NovelToon NovelToon
ERROR 404: BOSS IN LOVE

ERROR 404: BOSS IN LOVE

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / CEO / Office Romance
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Aira Aksara

💻 ERROR 404: BOSS IN LOVE ⚠️


"Apa jadinya kalau CEO robot harus belajar jadi manusia dari staf paling kacau di kantornya?"



Arsenio adalah CEO Volt-Tech yang hidupnya hanya berisi angka, logika, dan efisiensi. Baginya, manusia hanyalah kumpulan data. Tapi bagi Alinea, staf baru yang hidupnya seberantakan kabel charger di dasar tas, Arsenio hanyalah sebuah robot dingin yang sensor perasaannya sudah expired.
Gara-gara insiden kopi susu dan mulut pedasnya, Alinea terjebak kontrak gila:


"Humanity Coaching".


Tugasnya? Mengajari Arsenio cara menjadi manusia normal demi meyakinkan neneknya bahwa sang cucu bukan mesin pencetak uang semata. Alinea pikir ini cuma soal akting sampai sang Bos mulai menunjukkan glitch aneh,detak jantung yang mendadak overclock tiap kali Alinea berada dekat dengannya.



Ternyata, mengajari robot cara mencintai itu lebih rumit daripada coding paling error sekalipun.


🚫 Warning: High tension, snarky comments, and a lot of heart-melting glitches.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aira Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33 — GARIS YANG TERBUKA

Mesin mobil Arsenio menyala pelan saat ia keluar dari gang rumah itu. Lampu jalan memantul di kaca depan yang sedikit berembun. Tangannya tetap di setir, tapi pikirannya kembali ke nama yang baru saja dia lihat di layar laptop. Semuanya terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Arsenio melirik kaca spion. Rumah itu masih terlihat dari kejauhan, lampunya tetap menyala. Sosok di balik tirai tidak muncul lagi. Ia memutuskan untuk tidak kembali malam ini.

Mobilnya berbelok ke jalan utama. Kota sudah jauh lebih sepi dibanding siang tadi. Arsenio mengambil ponselnya dari dashboard dan membuka satu kontak yang jarang digunakan.

“Raka,” katanya ketika sambungan tersambung.

“Bangunkan tim keamanan internal sekarang.”

Ia menutup telepon sebelum Raka sempat bertanya.

Di kantor Volt-Tech, lampu lantai eksekutif masih menyala meski hampir tengah malam. Raka berdiri di depan layar besar ruang kontrol bersama dua staf keamanan. Mereka menunggu instruksi berikutnya.

Ponsel Raka bergetar lagi.

“Blokir semua akses staf administrasi yang kamu laporkan pagi tadi,” kata Arsenio.

“Sekarang juga.”

Raka menoleh ke operator sistem.

“Matikan aksesnya,” katanya singkat.

Beberapa detik kemudian layar sistem berubah merah.

Akses server: DITUTUP

Namun sebelum status itu stabil, satu notifikasi kecil muncul di sudut layar.

File sedang dikirim.

Operator menoleh panik.

“Pak… ada transfer data yang baru saja berjalan.”

Raka langsung berdiri tegak. “Hentikan.”

Di mobilnya, Arsenio melihat pesan masuk dari sistem keamanan.

TRANSFER DATA TERDETEKSI

Ia langsung menekan tombol panggilan.

“Berapa besar?” tanyanya.

“Tidak besar,” jawab Raka dari ujung sana.

“Tapi dikirim ke alamat luar negeri.”

Arsenio menatap lampu lalu lintas di depannya.

Dia membuat keputusan.

“Biarkan berjalan.”

Raka terdiam beberapa detik.

“Pak?”

“Jangan hentikan,” ulang Arsenio.

“Saya mau lihat ke mana file itu pergi.”

Lampu lalu lintas berubah hijau. Mobil Arsenio kembali melaju.

Di ruang kontrol Volt-Tech, garis transfer data bergerak perlahan di layar. Operator menampilkan jalur koneksi yang keluar dari server utama. Semua orang di ruangan itu menatap grafik yang bergerak seperti detak jantung.

Alamat tujuan akhirnya muncul.

Salah satu operator menelan ludah.

“Server ini… bukan milik Artha.”

Raka menyipitkan mata.

“Perusahaan siapa?”

Operator memperbesar layar.

Logo perusahaan muncul di database koneksi.

Raka langsung meraih ponselnya.

