Mirasih gadis yatim piatu yang di tinggal orang tuanya karena kecelakaan, di adopsi Pamannya.Tapi di balik kebaikan semu pamanya,ternyata semua harta ayah ibu nya di ambil semua ,dia dijadikan pembantu,kerap di siksa dan di pukuli hingga di jadikan tumbal pesugihan nya kepada genderuwo.Hanya secercah harapan kepada Aditya yang membuatnya kuat dan sabar menghadapi semuanya.. Apakah Aditya jujur dan setia janjinya kepada Mirasih?Sampai kapanpah Mirasih menjadi pengantin Ki Ageng sang Genderuwo itu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Budi
Desa itu seolah sedang berada di bawah mantra kemewahan yang ganjil. Sejak Mirasih menduduki takhta kekayaannya, setiap sudut desa berubah menjadi lebih berkilau, namun di sisi lain, ada sesuatu yang perlahan-lahan menguap: ketenangan jiwa. Warga desa lebih sibuk membicarakan harga emas, pembangunan fisik, dan persaingan para pemuda kaya untuk mendapatkan hati Mirasih, hingga mereka melupakan satu sudut kecil di ujung desa yang telah lama tertutup rimbunnya pohon kamboja dan semak belukar.
Di sanalah berdiri sebuah surau tua. Bangunan kayu itu tampak merana dengan atap sirap yang sudah melengkung dan dinding-dinding papan yang dimakan rayap. Sudah bertahun-tahun adzan tidak pernah berkumandang dari sana. Warga desa memang ramah, mereka toleransi dan gemar bergotong royong, namun urusan ibadah seolah menjadi barang langka yang terpinggirkan oleh kesibukan mencari duniawi.
Namun, sore itu, sebuah mobil bak terbuka berhenti di depan rumah Pak Lurah. Seorang pemuda turun dengan membawa tas kain sederhana dan sebuah kardus berisi buku-buku. Namanya Budi.
Budi adalah keponakan kandung Pak Lurah dari garis adiknya yang tinggal di kota. Nasib malang baru saja menimpanya; kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan beruntun sebulan yang lalu. Budi, yang saat itu sedang menempuh semester akhir di sebuah universitas Islam terkemuka, terpaksa menelan pahitnya kenyataan. Di kota, selain kuliah, Budi dikenal sebagai guru ngaji yang sabar. Ia tidak hanya mengajar di masjid-masjid besar, tapi setiap malam akhir pekan, ia meluangkan waktu untuk mengumpulkan anak-anak jalanan di bawah jembatan layang hanya untuk sekadar mengajarkan alif-ba-ta dan cara mencuci muka (wudu) yang benar.
Pak Lurah, yang sudah bertahun-tahun kehilangan anak tunggalnya karena sakit, merasa iba sekaligus rindu. Ia memutuskan untuk membawa Budi pulang ke desa, mengangkatnya sebagai anak, dan menjadikannya bagian dari keluarga besar Lurah.
"Sudah, Budi. Jangan dipikirkan lagi soal rumah di kota. Di sini adalah rumahmu sekarang," ucap Pak Lurah sambil menepuk bahu Budi saat mereka duduk di ruang tamu.
Budi tersenyum tipis, wajahnya yang bersih memancarkan ketenangan yang berbeda dengan pemuda desa kebanyakan. "Terima kasih, Paman. Budi sangat berterima kasih atas kebaikan Paman dan Bibi."
"Paman sudah mendaftarkanmu di universitas dekat kota kabupaten. Kamu bisa melanjutkan kuliahmu di sana, biar Paman yang biayai semuanya," lanjut Pak Lurah dengan penuh harap.
Budi terdiam sejenak. Ia melihat gurat-gurat kelelahan di wajah pamannya yang sudah tua. Ia juga melihat bagaimana desa ini tampak makmur secara materi namun terasa "kering" secara spiritual. Selama perjalanan menuju rumah Pak Lurah tadi, ia tidak mendengar satu pun lantunan ayat suci, yang ia dengar hanyalah gunjingan ibu-ibu tentang perhiasan emas dan persaingan harta.
