Seorang pria sukses yang meninggal karena pengkhianatan bisnis bereinkarnasi menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang hampir bangkrut. Ia mendapatkan Sistem Warisan Kedua yang memberinya misi untuk menyelamatkan keluarganya dari kehancuran ekonomi dan ancaman mafia tanah. Dengan pengalaman hidup sebelumnya dan bantuan sistem, ia bertekad mengubah takdir keluarganya menjadi keluarga terpandang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sistem Aktif
Siang itu, setelah membantu ibunya membereskan piring dan mengantar kedua adiknya berangkat sekolah, Arga duduk sendirian di bangku kayu depan rumah. Warung kecil milik ibunya mulai didatangi beberapa pembeli. Seorang ibu-ibu membeli gula seperempat kilo, seorang bapak tua membeli rokok satu batang. Uang receh berpindah tangan, tidak banyak, tetapi cukup untuk membuat warung itu tetap hidup.
Arga memperhatikan semuanya dengan saksama.
Di kehidupan sebelumnya, ia terbiasa melihat laporan keuangan dengan angka miliaran. Kini, ia menyaksikan transaksi lima ribu dan sepuluh ribu rupiah dengan perasaan yang aneh. Ia tahu betul betapa rapuhnya usaha kecil seperti ini. Satu kesalahan pengelolaan stok, satu hutang yang tidak dibayar, atau satu pesaing baru di ujung jalan bisa membuat warung ini tutup.
Ia mulai berpikir keras.
Jika ini benar dua puluh tahun sebelum kehidupannya yang lalu, maka ia memiliki keunggulan besar. Ia tahu tren bisnis yang akan berkembang. Ia tahu sektor apa yang akan naik daun. Ia tahu krisis apa yang mungkin terjadi. Pengetahuan itu seperti peta yang tersimpan di kepalanya.
Namun tubuhnya sekarang hanyalah tubuh anak sepuluh tahun. Ia tidak punya modal, tidak punya kuasa, tidak punya kredibilitas. Saat pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan, tiba-tiba suara aneh terdengar di dalam kepalanya.
Suara itu bukan suara manusia. Tidak berat, tidak ringan, tidak memiliki emosi. Suaranya datar dan mekanis, seperti rekaman digital yang diputar tanpa jeda.
[Sistem Warisan Kedua telah aktif.]
Arga tersentak. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada orang yang berbicara. Ibunya masih sibuk melayani pembeli. Tidak ada perangkat elektronik canggih di sekitar. Hanya radio kecil tua yang bahkan sedang tidak menyala.
Suara itu terdengar lagi, jelas dan langsung di dalam benaknya.
[Misi Utama: Ubah takdir keluarga menjadi keluarga mapan dalam 20 tahun.]
Jantung Arga berdegup kencang. Ia menahan napas.
[Misi Pertama: Selamatkan usaha keluarga dari kebangkrutan dalam 30 hari.]
[Reward: Skill Analisis Peluang Bisnis Level 1.]
Beberapa detik ia hanya terdiam, mencoba mencerna apa yang baru saja ia dengar. Jika ini terjadi pada dirinya di kehidupan sebelumnya, mungkin ia akan mengira ia mengalami gangguan mental akibat tekanan kerja. Namun sekarang situasinya sudah tidak masuk akal sejak awal. Ia mati dalam kecelakaan, lalu bangun dalam tubuh anak sepuluh tahun di masa lalu.
Ia menarik napas perlahan, berusaha menenangkan diri. Sebagai pria yang pernah hidup di era teknologi maju, ia terbiasa dengan konsep kecerdasan buatan, antarmuka virtual, dan perangkat realitas tertambah. Walaupun yang terjadi sekarang jelas melampaui teknologi yang ia kenal, setidaknya pikirannya tidak sepenuhnya panik.
Jika ini adalah kesempatan kedua, maka sistem ini mungkin bagian dari kesempatan itu. Dalam pikirannya, tiba-tiba muncul semacam tampilan transparan. Seperti layar tipis yang melayang, hanya bisa ia lihat sendiri.
Di bagian atas tertulis nama: Arga. Di bawahnya ada beberapa informasi sederhana.
......................
Nama: Arga
Usia: 10 tahun.
Kondisi Fisik: Sehat.
Kondisi Keluarga: Rentan Finansial.
Poin Pengalaman: 0.
......................
Ada juga kolom bertuliskan Misi Aktif dan Misi Selesai, yang untuk saat ini hanya menampilkan satu misi utama dan satu misi pertama.
Arga menelan ludah. Ini benar-benar seperti permainan, tetapi dampaknya adalah kehidupan nyata.
Suara sistem kembali terdengar.
[Sistem menyediakan panel status, poin pengalaman, dan reward berbasis pencapaian.]
[Sistem memiliki aturan.]
Tulisan baru muncul di layar benaknya.
......................
Aturan Pertama: Tidak boleh menyakiti keluarga demi keuntungan.
Aturan Kedua: Tidak boleh menggunakan informasi masa depan untuk manipulasi ilegal besar.
Aturan Ketiga: Setiap kegagalan misi akan menghasilkan penalti.
......................
Arga membaca setiap kalimat dengan cermat.
"Tidak boleh menyakiti keluarga demi keuntungan."
