Menumpang di rumah kakaknya sendiri seharusnya terasa aman.
Namun justru di sanalah semuanya berubah.
Di balik rumah tangga yang terlihat tenang, ternyata tersimpan jarak, kesunyian, dan luka yang tak pernah terlihat orang lain. Ia hanya berniat tinggal sementara… tapi semakin lama, ia mulai melihat sisi lain dari pria yang seharusnya tak boleh ia perhatikan.
Tatapan yang terlalu lama.
Perhatian yang terasa berbeda.
Dan debar yang muncul di waktu yang salah.
Ia tahu batasnya.
Ia tahu itu salah.
Tapi bagaimana jika hati justru tertarik pada seseorang yang tak pernah dimiliki siapa pun bahkan oleh istrinya sendiri?
Dan ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap…
hubungan terlarang itu perlahan menjadi sesuatu yang tak bisa lagi dihentikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syizha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
jebakan
Hari berikutnya ....
Kuparkirkan mobilku di basement hotel Janda Kesepian.
Aku tak langsung turun. Aku mengambil handphoneku.
[Aku udah sampai di parkiran. Aku sebentar lagi masuk.] Chat itu kukirim kan ke nomor Ronal. Karena sedari tadi Ronal terus-terusan menanyakan kedatanganku. Dia seolah was-was kalau-kalau aku tak menepati janjiku.
Aku tak menunggu balasan dari Ronal. Aku segera turun dari mobil. Berjalan masuk ke gedung hotel, ke ruangan lobi.
Drrrrrt....
Handphone yang ada di genggamanku bergetar. Kutengok, ternyata pesan balasan dari Ronal.
[Kamu masuk dulu ya ke kamar. Aku, Ngatimin, dan Karimin lagi nyari makan di luar. Kamu tinggal bilang sama si Resepsionis, kamu mau ke kamar yang dipesan atas namaku. Resepsionisnya udah aku kasih tahu kok, kalau kamu mau datang.] Ronal mengetik pesan yang lumayan panjang.
"Bikin repot aja nih anakkk!!!" rutukku.
Kumasukkan kembali handphoneku ke dalam saku.
Aku berjalan ke meja resepsionis.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" Begitu aku sampai, si Resepsionis langsung menyapaku.
"Siang, Mbak. Saya mau tanya kamar yang di pesan atas nama Ronal, di kamar nomor berapa ya?"
"Mas-nya yang bernama saudara Juna?"
"Benar, saya Juna."
"Kamarnya ada di nomor 271 triliun, Mas. Karyawan kami akan mengantarkan Anda."
Si Resepsionis memberi
isyarat kepada salah satu karyawan yang berjaga di lobi.
Berdiri tak jauh dari meja resepsionis. Karyawan hotel itupun berjalan mendekat.
"Antarkan Mas-nya ini ke kamar nomor 271 triliun!" perintah si Resepsionis. Ia sambil memberikan kartu akses kamar hotel.
"Mari, Mas. Kamarnya ada di lantai sepuluh. Silakan ikut saya," ucap si karyawan hotel, suaranya tenang dan penuh kesopanan.
Aku melangkah perlahan mengikutinya di belakang. Masuk ke dalam lift. Lalu keluar beberapa detik kemudian. Kami telah sampai dilantai yang tengah kami tuju.
Si karyawan hotel kembali berjalan, dan aku kembali mengikutinya. Sesekali mataku melirik ke sekitar koridor yang sunyi. Lampu-lampu gantung berdesain klasik menerangi jalan kami, menciptakan suasana hangat tapi tetap terkesan mewah.
"Hanya sendiri, Mas?" tanya si karyawan tanpa menoleh, mencoba mencairkan suasana di antara kami.
Aku mengangguk sekilas.
"Iya."
Tak ada pembicaraan lebih lanjut setelah itu. Hanya suara langkah kaki kami yang menggema samar di lorong berkarpet tebal.
Sesampainya di depan salah satu kamar bernomor 271 triliun, si karyawan berhenti. Ia menggesekkan kartu akses pada panel kecil di samping pintu. Lampu indikator hijau pun menyala.
