Andreas St. Clair adalah definisi dari kesempurnaan yang arogan. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris dinasti elit New York, ia tidak memiliki toleransi untuk kegagalan atau amatirisme. Baginya, film terbarunya hanyalah bisnis biasa, hingga ia dipasangkan dengan Seraphina Vanderbilt, Terkenal Gadis Manis Manhattan yang reputasinya sebersih salju.
Ketegangan memuncak di lokasi syuting saat adegan ciuman mereka gagal hingga enam kali.
Andreas, yang muak dengan kekakuan Seraphina, menghina bakat dan profesionalitasnya di depan semua orang. Namun, Andreas tidak tahu bahwa di balik sikap dingin Seraphina, tersimpan sebuah rahasia, itu adalah ciuman pertamanya, baik di depan kamera maupun dalam hidupnya.
Terluka dan dipicu amarah, Seraphina melepaskan topeng "gadis baik-baik" miliknya. Dia menantang ego Andreas dengan keberanian yang belum pernah dilihat dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Pagi itu, ketenangan di apartemen Tribeca kembali terusik oleh panggilan telepon dari Erick. Sang manajer dengan nada panik memperingatkan Andreas agar tetap netral. Strategi manajemen sangat jelas, jangan memihak Sera ataupun Veris demi menjaga kestabilan saham dan meredam spekulasi yang bisa merusak peluncuran film.
Andreas sempat ingin mendebat, namun Sera yang sedang bersandar di dadanya justru mengangguk setuju. "Erick benar, Andreas. Jika kau terang-terangan membelaku sekarang, publik akan menganggap ku sebagai penyebab batalnya pernikahan Veris. Biarkan badai ini reda sedikit demi sedikit," bisik Sera dengan dewasa.
Andreas akhirnya setuju, meski hatinya berat. Namun, rencana untuk tetap low profile hari itu langsung hancur berantakan oleh tamu yang tidak terduga.
Di dapur, Sera sedang mencoba memasak sarapan, sesuatu yang sangat jarang ia lakukan. Ia mengenakan kemeja putih kebesaran milik Andreas yang hanya menutupi sampai paha. Andreas sendiri, yang baru saja bangun dan merasa sangat nyaman, hanya mengenakan celana training abu-abu, membiarkan dada bidang dan perut six-pack-nya terekspos bebas.
Andreas berjalan mendekat, melingkarkan lengannya yang kokoh di pinggang Sera dari belakang, dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Sera yang harum.
"Baunya enak, tapi kurasa aku lebih lapar padamu daripada pada telur ini," gumam Andreas dengan suara bariton yang serak dan seksi, sambil memberikan kecupan-kecupan basah di bahu Sera.
Tepat saat Sera tertawa kecil dan mencoba melepaskan pelukan mesra itu, terdengar bunyi kunci pintu yang terbuka.
Clak!
"Sera, Sayang! Mommy lupa memberi tahu kalau sedang ada di New York dan..."
Mommy Elysa yang sedang berdiri di ambang pintu, menatap pemandangan yang sama sekali tidak ada dalam jadwal kunjungannya hari ini.
Waktu seolah membeku di dapur apartemen Sera. Aroma telur dadar yang mulai sedikit gosong di penggorengan kalah menyengat dibanding ketegangan yang tiba-tiba memenuhi ruangan.
Mommy Elysa menurunkan kacamata hitamnya dengan gerakan yang sangat perlahan, menunjukkan mata tajamnya yang telah melihat ribuan drama di kalangan elit Manhattan. Ia menatap putrinya yang mengenakan kemeja pria, lalu beralih ke tangan Andreas yang masih melingkar protektif di pinggang Sera.
"Andreas St. Clair," ucap Mommy Elysa, suaranya tenang namun memiliki nada otoritas yang membuat siapa pun ingin duduk tegak. "Terakhir kali kita bertemu di acara amal Metropolitan, kau mengenakan setelan tuxedo rancangan Tom Ford. Sekarang... kulihat kau lebih suka gaya yang lebih... minimalis."