Kalimat itu terasa seperti peringatan yang tegas. Di kehidupan sebelumnya, ia memang tidak secara langsung menyakiti keluarganya, tetapi ia mengabaikan mereka. Ia mengorbankan waktu dan perhatian demi pertumbuhan bisnis. Mungkin sistem ini tidak ingin ia mengulang kesalahan yang sama.
Tidak boleh menggunakan informasi masa depan untuk manipulasi ilegal besar.
Ia tersenyum tipis. Jujur saja, dalam beberapa detik pertama, ia sempat memikirkan cara-cara cepat untuk menjadi kaya. Ia tahu perusahaan mana yang akan melonjak nilainya, ia tahu tren investasi yang akan meledak. Namun dengan tubuh anak sepuluh tahun, semua itu tetap sulit dilakukan. Dan kini sistem menegaskan batasnya.
Setiap kegagalan misi akan menghasilkan penalti. Bagian ini membuatnya sedikit waspada. Ia belum tahu seperti apa penalti itu. Apakah sekadar pengurangan poin, atau sesuatu yang lebih serius. Ia tidak berniat mencobanya.
Suara mekanis itu berbicara lagi.
[Ini adalah sistem pembimbing.]
Kalimat itu membuat Arga terdiam cukup lama. Di kehidupan sebelumnya, ia membangun segalanya dari nol. Tidak ada yang instan. Ia tahu betul bahwa kesuksesan sejati tidak lahir dalam semalam. Jika sistem ini adalah pembimbing, maka artinya ia tetap harus bekerja keras. Ia tetap harus berpikir, merencanakan, dan bertindak.
Sistem hanya memberikan arah.
Perlahan, rasa terkejutnya berubah menjadi ketenangan yang aneh. Ia memandang warung kecil di depannya. Rak-raknya tidak tertata rapi. Beberapa barang terlihat hampir habis, sementara yang lain terlalu banyak menumpuk. Ada buku catatan kecil di meja, mungkin berisi hutang pelanggan.
Ia berdiri dan mendekat, pura-pura membantu ibunya merapikan barang. Diam-diam ia melirik isi buku catatan itu. Benar saja, ada beberapa nama dengan jumlah hutang yang tidak sedikit. Jika sebagian besar pelanggan berhutang dan tidak segera membayar, arus kas warung ini bisa terganggu.
Tiba-tiba layar di benaknya berkedip.
[Analisis Awal: Risiko kebangkrutan dalam 30 hari sebesar 72 persen.]
Angka itu membuatnya terdiam.
Tujuh puluh dua persen.
Berarti kemungkinan besar usaha ini memang berada di ujung tanduk. Mungkin ada hutang pada pemasok. Mungkin ada persaingan baru yang akan muncul. Atau mungkin manajemen keuangan yang kurang tepat.
Ia menatap ibunya yang sedang tersenyum kepada pelanggan, sama sekali tidak menyadari ancaman yang mengintai.
Di dalam dirinya, sesuatu mengeras.
Ia pernah kehilangan kesempatan memperbaiki hubungan dengan keluarganya. Kali ini ia tidak akan membiarkan keluarga barunya jatuh hanya karena ketidaktahuan atau kecerobohan.
“Bu,” panggilnya pelan.
Ibunya menoleh. “Kenapa, Nak?”
Arga berpikir cepat. Ia tidak bisa tiba-tiba berbicara seperti konsultan bisnis profesional. Ia hanyalah anak sepuluh tahun. Namun ia bisa mulai dari hal kecil.
“Arga mau bantu warung. Boleh lihat catatan belanja dan hutangnya?”
Ibunya tertawa kecil. “Kamu ini masih kecil, pikirannya sudah seperti orang dewasa.”
Arga hanya tersenyum polos.
Di dalam benaknya, sistem kembali menampilkan notifikasi kecil.
[Inisiatif aktif. Potensi peningkatan peluang keberhasilan misi naik 3 persen.]
Ia menarik napas panjang.
Dua puluh tahun untuk mengubah takdir keluarga menjadi keluarga mapan. Tiga puluh hari untuk menyelamatkan warung dari kebangkrutan.
Target itu besar, tetapi bukan mustahil.
Ia sudah pernah membangun perusahaan dari nol. Sekarang ia hanya perlu menyesuaikan skala dan pendekatannya. Ia harus bergerak perlahan, hati-hati, tanpa melanggar aturan sistem dan tanpa melukai orang-orang yang ingin ia lindungi.
Ia mengepalkan tangan kecilnya di balik meja warung.
“Kali ini,” gumamnya dalam hati, suaranya tenang namun penuh tekad, “aku tidak akan gagal.”
Sistem tidak memberikan tepuk tangan atau efek dramatis. Hanya satu notifikasi kecil yang muncul.
[Semangat terdeteksi. Fokus meningkat.]
Arga tersenyum kecil.
Kesempatan kedua sudah di tangannya. Dengan bimbingan sistem dan pengalaman dari kehidupan sebelumnya, ia siap memulai langkah pertama. Bukan untuk mengejar kekuasaan atau ketenaran, melainkan untuk memastikan rumah kayu sederhana ini suatu hari berdiri kokoh, penuh tawa, dan bebas dari kekhawatiran tentang esok hari.