NovelToon NovelToon
Pawang CEO Galak: Bos, Izinkan Saya Resign!

Pawang CEO Galak: Bos, Izinkan Saya Resign!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:22.1k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Dominic Vance bukan sekadar CEO; dia adalah monster korporat yang menghancurkan perusahaan demi olahraga. Kejam, paranoid, dan tak tersentuh.

​Hanya satu orang yang berani menatap matanya tanpa gemetar: Harper Sloane, sekretaris eksekutifnya yang berhati dingin. Harper membereskan kekacauan Dominic, memegang semua rahasia gelapnya, dan menjadi satu-satunya wanita yang tidak bisa dibeli dengan uang.

​Namun, saat Harper mengajukan pengunduran diri untuk membalas dendam masa lalunya, Dominic tidak memecatnya. Dia mengunci pintu. Baginya, Harper bukan sekadar aset. Dia adalah obsesi.

​"Kau bisa lari ke ujung dunia, Harper. Tapi aku akan membeli tanah tempatmu berpijak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Pengusiran Elegan

​​Suara derap langkah panik dari beberapa pasang sepatu pantofel kulit terdengar mendekat. Siska ternyata tidak hanya kabur, tapi juga berinisiatif memanggil bantuan. Empat orang petugas keamanan berbadan besar dengan seragam serba hitam muncul di ambang pintu ruangan eksekutif itu dengan terengah-engah.

​"Bapak Dominic! Kami dengar ada keributan. Apakah kami perlu mengamankan situasi?" tanya salah satu petugas keamanan dengan dada turun naik.

​Vanessa yang sedari tadi menangis tersedu-sedu sambil menutupi wajah dengan make up

 rusaknya dengan kedua tangan, langsung bereaksi. Dia menurunkan tangannya sedikit, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya yang sudah berserakan di karpet.

​"Kalian orang-orang bodoh! Jangan diam saja!" jerit Vanessa ke arah petugas keamanan. Suaranya serak dan sisa riasannya membuatnya terlihat semakin menyeramkan. "Tangkap wanita barbar itu! Dia baru saja melakukan kekerasan fisik padaku! Dia berniat mematahkan pergelangan tanganku! Aku akan menuntut perusahaan ini!"

​Keempat petugas keamanan itu mematung kebingungan. Mereka menatap Vanessa yang berantakan, lalu beralih menatap Harper yang masih berdiri dengan tenang di belakang meja kerja utama. Wajah Harper tidak menunjukkan tanda-tanda ancaman atau kepanikan. Wanita itu justru terlihat seperti seorang penonton teater yang sedang menunggu tirai panggung ditutup.

​Semua mata kini tertuju pada Dominic, sang penguasa tertinggi Vance Corp. Semua orang menunggu perintah mutlak darinya.

​Dominic memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang untuk melepaskan sisa-sisa ketegangan. Ketika dia membuka matanya kembali, pandangannya langsung melewati Vanessa seolah-olah wanita sosialita itu hanyalah seonggok udara kosong. Dia menatap lurus ke arah Harper.

​"Harper," panggil Dominic. Suaranya kembali sedingin es, khas gaya seorang CEO yang sedang membicarakan bisnis penting. "Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk memulihkan seluruh laporan kuartal pertama dari server cadangan yang kau buat tadi?"

​Harper menaikkan sebelah alisnya, sedikit terkejut dengan perubahan sikap bosnya. Tapi dia segera menangkap maksud Dominic. Wanita itu pun membalas dengan nada yang sama formalnya.

​"Aku butuh waktu sekitar dua jam penuh tanpa gangguan dari siapa pun, Pak. Aku juga perlu melakukan sinkronisasi ulang dengan seluruh jaringan bank sentral. Dan tentu saja, kau belum mentransfer uang lembur lima ratus juta rupiah yang kuminta."

​"Potong setengahnya karena kau terlambat lima menit pagi ini," balas Dominic santai tanpa rasa bersalah. Pria itu berjalan memutari meja kerjanya, berdiri tepat di sebelah Harper, dan menatap layar monitor yang menampilkan grafik aman. "Setelah kau selesai memulihkan data, bawakan laporan itu ke meja rapat utama. Jam berapa jadwal pertemuanku dengan dewan direksi sore ini?"

