Aku hanyalah setetes air di tengah samudra luas.Melangkah di dunia ini semata-mata agar tetap merasa hidup.
Dengan pedang di tanganku, aku menolong mereka yang terjatuh.
Aku menebas musuh, menghabisi iblis, dan menghadang kegelapan.
Namun aku ragu…Mampukah aku menyelamatkan diriku sendiri?
Dengan kekuatan yang bahkan mampu menumbangkan naga,
Akulah legenda yang bangkit dari darah dan luka—Sang Legenda Naga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Murka Alam dan Saksi-Saksi Langit
Langit di atas Lembah Kematian Abadi tidak lagi sekadar gelap; ia seolah-olah sedang robek oleh amarah dua entitas yang melampaui logika manusia.
Pertemuan antara Qi ungu milik Tian Shan dan energi purba sang naga menciptakan anomali cuaca yang mengerikan.
Hujan turun dengan sangat deras, namun airnya terasa panas seperti air mendidih karena uap dari napas naga, sebelum membeku menjadi pecahan es tajam akibat teknik dimensi Tian Shan.
Badai petir menyambar setiap detik, menyinari sisik naga yang berkilat dan wajah Tian Shan yang tetap tenang namun penuh konsentrasi.
Dari bentrokan energi mereka, lahir tujuh tornado raksasa yang menyapu apa pun yang tersisa di lembah tersebut, mengangkat bongkahan batu sebesar rumah ke angkasa dan menghancurkannya menjadi debu dalam sekejap.
Di perbatasan lembah yang jaraknya bermil-mil jauhnya, cahaya-cahaya kecil mulai bermunculan di puncak-puncak bukit.
Mereka adalah para pendekar tingkat tinggi—para master sekte, pertapa tua, dan jenius muda yang merasakan getaran ini hingga ke ujung benua.
Mereka datang untuk menyaksikan legenda yang sedang tercipta, meski mereka harus menggunakan pelindung Qi terkuat hanya untuk tidak terlempar oleh angin badai.
"Siapa yang berani menantang naga purba itu?" bisik seorang tetua dari Sekte Awan Abadi, wajahnya pucat saat melihat bayangan raksasa di balik kabut.
"Lihat siluet itu," sahut pendekar lain yang pernah berada di Kota Seribu Gerbang. "Itu pria yang bermain catur dengan santai di alun-alun kota beberapa waktu lalu. Pria yang dengan mudahnya masuk ke sekte. Dia benar-benar Sang Legenda Naga."
Para saksi itu hanya bisa terpaku, merasa seperti semut yang melihat dewa sedang bertarung.
Bagi mereka, Tian Shan bukan lagi sekadar manusia; ia adalah kekuatan alam yang terbungkus dalam jubah hitam dan putih yang kini berkibar liar di tengah tornado.
Naga Kuno itu mengeluarkan raungan yang membelah awan, menciptakan gelombang suara yang meruntuhkan sisa-sisa gunung di sekitarnya.
Dengan gerakan yang brutal, sang naga melilitkan tubuhnya di sekeliling salah satu tornado, mengubahnya menjadi bor raksasa berisi energi penghancur yang diterjangkan ke arah Tian Shan.
Tian Shan tidak mundur. Ia memegang Pedang Pemecah Langit dengan kedua tangan, membiarkan rambut panjangnya tertutup air hujan dan darah yang mengalir dari pelipisnya. Ia memusatkan seluruh Qi ke dalam bilah kristalnya.
"Teknik Dimensi: Tebasan Pembelah Ruang!"
Tian Shan mengayunkan pedangnya secara horizontal.
Sebuah garis ungu tipis memotong tornado raksasa itu menjadi dua bagian, sekaligus memberikan luka dalam pada sisik leher sang naga.
Darah naga yang berwarna emas panas menyembur keluar, terbawa angin badai dan menciptakan hujan emas yang membakar hutan di bawahnya.
Naga itu menjerit kesakitan, cakarnya yang masif berhasil menyambar bahu Tian Shan dan menghempaskannya ke dasar lembah yang kini telah menjadi rawa magma dan air hujan yang bergejolak.
Tian Shan merangkak keluar dari kawah magma, tubuhnya penuh dengan luka bakar dan sayatan, namun matanya masih memancarkan ketenangan yang sama saat ia bermain catur dengan Tuan Lu.
Ia berdiri tegak di tengah hujan yang kini berubah menjadi badai es, menatap ke arah naga yang sedang berputar-putar di langit, mengumpulkan energi untuk serangan pemungkasnya.
Para pendekar yang menyaksikan dari kejauhan menahan napas.
Mereka tahu bahwa apa yang terjadi selanjutnya bukan lagi tentang kemenangan, melainkan tentang apakah dunia ini sanggup menanggung sisa dari pertempuran dua makhluk ini.
"Aku datang untuk jawaban," bisik Tian Shan, suaranya tetap terdengar jelas meski di tengah gemuruh tornado. "Dan aku tidak akan membiarkan badai ini meredam pertanyaanku."
Ia kembali melesat ke atas, menembus mata badai, menuju ke arah mulut naga yang sudah mulai bercahaya oleh api abadi yang siap dilepaskan.