NovelToon NovelToon
Istri Bar-Bar Ustadz Hanan

Istri Bar-Bar Ustadz Hanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:48.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy_Ar

“Bagaimana hafalanmu?"
“Susah! Bisakah dikurangi hafalannya!”
“Pakaianmu boleh diskon. Tapi urusan agama, jangan sampai ikut didiskon.”
Kayla Aurora adalah gadis cantik dengan dunia yang bebas, akrab dengan mabuk, klub malam, dan balap liar.
Aturan bukan temannya, apalagi nasihat agama. Hingga sebuah keputusan memaksanya masuk ke pondok pesantren.
Tempat yang terasa seperti penjara,
penuh hafalan, disiplin, dan larangan yang membuatnya tersiksa.
Di sanalah Kayla bertemu Hanan, lelaki tenang dengan kesabaran yang tak mudah habis.
Alih-alih menghakimi, Hanan memilih membimbing. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan pengertian dan doa.
Di antara pelajaran yang memberatkan dan hati yang perlahan dilunakkan,
benih cinta pun tumbuh… bersamaan dengan iman yang mulai menemukan jalannya.
Karena terkadang,
Allah mempertemukan dua insan bukan untuk menyamakan dunia, melainkan untuk saling mendekatkan kepada-Nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Ruangan itu terasa semakin hangat meski udara pendingin ruangan tetap berembus pelan. Sinar senja hampir hilang, menyisakan cahaya temaram yang lembut.

“Maaf ya, Le… Eyang tidak memaksa,” ucap Eyang Narti lirih. Keriput di wajahnya semakin jelas saat ia tersenyum tipis. “Eyang hanya mau cucu Eyang ada yang menjaganya. Dan kamu anak baik, Le… Eyang suka sama kamu.”

Kalimat itu sederhana, tapi terasa berat. Hanan menelan salivanya. Tenggorokannya terasa kering. Belum pernah seumur hidupnya ia berada di situasi seperti ini, diminta menikahi seseorang yang bahkan belum sepenuhnya sadar dari sakitnya.

“Kamu boleh menolak, Le,” lanjut Eyang lembut, tidak ada nada memaksa sedikit pun.

“Maaf, Eyang… bukan saya menolak,” ucap Hanan pelan namun tegas. Sorot matanya tetap hormat. “Hanya saja… saya tidak mau memaksa Kayla.”

Ruangan mendadak hening. Jawaban itu tidak berlebihan, tidak pula menggantung. Jujur dan dewasa.

Hanan melanjutkan, suaranya lebih dalam, “Menikah itu keputusan dua orang, Eyang. Kalau pun saya punya niat baik… tetap harus ada kerelaan dari dia.”

Eyang Narti memandangnya beberapa detik. Lalu senyum perlahan terukir di wajah tuanya.

“Berarti kamu mau ya, Le?” tanyanya lagi, kali ini dengan nada sedikit menggoda.

Hanan terdiam. Ia menunduk, Namun diamnya bukan lagi ragu. Fatimah yang sejak tadi menahan diri, tersenyum lebar. Rasanya ia ingin meloncat dan berteriak bahagia, tapi ia tahan demi menjaga suasana.

“Kayla pasti mau kok, Bu,” ucap Arman akhirnya ikut bersuara, nada suaranya ringan namun yakin. “Arman yakin itu.”

Hanan menoleh sekilas ke arah Arman, terkejut dengan keyakinan lelaki itu. Belum sempat ia berkata apa-apa Jari Kayla bergerak. Kali ini lebih jelas. Kelopak matanya bergetar pelan, lalu perlahan terbuka. Pandangannya masih buram. Lampu ruangan terasa silau.

Ia mengerjap beberapa kali. Wajah pertama yang ia lihat adalah sosok yang sangat ia kenal.

“Eyang…,” suaranya serak, hampir seperti bisikan.

Eyang Narti langsung berdiri tergesa, hampir kehilangan keseimbangan jika Arman tidak sigap memeganginya.

“Alhamdulillah… kamu sudah sadar, Nduk,” ucapnya dengan suara bergetar.

