Seorang laki-laki yang sudah lama mencintai seseorang dalam diam, berhasil menikahinya tapi bukan dengan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecurigaan Kecil
Nadira kembali ke mejanya dengan langkah cepat. Ia segera menyelesaikan pekerjaan yang tadi sempat tertunda. Sesekali ia melirik jam di sudut layar komputer.
Ia ingin segera pergi. Bukan untuk pulang, melainkan menjenguk ayah Naya di rumah sakit.
Beberapa menit kemudian, laporan terakhir akhirnya terkirim. Nadira menghela napas lega, lalu merapikan berkas di mejanya. Tas kecilnya diraih, namun langkahnya terhenti sejenak.
"Nggak mungkin datang dengan tangan hampa." ucapnya lirih.
Dalam benaknya muncul berbagai pilihan buah, makanan hangat atau mungkin bunga.
"Nanti aja deh, sekalian jalan." ucapnya, mengambil ponselnya dan bergegas keluar sebelum jam pulang benar-benar ramai.
Di sisi lain kota, butik masih ramai oleh pelanggan sore hari. Lampu-lampu hangat menerangi deretan pakaian yang tersusun rapi, sementara para pegawai sibuk melayani pembeli yang datang silih berganti.
Di belakang meja kasir utama, ibu Damar menutup map laporan penjualan perlahan.
Ia menarik napas pelan.
"Rina," panggilnya lembut.
Seorang pegawai senior segera mendekat, "Ya, Bu?"
"Saya pulang lebih dulu hari ini. Tolong pastikan butik tutup seperti biasa, dan lakukan pengecekan stok, ya."
"Baik, Bu. Ibu hati-hati di jalan." kata Rina.
Ibu Damar mengangguk singkat, mengambil tasnya lalu berjalan keluar.
Perjalanan pulang terasa sunyi.
Langit sore mulai meredup ketika mobilnya memasuki halaman rumah.
Di teras, suaminya sudah duduk santai dengan kemeja lengan panjang yang digulung hingga siku, secangkir teh hangat di depannya. Sebuah koran bisnis terbuka di tangannya.
Ayah Damar, sebagai komisaris di salah satu perusahaan besar, pekerjaannya tidak menuntut kehadiran setiap harinya. Ia lebih sering mengawasi dari jauh, menghadiri rapat penting sesekali, lalu menghabiskan waktunya di rumah.
Pria itu mengangkat kepala saat melihat istrinya datang lebih cepat dari biasanya.
"Tumben pulang sore begini, Mah," Ujarnya tenang.
Ibu Damar tersenyum tipis sambil meletakkan tasnya, "tidak terlalu ingin di butik hari ini, Pah."
Suaminya tak langsung bertanya lebih jauh. Ia mengenal istrinya cukup lama untuk memahami alasan yang tidak diucapkan.
"Naya? " tanyanya akhirnya dengan nada lembut.
Istrinya terdiam sesaat, lalu mengangguk kecil.
"Mamah, rindu dia, Pah."
Tatapan suaminya melunak. Ia menutup korannya perlahan.
"Mau ketemu dia?"
Istrinya mengangguk cepat.
Suaminya mengelus rambut istrinya, "ya sudah, kita ke rumahnya, ya."
Ibu Damar tersenyum, wajahnya terlihat senang.
"Tapi....mama, masak dulu ya. Aku ingin masak untuknya."
"Naya pasti senang." Lanjut suaminya.
Ibu Damar berjalan menuju dapur. Ia menyalakan kompor sendiri, menyiapkan bahan satu per satu tanpa bantuan siapa pun.
Suaminya tetap menunggu di teras. Dari dulu, ibu Damar sering memasakkan sesuatu untuk Naya dan dititip kepada putranya.
Aroma masakan perlahan menyebar, aroma yang sudah lama tidak hadir sejak rumah kehilangan tawa anak semata wayang mereka.
"Sudah, Pah. Ayok kita pergi sekarang." ajak ibu Damar dengan semangat.
Suaminya mengangguk kecil, lalu mengambil kunci mobil dari meja. Di tangan istrinya, sudah tergenggam sebuah rantang makanan yang masih hangat.
Perjalanan mereka tidak terlalu jauh. Sepanjang jalan, istrinya memastikan rantang itu tetap tegak di pangkuannya.
Ibu Damar berdiri di depan rumah Naya, rantang makanan itu ada di tangannya.
Suaminya mengetuk pintu.
Tak ada jawaban.
Suaminya kembali mengetuk pintu, tetap sunyi. Keningnya berkerut kecil.
"Sepertinya nggak ada orang, Mah."
"Biasanya Naya udah di rumah jam segini, Pah... " lanjut Ibu Damar.
