"Aku bukan sekadar asistennya, aku adalah pelarian dari melodi sunyi yang ia ciptakan sendiri."
Ghava Dirgantara adalah produser musik jenius yang memiliki segalanya: kekayaan, bakat, dan visual menawan. Namun, di balik kesuksesannya, ia adalah pria yang "mati rasa". Pengkhianatan sang mantan kekasih di panggung penghargaan tiga tahun lalu membuatnya berubah menjadi sosok dingin yang dijuluki "Kulkas Antartika". Baginya, cinta hanyalah sampah yang merusak frekuensi musiknya.
Hingga muncul Nadine, asisten baru yang ceroboh namun memiliki telinga musik yang tajam. Nadine datang bukan dengan cinta, melainkan dengan luka yang sama dalamnya—ditinggalkan oleh tunangannya tepat sehari sebelum pernikahan.
Awalnya, hubungan mereka hanya sebatas bos galak dan asisten yang tertindas. Mulai dari hukuman membersihkan studio hingga insiden "sambal maut" yang membuat Nadine harus dilarikan ke rumah sakit. Namun, suasana berubah saat masa lalu mereka kembali mengetuk pintu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LELAKI DI DEPAN AYAH
"Aku seneng mas berani keluar dan ngungkap kebenarna"ucap Nana sambil tersenyum kemudian pingsan dipelukan Ghava.
"Nadine!" teriak Ghava, suaranya pecah saat merasakan tubuh Nana yang semula tegak mendadak lemas dan luruh dalam dekapannya.
Senyum tulus yang baru saja tersungging di bibir pucat Nana adalah hal terakhir yang dilihat Ghava sebelum mata gadis itu terpejam sepenuhnya. Darah segar yang terus mengalir dari luka di keningnya kini berpindah, menodai kemeja putih yang dikenakan Ghava, menciptakan bercak merah yang kontras dan mengerikan.
"Reka! Siapkan mobil! Sekarang!" perintah Ghava dengan nada panik yang belum pernah didengar oleh timnya sebelumnya.
Tanpa menunggu komando kedua, Ghava langsung mengangkat tubuh Nana dengan gaya bridal style. Ia tidak peduli lagi pada kilatan lampu kamera wartawan yang masih tersisa di depan pagar. Baginya, seluruh dunia bisa runtuh saat ini juga, asalkan gadis dalam pelukannya ini baik-baik saja.
"Na, bangun... Nadine, dengerin saya!" bisik Ghava berulang kali di telinga Nana sambil membawanya lari menuju mobil. "Kamu jangan berani-berani pergi setelah kamu bikin saya berani buat hidup lagi. Bangun, Na!"
Mbak Yane dan Mas Rian segera menghalau sisa-sisa wartawan yang mencoba mendekat, sementara Reka sudah menyalakan mesin mobil SUV di depan teras. Ghava masuk ke kursi belakang dengan Nana yang masih didekapnya erat, menekan luka di kening gadis itu dengan tangan gemetar.
"Jalan, Rek! Ke rumah sakit terdekat! Cepat!"
Di dalam mobil yang melaju kencang membelah jalanan Jakarta, Ghava menatap wajah Nana yang sangat tenang namun sangat pucat. Ia mengusap pipi Nana yang dingin dengan ibu jarinya, sementara air matanya jatuh menetes ke dahi Nana, bercampur dengan darah yang mulai mengering.
Tiga tahun lalu, Ghava merasa dunianya berakhir karena sebuah pengkhianatan. Namun hari ini, ia menyadari bahwa kehilangan karir atau nama baik tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa takut kehilangan asistennya ini—gadis yang rela menjadi tameng batu demi melindunginya.
"Jangan tinggalin saya, Na..." gumam Ghava lirih di tengah isak tangisnya. "Setelah ini, nggak ada lagi 'ruang kosong'. Kita bakal isi rumah itu sama-sama. Tolong, bangun..."
Suasana di lorong rumah sakit terasa begitu mencekam. Ghava terus berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang instalasi gawat darurat dengan langkah yang tidak tenang. Kemeja putihnya yang kini dipenuhi noda darah Nana menjadi saksi bisu betapa mengerikannya kejadian di depan rumah tadi.
Mbak Yane duduk di kursi tunggu dengan tangan yang masih gemetar, sementara Mas Rian terus berkoordinasi lewat telepon untuk memastikan tidak ada wartawan yang berani masuk ke area rumah sakit. Reka, yang sejak tadi diam, hanya bisa menyandarkan punggungnya ke dinding, menatap lantai dengan tatapan kosong.
"Mas, duduk dulu. Kamu bisa pingsan kalau kayak gini," ucap Reka mencoba menenangkan Ghava.