​"Pukul empat tepat, Pak," sahut Harper sambil kembali duduk di kursi kebesarannya tanpa memedulikan tatapan membunuh dari arah lain. "Tapi aku sarankan kau meminta asisten lain untuk membuatkan kopimu. Tanganku pasti sudah sangat lelah menekan keyboard, apalagi bayarannya barusan didiskon seenaknya."

​"Dom!" jerit Vanessa tidak percaya. Wanita itu mengentakkan kakinya ke lantai. "Kau mendengarku atau tidak?! Wanita gila ini baru saja menghinaku! Kenapa kau malah membahas jadwal rapat sialan itu dengan sekretaris gembelmu ini?!"

​Dominic bahkan tidak menoleh sedikitpun. Dia terus menatap layar monitor, seolah tulisan di sana jauh lebih menarik daripada rintihan seorang putri konglomerat .

​"Harper, tolong bilang pada pihak keamanan," perintah Dominic dengan nada luar biasa bosan. "Katakan pada mereka bahwa ada suara bising yang sangat mengganggu di ruanganku. Konsentrasiku hancur berantakan. Aku tidak bisa bekerja di bawah tekanan polusi suara."

​Harper menyunggingkan senyum kemenangan. Wanita itu mengangkat tangan kanannya dan memberi isyarat kecil pada keempat petugas keamanan yang sedari tadi kebingungan di ambang pintu.

​"Kalian dengar sendiri perintah CEO," ucap Harper dengan suara yang sangat tenang dan elegan. "Bawa nona ini keluar dari gedung Vance Corp sekarang juga. Pastikan dia tidak menginjakkan kaki di lobi utama tanpa jadwal resmi. Dan tolong, arahkan dia ke pintu keluar belakang agar tidak mengganggu pemandangan karyawan lain dengan riasan wajahnya yang seperti itu."

​"S-siap, Nona Harper!"

​Keempat petugas keamanan itu langsung bergerak cepat. Tanpa basa-basi lagi, mereka memegang kedua lengan Vanessa dengan erat.

​"Lepaskan aku! Beraninya kalian menyentuhku!" jerit Vanessa meronta-ronta dengan sisa tenaga yang dia miliki. Kuku panjangnya berusaha mencakar lengan para petugas, namun tenaganya sama sekali tidak sebanding. "Dom! Kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini! Ayahku akan menarik sahamnya dari perusahaamu besok pagi juga! Kau akan menyesal!"

​"Sampaikan salam hormatku pada ayahmu," sahut Dominic dingin tanpa menoleh. "Katakan padanya aku bersedia membeli sisa sahamnya jika dia ingin menjualnya besok pagi."

​Vanessa menjerit frustasi. Suara lengkingannya semakin menjauh dan akhirnya hilang saat pintu lift eksekutif di luar sana tertutup rapat.

​Keheningan yang damai akhirnya kembali menyelimuti ruang kerja raksasa tersebut. Sisa kekacauan hanya terlihat dari posisi kursi tamu yang tadi dibanting Dominic dan cangkir kopi yang sudah kosong di atas meja.

​Dominic memutar tubuhnya, bersandar pada tepi meja kayu mahoni itu. Dia melipat kedua tangan di depan dada, menatap Harper yang sedang fokus mengetikkan sesuatu di layar monitor.

​Harper sangat menyadari tatapan intens bosnya itu, tapi dia memilih untuk tidak peduli. Jarinya terus menari lincah di atas keyboard.

​"Kau mengabaikannya," ucap Harper tanpa mengalihkan pandangan. "Wanita itu putri dari pemegang saham terbesarmu. Apa kau tidak takut ancamannya menjadi nyata?"

​"Vance Corp terlalu kuat untuk goyah hanya karena ancaman anak manja," jawab Dominic angkuh. Pria itu terus menatap wajah Harper dari jarak dekat. "Lagi pula, aku punya mesin penjaga aset paling mematikan di dunia yang sedang duduk di kursiku sekarang."

​Harper menghentikan ketikannya sejenak. Dia memutar kursi, menatap balik Dominic dengan wajah datar andalannya. "Aku bukan mesin penjaga. Aku karyawan yang sedang menunggu uang lembur."

​Dominic tersenyum miring. Bukan senyum sinis yang menyebalkan, tapi senyum yang mengandung rasa tertarik yang sangat jelas. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma parfum maskulin bercampur wangi kopi itu tercium samar di hidung Harper.

