NovelToon NovelToon
Belaian Kakak Iparku

Belaian Kakak Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Selingkuh
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: syizha

Menumpang di rumah kakaknya sendiri seharusnya terasa aman.
Namun justru di sanalah semuanya berubah.
Di balik rumah tangga yang terlihat tenang, ternyata tersimpan jarak, kesunyian, dan luka yang tak pernah terlihat orang lain. Ia hanya berniat tinggal sementara… tapi semakin lama, ia mulai melihat sisi lain dari pria yang seharusnya tak boleh ia perhatikan.
Tatapan yang terlalu lama.
Perhatian yang terasa berbeda.
Dan debar yang muncul di waktu yang salah.
Ia tahu batasnya.
Ia tahu itu salah.
Tapi bagaimana jika hati justru tertarik pada seseorang yang tak pernah dimiliki siapa pun bahkan oleh istrinya sendiri?
Dan ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap…
hubungan terlarang itu perlahan menjadi sesuatu yang tak bisa lagi dihentikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syizha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bangun tidur

Cekrekkk....

Sama sekali tak dikunci, kamar itu terbuka. Kepalaku melongok ke dalam. Aku melihat Alana, dia masih tertidur pulas di atas ranjangnya. Ia berbaring terlentang, dengan tubuh berbalut selimut tebalnya hampir juga menutupi wajahnya.

Kupaksakan diri untuk masuk ke dalam. Berjalan mendekat. Berdiri di samping ranjang tidur Alana.

"Alana, kamu nggak bangun." Aku kembali memanggilnya. Ia tak terusik sedikitpun.

'Apa dia lagi sakit ya,' batinku.

Tanganku terulur ke arahnya. Maksudku aku ingin membangunkannya dengan sentuhanku. Aku akan menggolek-nggoleknya sedikit. Namun begitu kulakukan.

"Astaga!!!" Aku terkejut.

Selimutnya jadi tersingkap. Rupanya dia hanya memakai dalaman. Pepayanya yang besar, yang hampir tak muat dipakaikan bra, kini terpampang di hadapanku.

Saking terkejutnya aku refleks memundurkan langkahku. Tetapi naas, aku malah menyenggol sesuatu di belakangku. Sebuah figura foto. Figura itu pun jadi jatuh ke bawah. Menimbulkan suara yang lumayan bising.

Aku bermaksud cepat-cepat mengambilnya kembali. Tapi saat hendak melakukannnya__

"Mas Juna."

Alana terbangun dari tidurnya mungkin karena suara yang baru saja kutimbulkan. Ia langsung melihat keberadaanku."

"Hai, Alana!" Aku malah berkata demikian. Seperti orang yang bo_doh.

"Mas Juna kok di sini?"

"Anu, itu Mas cuma mau bangunin kamu." Suaraku terbata. Aku juga sambil menaruh kembali figura foto di tempatnya yang semula.

"Oh ...." Tanggapan Alana hanya seperti itu.

Ia segera terduduk.

Tubuhnya yang hanya berbalut dalaman jadi semakin jelas terlihat.

"Itu, penampilan kamu." Aku refleks berkata demikian sambil menuding ke arahnya.

"Ups, maaf." Alana segera menarik selimutnya ke atas. Menutupi tubuhnya kembali dengan kain tebal tersebut.

"Kalau malam tuh aku selalu gerah, Mas. Terus nggak sadar buka baju sendiri. Ya hasilnya kaya gini. Hehehe ...." Alana menjelaskannya tanpa kuminta. Ia sambil terkekeh.

"Iya, nggak pa-pa. Mas juga sering kayak gitu kok."

"Iya, tau. Waktu itu kan aku juga sempet liat."

"Yaudah buruan mandi. Mas akan buatin sandwich buat kamu. Kita sarapan sama-sama." Aku hampir melangkah pergi.

Tak ingin pembicaraan kami berlarut-larut.

"Tunggu, Mas!" Alana meraih pergelangan tanganku.

Aku pun kembali menoleh ke arahnya.

"Ada apa?"

Bukannya menjawab, ia malah mengarahkan telapak tanganku menelangkup ke pipinya.

"Sekarang tuh masih dingin. Aku malas mandi. Terus ini, telapak tangannya Mas Juna anget banget. Enak."

Aku tertegun. Aku tak berkata-kata untuk beberapa saat.

"Mandinya nanti dulu aja ya," tuturnya.

"Y-yaudah terserah kamu."

Aku cepat-cepat menarik tanganku. Tak lagi menelangkup ke pipinya Alana.

"Mas keluar dulu," pamitku.

Kali ini aku benar-benar melangkah pergi dari kamarnya. Berjalan ke dapur sambil merasakan jantungku yang berdetak kencang.

Aku melakukan niatanku yang semula. Membuat sarapan sederhana. Membuat dua sandwich, untuk aku dan untuk Alana.

Tapi sesekali aku malah memperhatikan telapak tanganku.

"Pipinya tadi lembut banget." Tanpa sadar aku membayangkan sosok Alana. Membayangkan wajah, dan tahu-tahu malah membayangkan da_danya.

"Dia masih muda, kenapa bisa sebesar itu? Mana padat dan kenceng banget lagi."

Glekkkk....

Aku menelan ludah.

Bayangan dua pepayanya membuat pikiranku oleng.

"Huffff ...." Aku menghela nafas.

'Jangan caboel, Juna! Jangan caboel!!!' batinku.

Aku memfokuskan kembali ke kegiatanku. Segera menyelesaikan sandwich buatanku. Begitu berhasil, aku meninggalkan ruangan dapur. Aku kembali ke kamar. Pikirku, sembari menunggu Alana, aku akan mandi terlebih dahulu. Aku harus efisien waktu.

Kuambil handuk dari dalam almari. Aku hampir melangkah masuk ke kamar mandi yang ada di ruangan ini. Tetapi dering handphoneku berbunyi. Aku berbalik arah. Berjalan ke meja nakas. Kuraih benda pipihku.

"Liliana," lirihku begitu melihat pesan masuk dari wanita itu.

Aku membukanya. Ada sebuah foto yang ia kirimkan. Foto selfi dirinya yang tengah duduk di sebuah bangku. Sepertinya bangku di tempatnya mengajar.

[Baju yang kamu kasih, udah aku pakai. Cocok nggak?]

Aku tertegun membaca caption dari foto tersebut.

Maksud dia apa? Aku bertanya-tanya.

Beberapa detik kemudian, pesan itu dihapus olehnya. Fotonya sudah tak ada lagi. Aku pun jadi berkesimpulan, baru saja ia salah mengirimkan pesan. Harusnya untuk orang lain, malah ceroboh terkirim ke nomorku.

1
Anna leticia
baru mampir Thor, penasaran banget semoga aja ceritanya seru dan berkesan sampai keakhiir🌹🌹❤️😊
Anna leticia
penasaran mampir, penasaran banget, cuma kata plakor,itu merusak mata, cerita cinta dimulai dari kesalahan 🌹🌹🤔😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!