Ada yang bilang anak perempuan itu kesayangan ayahnya
tapi, Anisa bukan putri kandung keluarga ini
Ia anak adopsi yang kebetulan bertemu dengan James Arthur didepan panti asuhannya.
Pertama kali melihat Anisa James langsung membawanya.
Anisa menjadi kesayangan James saja nyawanya hampir dalam bahaya.
Karena Anisa sadar ia kesayangan pria yang dianggapnya ayah sekarang semua bahaya itu ia tantang seperti masalah kecil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecewa sekali
Ternyata James pergi selama seminggu dan tanpa berkabar lagi dan Anisa tahu saat Sol menyampaikannya di hari kedua ini.
"Masalah apa yang ayah urus sampai selama ini Nenek Sol?"
"Ah nonaku, ini hanya masalah kecil karena ada proyek baru yang di bangun untuk hal yang Tuan rencanakan. "
"Kakak nari?"
Membalik badan menanyakan hal sama dengan ekspresi wajah nya.
Canaria bingung menjawabnya seperti apa.
"Anda tak perlu khawatir kalo Tuan akan terlambat ini hanya butuh waktu seminggu tapi, jika cepat mungkin tak sampai seminggu. "
Anisa tahu rasanya hari berganti sambil menunggu kepulangan seseorang dan tak kunjung pulang sampai ketiduran di ruang tamu, saat itu mama baru berkunjung dan mama sudah pergi.
Anisa harap ayahnya pulang tapi, sampai pagi ini tak melihat siapa pun yang selalu ada didekat ayahnya.
Bukannya ia merasa cemas kalo memang ayahnya punya kebahagian di luar sana tapi, kenapa hanya bilang pergi seminggu dan itu bilangnya setelah lewat sehari perginya.
"Aku mau di kamar. "
Pergi naik tangga sendiri di perhatikan Canaria dan Sol.
"Nona merasa kecewa ya?"
Canaria berbisik pada Sol.
"Aku pun sedikit menyesal menyampaikannya."
Berbalik Canaria pergi untuk mengambil pekerjaannya di kamarnya untuk di bawa kedepan kamar nonanya yang disana juga ada rang tamu didepan kamarnya walau hanya sofa empat berhadap dan meja bulat cukup di sebut ruang pertemuan yang kadang lebih sering di gunakan untuk para bawahan James menjaga Anisa.
Duduk di depan jendela yang memang bisa di pakai Anisa untuk duduk menatap keluar jendela lengkap ada alas empuk dan dua bantalan di sisi kanan kiri, jendela ini tak bisa di buka jika jendela yang sebelah sana dekat kamar mandinya bisa di buka dan ada balkon kecil.
Malam datang Anisa belum tidur bahkan bajunya sudah berganti dengan piyama bunga-bunga kecil berwarna biru langit di tambah Anisa masih memegangi boneka kelinci pink-nya.
Ketukan pintu.
"Nona, aku Canaria, boleh masuk?"
"Ya." Mendengar suara itu Canaria masuk dan melihat Anisa masuk duduk didepan jendela dengan memangku buku menghadap sis lain menyampingi Jendela dan menyampingi meja belajar nya.
"Sudah waktunya anda tidur nona."
"Iya."
Singkat dan menurut saja, Canaria jadi merasa bersalah.
"Maaf Nona kalo anda merasa kecewa dengan pesan yang di sampaikan, anda kan bisa melakukan apapun asal di bawah pengawal kami."
"Apa yah sedang mencari ibu baru ya?"
"Tuan bekerja Nona."
"Selama itu? Tidak mungkin!"
"Mungkin nona."
"Atau ayah sibuk dengan keluarga barunya dan akan menuliskan surat warisan untukku tinggal di rumah ini sendirian, bagaimana menurut Kaka nari?"
"Itu tidak mungkin nona, lebih baik anda berdoa untuk mimpi indah karena Tuan memilih anda sebagai keluarga barunya, jika beliau ingin memiliki istri atau anak seharunya di lakukan sebelum membawa anda eh..."
"Maaf Nona."
Canaria sadar salah berucap tapi tangan Anisa menepuk tangan Canaria diatas selimut yang di tarinya sebatas dada Anisa.
"Tidak masalah Kaka, itu kenyataan."
Sekarang malah hilang rasa bersalah karena wajah Anisa seperti ibu yang memaafkan kesalahan anak yang asal bicara.
"Anda harus tidur saya akan menemani anda sampai pagi atau saya tunggu diluar."
Tidak ada jawaban. Canaria anggap kalo diamnya adalah meminta Canaria untuk tinggal di kamar ini.
Diam saja tanpa memejamkan mata, Canaria tau nona nya belum tidur karena kecewa.
Di tempat lainnya James benar-benar membuat satu orang tak berdaya sampai darah mengenai wajahnya.