​"Kau benar-benar tidak peduli, ya?" tanya Dominic pelan. Nada suaranya sedikit menurun, terdengar lebih dalam. "Vanessa adalah calon pengantin idaman banyak pria kaya. Dia cantik, kaya, dan terobsesi padaku."

​"Lalu kenapa tidak kau nikahi saja dia?" balas Harper tanpa minat. "Kalian berdua sangat cocok. Dia tukang drama, dan kau tukang marah. Kalian akan jadi pasangan paling berisik di abad ini."

​"Itu karena aku menunggu reaksimu," sahut Dominic tiba-tiba.

​Harper mengerutkan kening. "Reaksiku? Untuk apa?"

​Mata Dominic menatap lurus ke dalam bola mata cokelat terang milik sekretarisnya itu. Dia mencari setitik saja emosi yang ingin dia temukan di sana.

​"Kau tidak cemburu melihat wanita lain datang ke ruanganku dan mengklaim dirinya sebagai calon istriku?" tanya Dominic dengan nada menuntut.

1
Muft Smoker
Dom ,, kelakuan mu emnk udh kelewat batas ,,
Kalo emnk km tertarik dg Harper tggal ngomong baik2 gx perlu ngrendahin org lain ,,
Kostum Unik
Cuma di novel ini loh karakter cewek gk bego gk penakut gk gentar cm krn ktm lawan nya cowok.. Di novel mana pun mau gmn hbt nya karakter cewek ttp aja mereka melempem pada akhir nya...
Muft Smoker: betul kak ,,
dsini semua tokoh perempuan ny bnr2 nunjukin Kalo mereka bnr2 ras terkuat di bumi ,,
total 2 replies
Naviah
percayalah Dom, sikapmu ini bukanya bikin Harper suka sama kamu tapi bikin menjauh, arogansi mu udah over dosis
Naviah
perlu priksa mata Dominic ya Harper, ban nya gak kenapa napa tapi dibilang bocor🤣
Kostum Unik
Astaghfirullah DomDom.. Kamu mmg udah keterlaluan. Lambemu pengen ku gerus pake ulekan
Naviah
gak habis fikir ban bocor? 🤣
Rlyn
tarik nafas Harper 🤭🤣
Savana Liora: 😄🤭🤭🤭🤭🤣🙏
total 1 replies
Kostum Unik
Sabar sabar sabar ini bulan puasa... Gk ada kan manusia modelan DomDom.. Pasti gk ada. Cuma ada di cerita ini kan kak Savana... /Sob/
Savana Liora: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤭
total 1 replies
Kostum Unik
Luar biasa emg Harper ini. Sabar nya bukan main sm si ogep DomDom
Savana Liora: 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
Naviah
astaga tikus got sebesar anak kucing kena fitnah🤣
Naviah
ya pintar dalam bisnis tapi mines dalam percintaan 🤣
ms. S
dom.. cemburu buta
Muft Smoker
kak Savana ,,
Dominic kasih liburan dlu deh ,,
biar fresh jiwa dn raga ny ,,
gx usah jauh2 ,,
kirim k Amazon aj laa ,,
bikin rusuh trus soalny🤭🤭🤣🤣🤣
Muft Smoker: 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 2 replies
This Is Me
Kak Savana, bisa gak nih Harper lepas aja dari Dom. Sekali ini tokoh cowoknya sakit jiwa beneran. Kasian Harper
Savana Liora: lupa ya kalo judulnya pawang.

kayak pawang ular 🤣🤣
total 3 replies
Maria Lina
hellooo sapa lo pacar bukan istri ap lgi.herper bkn budok lo tau dsr ego lo
Savana Liora: 🤣🤣🤣🤣🤭🤭
total 1 replies
Maria Lina
hellooo sapa lo pacar bukan istri ap lgi.herper bkn budok lo tau dsr ego lo1
Sastri Dalila
si dom² ada aja usaha nya
Savana Liora: namwnya jg usaha 🤣🤣
total 1 replies
Sastri Dalila
si dom²😂😂
Sastri Dalila
🤣🤣🤣
Kostum Unik
🤣🤣🤣 Harper kalau nanti dia cinta dan bucin sama kau. Itu anugerah apa musibah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!