"Mereka mengira aku boneka porselen yang siap pecah. Mereka pikir aku buta, bodoh, dan lemah. Biar aku tunjukkan, dari balik duri-duri ini, ada mahkota yang menungguku."
Alana Wijaya adalah putri tunggal konglomerat yang jatuh miskin. Setelah ayahnya wafat, ia menikah dengan pria yang diam-diam berselingkuh dengan sahabatnya sendiri—tepat di bawah atapnya, selama tiga tahun. Alana memilih diam. Bukan karena takut, tapi karena sedang menyusun takhta.
Di balik gaun mahal dan senyum palsunya, ia diam-diam membangun kembali kerajaan ayahnya. Ia masuk ke klub eksklusif dengan pakaian usang, diremehkan, dicemooh—sampai suatu hari, para investor paling disegani di negeri ini berlutut menawarkan kerja sama.
Saat sang suami dan sahabatnya mulai menyadari bahwa mereka bukan lagi predator, melainkan mangsa... Alana baru benar-benar tersenyum.
"Kau pikir kau yang memainkanku? Sayang sekali. Permainan baru saja dimulai—dan akulah pembuat aturannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Viola Datang dengan Air Mata
🥀 Bunga Mawar Selalu Berduri
"Mawar dan Lalat"
Dulu kau kira aku bunga yang bisa kau hisap madunya,
Kau hinggap di kelopak, lalu kau tinggalkan luka.
Sekarang kau kembali dengan sayap patah, meratap pilu,
Tapi aku bukan lagi mawar yang sama—kini duriku telah tumbuh.
Kau bilang kau korban, kau bilang kau tertipu,
Tapi di setiap tangismu, ada racun yang kau semai untukku.
Maaf, lalat, aku tak lagi butuh kawananmu,
Pergilah sebelum duri ini menembus hatimu yang hitam dan beku.
---
Isi Bab 28:
Matahari sore menyelinap masuk melalui jendela kaca besar di belakang meja kerja Alana. Cahaya keemasan membelai lembut wajahnya, tapi tak satu pun kehangatan itu mampu mencairkan dingin di matanya. Ia baru saja menandatangani dokumen akuisisi perusahaan kecil yang dulu menjadi pemasok utama ayahnya—sebuah langkah simbolis untuk mengembalikan kejayaan yang pernah direbut darinya.
Di luar ruangan, deru kota Jakarta terdengar seperti dengung lebah yang sibuk. Namun, di dalam, sunyi yang nyaring menguasai.
Ketika pintu terbuka tanpa ketukan, Alana tak perlu menengadah. Ia sudah tahu siapa yang berani masuk tanpa izin. Hanya satu orang yang dulu bebas keluar masuk rumahnya, kamarnya, bahkan hatinya.
Viola.
Dia berdiri di ambang pintu, bayang-bayang dirinya sendiri. Rambutnya kusut, riasan luntur di bawah mata, dan gaun mahal yang dulu selalu ia kenakan dengan percaya diri kini tampak seperti kain lap yang digantung di tubuh kurusnya. Matanya—dua bola basah yang dulu selalu berkilat licik—kini hanya menyisakan keputusasaan.
“Lana...” Suaranya serak, seperti kaca yang digores amplas.
Alana meletakkan pulpen perlahan. Wajahnya tetap datar, seperti topeng porselen yang tak retak meski dipukul. “Kau lupa aturan, Viola. Untuk masuk ke ruangan CEO, harus ada janji.”
Viola tersentak. CEO. Kata itu seperti tamparan. Dulu, dialah yang duduk manis di sofa ruang tamu Alana sambil mengejek dalam hati betapa bodohnya sahabatnya itu. Sekarang, Alana duduk di singgasana yang seharusnya milik Richard—dan miliknya juga, pikir Viola dulu.
“Aku... aku hanya ingin bicara sebentar,” Viola melangkah masuk, tangannya gemetar memegang tas kecil yang sudah lusuh. “Tolong, Lana. Hanya lima menit.”
Alana tidak mengizinkan, tapi juga tidak melarang. Ia hanya menatap, seperti seekor singa betina mengamati tikus yang tersesat ke sarangnya.