"Paman... bukannya Budi menolak niat baik Paman," ucap Budi dengan nada yang sangat halus. "Tapi untuk saat ini, rasanya batin Budi belum sanggup untuk kembali ke bangku kuliah. Budi merasa lebih tenang jika bisa berguna langsung untuk masyarakat di sini. Budi perhatikan, anak-anak di desa ini banyak yang menghabiskan waktu sore hanya dengan bermain atau membicarakan hal-hal yang kurang bermanfaat."
Pak Lurah mengerutkan dahi. "Lalu, apa rencanamu, Le?"
"Budi ingin membuka kelas mengaji, Paman. Budi ingin mengajarkan anak-anak desa membaca Al-Qur'an dan mengenal akhlak. Jika Paman mengizinkan, Budi ingin menghidupkan kembali surau tua di ujung desa itu," jawab Budi mantap.
Pak Lurah tertegun. Ia merasa tertampar sekaligus haru. Selama ia menjabat, ia terlalu sibuk dengan administrasi dan pembangunan infrastruktur desa, apalagi belakangan ini ia disibukkan dengan bantuan-bantuan besar dari Mirasih, hingga ia lupa bahwa tempat ibadah di desanya sudah hampir rata dengan tanah.
"Kalau itu maumu, Paman sangat mendukung, Budi. Jujur saja, Paman merasa malu. Desa ini memang makmur, tapi kami sudah lama lupa caranya bersujud secara berjamaah," ucap Pak Lurah dengan nada menyesal.
Keesokan paginya, Pak Lurah segera memanggil Pak Minto, seorang penjaga kebersihan desa yang setia, untuk membantu Budi. Mereka bertiga berjalan menuju surau tua yang letaknya agak jauh dari pusat keramaian rumah mewah Paman Broto.
Begitu sampai di depan surau, Budi tertegun. Matanya menatap nanar pada bangunan yang kini lebih mirip gudang hantu itu. Pintu surau sudah miring karena engselnya lepas, jendelanya tertutup sarang laba-laba yang sangat tebal, dan di dalamnya, debu menyelimuti lantai kayu hingga tak lagi terlihat warnanya.
"Astaghfirullahaladzim..." bisik Budi lirih. Ia memejamkan mata sejenak, merasakan kepedihan yang mendalam di hatinya. Bagaimana mungkin sebuah desa yang warganya bisa membangun rumah-rumah megah, membiarkan rumah Tuhan-nya terbengkalai sedemikian rupa?
Pak Minto menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maaf ya, Mas Budi. Memang sudah lama sekali tidak ada yang ke sini. Terakhir waktu selamatan desa tiga tahun lalu, itu pun cuma di halaman saja."
Budi segera menggulung lengan kemejanya. Ia tidak menunggu perintah. Ia mengambil sapu lidi tua yang tergeletak di pojok dan mulai membersihkan teras.
"Ayo, Pak Minto. Kita bersihkan pelan-pelan. Tidak perlu terburu-buru, yang penting niatnya," ucap Budi dengan semangat yang menular.
Sepanjang pagi itu, Budi, Pak Lurah, dan Pak Minto berjibaku dengan debu dan kotoran. Saat Budi masuk ke bagian dalam surau untuk membersihkan mimbar, ia menemukan beberapa buah mushaf Al-Qur'an yang sudah menguning dan dimakan rayap di pojok rak. Hati Budi hancur melihatnya. Ia mengambil salah satu mushaf, meniup debunya dengan sangat hati-hati, lalu mencium sampulnya yang sudah rusak.
"Istighfar, Paman... istighfar," gumam Budi saat Pak Lurah mendekat. "Kita sudah terlalu jauh mengejar dunia, sampai-sampai kitab suci ini kita biarkan kedinginan tertutup debu."
Pak Lurah tertunduk lesu. "Benar, Budi. Paman merasa bersalah. Apalagi belakangan ini, desa kita seolah-olah hanya memikirkan pembangunan desa "
Budi berhenti menyapu sejenak. "Iya, Paman, Tapi tanpa diiringi sujud kepada Sang Pencipta, hanyalah titipan yang sangat berat tanggung jawabnya."
Pak Minto yang sedang membersihkan kaca jendela ikut menimpali. "Mas Budi benar. Sekarang orang desa kalau lewat sini tidak pernah menoleh lagi. Mata mereka cuma tertuju ke arah rumah gedong milik Pak Broto."
