Kai hidup dalam dunia tanpa warna, terperangkap dalam musim dingin abadi di hatinya. Namun, sebuah melodi piano misterius mulai mencairkan es yang membungkus rahasia masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: KOTA DENGAN SERIBU WAJAH DINGIN
Ibu kota tidak menyambut Kai dengan pelukan. Kota itu menyambutnya dengan hantaman sensorik yang brutal. Saat pintu kereta terbuka di Stasiun Sentral, suara deru mesin, pengumuman otomatis yang menggema, dan ribuan langkah kaki yang terburu-buru menyerbu indra pendengaran Kai seperti kawanan lebah yang marah.
Jika Oakhaven adalah sebuah puisi melankolis yang tenang, maka ibu kota adalah sebuah mesin industri yang tidak pernah tidur.
Kai melangkah keluar dari peron, tangannya secara insting mencengkeram erat tali ranselnya. Di sini, langit tidak lagi abu-abu karena salju, melainkan abu-abu karena polusi dan bayang-bayang gedung pencakar langit yang seolah-olah berusaha saling mendahului untuk menyentuh awan. Bagi Kai, pemandangan ini jauh lebih menyesakkan. Di Oakhaven, ia bisa bernapas dalam kesepiannya; di sini, ia merasa tercekik di tengah kerumunan.
Ia menghentikan sebuah taksi. "Rumah Sakit St. Jude. Paviliun Kristal," ucapnya pada sopir yang bahkan tidak menoleh ke arahnya.
Sepanjang perjalanan, Kai menempelkan wajahnya ke kaca jendela. Jalanan ini... ia mengenalnya. Setiap tikungan, setiap papan reklame neon yang berkedip (yang di matanya hanya tampak seperti kilatan cahaya putih yang menyakitkan), dan setiap persimpangan jalan membawa kembali memori yang ia coba kubur sedalam mungkin.
Taksi itu melewati sebuah persimpangan besar. Kai memejamkan matanya rapat-rapat. Jantungnya berdegup kencang, keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. Itu adalah persimpangan itu. Tempat di mana dunianya hancur tiga tahun lalu. Ia bisa merasakan hantu dari bau bensin dan suara kaca yang pecah kembali menghantui hidung dan telinganya.
"Kita sampai, Mas," suara datar sopir taksi membuyarkan lamunan buruknya.
Kai membayar dan keluar. Rumah Sakit St. Jude tampak seperti benteng kaca yang angkuh. Paviliun Kristal adalah area eksklusif bagi mereka yang memiliki uang atau, dalam kasus ibunya, bagi mereka yang dijadikan pion dalam permainan Yudha.
Di dalam, udara berbau antiseptik yang tajam. Kai berjalan menyusuri lorong-lorong putih yang steril hingga ia sampai di depan kamar 402. Ia berhenti sejenak di depan pintu kayu jati yang elegan itu. Ia meraba kunci perak di sakunya, mencari kekuatan dari "kehadiran" Elara yang ia tinggalkan di Oakhaven.
Dengan tangan gemetar, ia mendorong pintu.
Ruangan itu sangat sunyi. Di tengahnya, seorang wanita paruh baya terbaring di atas tempat tidur medis yang canggih. Tubuhnya tampak jauh lebih kecil dan lebih rapuh daripada yang diingat Kai. Rambutnya yang dulu tebal kini menipis dan memutih.
"Ibu..." bisik Kai.
Wanita itu perlahan membuka matanya. Butuh waktu beberapa detik bagi fokus matanya untuk mengenali sosok yang berdiri di depannya. Saat kesadaran itu muncul, sebuah senyum lemah namun sangat tulus terukir di wajahnya yang pucat.
"Kai? Benarkah itu kau, Nak?" suaranya hanya berupa bisikan halus.
Kai mendekat dan berlutut di samping tempat tidur, menggenggam tangan ibunya yang terasa seringan kertas. "Iya, Bu. Ini Kai. Aku pulang."
"Kau... kau tampak sangat lelah," tangan ibunya yang gemetar terangkat untuk menyentuh pipi Kai. "Matamu... apakah kau masih belum bisa melihat warna, Sayang?"
Kai terdiam sejenak. Ia tidak ingin berbohong, tapi ia juga tidak ingin menambah beban ibunya. "Sedikit, Bu. Aku melihat kuning kemarin. Dan sedikit ungu di Oakhaven. Ada seorang teman yang membantuku."
Ibunya tersenyum lagi. "Syukurlah. Ibu selalu berdoa agar kau menemukan seseorang yang bisa menunjukkan padamu bahwa dunia ini tidak seburuk yang kau pikirkan."