Kayla berusaha bangun. Hanan refleks menahan punggungnya agar tidak terlalu cepat bergerak. Begitu posisi duduknya stabil, Kayla langsung memeluk Eyangnya erat.

Tangisnya pecah. Tangis yang tertahan sejak lama. Tangis yang mungkin bukan hanya karena kejadian hari ini, tapi karena semua beban yang ia simpan sendirian.

“Maaf… maaf, Eyang…” isaknya di bahu wanita tua itu.

Eyang Narti ikut menangis, mengusap rambut cucunya berulang kali.

“Ndak apa-apa… ndak apa-apa… Eyang di sini…”

Fatimah ikut mengusap sudut matanya yang mulai basah. Bahkan Arman pun berdeham pelan, menahan haru. Di sisi lain, Hanan berdiri sedikit mundur.

Memberi ruang. Namun pandangannya tak lepas dari Kayla. Melihatnya menangis seperti itu membuat dadanya ikut sesak. Ada dorongan kuat untuk memeluk dan menenangkan, tapi ia menahan diri.

Tangis Kayla belum juga reda. Bahunya masih naik turun menahan isak yang datang bertubi-tubi, seolah semua luka yang ia pendam akhirnya menemukan jalan keluar.

“Eyang… Papa gak mau Kayla lagi. Papa jahat sama Kayla… hiks… hiks…” suaranya pecah, penuh luka yang selama ini ia tahan sendiri.

Ruangan itu kembali sunyi, hanya diisi suara tangisnya yang menyayat. Eyang Narti memeluknya semakin erat. Tangannya yang renta mengusap punggung cucunya pelan, seperti saat Kayla masih kecil dan terjatuh saat belajar berjalan.

“Gapapa, Nduk… udah ada Eyang di sini,” bisiknya lembut, menenangkan.

Kayla menggeleng di pelukan itu.

“Kayla gak mau sama Papa lagi, Eyang… Kayla capek…”

Kata “capek” itu terdengar lebih menyakitkan daripada tangisnya. Eyang mengangguk pelan, mengusap kepala cucunya dengan penuh kasih. Rambut Kayla yang sedikit kusut dirapikannya dengan jemari gemetar.

“Nduk…” panggilnya hati-hati.

Kayla perlahan mengangkat wajahnya, masih dengan mata sembab dan hidung memerah.

“Kamu mau menikah?” tanya Eyang tiba-tiba.

Pertanyaan itu membuat Kayla terdiam. Pelukannya terlepas perlahan. Ia menatap wajah neneknya, bingung, belum sepenuhnya memahami arah pembicaraan.

“Eyang takut gak bisa jagain kamu terus,” lanjut wanita tua itu dengan suara bergetar. “Eyang mau kamu menikah.”

Kalimat itu bukan terdengar seperti perintah. Lebih seperti doa yang dibalut ketakutan.

“Apakah Eyang juga mau ninggalin Kayla?” tanya Kayla lirih, suaranya gemetar. Ada rasa takut yang nyata di sana.

Hanan yang berdiri tak jauh dari mereka merasa dadanya menegang. Eyang Narti menggeleng cepat.

“Tidak, Nduk… bukan begitu maksud Eyang.” Tangannya menggenggam pipi Kayla lembut. “Semua orang akan pergi pada waktunya. Eyang cuma ingin sebelum itu terjadi… ada orang yang benar-benar menjaga kamu.”

Kayla terdiam. Air matanya kembali jatuh, tapi kali ini lebih tenang.

“Nduk… Nak Hanan orang baik,” lanjut Eyang perlahan, penuh keyakinan. “Dia akan jadi imam yang baik untuk kamu.”

Sontak pandangan Kayla beralih. Untuk pertama kalinya sejak sadar, ia benar-benar menatap Hanan dengan kesadaran penuh. Pemuda itu berdiri tegak, namun jelas terlihat kaku. Tangannya terlipat di depan, seolah menahan gugup yang tak biasa ia rasakan.