Viola mengambil napas panjang, lalu tanpa aba-aba, air matanya tumpah. Bukan tangis histeris, tapi tangis lirih yang dibuat seolah tulus. “Aku minta maaf, Lana. Aku tahu aku salah. Aku tahu aku sudah menghancurkan semuanya. Tapi... aku juga korban. Richard memanipulasiku. Dia bilang dia akan menceraikanmu, dia bilang kita akan bersama setelah semua harta berpindah. Aku bodoh, Lana. Aku buta.”
Alana menyandarkan punggung di kursi empuknya. Ia memperhatikan setiap detail: cara Viola mengerutkan dahi, cara bibirnya bergetar, cara tangannya meremas ujung gaun. Dulu, semua itu cukup untuk membuat Alana terenyuh. Dulu, Alana akan segera berdiri, memeluknya, dan berkata, “Tak apa, kita bisa perbaiki semuanya.”
Tapi dulu, Alana punya hati yang utuh. Sekarang, hati itu telah ditempa api, direndam air mata, dan dipalu menjadi baja.
“Kau datang ke sini,” suara Alana dingin, setajam silet, “setelah aku resmi menjadi CEO. Setelah Richard dijebloskan ke penjara. Setelah semua media mengangkatku sebagai pemenang. Kau datang sekarang, dengan air mata, minta maaf.”
Viola menggeleng-geleng cepat. “Bukan karena itu! Aku sudah ingin datang dari dulu, tapi aku takut. Richard mengancamku, Lana. Dia bilang kalau aku mendekatimu, dia akan menyebarkan video-video...”
“Video apa?”
Viola terdiam. Matanya menghindar.
Alana tersenyum tipis—senyum yang tak sampai ke mata. “Sudah kuduga. Kalian selalu punya senjata cadangan. Tapi kali ini, Viola, kau datang tanpa amunisi. Karena apapun yang kau punya, aku sudah tak peduli lagi.”
“Aku serius, Lana! Aku menyesal!” Viola berlutut di lantai marmer dingin. Lututnya pasti sakit, tapi ia tak peduli. “Aku kehilangan segalanya. Keluargaku malu, teman-teman menghindar, bahkan ibuku sendiri bilang aku sampah. Aku hanya ingin... aku hanya ingin kau maafkan aku. Kita bisa bersahabat lagi, seperti dulu. Aku akan bantu kau bangun perusahaan, aku akan jadi saudara yang baik—”
“Berhenti.”
Kata itu keluar dari mulut Alana tanpa emosi, tapi beratnya seperti gunung jatuh. Viola terhenyak.
Alana berdiri perlahan. Gaun merah marunnya jatuh rapi mengikuti lekuk tubuhnya. Ia melangkah keluar dari balik meja, menghampiri Viola yang masih berlutut. Tumit hak tingginya berdetak di lantai, setiap detak seperti paku yang ditancapkan ke tanah.
“Kau tahu, Viola?” Alana berhenti tepat di depannya, menunduk menatap mahkota kepala sahabatnya—mantan sahabatnya. “Selama tiga tahun, aku tahu. Aku tahu kau masuk ke kamarku, memakai bajuku, tidur dengan suamiku di ranjang yang sama tempat ia mengucap janji suci padaku. Aku tahu kau menertawakanku di belakang, kau bilang aku bodoh, aku lemah, aku pantas dihianati.”
Viola membuka mulut, tapi suaranya mati di tenggorokan.
“Dan selama tiga tahun itu,” lanjut Alana, suaranya tetap tenang, “aku diam. Bukan karena aku tak tahu. Bukan karena aku bodoh. Tapi karena aku sedang belajar. Belajar bagaimana rasa sakit itu bekerja, bagaimana pengkhianatan membentuk karakter, dan bagaimana aku harus bangkit dengan cara yang tak akan pernah kalian duga.”
Air mata Viola mengering seketika. Ia mulai menyadari bahwa di hadapannya bukan lagi Alana yang dulu.
