Ketika Adrian Richard memutuskan untuk melamar di atap gedung yang romantis, ia mengira semuanya sudah terencana sempurna.
Namun saat ia berlutut, wanita yang berbalik bukanlah kekasihnya, melainkan orang asing bernama Briana Edmond.
Apa yang dimulai sebagai tawa bersama atas kesalahan konyol berubah menjadi bencana saat kekasih Adrian datang dan menyaksikan apa yang tampak seperti pengkhianatan.
Kini, saat satu hubungan hancur, ikatan tak terduga mulai muncul di antara dua orang asing yang tidak seharusnya bertemu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Adrian mengeluarkan ponselnya dengan gerakan ragu namun pasti. "Boleh aku menyimpan nomor ponselmu, Briana? Hanya untuk memastikan kalau kita benar-benar bisa memulai perkenalan ini dari nol."
Briana mengangguk, menyebutkan deretan angka yang kemudian disimpan Adrian dengan nama 'Briana - Rooftop'.
Setelah saling bertukar pesan singkat untuk menyimpan nomor masing-masing, Briana turun dari mobil dengan senyum tipis yang meninggalkan kesan mendalam bagi Adrian.
Saat menaiki lift menuju apartemennya, keheningan menyelimuti Briana. Dunia luar mengenalnya sebagai putri tunggal dari Keluarga Edmond, dinasti pengusaha properti yang sangat disegani dan teguh memegang prinsip Islam. Briana sendiri memutuskan berhijab sejak kuliah, sebuah keputusan yang ia jalani dengan penuh kedamaian di tengah gemerlapnya New York.
Namun, di balik kemewahan itu, ada luka yang ia sembunyikan. Clark, kekasihnya, adalah pria yang ia temui di sebuah galeri seni setahun lalu. Saat masa pendekatan, Clark berjanji dengan sangat manis bahwa ia bersedia mempelajari Islam dan berpindah keyakinan demi bisa meminang Briana di depan ayahnya yang tegas.
Namun, satu tahun berlalu, dan janji itu menguap seperti kabut. Clark mulai menunjukkan wajah aslinya, ia menganggap agama hanyalah formalitas dan terus menunda-nunda untuk belajar.
Malam ini, ketidakhadirannya di restoran bukan karena pekerjaan, melainkan karena ia mulai merasa enggan berkomitmen pada aturan keluarga Briana. Bagi Clark, kata-katanya dulu hanyalah bullshit manis untuk mendapatkan hati gadis kaya raya itu.
Di dalam mobilnya yang masih terparkir, Adrian menyandarkan kepala di kemudi. Pikirannya melayang pada Elena. Mereka telah bersama sejak masa kuliah di Columbia University. Elena adalah gadis yatim piatu yang berjuang keras untuk hidup.
Ketangguhan dan pesona Elena saat itu membuat Adrian, sang pewaris kekayaan Richard, jatuh cinta setengah mati.
Bagi Adrian, Elena adalah sosok yang harus ia lindungi dan ia beri kemewahan yang tidak pernah gadis itu rasakan sejak kecil. Namun, seiring berjalannya waktu, pesona itu berubah menjadi sifat posesif dan ambisi yang buta.
Elena selalu merasa insecure dengan status sosialnya, sehingga ia sering meledak jika ada hal kecil yang mengancam posisinya di samping Adrian, seperti insiden salah paham dengan Briana tadi.
Adrian menatap layar ponselnya, melihat nomor Briana. Ada kontras yang sangat besar antara kedua wanita ini.
Elena, yang ia cintai karena pesona dan masa lalunya yang sulit, namun ternyata sangat rapuh dan penuh amarah.
Briana, yang berasal dari dunia yang sama dengannya, keluarga terpandang, namun memiliki ketenangan jiwa dan prinsip yang kuat dari agamanya.
Adrian menghela napas panjang. Malam yang ia kira akan berakhir dengan pertunangan, justru berakhir dengan patah hati. Namun, ada secercah rasa penasaran yang muncul. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, pikirannya tidak lagi sepenuhnya terisi oleh Elena.
Ia mulai bertanya-tanya, bagaimana rasanya dicintai oleh wanita seperti Briana? Wanita yang tetap bisa tersenyum dan mendoakan kebaikan bagi orang yang baru saja mempermalukannya?
