren menutup telinganya rapat-rapat dengan kedua tangan. Bisikan itu bukan berasal dari luar, melainkan terasa seperti merayap masuk langsung ke dalam tempurung kepalanya. Suara itu serak, parau, dan berbau tanah basah.
"Jangan bicara padaku," isak Lauren kecil.
"Mama bilang kalian tidak ada."
Suryo... panggil nama itu... maka aku akan tenang...
Lauren turun dari tempat tidur dengan langkah gontai. Tubuhnya terasa berat, seolah ada beban tak kasatmata yang menggelayuti pundaknya. Dia berjalan menuju kamar orang tuanya, namun langkahnya terhenti di depan dinding lorong. Dia mulai menggaruk-garuk wallpaper bermotif bunga di sana dengan kuku-kukunya yang mungil.
"Lauren? Apa yang kamu lakukan, Nak?" Maria yang terbangun karena suara garukan itu segera menghampiri. Dia menyalakan lampu lorong dan terpekik melihat jemari putrinya yang mulai lecet.
"Dia di sini, Ma. Suryo ada di balik tembok ini. Dia bilang dia adalah tukang bangunan yang hilang waktu rumah ini dibangun," Lauren berbicara dengan nada datar, seolah jiwanya sedang berada di tempat lain.
Maria membeku. Nama itu. Dia pernah mendengar desas-desus dari tetangga lama tentang seorang pekerja yang tewas tertimbun saat renovasi besar-besaran di blok ini belasan tahun lalu. Namun, dia tidak pernah menceritakan hal itu pada siapa pun, apalagi pada Lauren.
"Berhenti, Lauren! Cukup!" Bram keluar dari kamar dengan wajah gusar. Dia mencengkeram bahu Lauren, mencoba menghentikan aksi menggaruk dinding itu.
"Suryo... Suryo... Suryo..." Lauren terus meracau. Tiba-tiba, tubuhnya mengejang. Matanya memutar ke atas hingga hanya menyisakan bagian putihnya saja.
"Bram, dia kejang!" teriak Maria panik.
Bram segera menggendong Lauren yang mendadak terasa sangat dingin, sedingin es balok.
"Siapkan mobil! Kita ke rumah sakit sekarang!"
Di dalam mobil yang melaju menembus hujan, Maria memeluk tubuh Lauren yang lemas. Putrinya sudah tidak lagi kejang, namun napasnya pendek-pendek. Dalam ketidaksadarannya, bibir Lauren masih bergerak-gerak, membisikkan kata-kata yang membuat bulu kuduk Maria berdiri tegak.
Dia datang... mata merah itu akan mengambilku...
Sesampainya di rumah sakit, Lauren segera ditangani di Unit Gawat Darurat. Dokter menyatakan bahwa Lauren mengalami kelelahan ekstrem dan dehidrasi, meski Maria tahu ada sesuatu yang lebih gelap yang sedang menggerogoti anaknya. Sepanjang malam, Maria terjaga di samping ranjang rumah sakit, sementara Bram tertidur di kursi tunggu dengan sisa-sisa rasionalitas yang mulai retak.
Maria menatap wajah pucat Lauren. Dia menyadari satu hal yang menyakitkan: suaminya tidak akan pernah bisa melindungi Lauren dari dunia yang tidak dia percayai. Bram adalah dinding logika yang kokoh, namun dinding itu justru membuat Lauren terisolasi dalam ketakutannya sendiri.
Lauren sempat terbangun sebentar di jam tiga pagi. Matanya yang sayu menatap Maria dengan kepedihan yang tidak seharusnya dimiliki anak seusianya.
"Ma, kenapa cuma Lauren yang bisa lihat? Lauren mau jadi anak biasa saja," bisiknya lirih sebelum kembali jatuh tertidur.
Keesokan harinya, saat Lauren sudah diperbolehkan pulang dan Bram sedang sibuk dengan urusan kantornya melalui telepon, Maria menggeledah laci meja riasnya. Dia mencari sebuah kartu nama yang pernah diberikan oleh seorang kerabat jauh saat pemakaman neneknya dulu.
Kartu itu nampak kusam, dengan tulisan tinta hitam yang hampir pudar. Mbah minto - Penjaga Gerbang.
Maria tahu Bram akan sangat marah jika mengetahui hal ini. Bram menganggap segala bentuk klenik sebagai pembodohan. Namun, saat dia melihat Lauren yang duduk termenung menatap bayangannya sendiri di cermin dengan ekspresi ketakutan, tekad Maria membulat.
Dia tidak bisa hanya diam menonton anaknya perlahan-lahan dimakan oleh sesuatu yang tak terlihat.
Dengan tangan gemetar, Maria mengambil ponselnya. Dia berjalan menuju balkon agar suaranya tidak terdengar oleh siapa pun di dalam rumah. Jantungnya berdegup kencang, seolah dia sedang melakukan sebuah kejahatan besar.
"Halo? Apakah ini Mbah Minto?" bisik Maria saat sambungan telepon terhubung.
Suara di seberang sana terdengar berat dan penuh wibawa, seolah sudah menunggu panggilan itu sejak lama. “Bawa anak itu ke rumahku, Nduk. Sebelum benangnya benar-benar putus.”
Maria menutup teleponnya dengan napas terengah. Dia tidak tahu apa yang akan dia hadapi, namun dia tahu satu hal pasti: ini adalah awal dari perjalanan yang tidak akan pernah bisa dia ceritakan pada suaminya.
Dia kembali ke dalam rumah, menatap Lauren yang kini sedang menatap ke arah pintu masuk dengan pandangan kosong.
"Ma," panggil Lauren pelan.
"Iya, Sayang?"
"Ada banyak orang yang berdiri di belakang pintu depan. Mereka semua tidak punya wajah," bisik Lauren.
Maria memejamkan mata, mencoba menahan tangisnya. Dia harus segera bertindak. Malam ini, saat Bram tertidur lelap, dia akan membawa Lauren pergi secara diam-diam. Dia harus mencari tahu apa sebenarnya yang ada di dalam diri putrinya, sebelum kegelapan itu benar-benar mengklaim Lauren seutuhnya.