NovelToon NovelToon
In Your Smile, I Find Warmth

In Your Smile, I Find Warmth

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Anak Genius / CEO Amnesia / Tamat
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Reyhan, pengusaha sukses dengan masa kecil yang pahit, terpaksa menikahi Alya wanita yang pernah ia tinggalkan saat hamil enam tahun lalu. Pernikahan kontrak yang dingin mulai berubah ketika kehadiran putra mereka, Arka, anak jenius dengan IQ 152, perlahan meruntuhkan tembok hati Reyhan.

Di tengah proses belajar menjadi ayah dan suami, luka masa lalu Reyhan mulai sembuh. Ditambah kelahiran putri kecil mereka, Kirana, keluarga yang dulu hancur ini perlahan menemukan keutuhannya.

Kisah tentang kesempatan kedua, penyembuhan luka, dan cinta tanpa syarat yang akhirnya ditemukan setelah sekian lama hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 Arka dan Logika Aneh Reyhan

Selasa pagi datang dengan langit cerah yang jarang sekali terlihat di Jakarta. Matahari pagi menyusup lembut melalui jendela besar rumah Reyhan, menerangi dapur yang sudah mulai terasa seperti rumah bagi Alya. Tapi pagi ini, hatinya berat. Matanya sembap karena semalam tidurnya tak nyenyak. Kata-kata Reyhan terus berputar di kepalanya seperti rekaman yang rusak: “Arka… terlalu mirip denganku.”

Alya bergerak mekanis. Bangunkan Arka dengan suara lembut, bantu anaknya cuci muka, rapikan tempat tidur, lalu turun ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Semua dilakukan dengan autopilot, pikirannya melayang jauh. Ia takut. Takut Reyhan semakin dekat dengan kebenaran. Takut rahasia enam tahun itu terbongkar sebelum ia siap.

Ketika ia memasuki dapur, Reyhan sudah duduk di meja makan. Secangkir kopi hitam di tangannya, tablet terbuka di depan, tapi matanya tak fokus ke layar. Ia menatap kosong ke arah jendela, seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat. Wajahnya tampak lelah, tapi tetap rapi seperti biasa kemeja putih lengan digulung, rambut disisir ke belakang.

“Pagi,” sapa Alya pelan, mencoba terdengar normal meski suaranya sedikit bergetar.

Reyhan menoleh. Tatapannya lebih lama dari biasanya, seolah mencari sesuatu di wajah Alya. “Pagi.”

Keheningan yang muncul kali ini berbeda. Biasanya keheningan mereka nyaman, seperti dua orang yang saling memahami tanpa kata. Tapi pagi ini tegang, penuh pertanyaan yang belum terucap.

“Om… mau sarapan?” tanya Alya sambil membuka kulkas, berusaha mengisi keheningan itu.

“Nggak usah repot. Aku ada meeting pagi.”

“Sudah masak kok. Omelet keju sama roti panggang. Sebentar aja.”

Reyhan tidak menolak. Ia hanya mengangguk pelan, kembali menatap jendela dengan ekspresi yang sulit dibaca. Alya bergerak cepat, memecahkan telur, mengaduk keju parut, memanggang roti. Aroma keju meleleh dan mentega mulai memenuhi ruangan. Lima menit kemudian, sepiring omelet keju hangat dengan roti panggang tersaji di hadapannya. Alya duduk di seberang dengan secangkir teh hangat, tak bicara, hanya menemani dalam diam.

Reyhan mulai makan pelan, tapi gerakannya lambat, seperti pikirannya sedang jauh. Lalu tiba-tiba ia bertanya, suaranya rendah tapi jelas.

“Alya… kamu pernah kerja di perusahaan teknologi?”

Alya hampir menjatuhkan cangkirnya. Jantungnya berdegup kencang. “K-kenapa tiba-tiba nanya?”

“Karena kamu… familiar. Entah kenapa aku merasa kita pernah ketemu sebelumnya.”

Alya menarik napas panjang, berusaha terlihat tenang meski tangannya gemetar di bawah meja. “Mungkin Om salah orang. Aku nggak pernah kerja di perusahaan besar. Cuma pernah jadi admin di kantor kecil.”

Reyhan menatapnya lama terlalu lama. Tatapannya seperti mencoba membaca kebohongan di balik mata Alya. Tapi sebelum ia sempat bertanya lagi, suara langkah kecil terdengar dari tangga. Arka turun dengan langkah riang, sesuatu yang jarang sekali terjadi di pagi hari. Wajahnya cerah, matanya berbinar.

“Pagi, Mama! Pagi, Om Reyhan!”

“Pagi, sayang,” jawab Alya sambil menarik napas lega. Kehadiran Arka menyelamatkannya dari interogasi lanjutan.

Arka langsung duduk di kursi favoritnya, menatap Reyhan dengan antusias. “Om, aku boleh nanya sesuatu?”

Reyhan meletakkan sendoknya. “Tanya apa?”

“Om pernah denger Paradox Fermi?”

Reyhan menaikkan alis, terkejut tapi juga tertarik. “Kamu tahu Paradox Fermi?”