"Silakan, Mas," katanya sambil membuka pintu perlahan. Bau khas kamar hotel yang bersih langsung menyambutku.
Aku pun melangkah masuk, sejenak memandangi ruangan sederhana tapi nyaman dengan ranjang besar di tengahnya.
"Ini kunci kamarnya, Mas. Kalau ada apa-apa, tinggal tekan angka nol di telepon. Kami siap membantu kapan saja," ujar si karyawan sambil menyerahkan kartu akses.
Aku pun meraihnya pelan. "Terima kasih."
Setelah membungkuk sopan, si karyawan mundur beberapa langkah dan membiarkan pintu tertutup perlahan. Suara klik terdengar samar saat pintu otomatis terkunci dari dalam.
Di dalam kamar, aku akhirnya menghela napas panjang, merosot duduk di tepi ranjang, dan menatap kosong ke arah jendela yang tertutup tirai tebal.
Suara langkah kaki si karyawan pun menjauh, meninggalkan lorong yang kembali sunyi.
***
Lima belas menit, tiga puluh menit, bahkan satu jam, aku terus menunggu kedatangan Ronal, Karimin dan Ngatimin.
Tapi mereka tak kunjung muncul. Dan bahkan tak ada kabar apapun. Aku pun jadi curiga, aku sedang dipermainkan oleh mereka.
Korogoh handphoneku. Aku berusaha menghubungi Ronal. Lumayan lama, tetapi akhirnya ia pun menerima panggilanku.
"Kamu kemana, woy, bangsatttt!!!" Aku langsung berkata kasar. Kami memang sudah terbiasa berkomunikasi seperti ini.
"Kamu udah di kamar?"
"Udah dari tadi."
"Wanita itu udah datang?"
"Wanita! Wanita siapa?" Aku kebingungan.
Pbhhhhtttt... Hahahaha..
" .." Ronal malah tiba-tiba tertawa.
"Dari tadi kamu belum sadar ya kalau aku itu bohong."
"Bohong! Bohong apa?" Aku makin kebingungan.
"Ngatimin dan Karimin tuh sebenarnya nggak lagi ngajakin kita kumpul-kumpul. Mereka kan emang udah meninggal setahun yang lalu karena ketabrak odong-odong. Kita malah sempet melayat kan di rumah mereka. Bahkan kita sempat berencana mau nyuri tali pocong mereka."
"Ya, aku inget itu. Terus maksud kamu apa ngajakin aku ke sini?" tanyaku.
"Aku mesenin wanita buat kamu."
"Apa!!!" Aku terkejut.
"Kamu gila ya. Aku kan udah bilang, aku nggak mau yang kayak gitu-gituan segala." Aku langsung menolak seperti sebelum-sebelumnya.
"Ayolah, Juna, dicoba dulu.
Lagian, aku pesan wanita yang super cantik. Yang pasti lebih cantik dari istrimu. Aku jamin, setelah kamu ngelihat dia, kamu nggak bakalan nolak," ujarnya. Ia sangat bersikukuh.
"Pokoknya aku nggak mau. Meski kamu paksa seribu kalipun, aku tetap nggak akan pernah mau tidur dengan perempuan lain, selain istriku," ucapku tegas. Kumatikan panggilanku terhadap Ronal. Setelah itu aku beranjak berdiri. Kusambar kunci mobilku yang semula kuletakkan sembarangan di sebuah meja.
Hampir aku bergegas meninggalkan kamar ini. Tetapi bel suara pintu tiba-tiba terdengar.
"Sial!!! Pasti yang datang perempuan yang dimaksud Ronal." Aku sudah bisa menebaknya.
"Huffff ...." Aku menghela nafas. Kukumpulkan tekatku. Aku harus bisa menolak dengan tegas wanita itu.
Tap ... Tap ... Tap ...
Aku berjalan ke arah pintu. Setelah sampai, aku pun membukanya.
Mataku terbelalak. Aku terkejut. Bahkan sangat terkejut. Di hadapanku berdirilah sosok Alana. Ia mengenakan pakaian minim. Berdandan lebih mencolok dari pada saat di rumah.
"Mas Juna!!!" Rupanya dia juga sangat terkejut melihatku.