“Pak Arsenio,” katanya ketika telepon tersambung lagi.

“Kita punya masalah baru.”

Mobil Arsenio melambat di pinggir jalan.

“Perusahaan mana?” tanyanya.

Raka menatap layar sekali lagi.

“Perusahaan investasi luar negeri,” jawabnya.

“Yang pernah mencoba membeli Volt-Tech tiga tahun lalu.”

Arsenio menutup mata sejenak.

Potongan teka-teki mulai tersusun.

“Biarkan transfer selesai,” katanya.

Raka mengerutkan kening.

“Pak, kalau data itu keluar—”

“Justru itu yang saya mau.”

Arsenio menatap lampu kota di depan mobilnya.

“Mereka harus merasa menang dulu.”

Di ruang kontrol, garis transfer akhirnya berhenti.

Status layar berubah hijau.

FILE BERHASIL TERKIRIM

Operator menoleh ke Raka dengan wajah tegang.

“Sudah selesai.”

Raka mengangguk pelan.

Lalu ia menekan tombol panggilan lagi.

Arsenio menjawab sebelum dering kedua.

“Sudah selesai?” tanyanya.

“Ya.”

Arsenio memutar setir mobilnya perlahan, kembali ke arah pusat kota.

Keputusan berikutnya dibuat tanpa ragu.

“Sekarang kirim balik sesuatu ke mereka.”

Raka menatap layar dengan bingung.

“Data apa?”

Arsenio tersenyum tipis, matanya tetap ke jalan.

“Bukan data,” katanya pelan.

“Umpan.”

Di ruang kontrol Volt-Tech, operator mulai menyiapkan paket file baru. Sistem keamanan membuka jalur komunikasi yang sama dengan yang digunakan penyusup tadi. Semua orang di ruangan itu menunggu instruksi terakhir.

Raka menatap layar sambil menunggu perintah Arsenio.

“File apa yang harus kita kirim, Pak?”

Beberapa detik tidak ada jawaban.

Lalu suara Arsenio terdengar lagi.

“Kirim proposal proyek Artha,” katanya.

Raka langsung menoleh tajam.

“Itu dokumen paling sensitif kita.”

Arsenio tidak menjawab beberapa detik.Kemudian ia berkata pelan.

“Yang palsu.”

Di ujung kota, mobil Arsenio berhenti di depan gedung Volt-Tech.Lampu kantor masih menyala di beberapa lantai.

Permainan yang ia kejar sejak pagi akhirnya mulai terbuka.Arsenio keluar dari mobilnya.Dan malam ini, dia tidak berniat bermain aman lagi.

Arsenio melangkah masuk ke lobi Volt-Tech tanpa melihat ke resepsionis. Langkahnya langsung menuju lift privat di ujung koridor. Lantai eksekutif hampir kosong malam itu. Ia memutuskan naik ke ruang kontrol lebih dulu sebelum ke kantornya.

Lift terbuka dengan suara pendek. Raka sudah menunggu di depan pintu ruang keamanan internal. Dua operator berdiri di belakang layar besar yang menampilkan jalur koneksi server. Arsenio langsung menatap grafik transfer yang baru saja berhenti.

“Server tujuan sudah terlacak?” tanyanya.

Raka mengangguk. Operator memperbesar tampilan jaringan internasional di layar. Jalur data dari Volt-Tech berhenti di satu server perusahaan investasi di Singapura.

Arsenio memutuskan mendekat ke layar untuk melihat detail koneksinya.

“Ini bukan serangan kecil,” kata salah satu operator.

“Server ini milik perusahaan yang pernah mencoba akuisisi Volt-Tech.”

Arsenio menatap logo perusahaan itu lama. Ia tahu nama itu dengan sangat baik. Tanpa banyak bicara, ia memutuskan membuka log komunikasi enam bulan terakhir.

Timeline aktivitas muncul di layar.

Beberapa file kecil terlihat dikirim secara rutin. Semua terjadi di jam yang hampir sama setiap malam.

Arsenio memperhatikan pola itu beberapa detik sebelum membuat keputusan baru.

“Bangun ulang semua jalur koneksi yang dipakai,” katanya.

Operator langsung mulai mengetik cepat di keyboard. Sistem keamanan membuka peta jaringan yang lebih rinci. Jalur lama yang dipakai penyusup terlihat jelas sekarang. Arsenio memutuskan memancing mereka dengan koneksi yang sama.

Raka menoleh.

