Alya, wanita cantik yang sudah lelah dengan kisah kehidupannya, mencoba untuk membuka hatinya kembali untuk seorang pria yang dijodohkan oleh bos di kantornya. Ia berharap itu yang menjadi cinta terakhirnya. Namun, siapa sangka ternyata pria itu menyimpan sebuah masa lalu yang membuat Alya, kembali berpikir apakah ia harus hidup tanpa cinta untuk selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon empat semanggi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ungkapan cinta
Ternyata memang benar apa yang katakan orang. Sesuatu yang telah direncanakan dengan baik tidak akan berjalan sesuai dengan yang kita inginkan dan harapkan.
Itulah, yang dirasakan Alya saat ini. Proyek yang baru saja ia kerjakan ini harus ia tinggalkan, walaupun sudah berjalan lima puluh persen. Ia harus rela melepaskan proyek itu.
karena kakek Aaron sedang jatuh sakit sehingga tak bisa menangani perusahaan yang ditinggalkan oleh ayahnya. Selain itu, perusahaan yang di luar negeri juga membutuhkan Raka karena itu Alya dan Raka harus segera berangkat ke sana.
Awalnya Alya ingin tinggal, namun bukan Raka jika tak memaksa. Pria itu bahkan menolak pergi jika Alya tak ikut, sehingga membuat Alya merasa tak enak. Akhirnya proyek yang sudah berjalan itu akan dilanjutkan secara langsung oleh bu Rany dan suaminya.
Malam itu juga Alya dan Raka langsung terbang kembali ke kota Deo menggunakan penerbangan malam, karena besok paginya mereka sudah harus berangkat keluar negeri. Tiket keduanya sudah dipesankan oleh bu Rany.
Alya merasa ini sangat cepat, tapi mau bagaimana lagi ia harus patuh pada suaminya sebagai seorang isteri. wanita cantik itu juga merasa sedih, karena tak sempat berpamitan langsung dengan ayahnya, ia hanya mengirim pesan singkat pada ayahnya.
Setelah tiba di kota Deo, Alya langsung menyiapkan beberapa barang penting yang akan ia dan Raka bawa nanti.
Alya tak membawa banyak pakaian, karena kata Raka mereka akan membeli saat tiba di sana nanti.
Alya yang masih menyiapkan beberapa kebutuhannya dan Raka, mengerutkan keningnya saat mendapati sebuah kotak kado dengan ukuran yang sangat kecil. seketika wanita cantik itu teringat ayahnya.
yaa, kado itu adalah pemberian ayahnya, saat pria paruh baya itu pamit pada Alya saat di hotel waktu itu.
wanita cantik itu kemudian membuka kotak kecil itu dan mendapati sebuah kalung emas kecil dengan mata bunga lily yang sangat indah.
seketika ingatan Alya dibawa pada beberapa tahun yang lalu, saat ibunya sedang sekarat waktu itu.
waktu itu, kerena ibunya sering keluar masuk rumah sakit, hingga akhirnya membuat tabungan ayahnya hampir habis, jadi jalan satu-satunya adalah harus menjual kalung kesayangan ibunya. Kalung, yang konon katanya adalah pemberian kedua orang tua ibunya yaitu kakek dan nenek Alya, kalung itu dibuat secara khusus, dengan mata bunga lily sesuai dengan nama ibunya.
setahu Alya, kalung itu sudah dijual, namun entah bagaimana ayahnya bisa kembali mendapatkan kalung itu lagi. Alya pikir mungkin saja kalung itu sengaja dipesan khusus oleh ayahnya, namun yang Alya tak tahu adalah kalung itu adalah kalung ibunya yang sengaja ayahnya simpan sebagi kenang-kenangan untuk dirinya.
"apa semua telah siap?" suara Raka membuyarkan lamuan Alya.
"kau sudah pulang?" Alya balik bertanya.
Raka langsung ke perusahaan tadi, setelah tiba dikota Deo. walaupun sudah malam ia tetap ke perusahaan karena ada beberapa hal penting yang harus ia selesaikan sebelum ia meninggalkan kota itu.
"kau tak mendengar suaraku, tadi sayang?" tanya Raka dan duduk didepan isterinya.
Raka menatap wajah manis Alya. "maafkan aku, harusnya aku memberitahukan mu jauh-jauh hari sebelumnya" ucap Raka merasa bersalah.
"hmm,,nggak papa, aku nggak masalah kok" jawab Alya cepat.
wanita cantik itu mengusap lembut wajah suaminya. wajah yang terlihat begitu lelah, namun dipaksakan untuk tersenyum.
"kau pasti sangat lelah,," ucap Alya.
wanita cantik itu, tiba-tiba bangun dari duduknya dan berdiri dibelakang Raka. Raka yang awalnya kebingungan dengan sikap Alya, akhirnya paham saat tangan kecil Alya menyentuh pundaknya.
Raka tersenyum kecil, saat tangan mungil Alya berusaha untuk memijat pundaknya yang cukup keras.
