NovelToon NovelToon
From Turis To Will You Marry Me

From Turis To Will You Marry Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ws. Glo

David Mendoza adalah pria paling menakutkan dan problematik di Sao Paulo, Brazil. Selain karena ia seorang Chief Executive Officer (CEO) perusahaan minyak dan gas terbesar kedua di negara itu, David merupakan ketua kartel kelas kakap. Sehingga membuatnya amat diwaspadai, baik di dunia bawah tanah maupun dalam pergulatan bisnis. Tidak ada yang berani menyentuhnya.
Sampai pada suatu hari, Laila Cakrawala yang merupakan seorang turis asal Indonesia, membuatnya terpana. Sejak saat itu, David terobsesi untuk mendapatkan Laila yang ternyata sudah menikah.
Tetapi, hubungan rumit itu jelas mendapat banyak tantangan, baik soal perasaan maupun alur kehidupan mereka, meski sekalipun David berhasil memenangkan Laila.

Akankah keduanya berakhir bahagia? Atau malah, sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ws. Glo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(Episode 18) Riwayat hidup wanita malang

Malam turun perlahan di kediaman Mendoza.

Langit Sao Paulo tampak gelap kebiruan, dihiasi lampu kota yang berpendar seperti gugusan bintang jatuh ke bumi. Dari luar, mansion megah itu berdiri anggun dan kokoh.

Di lantai dua, tepat di ujung koridor panjang berlapis karpet marun, terdapat sebuah ruangan yang selalu tertutup rapat.

Ruang kerja David Mendoza.

Ruangan itu luas, maskulin, dan tenang. Rak buku kayu mahoni memenuhi satu sisi dinding, berisi dokumen bisnis, kontrak internasional, dan koleksi buku ekonomi serta strategi perusahaan. Aroma kopi hitam dan kayu tua bercampur samar di udara.

David duduk di kursi kerjanya. Setelan hitamnya masih rapi meski hari sudah larut. Lampu meja menyinari wajah tegasnya, begitupun rahang kuat, mata tajam, dan ekspresi dingin yang hampir selalu ia kenakan di depan dunia.

Ia sedang menatap layar laptop, membaca laporan perusahaan cabang luar negeri.

Ketukan pelan terdengar.

Tok. Tok.

David tidak langsung menoleh. "Masuk," ucapnya singkat.

Pintu terbuka perlahan. Leo masuk dengan langkah tenang.

Sebagai tangan kanan David selama bertahun-tahun, pria itu memahami ritme tuannya tanpa perlu banyak bicara.

Leo berhenti di depan meja kerja. "Maaf mengganggu, Tuan Muda."

David mengalihkan pandangan dari layar. "Ada apa, Leo?"

Tanpa banyak kata, Leo mengulurkan sebuah map cokelat tebal ke atas meja.

David mengernyit. Alisnya sedikit bertaut. Ia menatap map itu beberapa detik sebelum mengambilnya.

"Apa ini?" Nada suara David dipenuhi kebingungan.

Leo menjawab tenang. "Data-data pribadi Nyonya Laila, Tuan Muda."

David langsung mengangkat kepala. Tatapannya tajam. "Padahal aku tidak memintanya darimu."

Leo tersenyum tipis. Sebuah senyum profesional yang nyaris tak terlihat. "Itu karena sejak pertemuan pertama dengan Nyonya Laila… Anda terlihat sangat terobsesi, Tuan."

David terdiam.

Leo melanjutkan dengan hati-hati. "Tetapi Anda belum mengetahui seluk-beluk beliau. Jadi, untuk berjaga-jaga sebelum resepsi pernikahan Anda berdua digelar… saya mencari tahu tentang nyonya Laila."

Keheningan memenuhi ruangan beberapa detik.

Lalu, David tersenyum. Bukan senyum dingin biasanya. Melainkan senyum puas. "Kau memang pantas disebut sebagai tangan kananku, Leo."