“Pak, kalau mereka sadar ini jebakan—”

“Biarkan,” potong Arsenio.

Ia menunjuk satu jalur koneksi yang masih terbuka.

“Gunakan jalur itu lagi.”

Operator ragu beberapa detik. Arsenio tetap berdiri di belakang mereka tanpa bergeser. Ia memutuskan tetap menjalankan rencana itu meskipun resikonya besar.Server Volt-Tech kembali membuka koneksi keluar.

Di layar, garis transfer baru mulai terbentuk. Paket file yang disiapkan Raka perlahan bergerak menuju server tujuan.

Arsenio memperhatikan setiap perubahan di layar.Ia membuat keputusan berikutnya.

“Pasang tracker di dalam file.”

Operator langsung berhenti mengetik.

“Tracker digital?”

Arsenio mengangguk.

“Kalau mereka buka file itu, kita tahu di mana.”

Raka langsung memberi isyarat pada tim IT. Sistem pelacakan ditanamkan di dalam dokumen proyek palsu Artha. Prosesnya hanya butuh beberapa menit.

Arsenio memutuskan menunggu sampai file itu benar-benar diakses.

Lampu ruang kontrol terasa lebih terang dari biasanya. Semua orang di ruangan itu menatap layar utama.

Garis koneksi masih aktif, tapi belum ada aktivitas dari pihak luar.

Kemudian satu notifikasi muncul.

FILE DIAKSES

Operator langsung berdiri.

“Pak… mereka membuka file.”

Arsenio mendekat ke layar.

Lokasi akses mulai muncul di peta digital. Titiknya bergerak perlahan sebelum akhirnya berhenti di satu gedung perkantoran di pusat kota Jakarta.

Bukan luar negeri.

Bukan Singapura.

Arsenio menyipitkan mata.

Ia membuat keputusan lagi.

“Perbesar lokasi itu.”

Peta diperbesar sampai nama gedung muncul jelas di layar.

Raka membaca tulisan di bawahnya.

“Gedung Meridian Tower.”

Operator menelan ludah.

“Itu kantor cabang perusahaan investasi itu di Jakarta.”

Arsenio tidak menjawab beberapa detik.Ia menatap titik merah di layar.

Lalu membuat keputusan yang langsung mengubah arah permainan malam itu.

“Siapkan mobil,” katanya pada Raka.

“Kita kesana sekarang.”

Mobil Arsenio berhenti di depan Meridian Tower. Gedung itu masih terang meski hampir tengah malam.

Beberapa lantai terlihat aktif, seolah pekerjaan belum selesai. Arsenio memutuskan keluar tanpa menunggu Raka membuka pintu.

Raka berjalan cepat menyusulnya. Lobi gedung kosong, hanya ada petugas keamanan yang berjaga di meja depan. Arsenio melirik sekilas ke arah lift utama. Ia memutuskan langsung menuju meja resepsionis.

“Perusahaan investasi Global Meridian di lantai berapa?” tanyanya.

Petugas keamanan melihat daftar di layar komputer.

“Lantai dua puluh satu, Pak.”

Arsenio mengangguk pendek.Ia menekan tombol lift tanpa bicara lagi.

Pintu lift menutup pelan di belakang mereka. Angka lantai bergerak naik dengan stabil. Arsenio memperhatikan refleksi dirinya di dinding kaca lift.

Raka menoleh.

“Pak… kalau ini jebakan?”

Arsenio tidak menjawab langsung.

Lift berhenti di lantai dua puluh satu.

Ia membuat keputusan cepat.

“Kita tetap masuk.”

Koridor lantai itu hampir kosong. Lampu kantor masih menyala di beberapa ruangan. Logo Global Meridian terlihat di dinding kaca besar di ujung lorong.

Arsenio berjalan lurus ke arah pintu utama.Raka mengikuti dari belakang tanpa bicara.Pintu kaca terbuka ketika mereka mendekat.

Seorang pria berdiri di dalam ruang resepsionis kantor itu. Jasnya rapi, seolah memang menunggu seseorang datang. Ia tersenyum kecil ketika melihat Arsenio.

“Selamat malam,” katanya.

Arsenio berhenti beberapa langkah dari meja resepsionis.

“File yang kalian buka tadi malam milik saya.”

Pria itu mengangguk santai.

“Ya,” katanya.

“Kami memang menunggu Anda datang.”

Raka menoleh cepat ke Arsenio.