"kenapa pundak mu sangat keras?" tanya Alya.
"itu karena aku rajin berolahraga." jawab Raka santai.
"tapi jika sekeras ini, pijatan ku nggak bisa kamu rasakan" ucap Alya sedikit kesal.
Raka terkekeh mendengar ucapan polos Alya. pria itu memegang tangan Alya yang masih berada di pundaknya.
"nggak usah dipijit, aku hanya ingin sebuah pelukan" ucap Raka lalu, menarik tangan Alya dari belakang. Alya menyadarkan kepalanya pada punggung pria itu. wangi tubuh Raka, membuat ia seperti terhipnotis.
"I love you,,I love you so so much, Aal,," ucap Raka yang begitu tiba-tiba, sehingga membuat jantung Alya berdetak kencang.
Hampir sebulan pernikahan mereka, kata-kata inilah yang ditunggu-tunggu Alya selama ini. Kata ungkapan cinta dari Raka untuknya.
walaupun ia tahu, Raka sudah mencintainya lewat setiap tindakan dan ucapan pria itu, namun entah mengapa bagi Alya itu masih kurang sebelum Raka mengucapkan kata cinta padanya.
Hingga akhirnya, kesabaran Alya membuahkan hasil. Akhirnya Raka'lah yang mengucapkan kata-kata itu terlebih dahulu.
karena begitu bahagia, Alya memiringkan wajahnya dan mencium pipi Raka hingga beberapa kali.
Raka sedikit terkejut dengan sikap tak biasa Alya. pria itu tak sadar, jika kata-kata itu sudah sangat lama dinantikan oleh Alya.
"I love you to, Ka" balas Alya.
Raka tersenyum mendengar balasan Alya, tanpa menunggu persetujuan Alya, Raka dengan cepat memutar tubuh Alya yang masih berada di belakangnya, dan tanpa aba-aba mencium bibir mungil Alya.
Alya membalas ciuman Raka. Sepertinya malam ini akan menjadi malam panjang bagi Raka dan Alya, saat pria itu menggendong Alya dan meletakkannya dengan lembut di atas kasur.
^^^
Sudah dipastikan, karena malam panjang itu, hampir saja Raka dan Alya ketinggalan pesawat.
beruntungnya karena bu Rany, pak Max dan tentu saja Dave, membantu pasangan suami isteri itu hingga keduanya bisa tiba di bandara dengan tepat waktu dan tak ketinggalan penerbangan mereka.
Walau harus melewati beberapa drama, akhirnya Alya dan Raka sudah duduk manis di dalam pesawat.
Alya tak henti-hentinya mengusap air matanya karena harus berpisah dengan bu Rany. Bosnya yang begitu menyayanginya selama ini.
wanita cantik itu juga dibuat terkejut dengan kehadirannya ayahnya, yang sengaja didatangkan oleh bu Rany untuk mengantar Alya.
pak Waldo hanya berpesan agar ia hidup dengan baik. pria paruh baya itu juga terlihat bahagia saat melihat Alya yang sudah memakai kalung pemberiannya.
banyak doa diberikan oleh bu Rany, dan juga pak Waldo. Tak ketinggalan Dave, pria itu terus mengatakan agar Raka dan Alya cepat memberikannya seorang keponakan. Ia pikir membuat anak seperti membuat adonan kue.
Bu Rany juga tak henti-hentinya meminta maaf pada Alya, karenanya wanita itu harus mengikuti Raka, sehingga membuat Alya harus merelakan mimpinya.
Alya hanya terus menenangkan bu Rany, karena ia tak begitu masalah dengan hal itu.
Perasaan Alya kembali menjadi tenang, saat pak Max mengatakan akan sering mengunjungi mereka disana. pak Max juga katakan Alya dan Raka juga akan sering-sering kembali ke kota Deo, tempat kelahiran Alya.
Alya menutup matanya karena merasa sedikit pusing. sedangkan Raka, pria itu terus mengotak-atik tab nya, untuk membaca beberapa berkas yang akan ia kerjakan saat tiba nanti.
Raka mengelus lembut kepala Alya, saat Alya menyandarkan kepalanya pada pundak pria itu.
"sorry and I love you" bisik Raka.
Raka juga merasa bersalah, karena Alya harus mengikuti kemauannya untuk pergi keluar negeri. Pria itu akui, tak bisa jauh dari Alya setelah mengenal wanita itu.
Raka berjanji, akan membuat Alya bahagia sehingga wanita itu akan terus merasa betah berada di sampingnya.
Ia hanya berharap, Alya akan tetap dan terus mendampinginya dalam hal apapun.
biar cepet koit tuhhhh marah-marah melulu 😤
lanjuuttttt 💪💪💪🤩🤩
semoga langgeng dan harmonis terus rumah tangga nya 👍👍🤗🤗🤗
gak tergoda yg lain, atau menyakiti hati Alya 👍👍🤗