“Sekarang kau datang,” Alana berjongkok, wajahnya sejajar dengan Viola. Jarak mereka hanya setengah meter. Cukup dekat untuk melihat butir-butir keringat di pelipis Viola, cukup dekat untuk mencium bau parfum murahan yang Viola pakai—parfum yang dulu Viola curi dari meja rias Alana. “Kau datang dengan cerita bahwa kau juga korban. Kau bilang Richard memanipulasimu.”
“Itu benar,” bisik Viola.
“Benar?” Alana tertawa. Tawarnya pendek, pahit. “Kau tahu beda mawar dan rumput liar?”
Viola mengerjap bingung.
“Mawar itu indah, harum, tapi dia punya duri untuk melindungi dirinya. Dia tumbuh dengan perawatan, dengan kesabaran. Tapi rumput liar?” Alana menjentikkan ujung hidung Viola. “Rumput liar tumbuh di mana saja, merusak tanaman lain, mencuri nutrisi, dan ketika dicabut, dia pura-pura mati, lalu tumbuh lagi. Kau tahu apa yang dilakukan tukang kebun pada rumput liar?”
Viola tak menjawab. Ia hanya menatap Alana dengan mata melebar.
“Dicabut sampai akarnya. Diberi racun. Lalu dibakar, agar tak pernah tumbuh lagi.”
Sunyi mengisi ruangan. Bahkan detak jarum jam di dinding terdengar seperti genderang perang.
Viola bangkit perlahan. Lututnya merah, matanya sembab. Tapi di balik semua tangis itu, ada kilatan yang Alana kenal betul—kilatan putus asa yang berubah menjadi nekad.
“Kau pikir kau sudah menang?” suara Viola berubah, lebih rendah, lebih tajam. “Kau pikir dengan mengusirku dan memenjarakan Richard, semua selesai?”
Alana berdiri juga, kini mereka saling berhadapan. Dua perempuan yang dulu pernah berbagi rahasia, es krim, dan mimpi. Sekarang, di antara mereka hanya ada abu.
“Aku tahu kau tak akan menyerah semudah itu,” kata Alana. “Ada apa lagi?”
Viola tersenyum—senyum yang dulu Alana anggap manis, kini terlihat seperti luka menganga. “Richard tak sendiri, Lana. Ada seseorang di belakangnya. Seseorang yang selama ini mendanai semua operasinya, yang memberinya informasi tentang perusahaan ayahmu, yang membantunya menggelapkan uang. Dan orang itu... masih di sini. Masih di dekatmu.”
Denyut nadi Alana berhenti satu detak.
“Siapa?”
Viola menggeleng. “Kalau kuberi tahu sekarang, kau akan bunuh aku. Dan aku tak mau mati sebelum melihat mahkotamu jatuh.” Ia melangkah mundur menuju pintu. “Tapi ingat, Lana. Hati-hati dengan orang yang kau percaya. Karena pengkhianatan terbesar selalu datang dari yang paling dekat.”
Pintu tertutup. Tumit Viola berderap menjauh.
Alana berdiri terpaku. Kata-kata Viola berputar di kepalanya seperti kincir angin di tengah badai.
Seseorang yang selama ini mendanai semua operasinya...
Masih di dekatmu...
Pengkhianatan terbesar selalu datang dari yang paling dekat.
Ponsel di atas meja bergetar. Alana meraihnya dengan tangan sedikit gemetar. Sebuah pesan dari Nathan:
"Ada perkembangan baru. Richard akan segera bebas dengan jaminan. Ada pihak ketiga yang turun tangan. Kita harus bicara. Sekarang."
Alana menatap layar. Hujan baru saja mulai turun di luar, membasahi kaca jendela dengan butir-butir air yang mengalir seperti air mata. Di balik pantulan wajahnya sendiri, ia melihat bayangan-bayangan masa lalu—ayahnya, Richard, Viola, dan kini Nathan.
Nathan.
Orang yang paling dekat. Orang yang selalu ada. Orang yang tahu semua rencananya.
Mungkinkah?
Bersambung...(*❛‿❛)→
Apakah Viola hanya berbohong untuk menanam benih kecurigaan? Atau benar ada dalang di balik layar yang selama ini mengendalikan segalanya? Dan mengapa Nathan tiba-tiba meminta bertemu di saat yang genting ini?