Langkah kaki Briana terasa berat saat memasuki apartemennya yang sunyi. Namun, ketenangan itu seketika pecah saat ponselnya bergetar hebat. Sebuah pesan dari Selvie, sahabatnya yang paling blak-blakan, muncul di layar dengan lampiran foto yang buram namun jelas maknanya.
Selvie: "Bri, aku nggak tahan lagi. Aku baru saja melihat Clark masuk ke Hotel Empire dengan seorang wanita. Dia merangkul pinggang perempuan itu seolah dunia milik berdua. Kamu harus ke sini sekarang, kita buka kedok si brengsek itu!"
Darah Briana terasa berdesir dingin. Selama ini, teman-temannya memang tidak ada yang setuju ia berhubungan dengan Clark. Mereka bisa mencium bau kepalsuan dari janji-janji Clark tentang agama dan komitmen. Dengan tangan gemetar namun tekad yang bulat, Briana kembali menyambar kunci mobilnya.
Di lobi hotel mewah itu, Selvie sudah menunggu dengan wajah merah padam karena geram. "Dia di lantai 12, kamar 1208. Resepsionis tadi awalnya tidak mau bicara, tapi aku menyebut nama ayahmu, Tuan Edmond."
Sebagai putri dari salah satu pengusaha paling berpengaruh di New York, akses bukanlah masalah. Briana tidak perlu berteriak. Cukup dengan tatapan dingin dan menyebutkan identitas keluarganya, pihak keamanan hotel dengan patuh mengantarkan mereka ke depan pintu kamar tanpa banyak tanya.
"Kamu siap, Bri?" bisik Selvie.
Briana menarik napas panjang, membenarkan letak hijabnya yang tetap rapi meski hatinya sedang hancur lebur. "Buka pintunya."
Klik.
Pintu terbuka tanpa suara. Namun, suara dari dalam kamar justru sangat berisik. Briana mematung di ambang pintu, matanya menyaksikan pemandangan paling menjijikkan yang pernah ia bayangkan.
Di atas ranjang putih yang berantakan, ia melihat Clark pria yang katanya ingin belajar agama demi dirinya—tengah mendesah nikmat di atas tubuh seorang wanita asing.
"Jadi, ini 'meeting' penting yang membuatmu tidak bisa datang ke acara tadi?" suara Briana terdengar tenang, namun begitu tajam hingga mampu menghentikan segala aktivitas di atas ranjang itu.
Clark tersentak, ia hampir terjatuh dari ranjang saat melihat Briana berdiri di sana bersama Selvie dan seorang petugas keamanan hotel. Wajahnya seketika pucat pasi, seperti melihat hantu.
"Briana?! Aku... ini tidak seperti yang kamu lihat! Ini hanya—"
"Hanya apa, Clark?" potong Briana dengan senyum getir.
"Hanya bullshit lain yang akan kamu karang? Kamu bilang ingin masuk ke agamaku, kamu bilang ingin memuliakanku di depan ayahku. Tapi ternyata, kamu hanya ingin bermain di belakangku."
Selvie melangkah maju, menunjuk wajah Clark dengan geram. "Dasar munafik! Kamu hanya menginginkan koneksi dan uang keluarga Edmond, kan? Keluar kamu dari sini sebelum aku memastikan karirmu di New York tamat malam ini juga!"
Clark mencoba meraih celananya dengan kikuk, sementara wanita di bawah selimut itu hanya bisa menutupi wajahnya karena malu.
Briana tidak menangis. Anehnya, ia justru merasa lega. Beban berat yang selama satu tahun ini ia pikul keraguan tentang ketulusan Clark akhirnya terangkat.
"Simpan penjelasanmu, Clark. Kita selesai. Dan jangan pernah berani menginjakkan kaki di kantor atau rumah ayahku lagi," ucap Briana tegas.
Ia berbalik, berjalan keluar dengan kepala tegak.
Saat pintu lift tertutup, Briana mengeluarkan ponselnya. Ia melihat nama Adrian - Rooftop di daftar kontak terbarunya. Ironis sekali, dalam satu malam, ia melihat satu pria yang tulus namun salah alamat, dan satu pria yang ia cintai namun ternyata penuh kepalsuan.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰😍😍
tetep sehat
selalu semangat
karyamu jadi relaksasi tersendiri utk ku