Colette Winter adalah sebuah cangkang kosong. Sejak peristiwa kelam di masa kecilnya, ia mengunci jiwanya rapat-rapat di balik tembok trauma yang tak tertembus. Ia menjalani hidup layaknya robot—bekerja, makan, dan bernapas tanpa benar-benar "hidup". Baginya, laki-laki adalah ancaman, dan dunia adalah tempat yang terlalu bising untuk hati yang hancur. Ia tidak melawan saat ditindas, tidak menangis saat dimarahi; ia hanya diam, tenggelam dalam kesuraman yang abadi.
Khawatir melihat putri sulungnya yang kian kehilangan kemanusiaannya, sang Ibu—atas dorongan adik laki-laki Colette yang prihatin—memutuskan untuk mengambil langkah terakhir yang tak masuk akal. Mereka membawa Colette ke sebuah sudut tersembunyi di kota, menemui sosok yang namanya hanya beredar di antara bisikan orang-orang tertentu yang putus asa.
Di sanalah ia bertemu dengan Caspian Hawthorne Sinclair.
seorang dukun yang diminta untuk membantu nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Topeng Robot
Pagi itu, sinar matahari masuk melalui jendela dapur, memantul di atas meja makan yang hening. Sinta dan Aris duduk di sana, mata mereka masih merah karena kurang tidur, terus menatap pintu kamar Colette dengan cemas.
Mereka mengira, setelah ledakan tangis semalam, Colette mungkin tidak akan sanggup beranjak dari tempat tidur.
Namun, suara langkah kaki yang teratur terdengar dari tangga.
Colette turun dengan pakaian kerja yang rapi—rok selutut yang kaku, kemeja putih yang disetrika licin, dan rambut yang diikat kencang tanpa ada satu helai pun yang keluar. Wajahnya suram, matanya tidak bengkak, seolah air mata yang tumpah semalam hanyalah ilusi optik. Tidak ada bekas luka emosional yang tertinggal di permukaan kulitnya.
"Colette..." Sinta berdiri dengan ragu. "Nak, kalau kamu masih lemas, tidak usah masuk kerja hari ini. Ibu bisa telepon kantormu."
Colette berhenti sejenak di depan meja makan, namun ia tidak duduk. Ia hanya meraih tas bahunya.
"Aku berangkat," ucapnya singkat. Suaranya datar, tanpa nada, sedingin lantai semen.
"Kak," Aris menyela, suaranya penuh tekanan. "Kakak yakin? Kita bisa istirahat di rumah saja hari ini. Kita bisa... jalan-jalan atau apa saja."
Colette menoleh sedikit ke arah adiknya. Tatapannya kosong, seperti menatap menembus tubuh Aris ke dinding di belakangnya. "Pekerjaanku banyak. Aku pergi."
Tanpa menunggu jawaban, tanpa sarapan, dan tanpa menoleh lagi, ia berjalan keluar. Suara pintu depan yang tertutup pelan namun tegas bergema di dalam rumah.
Sinta merosot kembali ke kursinya, menutupi wajah dengan kedua tangannya. "Dia mengunci dirinya lagi, Ris. Dia membangun kembali tembok itu lebih tinggi dari sebelumnya."
Aris mengepalkan tangan di atas meja.
Ia merasa sangat tidak berdaya. Ia tahu kakaknya sedang melakukan mekanisme pertahanan diri yang paling ekstrem: berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja agar dunia tidak bisa menyentuhnya lagi. Namun, justru itulah yang paling berbahaya. Luka yang ditutup rapat tanpa dibersihkan akan membusuk dari dalam.
Sinta mengembuskan napas panjang, menatap sisa teh yang mulai mendingin di atas meja. Matanya mengikuti arah pintu yang baru saja tertutup, membayangkan sosok Colette yang kini mungkin sudah berada di dalam angkutan umum dengan wajah kaku seperti biasanya.
"Mungkin belum sekarang, Ris," bisik Sinta dengan suara yang sangat berat. "Kita tidak bisa memaksa dia saat dia baru saja 'menjadi batu' lagi seperti itu."
Aris mendongak, matanya yang penuh semangat muda sempat menunjukkan ketidaksetujuan. "Tapi sampai kapan, Bu? Kita sudah lihat sendiri semalam. Kakak itu sedang berteriak di dalam hatinya, tapi mulutnya tertutup rapat. Kalau kita tunggu dia siap, mungkin itu tidak akan pernah terjadi."
Sinta menggeleng lemah, jemarinya yang mulai keriput mengusap punggung tangan Aris.
"Ibu tahu. Ibu paling tahu rasa sakitnya. Tapi membawa Colette ke tempat seperti itu butuh sedikit sela di hatinya. Kalau dia dipaksa dalam keadaan menutup diri seperti ini, pengaruh apapun dari... Caspian itu, mungkin tidak akan bisa masuk."
Sinta terdiam sejenak, menatap ke arah jendela yang mulai silau oleh matahari pagi.
"Kita tunggu satu atau dua hari lagi. Biar dia merasa 'aman' dulu dengan rutinitas robotnya itu. Begitu dia lengah, atau saat dia mencapai titik jenuhnya lagi, di situlah kita bawa dia. Ibu ingin dia pergi ke sana bukan sebagai tawanan, tapi sebagai seseorang yang memang sudah tidak punya tempat lain untuk bersembunyi."
Sementara itu, di trotoar jalan yang ramai, Colette berjalan di antara kerumunan orang. Ia kembali menjadi bayangan hitam yang tidak terlihat. Orang-orang masih menyingkir saat ia lewat, dan ia masih menunduk, menghitung langkah kaki di aspal.
Pagi itu, perjalanan menuju kantor terasa seperti parade pengasingan. Colette melangkah keluar dari rumahnya dengan langkah robotik yang sama, namun atmosfir di sekelilingnya terasa jauh lebih berat. Kabut tipis tahun 80-an yang menggantung di jalanan seolah-olah menyatu dengan aura kelabu yang memancar dari tubuhnya.
Di dalam bus kota yang sesak, pemandangan yang sama kembali terulang.
Begitu Colette menaiki tangga bus, suara riuh rendah penumpang mendadak surut. Orang-orang yang semula berdiri berdesakan di dekat pintu, secara naluriah bergeser, menciptakan ruang kosong di sekitar Colette seolah-olah ia dikelilingi oleh dinding kaca yang tak kasat mata.
Seorang pria yang sedang membaca koran mendadak melipat kertasnya dengan gugup dan memalingkan muka, merasa sesak napas tanpa alasan yang jelas.
Colette berdiri di tengah, tangannya memegang pegangan besi yang dingin, wajahnya sedatar air mati.
"Ibu, kakak itu kenapa?" bisik seorang anak kecil yang duduk tak jauh darinya. Anak itu menunjuk ke arah Colette dengan mata membelalak, ekspresinya bukan lagi sekadar takut, tapi ngeri—seolah ia melihat bayangan hitam besar yang berdiri tepat di belakang punggung Colette.
Ibunya segera menarik tangan sang anak, menutup mulutnya, dan bergeser menjauh hingga terpojok ke jendela. "Jangan lihat, sayang. Ayo, kita turun di halte depan saja," bisik sang ibu dengan suara gemetar. Padahal, tujuan mereka seharusnya masih jauh.
Colette mendengar itu. Ia melihat bagaimana orang-orang menatapnya dengan pandangan ngeri, seolah ia adalah mayat yang lupa caranya terkubur.