Andreas, yang biasanya sangat tenang menghadapi kamera, sempat berdehem canggung. Namun, sebagai seorang St. Clair, ia tidak membiarkan dirinya terlihat gemetar. Bukannya melepaskan Sera, ia justru mempererat pelukannya sejenak sebelum perlahan melepaskannya untuk memberikan salam yang sopan.
"Nyonya Elysa," sapa Andreas dengan suara baritonnya yang mantap. "Maaf atas ketidaksopanan saya. Saya tidak menyangka Anda akan berkunjung pagi ini."
"Mommy! Kenapa tidak menelepon dulu?" Sera akhirnya berhasil menemukan suaranya. Ia dengan panik mematikan kompor dan mencoba merapikan kemeja kebesaran yang ia pakai.
Mommy Elysa melangkah masuk ke dapur, meletakkan tas Hermes-nya di atas meja marmer dengan dentuman pelan yang terasa seperti palu hakim.
"Mommy ingin memberi kejutan. Tapi sepertinya, Mommy yang mendapatkan kejutan terbesar di New York minggu ini."
Pandangan Elysa kembali tertuju pada Andreas yang masih bertelanjang dada, memamerkan fisik atletisnya yang bermandikan cahaya matahari pagi. Sebagai wanita yang paham betul tentang dunia media, ia segera menyambungkan titik-titik yang ada.
"Berita di luar sana sedang menggila tentangmu dan model itu siapa namanya? Veris?" Elysa duduk di kursi bar dapur sambil menyilangkan kakinya yang anggun.
"Tapi di sini, di apartemen putriku, aku justru melihat naskah yang sama sekali berbeda."
Andreas mengambil sebuah kaos polos dari kursi dekat sana dan memakainya dengan tenang, meskipun aura intimidasi dari Mommy Elysa begitu kuat. Ia berdiri di samping Sera, bahu mereka bersentuhan.
"Pihak manajemen memang meminta kami untuk diam, Nyonya Elysa," Andreas memulai, suaranya terdengar sangat jujur. "Tapi apa yang Anda lihat di sini bukan bagian dari promosi film. Seraphina adalah wanita yang saya pilih, terlepas dari apa yang dikatakan media atau foto pemotretan yang baru saja terbit."
Sera menoleh ke arah Andreas, hatinya berdesir mendengar pengakuan berani itu di depan ibunya. Ia tahu Andreas mempertaruhkan banyak hal dengan bicara sejujur itu.
Mommy Elysa terdiam sejenak, memperhatikan dinamika antara keduanya. Ia melihat bagaimana putrinya menatap Andreas, tatapan yang belum pernah ia lihat selama Sera berkencan dengan pria manapun sebelumnya. Ada binar penuh cinta, namun juga ada rasa takut akan kehilangan.
"Andreas, kau tahu kan keluarga Vanderbilt tidak suka menjadi bumbu gosip murahan?" tanya Mommy Elysa dengan nada menyelidik. "Terutama saat kau baru saja merilis foto yang begitu... intim dengan wanita lain kemarin."
"Saya tahu," jawab Andreas tanpa ragu. "Dan saya pastikan, tidak akan ada satu pun dari gosip itu yang akan menyentuh atau menyakiti Sera. Saya yang akan menghadapinya."
Mommy Elysa menghela napas panjang, lalu tiba-tiba sebuah senyum tipis, hampir tak terlihat muncul di bibirnya yang dipulas lipstik merah matte. "Baiklah. Karena telurnya sudah gosong, kurasa kalian harus mengajak Mommy sarapan di luar. Dan Andreas... pakailah baju yang pantas. Aku tidak mau wartawan memotret menantuku maksudku, teman dekat putriku, seperti pria yang baru saja kabur dari sasana tinju."
Sera membelalak mendengar kata menantu yang hampir terucap, sementara Andreas tersenyum penuh kemenangan. Pagi yang kacau itu baru saja berubah menjadi sebuah restu yang tak terduga.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