Budi tidak banyak berkomentar lagi. Ia fokus membersihkan tempat imam. Ia menggosok lantai kayu itu dengan air dan sabun hingga serat-serat kayunya kembali terlihat. Perlahan, surau itu mulai menampakkan wajah aslinya. Meskipun bangunannya sudah tua, namun ada aura kedamaian yang mulai merayap masuk seiring dengan bersihnya kotoran-kotoran di sana.
Sambil bekerja, Budi mulai menyenandungkan salawat dengan suara yang sangat merdu namun lirih. Suara itu terbang terbawa angin, melintasi pepohonan jati, merambat hingga ke jalanan desa. Beberapa warga yang kebetulan lewat di kejauhan sempat berhenti sejenak, merasa asing namun sejuk mendengar lantunan yang sudah bertahun-tahun tak terdengar di desa mereka.
Sore harinya, surau itu sudah jauh lebih bersih. Meski atapnya masih ada yang bocor, setidaknya lantai tempat sujud sudah suci kembali. Budi berdiri di teras surau, memandang ke arah pusat desa. Ia tahu, tugasnya tidak akan mudah. Mengajak orang desa untuk kembali ke surau di tengah gempuran kemewahan dan pengaruh mistis kekayaan Mirasih akan menjadi tantangan besar.
Namun, Budi tidak gentar. Pengalamannya mengajar anak jalanan di kota telah membentuk mentalnya menjadi baja. Ia yakin, jika ia memulai dengan mendidik anak-anak, maka suatu saat orang tua mereka pun akan ikut terseret ke jalan cahaya.
"Paman," ucap Budi kepada Pak Lurah yang sedang mengelap keringat. "Besok, setelah ashar, Budi akan mulai duduk di sini. Budi akan menunggu siapa saja anak desa yang mau datang untuk belajar alif-ba-ta. Paman tidak perlu mengumumkan dengan pengeras suara, cukup sampaikan dari mulut ke mulut saja."
Pak Lurah mengangguk mantap. "Paman akan sampaikan pada warga. Semoga kehadiranmu di sini menjadi awal yang baik untuk desa kita, Budi."
Saat mereka bersiap untuk pulang, Budi menyempatkan diri untuk berdiri menghadap kiblat. Ia mengumandangkan azan ashar dengan suara yang lantang dan jernih. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, suara panggilan salat itu bergema kuat, memecah kesunyian di ujung desa, melewati pagar besi rumah megah Mirasih, dan mengetuk pintu-pintu hati warga yang selama ini tertutup oleh gemerlapnya emas pesugihan.
Di dalam rumahnya yang mewah, Mirasih yang sedang duduk di kursi goyangnya sempat terhenti. Ia mendengar suara azan itu. Sebuah getaran aneh muncul di dadanya—bukan getaran benci, melainkan sebuah kegelisahan yang tidak bisa ia jelaskan , seperti rindu. Ia merasa kembali pada memori masa kecilnya.
"Suara siapa itu, Mbok?" tanya Mirasih kepada pelayannya.
"Katanya itu keponakan Pak Lurah yang baru datang dari kota, Nimas. Dia sedang membersihkan surau tua di ujung jalan," jawab sang pelayan dengan takut-takut.
Mirasih hanya diam, namun matanya menatap tajam ke arah surau. Ia tidak tahu bahwa pemuda bernama Budi itu akan menjadi ujian bagi hatinya yang dibangun di atas fondasi dendam dan perjanjian kegelapan.
membawa Ningsih ke desa adalah
kehancuran mu
sampai kapan kau biarkan keadaan bgini
bahkan kau pun tak kan bisa membawa Mirasih kembali menemukan jiwa nya yg tergadai iblis
menarik kembali Mirasih yg dlu Aditya
selama kemewahan dari iblis dinikmati Mirasih yg dgn sukarela menggadaikan nyawa nya
semua kepalsuan itu di tanganmu sendiri Mirasih ...
mata hati mu tertipu iblis yg dulu kau benci
jodoh ngga ya sama mas Budi
kabut ghoib genderuwo tak akan membiarkan Mirasih lepas darinya
mungkin kah Budi penawar luka Mirasih setelah kehilangan Aditya