"Gimana saya bisa duduk, Rek? Dia terluka karena saya! Dia jadi tameng buat saya!" suara Ghava naik satu oktaf, penuh dengan nada menyalahkan diri sendiri.
Mbak Yane bangkit dan memegang bahu Ghava. "Ghava, tenang. Nana itu kuat. Dia lakuin itu karena dia nggak mau kamu hancur. Kalau kamu sekarang malah jatuh kayak gini, pengorbanan dia jadi sia-sia."
Ghava akhirnya berhenti melangkah. Ia menyandarkan kepalanya ke pintu ruang medis yang tertutup rapat, memejamkan mata dengan rapat. Pikirannya melayang pada senyum terakhir Nana sebelum pingsan tadi. Senyum yang seolah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, asalkan Ghava kembali berdiri tegak.
"Mbak... kalau sampai ada apa-apa sama Nana, saya nggak akan pernah maafin diri saya sendiri," bisik Ghava parau. "Dia satu-satunya orang yang percaya sama saya saat saya sendiri nggak percaya sama diri saya sendiri."
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Seorang dokter keluar dengan ekspresi yang sulit dibaca. Sontak, Ghava, Mbak Yane, Reka, dan Mas Rian langsung mengepung dokter tersebut.
"Dok, gimana keadaan asisten saya?" tanya Ghava dengan nada mendesak.
"Hanya luka robek mas Ghava, kita tinggal tunggu mbak Nana siuman lukanya sudah di tangani"ucap Dokter
Mendengar penjelasan dokter, Ghava seolah baru saja ditarik kembali ke permukaan setelah hampir tenggelam. Ia mengembuskan napas panjang yang sedari tadi tertahan di dadanya, sementara Mbak Yane dan Mas Rian tampak saling berangkulan karena lega.
"Alhamdulillah..." gumam Mbak Yane pelan sambil menghapus sisa air mata di pipinya.
"Makasih, Dok. Makasih banyak," ucap Ghava berulang kali, suaranya masih sedikit bergetar.
Setelah dokter memberikan izin, Ghava perlahan masuk ke dalam ruang perawatan. Di sana, di balik tirai putih, Nana terbaring lemah dengan perban putih yang melilit keningnya. Wajahnya masih sangat pucat, namun napasnya sudah mulai teratur.
Ghava menarik kursi dan duduk tepat di samping tempat tidur Nana. Ia meraih tangan gadis itu—tangan yang tadi pagi sempat mengobati luka di jari-jarinya—dan menggenggamnya dengan sangat hati-hati, seolah takut Nana akan hancur jika ia menekannya terlalu kuat.
"Kamu itu benar-benar keras kepala, Na..." bisik Ghava sambil menatap wajah tenang Nana. "Siapa yang minta kamu jadi pahlawan? Saya yang harusnya lindungin kamu, bukan sebaliknya."
Mbak Yane, Reka, dan Mas Rian mengintip dari balik pintu yang sedikit terbuka. Mereka melihat pemandangan yang langka: seorang produser musik yang biasanya sedingin es dan perfeksionis, kini sedang menangis dalam diam sambil menciumi punggung tangan asistennya.
"Kita kasih mereka waktu dulu," bisik Mas Rian sambil menarik pintu hingga tertutup rapat.
Di dalam ruangan yang hanya dihiasi suara detak jantung dari monitor medis, Ghava tidak melepaskan genggamannya sedikit pun. Ia berjanji dalam hati, bahwa mulai detik ini, tidak akan ada satu pun batu atau fitnah yang boleh menyentuh Nana lagi. Rumah elit yang ia beli dengan penuh kepahitan itu kini memiliki arti baru; bukan lagi penjara kenangan tentang Selya, tapi sebuah tempat yang ia harap suatu saat nanti bisa ia tinggalkan untuk membangun hidup baru yang nyata bersama orang di depannya ini.
Ghava yang tadinya sedang menunduk dalam diam, langsung tersentak saat mendengar suara serak yang sangat ia kenali itu. Ia mendongak dan mendapati mata Nana sudah terbuka sedikit, meskipun masih terlihat sayu dan berat.
Mendengar celetukan Nana yang masih sempat-sempatnya bercanda di tengah kondisi seperti ini, Ghava tidak tahu harus tertawa atau menangis.
"Gimana aman Mas? Kalau Wonder Woman yang jagain?" tanya Nana dengan senyum lemah yang menghiasi bibir pucatnya.
Ghava menarik napas panjang, mencoba menahan air mata yang hampir jatuh lagi. Ia mempererat genggaman tangannya pada tangan Nana.