“Iya! Itu kan pertanyaan kenapa kita belum ketemu alien padahal alam semesta ini gede banget dan umurnya udah miliaran tahun. Harusnya ada peradaban lain dong?”

Alya menatap anaknya dengan mulut terbuka. Dari mana Arka tahu itu? Ia tahu anaknya pintar, tapi ini… terlalu jauh.

Reyhan tersenyum tipis—senyum langka yang hanya muncul ketika ia benar-benar tertarik. “Kamu baca dari mana?”

“YouTube sama artikel ilmiah. Terus aku juga baca teori Great Filter-nya. Keren banget!”

“Kamu ngerti konsep Great Filter?”

“Iya. Itu teori yang bilang mungkin ada tahap evolusi yang sangat susah dilewati makhluk hidup, jadi peradaban banyak yang punah sebelum bisa jadi peradaban antarplanet. Kayak… ujian yang terlalu susah, jadi banyak yang nggak lulus.”

Reyhan terdiam. Benar-benar terdiam. Ia menatap Arka dengan tatapan penuh kekaguman dan… sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang mirip dengan rasa rindu yang tak terucap. “Kamu… umur lima tahun,” gumamnya pelan, seperti sedang mengingatkan dirinya sendiri.

“Lima tahun tiga bulan,” koreksi Arka ceria. “Tapi Mama bilang usia cuma angka. Yang penting itu cara berpikir.”

Reyhan melirik Alya. Ada pertanyaan di matanya, tapi juga kehangatan yang tak biasa. Alya menunduk, berusaha menyembunyikan kegelisahan di dadanya.

“Terus Om setuju nggak sama Great Filter?” tanya Arka lagi, tak mau berhenti.

“Aku lebih setuju sama teori Zoo Hypothesis,” jawab Reyhan sambil melipat tangan di dada posisi yang biasa ia pakai saat diskusi serius dengan rekan kerja. “Mungkin alien itu ada, tapi mereka sengaja nggak kontak sama kita. Kayak manusia yang ngamatin hewan di kebun binatang tanpa ganggu mereka.”

Mata Arka membulat. “Wah… itu masuk akal juga! Jadi kita kayak hewan yang diamatin?”

“Mungkin.”

“Tapi kalau gitu, berarti kita nggak seistimewa yang kita kira dong? Kita cuma… hewan percobaan?”

Reyhan tersenyum lebih lebar senyum pertama yang benar-benar tulus sejak Alya mengenalnya. “Pemikiranmu tajam, Arka. Kamu bener. Mungkin manusia itu nggak seistimewa yang kita pikir.”

“Terus Om takut nggak kalau ternyata kita cuma… nggak penting?”

Pertanyaan itu membuat Reyhan terdiam. Ia menatap Arka lama, lalu menjawab dengan nada serius seperti bicara pada orang dewasa. “Aku dulu takut. Waktu aku kecil, aku sering mikir kayak gitu. Merasa kecil, nggak penting, sendirian di alam semesta yang terlalu besar. Tapi sekarang… aku pikir justru itu yang bikin hidup jadi menarik. Kita mungkin nggak penting, tapi kita bisa ciptain arti kita sendiri.”

Arka mengangguk pelan, terlalu serius untuk anak seusianya. “Om… bijak ya.”

Reyhan terkekeh pelan. “Itu pertama kalinya ada yang bilang aku bijak.”

“Soalnya Om ngerti apa yang aku rasain.”

Hening.

Alya merasakan dadanya sesak. Percakapan ini terlalu dalam, terlalu personal, terlalu… intim. Ia melihat cara Reyhan menatap Arka bukan lagi dengan penasaran atau curiga, tapi dengan kepedulian yang tulus. Tidak. Jangan terlalu dekat. Jangan mulai peduli. Batin Alya berteriak.

Pukul sembilan pagi, setelah Reyhan berangkat kerja, Alya duduk di sofa dengan kepala bersandar, matanya tertutup, napasnya berat. Arka duduk di sampingnya, membawa buku baru tentang mekanika kuantum yang entah dari mana ia dapatkan.

“Mama kenapa?” tanya Arka pelan.

“Nggak apa-apa, sayang. Mama cuma capek.”

“Mama bohong.”

Alya membuka mata, menatap anaknya. “Kok Mama bohong?”

“Kalau Mama capek, biasanya Mama langsung tidur siang. Tapi sekarang Mama cuma duduk sambil mikir. Berarti Mama lagi khawatir sesuatu.”

Alya terdiam. Kadang ia lupa betapa tajamnya Arka membaca emosi orang. “Arka… kamu suka Om Reyhan?”

Arka berpikir sejenak, lalu mengangguk. “Suka. Dia satu-satunya orang dewasa yang ngerti aku ngomong apa. Biasanya orang dewasa suka ngeremehin aku atau bilang aku aneh. Tapi Om Reyhan… dia nganggep aku serius.”

Hati Alya seperti diremas. “Kalau… kalau suatu saat Om Reyhan pergi, Arka sedih nggak?”

Arka menatap ibunya dengan tatapan yang terlalu dewasa. “Kenapa Om Reyhan mau pergi? Dia kan udah nikah sama Mama.”

