Ditinggalkan ,dihina, dan dicap mandul, Azura kembali ke desa kerumah orang tuanya dengan hati hancur setelah 5 tahun pernikahan diceraikan suaminya . Namun saat hidupnya mulai bangkit, rahasia besar keluarga terungkap, ancaman, dan musuh berbahaya . Di tengah badai itu, Azura bertemu Rayyan ,duda kata dengan dua anak kembar dan luka masa lalu . Akankah Azura mempertahankan harga diri, keluarga, dan cintanya? Atau masa lalu kembali meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niskala NU Jiwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertolongan di Jalan Sunyi
Tidak biasanya Azura terlambat pulang biasa sore sudah sampai rumah jika menuju malam Jumat. Azura menyelesaikan urusan kontrak film untuk novel keempatnya, dan harus ke kantornya yang ada di kota untuk tanda tangan kerjasama di dampingi Nelly. Ia mengendarai SUV-nya sendirian, membelah sunyi nya hutan karet menuju perbatasan desa.
Cahaya lampu mobilnya menangkap pemandangan janggal di bahu jalan. Sebuah minibus berhenti dalam posisi miring dengan mesin masih menderu, tapi lampu depannya padam. Saat Azura melambatkan laju mobil, pendengarannya menangkap suara jeritan lirih dari balik kaca yang tertutup rapat.
"Tolong! Lepaskan kami!" suara parau seorang anak kecil terdengar, disusul rintihan tertahan dari seorang wanita tua.
Insting Azura menahan. Ia tidak langsung turun, melainkan meraih stun gun berkekuatan tinggi dari laci mobil. Ia mengirimkan lokasi real-time ke Farhan, memberikan kode darurat, lalu keluar dengan tenang yang mematikan.
Begitu ia melangkah mendekat, pintu minibus terbuka. Empat pria bertato dengan wajah bringas langsung mengepungnya.
Azura tidak mundur sedikit pun. Lewat celah pintu mobil yang terbuka, ia melihat dua anak kembar dan seorang ibu paruh baya yang mulutnya disumpal kain. Tatapan Azura berubah dingin.
"Lepaskan mereka," ucap Azura datar. "Atau kalian yang akan berakhir di rumah sakit malam ini."
"Salah alamat. Nona cantik," gertak pria bertubuh paling besar yang memegang pisau lipat. "Jangan cari mati jika kau mau selamat!"
"Cih! Habisi dia!"
Pria pertama merengsek maju, mengayunkan pisau ke arah perut Azura. Dengan refleks terlatih hasil didikan pak Hadi, Azura memiringkan tubuhnya, membiarkan pisau itu mengiris udara. Tangannya bergerak secepat kilat, mencengkeram pergelangan tangan si pria, memutarnya hingga terdengar bunyi krak yang menyakitkan, lalu satu tendangan telak ia layangkan tepat ke tempurung lutut pelaku. Pria itu ambruk dengan triakan tertahan.
Pria kedua menerjang dari bagian belakang, tapi Azura sudah antisipasi. Ia menunduk, menyapu kaki lawannya hingga jatuh terjerembab, dan sebelum pria itu bisa bangkit, stun gun di tangan Azura menghantam lehernya. Arus listrik biru berpendar, membuat tubuh pria itu kejang-kejang hebat sebelum jatuh tak sadarkan diri.
Dua pria sisanya mencoba mengepung dari dua sisi. Azura tidak memberi ruang. Ia memutar tubuhnya, melompat rendah, dan melakukan kuncian leher pada pria ke tiga, menyeretnya jatuh hingga pingsan. Pria terakhir yang tersisa tampak ragu, namun Azura tak memberinya ampun. Ia melesat maju, melumpuhkan titik saraf di bahu pria itu hingga tangannya lumpuh, dan menghantamkan sikunya ke pelipis lawan.
Dalam kurang dari lima menit, empat pria berbadan besar itu tersungkur tak berdaya di tanah.
Tepat saat itu, sorot lampu mobil muncul dari arah desa. Farhan dan pak Hadi tiba bersama pasukan rahasia yang telah dilatih khusus oleh pak Hadi, Farhan dan Azura untuk menjaga keamanan keluarga dan desanya.
"Azura! Apa yang terjadi?" seru Farhan, mematung melihat adiknya berdiri tegak di antara para penculik yang mengerang kesakitan.
"Penculikan, Mas. Kita tangkap mereka sekarang," jawab Azura tenang, meski napasnya sedikit memburu.
Azura segera mendekat ke minibus, membuka pintu, dan merangkul si kembar serta ibu paruh baya yang gemetar hebat. "Kalian aman sekarang. Ikutlah dengan saya."
Azura berbisik cepat pada Farhan. "Mas, jangan bawa mereka ke kantor polisi. Bawa mereka ke markas kita. Tutup mata mereka. Ini bukan sekedar penculikan biasa, ada aroma konspirasi di sini."