"Aman, Na... aman banget," jawab Ghava dengan suara serak. "Tapi Wonder Woman-nya hampir bikin saya mati berdiri karena panik. Kamu itu... bisa-bisanya masih bercanda pas keningnya bocor begitu."
Nana terkekeh pelan, meski kemudian ia meringis sedikit karena rasa nyeri yang berdenyut di keningnya. "Masih sakit ya, Mas? Tadi aku lihat Mas nangis lagi... jangan nangis terus, nanti gantengnya luntur."
Ghava akhirnya tertawa kecil, tawa pertama yang tulus setelah berhari-hari diselimuti kegelapan. Ia mengusap rambut Nana dengan sangat lembut.
"Gantengnya nggak akan luntur, tapi baju saya yang luntur kena darah kamu," ucap Ghava sambil menunjuk noda merah di kemejanya. "Nadine, dengerin saya. Selya sudah pergi. Bukti-buktinya sudah di tangan Mas Rian dan Mbak Yane. Semua orang sekarang tahu kebenarannya. Kamu sudah berhasil lindungin saya."
Nana mengangguk pelan, tampak sangat lega. "Bagus deh. Jadi... Mas nggak perlu benci sama diri sendiri lagi, kan? Rumah itu... jangan dihancurin ya, Mas. Kita renovasi saja jadi studio atau tempat yang lebih ceria."
Ghava tertegun mendengar kata "kita". Ia menatap Nana dalam-dalam, menyadari bahwa gadis ini bukan sekadar asisten, tapi jangkar yang membuatnya tidak hanyut dalam badai masa lalu.
"Iya, kita renovasi. Kita bikin semuanya baru," balas Ghava mantap. "Tapi sekarang, tugas Wonder Woman cuma satu: istirahat. Jangan banyak tingkah dulu."
Gemini berkata
Suasana hangat di dalam kamar rawat inap itu tiba-tiba pecah ketika pintu terbuka dengan kasar. Langkah kaki yang terburu-buru terdengar mendekat, diiringi suara isak tangis seorang wanita paruh baya yang sangat Nana kenali.
"Nadine! Gusti Allah, Nak!" seru Ibu Nana yang langsung berlari menuju ranjang, mengabaikan segala hal lain di ruangan itu. Di belakangnya, Ayah Nana tampak mengatur napas dengan wajah yang sangat pucat dan cemas.
Ghava langsung berdiri dari kursinya, tampak terkejut sekaligus canggung melihat kedatangan orang tua Nana yang begitu mendadak.
"Ibu? Ayah? Kok bisa di sini?" tanya Nana dengan suara lemah, ia mencoba untuk bangun namun langsung ditahan oleh ibunya.
"Ibu lihat di TV, Na! Ada berita asisten musisi terkenal kena lempar batu sampai berdarah-darah! Pas Ibu lihat, itu kamu!" ucap Ibunya sambil memegang wajah Nana dengan tangan yang gemetar. "Ayahmu langsung ambil kunci mobil, kita berangkat detik itu juga dari Bandung!"
Ayah Nana, yang tadinya hanya diam, kini menatap Ghava dengan tatapan tajam dan menyelidik. Ia melihat noda darah yang masih membekas di kemeja Ghava, lalu melihat perban di kepala putrinya.
"Anda... Nak Ghava?" tanya Ayahnya dengan suara berat yang berwibawa.
Ghava menundukkan kepalanya dalam-dalam, menunjukkan rasa hormat sekaligus penyesalan yang mendalam. "Iya, Pak. Saya Ghava. Saya benar-benar minta maaf. Semua ini salah saya. Nadine terluka karena mencoba melindungi saya dari wartawan."
Suasana menjadi sangat tegang. Ibu Nana masih menangis sambil mengusap tangan putrinya, sementara Ayah Nana berjalan mendekati Ghava.
"Anak saya ke Jakarta untuk kerja, bukan untuk jadi tameng dari masalah pribadi orang lain," ucap Ayah Nana dengan nada yang menuntut penjelasan.
"Ayah, jangan gitu... Mas Ghava nggak salah," bela Nana lirih, namun Ayahnya mengangkat tangan, meminta Nana untuk diam.
Ghava tidak membela diri. Ia tetap berdiri tegak di hadapan Ayah Nana. "Bapak benar. Saya lalai menjaga Nadine. Tapi saya janji, Pak, Bu... mulai detik ini, saya tidak akan membiarkan seujung kuku pun dari Nadine terluka lagi. Saya akan bertanggung jawab penuh atas segala pengobatan dan keamanannya."
Ayah Nana menatap mata Ghava cukup lama, mencari kebohongan di sana. Namun yang ia temukan hanyalah ketulusan dan rasa bersalah yang sangat nyata.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