Mereka berbicara dalam waktu yang lama, atau setidaknya, Kai yang lebih banyak bercerita tentang Oakhaven—tentang salju, tentang kafe 'The Last Note', dan tentu saja, tentang Elara. Ia sengaja tidak menyebutkan tentang Yudha atau sketsa Lumina. Ia ingin momen ini tetap murni, jauh dari kotoran intrik korporat.
Namun, kebahagiaan itu segera terinterupsi.
Pintu kamar terbuka tanpa ketukan. Seorang perawat masuk diikuti oleh seorang pria berseragam medis yang tampak sangat otoriter.
"Maaf, Pak Kai? Saya Dokter Adrian," ucap pria itu. "Bisa kita bicara sebentar di luar?"
Kai mengecup kening ibunya dan melangkah keluar ke lorong. Ekspresi dokter itu tidak terlihat menjanjikan.
"Bagaimana keadaannya, Dok?"
"Secara fisik, ibumu sangat lemah. Gagal ginjal kronisnya sudah memasuki stadium lanjut. Perawatan di sini memang bisa memperpanjang waktunya, tapi tanpa transplantasi dan dukungan medis yang konstan... kemungkinannya kecil." Dokter itu mengamati Kai. "Saya diberitahu oleh Pak Yudha bahwa semua biaya sudah ditanggung, namun ada beberapa dokumen persetujuan tindakan berisiko tinggi yang harus Anda tanda tangani sebagai wali sah."
Kai menatap dokumen di tangan dokter itu. Ia tahu ini adalah "tali" yang digunakan Yudha untuk mengikatnya. Yudha memberinya fasilitas ini bukan karena belas kasihan, tapi untuk memastikan Kai tetap dalam kendalinya.
"Saya akan menandatanganinya," kata Kai. "Tapi saya ingin memastikan tidak ada orang dari perusahaan 'Lumina Corp' yang mengganggu ibu saya tanpa izin saya."
"Tentu, Pak Kai. Itu hak Anda."
Setelah dokter itu pergi, Kai berdiri sendirian di lorong yang sunyi. Ia merasa seperti terjebak di antara dua dunia. Di satu sisi, ia ingin tetap di sini menjaga ibunya. Di sisi lain, ia tahu bahwa setiap detik ia berada di kota ini, Yudha akan terus menekannya untuk menyerahkan sketsa asli itu.
Ia berjalan menuju kantin rumah sakit untuk mencari udara segar. Saat ia duduk di sebuah bangku panjang, ia mengeluarkan ponselnya. Ia merindukan pesan dari Elara. Namun, saat ia melihat layar ponselnya, ia menyadari sesuatu yang aneh.
Ada sebuah panggilan tak terjawab dari nomor yang tidak dikenal. Dan sebuah pesan singkat:
*Jangan percaya pada apa yang kau lihat di rumah sakit itu, Kai. Tidak ada yang gratis di kota ini. Temui aku di galeri tua dekat taman kota pukul sepuluh malam. Datanglah sendirian jika kau ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada ayahmu.*
Pesan itu tidak memiliki nama pengirim.
Kai menatap layar ponselnya dengan bingung. Galeri tua? Ayahnya? Apakah masih ada rahasia lain yang lebih besar dari sketsa Lumina?
Ia teringat kata-kata Elara: *"Gunakan telingamu untuk mendengar kebenaran."*
Kai tahu ia sedang berjalan masuk ke dalam jebakan lain, namun rasa haus akan kebenaran kini lebih kuat daripada rasa takutnya. Ia kembali ke kamar ibunya, mematikan lampu, dan duduk di sampingnya dalam kegelapan.
Di bawah cahaya lampu jalan yang masuk melalui celah gorden rumah sakit, Kai mengeluarkan sebatang arang dari sakunya. Ia mengambil tisu makan dari meja dan mulai membuat sketsa wajah ibunya yang sedang tertidur.
Garis-garisnya tajam dan penuh emosi. Dan saat ia menggambar bagian mata ibunya, Kai merasa saraf matanya berdenyut lagi. Kali ini, ia melihat warna hijau. Hijau yang sangat pucat, seperti warna daun muda yang baru tumbuh di musim semi.
Ia menyentuh sketsa itu. "Aku akan menyelesaikan ini, Bu. Aku akan membawa warna kembali ke rumah ini."
Malam pun jatuh di ibu kota, membawa serta rahasia-rahasia baru yang siap menerkam Kai di kegelapan galeri tua. Dan di Oakhaven, seorang wanita sedang menatap piano yang sunyi, merasakan badai yang mulai bergerak menjauhi kotanya dan menuju ke arah pria yang ia cintai.