“Tapi… ini pernikahan kontrak, sayang. Suatu saat mungkin berakhir.”

Arka terdiam lama. Lalu ia berkata dengan nada datar, “Kalau Om Reyhan pergi, aku sedih. Tapi aku ngerti. Orang dewasa sering pergi. Aku udah biasa ditinggal.”

Air mata menggenang di mata Alya. Ia menarik Arka ke dalam pelukannya erat, seolah tak ingin melepas. “Maaf, sayang. Maaf Mama nggak bisa kasih kamu keluarga yang utuh.”

“Nggak apa-apa, Mama. Yang penting aku punya Mama. Itu cukup.”

Tapi Alya tahu itu tidak cukup. Arka pantas mendapat lebih dari itu.

Pukul tiga sore, di kantor Reyhan yang luas dengan pemandangan kota dari jendela besar, pria itu duduk diam. Laptop terbuka, tapi ia tak fokus bekerja. Pikirannya terus kembali pada Arka cara anak itu bicara, berpikir, bahkan cara menatap. Terlalu mirip.

Ia membuka laci meja kerjanya, mengeluarkan amplop cokelat tua yang sudah lama tersimpan. Di dalamnya, foto-foto dari enam tahun lalu. Foto seorang wanita muda dengan senyum hangat, rambut tergerai, mata berbinar. Reyhan menarik satu foto wanita itu sedang tertawa lepas.

Ia menatap foto itu lama.

Lalu membuka ponselnya, mencari foto Alya foto yang ia ambil diam-diam saat proses lamaran, katanya untuk arsip. Ia meletakkan kedua foto berdampingan di meja.

Senyumnya mirip. Bentuk matanya mirip. Bahkan cara bibir melengkung… mirip.

Tapi wanita di foto lama lebih muda, lebih riang, lebih hidup. Alya sekarang lebih tenang, lebih dewasa, lebih… lelah.

Apakah kamu… Zara?

Reyhan mengambil ponselnya, mengetik pesan pada asisten pribadinya:

[Reyhan]: Cari data karyawan magang tahun 2019. Divisi IT. Nama: Zara atau Zahra. Kirim hasilnya secepatnya.

Ia menekan kirim, lalu bersandar di kursinya, menatap langit-langit dengan pikiran kacau.

Kalau kamu memang Zara… kenapa kamu nggak bilang? Kenapa kamu diam saja?

Dan Arka… kalau dia anakku… kenapa kamu sembunyikan?

Pukul enam sore, Alya sedang memasak di dapur ketika mendengar suara mobil masuk garasi. Ia melirik jam pukul enam. Lebih cepat dari biasanya. Pintu terbuka, Reyhan masuk dengan langkah tergesa. Wajahnya tegang, rahang mengeras. Ia melepas sepatu, meletakkan tas kerjanya di sofa, lalu berjalan langsung ke dapur.

“Alya.”

Nada bicaranya serius terlalu serius.

Alya mematikan kompor, berbalik menghadapnya dengan hati berdebar. “Ya, Om?”

“Kita harus bicara.”

“Tentang apa?”

Reyhan menatapnya tajam. Mata cokelat gelapnya penuh pertanyaan yang sudah terlalu lama dipendam. “Tentang siapa kamu sebenarnya.”

Alya merasakan darahnya seperti membeku. “A-aku nggak ngerti”

“Zara,” potong Reyhan, suaranya rendah tapi tegas. “Kamu… Zara, kan?”

Hening mencekam.

Alya merasakan seluruh dunianya runtuh. Ia membuka mulut, tapi tak ada suara yang keluar.

Dan Reyhan tahu. Dari keheningan itu, dari tatapan panik di mata Alya, dari cara tubuhnya menegang ia tahu jawabannya.

“Kamu memang Zara,” bisik Reyhan, suaranya bergetar antara marah dan terluka. “Wanita yang aku tinggalkan enam tahun lalu. Wanita yang hilang tanpa jejak. Wanita yang…”

Ia terdiam, matanya menyipit. “Dan Arka… dia”

“Jangan,” potong Alya cepat, suaranya bergetar. “Jangan lanjutin, Om. Kumohon.”

“Arka itu anakku, kan?”

Air mata jatuh dari mata Alya akhirnya, setelah enam tahun menyimpan rahasia, setelah enam tahun hidup dalam kebohongan, semuanya runtuh.

Ia mengangguk pelan sangat pelan tapi cukup untuk membuat dunia Reyhan berhenti berputar.

“Ya,” bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. “Arka… anakmu.”

Reyhan mundur selangkah seperti baru saja dipukul. Wajahnya berubah dari terkejut, menjadi marah, lalu menjadi… hancur.

“Kenapa?” tanyanya, suaranya parau. “Kenapa kamu nggak bilang?”

Alya tak bisa menjawab. Ia hanya menangis menangis untuk semua rasa sakit, semua ketakutan, semua keputusasaan yang ia simpan selama enam tahun.

Dan Reyhan, untuk pertama kalinya sejak dewasa, merasakan hatinya benar-benar remuk.

1
tia
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!