"Ini kotor!"
Seorang mendekat mengulurkan tangan untuk mengambil sarung tangan yang sedang James lepas.
Melemparkan sarung tangan nya setelah di lepasnya.
"Bunuh aku bajingan!"
Terduduk dengan tangan tak terikat bahkan kakinya bebas menjadi tumpuan tubuhnya duduk.
Mata yang sudah biru menutup sebelah karena bengkak.
"Kau masih memohon mati, aku menginginkan kau hidup sialan!"
Menatap jijik dari tempatnya berdiri.
Theo dan dua lainnya sedikit menelan ludah masing-masing.
"Tuan seharusnya anda menyerahkan pekerjaan ini pada mereka. "
Silva di balik tirai plastik mendekat dan masuk membawa tablet mengerahkan bukti fitnah yang di lakukannya.
"Haah... Ternyata cukup untuk membuat seseorang melakukan apapun dan membuat bayangan akhirnya memuaskan. "
Dionysius Serpens bergetar karena bukti yang seharusnya tak bisa didapatkan ternyata sudah di baca James.
"Kau bekerja sama dengan keluarga Australis untuk membuat kematian Rosa terlihat seperti kesalahannya sendiri dan kau mendapatkan dukungan dari Alexa, Akh yaa Jalang sialan!"
Tanpa apapun di tangannya James benar-benar memukuli Dionysius yang benar-benar tak melawan bahkan seluruh wajahnya hancur.
Di jambaknya dan tatapnya malas.
"Selain mereka?"
"Alinka Oceanus adik dari Robert Oceanus. "
Mudah sekali bicaranya, James menaikkan sebelah alisnya.
Mendorongnya menjauh pergi ke wastafel mencuci tangannya. Pergi dari sana tanpa menoleh lagi.
Silva dan Theo memandanginya.
"Kasihan sekali kau, seharusnya kau tak terlibat sejak awal." Silva mendecak lidahnya lalu pergi meninggalkan keempatnya bersama.
"Theo urus jangan sampai mati. "
"Ah, aku... Kalian bawa dia!"
Keduanya semakin ketar-ketir bingung dan akhirnya membawanya dan meletakkannya didepan rumah sakit tanpa ada yang tau, tak lupa mereka sudah memastikan kalo kejadian itu tak ada dalam ingatan Dionysius.
"Aku akan melakukan apapun asal aku hidup, jangan suntik apapun padaku. "
Keduanya saling tatap.
"Kami menjalankan Tugas Tuan Dionysius. "
Didalam mobilnya James mendesah kesal.
"Panggil mereka ke rumah nenek!"
Malam ini Nenek terbangun karena James yang tiba-tiba pulang ke mansionnya bukan kembali kerumah.
"Apa yang kau lakukan, anak sialan!"
"Aku lelah nek."
"Kau tidak berubah seperti kakekmu, ahk, aku hampir hilang jam tidurku."
"Nenek pergilah kekamar aku akan mengurusnya."
"Apa kau bilang mudah bagiku untuk tidur lagi tapi, jika sampai ruang kerjaku bersimba darah kau pasti tak akan melakukan apapun."
"Hem," lirikan James pada Silva.
Nenek melirik Silva.
"Astaga, James kau membawa anak orang kemari dan juga seorang suami dan ayah dari anaknya bekerja lembur gila sepertimu!"
"Sebentar nek, aku janji."
Dahi nenek Luna Plena berdenyut nyeri.
Di tekannya tiga jari di dari dan dua jari di pangkal hidungnya dengan jempol dan telunjuk.
Para pelayannya membantu nenek untuk pergi tapi, tiba-tiba datang Alinka dan Robert.
"Kalian!"
"Jelaskan James!"
Nenek kembali geram dengan tindakan spontan cucunya yang memang tak pernah salah tapi, ini mengejutkan.
"Mereka adalah orang yang membuat Shaka Iron Oceanus yang Nenek angkat waktu itu untuk menjadi bagian dari keluarga inti karena memiliki kekuatan yang sama dengan ku, nenek tahukan Shaka dan aku memiliki umur yang tak jauh beda hanya beda beberapa bulan setelah Shaka lahir kemudian aku."
"Lalu."
Nenek Luna Plena tak sabaran dengan penjelasan James.
Menghela nafasnya James berat mengatakannya.
"Shaka memang menyukai Rosa Alba Australis tapi, Shaka di paksa melakukan hal itu bersama Rosa dan Shaka pergi meninggalkan kita bukan karena alasan kecelakaan jurang yang nenek dengar sebelumnya tapi, karena Shaka membantu Rosa untuk melindungi rahasia keluarga bahkan melindungi keluarga ini agar tidak runtuhan."
Nenek sedikit menekan dadanya yang benar-benar terasa syoknya.
"Kurang ajar kalian!"