Leo sedikit membungkuk. "Terima kasih, Tuan."

David membuka map itu. Suara gesekan kertas terdengar pelan di tengah sunyi malam.

Lembar pertama menampilkan data dasar, seperti: Nama lengkap. Alamat. Riwayat pendidikan.

Foto formal Laila terpampang di pojok dokumen. Wajahnya lembut, bola matanya bulat dan terlihat hangat, serta senyumnya tampak tulus tanpa dibuat-buat.

Tatapan David melembut tanpa ia sadari. Kemudian matanya berhenti pada satu baris. Yakni tanggal lahir.

Sudut bibirnya terangkat. Ia menyeringai kecil. "Ternyata… dia lima tahun lebih muda dariku," batin David lalu bersandar di kursinya. Membayangkan wajah Laila yang sering terlihat ambisius namun rapuh di waktu bersamaan.

"Pantas saja," gumamnya pelan.

David melanjutkan membaca. Tapi perlahan, ekspresinya berubah.

Baris demi baris informasi mulai membentuk gambaran berbeda tentang wanita itu. Tangannya berhenti bergerak. Tatapannya mengeras. Di sana tertulis bawa Laila Cakrawala merupakan putri satu-satunya sekaligus anak kedua dari pemilik brand fashion ternama asal Indonesia, Cakrawalalala.

David mengangkat alis. Ia lumayan mengenal nama tersebut. Brand kelas atas. Eksklusif. Berkelas internasional.

"Anak konglomerat rupanya…" gumamnya. "Kalau memang begitu, kenapa dia meminjam uang lima ratus juta dariku, sementara keluarganya saja sudah seterpandang dan sekaya ini?" David menyipitkan mata.

Namun kalimat berikutnya membuatnya membeku.

Status keluarga: Terputus hubungan.

Alasan: menikah tanpa restu keluarga.

David membaca lebih cepat, keterangan yang tertulis dalam lembaran itu. Laila diusir dari rumah. Bukan disebabkan oleh skandal atau kesalahan bisnis. Melainkan karena memilih menikah dengan seorang pria bernama Dio Hardi. Seorang pria biasa. Anak penjual kue.

"Hidupnya sangat rumit," batin David dengan wajah tegang, sambil fokus menelaah.

Ruangan terasa semakin sunyi. Lampu meja memantulkan bayangan wajah David yang kini serius. Ia sontak membaca bagian berikutnya.

Dimana selain hubungan keluarga yang terputus, Laila juga mengalami berbagai tekanan ekonomi, beban pekerjaan, biaya pengobatan dan operasi suami, setelah ia menikah.

Masalah demi masalah tercatat seperti daftar luka yang tak pernah sembuh. David berhenti membaca. Tangannya perlahan menutup dokumen itu.

Ia menatap kosong ke depan. Pikirannya bergulat. "Bahkan setelah menikah pun, hidupmu tidak pernah mudah, Laila."

Suara batinnya terdengar lirih. David pun menghembuskan napas panjang.

"Wanita yang malang…"

Untuk pertama kalinya sejak lama, David merasakan sesuatu yang berat, mengambang di dadanya.

Bukan ambisi atau keinginan kuat untuk memiliki, seperti yang biasa ia rasakan. Melainkan… iba.

Ia meletakkan dokumen di atas meja. Jari-jarinya mengetuk pelan permukaan kayu. Matanya memandangi foto Laila sekali lagi.

"Baiklah," gumamnya pelan. Nada suaranya rendah namun pasti.

"Kalau suamimu sebelumnya telah banyak membuatmu menderita...," tatapan David langsung berubah hangat. Begitupun dengan senyuman teduh yang mengembang di ujung bibirnya.

"...mari kita jadikan pernikahanmu yang kedua ini bersama David Mendoza lebih membahagiakan, Laila."

**********

Malam pun semakin larut. Jam menunjukkan pukul dua belas lewat. Angin dingin berhembus melewati balkon mansion.