Farhan mengangguk paham. Ia memberi isyarat pada pasukannya untuk mengamankan para penculik. Azura membawa si kembar dan neneknya itu ke dalam mobil dan beriringan dengan mobil pak Hadi, sedangkan dan pasukannya mereka berbeda arah.
...****************...
Tepat pukul sembilan malam, mobil SUV Azura memasuki pekarangan rumahnya. Ibu Sulastri sudah berdiri di depan pintu dengan raut cemas ditemani Alya dan Fikri serta ada dokter Ayu yang membawa tas medis lengkap. Farhan dan tim pengawalnya telah mendahului lewat jalur tikus, memastikan kedatangan mereka tidak mengundang warga desa.
Azura keluar dari mobil bersama seorang wanita paruh baya dan dua anak kembar laki-laki. Meski pakaian mereka lusuh dan kotor, Azura yang terbiasa dengan barang mewah segera menyadari bahan kain yang dikenakan ketiganya adalah kualitas hign end dari butik ternama
"Oma, apa kita sudah sampai?" tanya salah satu bocah kembar itu dengan suara gemetar.
Wanita paruh baya itu mengangguk lemah, "Iya Arka. Kita sudah sampai."
Di ruang tengah yang hangat, ibu Laras memperkenalkan diri . Dengan tangan yang masih gemetar, ia bercerita bahwa mereka baru saja pulang dari mal di kota bersama pengasuh. Saat di parkiran, mereka dicegat oleh komplotan pria bringas yang memisahkan mereka dari pengasuh, lalu menyeret ketiganya ke minibus.
Dokter Ayu segera melakujan pemeriksaan. Ibu Laras hanya mengalami memar di pergelangan tangan akibat ikatan tali, tetapi kedua bocah kembar itu, Arka dan Aidan yang berusia tujuh tahun, tampak sangat trauma dan tidak mau melepaskan genggaman tangan satu sama lain.
"Kalian tidak apa-apa, Arka, Aidan. Kalian sudah bersama Tante sekarang," bisik Azura lembur. Ia memeluk pelan kedua anak itu. Ajaib, si kembar yang tadinya gemetar hebat perlahan menjadi tenang dalam pelukkan Azura. Bu Laras menatap pemandangan itu dengan takjub, biasanya, si kembar akan berontak jika didekati orang asing.
Saat Azura secara tak sengaja menyentuh punggung Aidan, bocah itu memeluk keras, "Sakit!"
Azura menegang. Ia segera meminta izin untuk memeriksa punggung si kembar. Begitu baju mereka dibuka, ruangan seketika hening. Ibu Sulastri, pak Hadi, Farhan, Alya dan Fikri terkejut melihat dibalik punggung mungil Arka dan Aidan, terdapat jejak memar ungu kebiruan yang tercampur dengan bekas luka bakar puntung rokok yang sudah mengering.
"Ini... ini sudah lama sekali, Bu Azura," ujat dokter Ayu dengan suara berat. "Luka-luka ini bukan akibat penculikan malam ini. Ini adalah penganiayaan sistematis yang sudah berlangsung berbulan-bulan."
Bu Laras menangis melihat punggung kedua cucunya.
Azura merasakan amarah mendidih di dadanya. tanpa buang-buang waktu, ia meminta dokter Ayu memotret setiap sudut luka tersebut sebagai bukti krusial.
"Dok, tolong beri salep terbaik dan obat pereda nyeri. Jangan sampai mereka kesakitan malam ini," perintah Azura tegas.
Setelah pemeriksaan selesai, ibu Sulastri meminjamkan baju ganti untuk Bu Laras dan baju ganti si kembar milik anak ibu Hana pengasuh Rafa karena ukurannya sama.
Setalah itu mereka makan malam bersama. Suasana menjadi mengharukan ketika Azura mengambil alih tugas menyuapi si kembar. Arka dan Aidan, yang menurut ibu Laras sangat susah makan dan benci berinteraksi dengan orang lain, justru membuka mulut dengan lahap setiap kali Azura menyodorkan sendok.
Bu Laras menatap Azura dengan tatapan takjub dan penuh tanya. "Mereka... Mereka tidak pernah mau makan kalau bukan sya yang menyuapi. Bahkan dengan pengasuh pun mereka sering mogok makan. Kenapa mereka begitu nyaman dengan anda, Nak Azura?"
Azura hanya tersenyum tipis, matanya menatap di kembar dengan sorot yang sulit diartikan. Ada ikatan batin yang aneh, seolah-olah takdir memang menuntun mereka ke rumah ini. Di saat itulah, Azura menyadari bahwa tindakan heroiknya malam ini mungkin akan menghantam keluarga kaya raya dari kota tersebut dan mungkin saja, menyeret namanya ke dalam pusaran yang tak pernah ia duga sebelumnya.