Tatapan mereka bertemu. Tidak ada ejekan. Tidak ada perdebatan. Hanya keheningan yang sarat makna.

“Nduk…” suara Eyang kembali terdengar lembut. “Mau ya menikah dengan Nak Hanan?”

Ruangan itu seolah membeku. Fatimah sampai menahan napas. Arman menatap Kayla penuh harap namun tetap memberi ruang. Kayla membuka mulutnya, tapi suaranya tertahan di tenggorokan.

“A—aku…”

Ia menunduk. Jantungnya berdegup kencang. Semua terasa terlalu cepat. Baru saja ia menangis karena merasa ditinggalkan ayahnya. Baru saja ia merasa tak diinginkan.

Dan kini… ada seseorang yang ditawarkan untuk menjaganya. Hanan tidak berkata apa-apa.

Gadis itu menunduk dalam. Jemarinya saling menggenggam di atas selimut, seolah mencari pegangan.

“Tapi aku gak pantas buat dia, Eyang…” gumamnya lirih. Suaranya nyaris seperti bisikan yang dipaksa keluar. “Dunia kami berbeda.”

Kalimat itu tidak keras. Tidak dramatis. Tapi cukup untuk membuat dada Hanan terasa seperti ditekan sesuatu yang berat.

Kayla tidak berani menatap siapa pun. Pandangannya jatuh ke ujung selimut putih rumah sakit yang terasa begitu kontras dengan pikirannya yang kelam.

“Aku…” ia menarik napas pelan. “Aku bukan perempuan baik-baik seperti yang pantas buat dia,”

Eyang Narti mengerutkan keningnya. “Nduk—”

“Kayla keras kepala. Suka melawan. Sering bikin malu keluarga.” Suaranya mulai bergetar lagi. “Cara ngomongku aja gak pernah dijaga. Aku jauh dari kata lembut.”

Fatimah ingin menyela, tapi Hanan memberi isyarat kecil agar ia diam. Kayla melanjutkan, seolah semua yang selama ini ia pendam akhirnya keluar tanpa bisa dihentikan.

“Dia seorang Ustadz Eyang. Dia terjaga. Dia tahu batas.” Mata Kayla akhirnya berani melirik Hanan sekilas, lalu kembali menunduk cepat. “Sedangkan Kayla? Hidup Kayla sangat berantakan.’’

Arman terdiam mendengar itu. Ada rasa bersalah yang menyelinap di wajahnya.

“Dunia kami berbeda, Eyang,” ulang Kayla pelan. “Dia terbiasa dengan aturan. Sementara Kayla terbiasa melawan keadaan.”

Hanan menghela napas panjang. Langkahnya pelan mendekat, tapi tetap menjaga jarak yang sopan.

“Boleh saya bicara?” tanyanya lembut pada Eyang.

Wanita tua itu mengangguk. Hanan lalu menatap Kayla, bukan dengan tatapan menghakimi, tapi dengan ketenangan yang selama ini menjadi cirinya.

“Siapa yang bilang dunia kita berbeda?” tanyanya pelan. Membuat Kayla terdiam. “Kita sama-sama manusia yang sedang belajar,” lanjut Hanan. “Saya bukan orang suci. Saya juga banyak kurangnya.”

‘’Enggak!’’ Kayla menggeleng kecil. “Kamu sempurna, kamu orang baik. Sholeh!’’

Hanan tersenyum tipis. “Kesempurnaan hanya milik Allah Kay. Dan Baik itu bukan bawaan lahir. Itu pilihan. setiap orang bisa memilih.”

Kayla perlahan mengangkat wajahnya.

“Kamu bilang kamu keras kepala,” lanjut Hanan tenang. “Tapi yang saya lihat itu sebagai tanda kamu bertahan.”

“Kamu bilang kamu suka melawan,” ia menambahkan. “Tapi yang saya lihat itu sebagai tanda kamu tidak mau kalah oleh keadaan.”

Ruangan terasa hangat oleh kata-kata yang tidak berlebihan, namun jujur.

“Dan soal dunia berbeda…” Hanan menarik napas. “Kalau memang berbeda, bukankah menikah itu tentang menyatukan dua dunia?”