Koridor lantai dua sunyi. Hanya suara langkah pelan David yang terdengar. Entah kenapa, setelah membaca berkas itu, pikirannya tak bisa tenang.

Ada dorongan aneh yang timbul dihatinya, supaya segera ke kamar Laila. Jika biasanya ia ke kesana cuma untuk mengetahui apakah istri kontraknya itu sudah tidur atau belum, kali ini berbeda. Seolah rasa ingin memastikan dan melihat keadaan Laila, lebih menggebu dari biasanya.

Sontak, langkah David berhenti di depan pintu kamar Laila. Ia berdiri beberapa detik. Tangannya hampir mengetuk. Namun ia urung. Pelan-pelan, ia memutar gagang pintu.

Klik.

Pintu terbuka sedikit. Lampu kamar telah redup. Hanya lampu tidur yang menyala, memancarkan cahaya keemasan lembut.

David masuk perlahan. Seakan takut membangunkan mimpi seseorang.

Di atas ranjang besar itu, Laila tertidur. Napasnya teratur. Wajahnya terlihat damai. Jauh berbeda dari ekspresi tegang, takut dan sok tegar yang selalu ia tunjukkan saat sadar.

Selimut menutupi tubuh Laila hingga dada. Rambut panjangnya terurai di bantal.

David berdiri diam. Menatapnya. Tiada terasa, pemandangan itu membuat dadanya hangat.

Laila, wanita yang selalu terlihat kuat itu, ternyata begitu rapuh saat tertidur.

David lantas berjalan mendekat. Langkahnya pelan hampir tanpa suara. Ia lalu duduk di tepi ranjang. Kasur sedikit turun karena berat tubuhnya. Laila bergeming kecil, tapi tidak terbangun.

David menatap wajah Laila lebih dekat. "Bulu matanya lentik. Kulitnya juga halus. Apalagi bibirnya yang sedikit terbuka seiring napas lembut," batinnya.

Tanpa sadar, tangan David bergerak. Ia merapikan helai rambut yang jatuh menutupi wajah Laila. Sentuhannya hati-hati. Seolah menyentuh sesuatu yang sangat berharga.

"Dasar cantik…" bisiknya pelan.

Beberapa menit berlalu.

David tetap duduk di sana. Hanya memandang. Pikirannya kosong. Dan itu merupakan sesuatu yang jarang sekali terjadi pada pria searogan dirinya.

Entah disebabkan oleh lelah atau karena ketenangan yang aneh, intinya kelopak mata David mulai terasa berat.

Ia menguap kecil. "Aku rasanya mau tidur, sebentar saja…" gumamnya.

Tanpa sadar, ia bersandar sedikit. Lalu perlahan, berbaring di samping Laila.

Awalnya menjaga jarak. Namun saat tidur mulai menarik kesadarannya, David refleks menggerakkan tubuhnya.

Lengannya melingkar. Memeluk Laila dari belakang, hingga menimbulkan suasana yang hangat. Aroma lembut rambut wanita itu, memenuhi indranya.

Napas mereka perlahan menjadi selaras. Laila sedikit bergerak dalam tidur. Alih-alih menjauh, ia justru tanpa sadar mendekatkan punggungnya ke sesuatu yang besar dan empuk, yaitu tubuh David. Seolah ia menemukan tempat nyaman.

David yang setengah tertidur pun mengeratkan pelukannya. Wajahnya tenggelam di rambut Laila.

Setelah bertahun-tahun, barulah kali ini David tidur tanpa beban pikiran. Baik mengenai urusan bisnis, strategi maupun perasaan yang kesepian. Hanya ada kehangatan.

Dan di tengah malam yang dingin itu, dua orang yang terikat oleh pernikahan kontrak, saling bercengkrama dibawah balutan selimut tebal.

Di luar, angin malam terus berhembus. Dan tak satu pun dari mereka tahu, bahwa malam ini akan menjadi awal perubahan besar dalam hubungan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!