Seorang remaja laki-laki yang masih bersekolah SMA terpaksa menerima permintaan sang mommy untuk menikah dadakan dengan anak mantan supirnya. Apakah sang anak akan menerimanya?.
Sedangkan sang mempelai perempuan tidak tahu siapa yang akan menikahinya. Dia sudah tak sadarkan diri ketika ijab qobul itu terjadi.
Entah mimpi apa aku semalam, dari seorang lajang sekarang sudah beristri.
-Greyvanno Alexander Geraldy
Siapa dia? benarkah suamiku?
-Naretta Andara Ibrahim
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winda keenandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 25
Setelah saling sapa, pak Yusuf segera membersihkan diri dan bersiap untuk melaksanakan sholat maghrib di mushola seberang rumah. Vanno juga ikut bersama ayah mertuanya. Mereka biasanya akan kembali setelah Isya'.
Sementara itu, Retta segera menyiapkan makan malam. Dia dan ibunya tadi sudah memasak bebek goreng dengan sambal ijo dan lalapan. Vanno sudah mulai terbiasa dengan menu makanan yang dimasak oleh Retta. Lidahnya sudah mulai hafal dengan cita rasa masakannya.
Pukul 19.25, Vanno dan pak Yusuf tiba di rumah. Mereka segera makan malam bersama sambil sesekali bercerita.
Setelah makan malam, mereka berkumpul di teras depan sambil bercerita. Pak Yusuf banyak menceritakan susah senang kehidupannya dulu bersama keluarganya. Belum selesai bercerita, hujan tiba-tiba turun dengan deras. Mereka segera masuk dan mengunci pintu serta jendela.
Retta melihat jam dinding masih menunjukkan pukul 21.10. Retta mendudukkan diri dikasurnya sambil memainkan ponsel. Sementara itu, di luar hujan turun semakin deras.
Ceklek. Vanno membuka pintu kamar Retta dan segera berjalan menuju tempat tidur. Melihat suaminya sudah berganti pakaian, Retta segera mengambil baju tidur dari lemari bajunya. Dia mengambil baju tidurnya dulu ketika masih di rumah itu kemudian pergi ke kamar mandi untuk mengganti baju.
Setelah selesai, Retta segera kembali ke kamar. Dilihatnya Vanno tengah memainkan ponsel sambil bersandar di kepala ranjang. "Eehhmm maaf Mas, tempat tidurnya kecil. Aku akan tidur di kamar ibuk, biar mas Vanno tidak kesempitan nanti." kata Retta sambil berbalik.
"Tidak usah." Jawab Vanno. "Tidurlah di sini, tidak apa-apa. Jangan buat orang tuamu berpikir yang tidak-tidak tentang kita" lanjutnya.
Mendengar jawaban Vanno, Retta segera mengangguk. Dia juga tidak ingin orang tuanya berpikir macam-macam tentang pernikahannya jika dia harus tidur terpisah dengan suaminya. Retta berjalan mendekat dan segera merangkak naik di atas tempat tidur.
Vanno menggeser tubuhnya agar Retta bisa berbaring. Dan, fix. Mereka saling menempel. Guling yang semula berada di samping Vanno, kini sudah teronggok di lantai kamar. Tidak muat.
"Ehhmm apa ini tidak terlalu sempit Mas?" tanya Retta sambil menoleh ke arah Vanno.
"Tidak" Jawab Vanno. " Berbaliklah" perintahnya.
Retta mengerutkan kening, tapi segera menuruti perintah Vanno. Mungkin akan lebih luas jika tidur saling membelakangi, batin Retta.
Belum sempurna Retta membalikkan badan, sebuah tangan sudah melingkar di pinggangnya. Sontak Retta membulatkan mata dan hendak bersuara. Namun, Vanno sudah membungkam mulutnya dengan telapak tangan.
"Jangan berteriak!" perintahnya. "Bapak dan ibuk akan bangun nanti jika kamu berteriak." lanjutnya sambil masih membungkam mulut Retta.
Retta mengangguk, seketika itu Vanno melepaskan tangannya dari mulut Retta. "Ap-apa yang mas Vanno lakukan?" tanya Retta yang semakin gugup.
Saat itu, posisi Vanno sudah menempel pada tubuh bagian kanan Retta dengan kaki kanan sudah menindih kaki Retta.
"Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi seorang suami." Kata Vanno tiba-tiba. "Aku sudah mulai bisa menerimamu sebagai istri. Mulai sekarang, bisakah kita bertindak sebagai suami istri beneran?" tanya Vanno.
Deg.
Jantung Retta seakan berhenti berdetak beberapa saat, kemudian disusul detak jantung yang semakin cepat tak karuan hingga membuatnya pening.
Dia tidak bisa berpikir jernih dengan posisi seperti itu, dimana wajah Vanno yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya. Retta bahkan bisa merasakan deru nafas Vanno yang memburu.
Tanpa diduga, Vanno mendekatkan wajahnya pada wajah Retta. Bibirnya menempel pada bibir Retta. Satu detik, dua detik, tiga detik, bibir Vanno mulai bergerak. Dari yang semula diam, kini berubah menjadi s*d*t*n, l*m*t*n, bahkan Vanno terlihat sudah sangat ahli.
Retta masih membulatkan mata dengan lebar karena shock. Dia hanya bisa diam tak bergerak. Dia bingung bagaimana membalas perlakuan Vanno. Bibirnya masih diam tertutup rapat.
Tangan Vanno tak tinggal diam, dia mencari-cari squishy Retta dan m*r*m*snya dengan kuat.
Aaauugghhhh Aahhhhhh. Lenguh Retta sambil meremas bahu Vanno.
.
.
.
.
.
Tahan dulu ya….🤭🤭
Mau dilanjutin apa ndak nih?