Ekspresi ibu Damar terlihat sedih. Tatapannya jatuh pada rantang di tangannya. Suaminya yang berdiri di sampingnya memperhatikan istrinya sejak tadi. Ia menepuk pelan bahu istrinya, mencoba menenangkan.
"Mungkin mereka sedang ada urusan penting, Mah." Ucapnya lembut.
Suaminya mengambil rantangnya dari tangan istrinya, menggenggam tangannya, berjalan perlahan meninggalkan teras rumah yang sunyi itu.
Baru beberapa langkah meninggalkan teras, istrinya berhenti. Ia menoleh ke arah pintu rumah Naya, lalu perlahan mengambil ponselnya dari dalam tas.
"Aku coba telpon aja, Pah." katanya pelan.
Ia cepat mencari Naya di daftar kontak. Ia menekan tombol panggil dan menunggu dengan perasaan tak menentu.
Nada sambung terdengar. Hingga akhirnya panggilan itu terangkat.
"Halo... Ma?" Suara Naya terdengar sedikit pelan.
Wajah Ibu Damar langsung berubah, "Naya, Nak.... Kamu dimana? Kami sekarang di rumah, tapi rumahnya kosong."
Di ujung telepon, Naya terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Ayah.... ayah lagi di rumah sakit,"
Kalimat itu membuat Ibu Damar terdiam. Tangannya refleks menggenggam ponsel lebih erat. Dia kembali mengingat kejadian buruk saat mendengar 'rumah sakit'.
"Ru-Rumah sakit?" Ulangnya pelan, penuh khawatir.
Suaminya yang berdiri di dekatnya langsung menatap, mencoba membaca situasi dari wajah istrinya.
Suaminya mengambil ponsel itu dari tangan istrinya, "Halo, Nak. Kenapa tadi?" tanyanya.
"Iya, Om. Naya lagi di rumah sakit menjaga ayah." Jelas Naya.
"Ya sudah, kami ke sana ya, Nak."
Telepon ditutup.
Istrinya masih terdiam kaku.
Suaminya kembali menggenggam tangan istrinya, "Mah... Naya baik-baik aja, kita sekarang ke sana, Ya."
Kekhawatiran di wajahnya belum sepenuhnya hilang, namun ia segera masuk ke mobil.
_
Di waktu yang hampir bersamaan.
Nadira tiba di depan ruang rawat sambil membawa kantong buah di tangannya. Napasnya sedikit terengah karna berjalan lebih cepat dari pintu masuk. Begitu pintu terbuka, ia langsung masuk tanpa canggung.
"Nay.... " panggilnya pelan.
Naya yang sedang duduk di samping tempat tidur ayahnya langsung menoleh. Wajahnya sedikit terkejut, lalu berubah lega.
"Dir? Kamu datang? Kok nggak bilang-bilang sih?"
"Ihhhh, nggak boleh ya?" tanya Nadira sedikit cemberut, lalu menaruh buah yang dibawanya di meja.
Naya meraih tangan sahabatnya itu, "apaan sih, Dir. Bukan gitu."
Ibu Naya hanya memperhatikan mereka sambil tersenyum tipis.
Nadira tertawa kecil melihat ekspresi Naya yang terlalu serius.
Namun tawanya perlahan berubah.
Dia melihat ada sebuah parsel buah besar, kemasannya rapi, buahnya terlihat mahal.
Nadira mengedip bingung.
"Eh...aku kelamaan. Udah ada yang duluan bawain buah, ya?" katanya setengah bercanda.
"Oh itu? Itu kiriman dari perusahaan."
Nadira menoleh cepat ke arah Naya.
"Dari kantor?" Ulangnya, nada suaranya naik sedikit.
Naya mengangguk kecil.
Ibu Naya menambahkan, "Perhatian sekali ya, perusahaan kalian."
Nadira mendekat satu langkah, memperhatikan parsel itu. Ekspresinya berubah, bukan sekadar heran namun ada sesuatu muncul di benaknya.
Sebagai rekan kerja Naya, ia tahu betul perusahaan mereka tidak pernah melakukan hal seperti itu, apalagi izin hanya satu hari.
Tapi dia tidak berkata apa-apa.
Ia hanya tersenyum tipis lalu mengangguk. "Baguslah.... berarti kantor perhatian sama kamu, Nay."
Kalimatnya terdengar biasa saja, namun pikirannya tidak ikut tenang.
Nadira menarik kursi duduk di samping Naya, mulai menanyakan kondisi ayahnya seperti biasa, seolah tak ada yang mengganggu pikirannya.
Matanya beberapa kali melirik parsel buah itu.
Tanpa sadar, pikirannya melayang kembali ke kejadian pagi tadi di kantor.
Ada hal tak biasa, CEO keluar saat jam kerja tanpa asistennya.
Perlahan alisnya berkerut. "Jangan-jangan...... '