Fatimah menunduk, tersenyum haru, Sambil bergumam dalam hati, ‘Masyaallah, mas Hanan. Kamu kesambet apa Mas?’

Sementara Kayla terdiam. Dadanya terasa sesak, tapi bukan oleh kesedihan. Untuk pertama kalinya, seseorang tidak melihat kekurangannya sebagai beban. Tidak melihat masa lalunya sebagai noda.

“Nduk,” suara Eyang Narti kembali terdengar lembut. “Tidak ada manusia yang tidak punya luka. Tapi Allah mempertemukan orang bukan tanpa alasan.”

Kayla menggigit bibirnya, menahan tangis yang kembali datang.

“Tapi Kayla takut…” akhirnya ia jujur.

Hanan mengangguk. “Saya juga.”

Pengakuan itu membuat Kayla menatapnya cepat.

“Tapi takut bukan alasan untuk lari,” lanjut Hanan. “Takut justru tanda kita sedang menghadapi sesuatu yang besar.”

Hening. Monitor detak jantung berbunyi stabil, seperti mengiringi detik-detik yang terasa panjang.

“Aku gak mau jadi beban,” bisik Kayla lagi.

“Kamu bukan beban,” jawab Hanan tanpa ragu. “Kamu amanah.”

Kata itu membuat Eyang Narti terisak pelan. Kayla menatap Hanan lama. Kali ini tidak ada keraguan di matanya hanya pergulatan.

Ia memang merasa tidak pantas. Merasa terlalu rusak. Terlalu jauh. Namun di hadapannya berdiri seseorang yang tidak menuntut kesempurnaan. Hanya kesediaan untuk berjalan bersama.

1
Eka ELissa
uang Kayla byk umi kmrin aj abis mnang balap liar 200 juta tiap main...
apa aj umi.... Kayla pasti ikut aj
Ipehmom Rianrafa
lnjuut💪💪💪
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
insya allah Hanan akan membimbingmu Kayla😍😍😍
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
duuhh yg bentar lg mau di lamar,,,deg-degan ya😁😁😁😁
billaacha90
sabar Kay, nanti kalau kamu sudah mengerti kamu pasti malu sendiri
billaacha90
tentu dong, kamu boleh kok kalau sama om nya Kayla, Fatimah 🤣🤣
billaacha90
asyik asyik asyik 🤗🤗
billaacha90
Nah kamu tahu sendiri kan Fatimah, kamu yang sebagai perempuan ae bisa bilang begitu🤭
billaacha90
tentu malu lah kakakmu Fatimah, yang di tolong cewek yang sungguh menggoda lho 🤭
billaacha90
itu juga kan anak umi🤣🤣
billaacha90
ealah ustadz tadi keluar ternyata dari rumah pak kyai tho🤣🤣
sansan
wahhhh ditanya lsg soal mahar... emang Umi calon mertua paling didambakan
Enisensi klara
Si Kunti emang virus 😏😏
💥💚 Sany ❤💕
Padahal Kay yang dilamar napa aku yang senyum2 gak jelas, untung gak da yang lewat 😂😂😂
💥💚 Sany ❤💕
Selamat ya Kay... aku ikut seneng. Semoga lancar sampai hari H
💥💚 Sany ❤💕
lagi serius-serusnya tapi malah hampir ngakak gara2 tingkah Fatim dan Arfin. Suka banget ma karakter Fatim yang apa adanya dan si Arfin yang kadang ada olengny dikit tapi bikin suasana hidup.
billaacha90
Wah Kayla pingsan ini, karena beban yang dia tanggung dihadapi sendirian. untung masih ada orang yang masih perduli dengan dia
billaacha90
semoga kamu bisa mengerti apa maksudnya cowok yang menolong kamu Kay
Ririn Alfathunisa
semoga lancar sampe hari h ya buat kalian,dan semoga GK ada halangan alias drama dari Mak Lampir emaknya si arfin
billaacha90
untung mas nya bisa beladiri ini, jadi Kayla ada yang menolongnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!