Arsenio tetap berdiri di tempatnya.

Ia memutuskan langsung ke inti.

“Siapa yang memberi kalian akses ke server Volt-Tech?”

Pria itu tidak menjawab langsung.

Ia mengambil tablet dari meja resepsionis dan menyalakan layar.

Beberapa data muncul di layar itu.

Pria itu memutar tablet itu menghadap Arsenio.

“Orang Anda sendiri.”

Raka menegang sedikit.

Arsenio menatap layar tablet tanpa bergerak.Satu nama muncul di bagian atas daftar komunikasi internal.

Nama itu bukan staf administrasi.

Arsenio membuat keputusan.

Ia mengambil tablet itu dari meja.

Nama yang muncul di layar membuat ruangan terasa lebih sempit.

Bukan direksi.

Bukan tim IT.

Seseorang yang selama ini bekerja langsung di bawah Arsenio.

Raka membaca nama itu dari samping.

“Pak… ini—”

Arsenio menurunkan tablet perlahan.

Pria di belakang meja tersenyum tipis.

“Kami tidak pernah meretas sistem Anda,” katanya.

“Orang itu yang membuka pintunya.”

Arsenio menatap pria itu tanpa bicara beberapa detik.Lalu ia membuat keputusan yang mengejutkan Raka.

Ia mengembalikan tablet itu ke meja.

“Kalian tidak mendapatkan apa-apa dari file yang kalian buka,” kata Arsenio.

Pria itu mengangkat alis.

“Benarkah?”

Arsenio menatap lurus.

“Itu dokumen palsu.”

Raka baru menyadari maksud Arsenio sekarang.

Pria itu menatap layar tablet lagi dengan cepat.Beberapa detik tidak ada yang bicara.Kemudian wajahnya berubah sedikit.Ia menyadari sesuatu.Arsenio sudah berbalik menuju pintu.

“Permainan ini sudah selesai untuk malam ini,” katanya.

Raka segera mengikuti langkahnya keluar kantor itu.Pintu lift terbuka kembali di ujung koridor.

Arsenio membuat keputusan terakhir malam itu.

“Kita kembali ke kantor.”

Lift turun perlahan menuju lantai dasar.

Raka akhirnya bicara.

“Pak… kalau orang dalam itu benar—”

Arsenio memotong.

“Kita tangkap dia besok pagi.”

Pintu lift terbuka di lobi.

Arsenio berjalan keluar menuju parkiran.Namun sebelum ia membuka pintu mobilnya, ponselnya bergetar.

Pesan baru masuk.

Hanya satu kalimat.

Tidak ada nama pengirim.

Tidak ada nomor yang dikenali.

Arsenio membaca pesan itu sekali, lalu mematung menatap layar.

“Kalau kamu menyentuh orang itu, proyek Artha akan hancur besok pagi.”

Arsenio mengunci layar ponselnya.

Ia masuk ke mobil tanpa bicara.

Mesin mobil menyala pelan.

Dan malam itu, permainan mereka berubah menjadi jauh lebih berbahaya.

1
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
🙌
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
🙆✨🥰 👉👍👈
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
readers tekan jempolnya mana????

👍

🙆✨🔥
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
yang mau aku UP terosss 🫵 komen lanjut!!!
kalo gak aku gakan UP lagi loh🫸
🙌 eitss!! becanda yak readers 😹

terimakasih banyak buat pembaca setia 🫶✨✍️🔥
Aira Aksara|IG:@ntii_tan: oiyaaaa kalo Sukak novel ini, pencet jempol likenya yak 👍🙆🫰
total 1 replies
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
Halo para silent readers! Aku tahu kalian ada di sana mengawasi perjalanan Si Boss, berasa dipantau CCTV tapi yang ini versi baik hati. 🕵️‍♂️💖


Boleh minta tolong nggak, readers? Klik tombol Like dong! Tenang, klik Like itu 100% GRATIS, nggak dipungut biaya sepeser pun dan nggak bakal ngurangin kuota seblak kalian. Hehe. 🤭 Yuk, bantu Author yang lagi multitasking ini tetap semangat update dengan satu klik aja. Show some love, please? 🫶✨
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
Bab ini judulnya SOROTAN, tapi kok kalian malah main petak umpet sih? Makasih ya yang sudah baca! Yuk, keluar dari persembunyian dan tunjukkan pesonamu lewat tombol Like & Komen! 🔦😎✨
Nur Halida
seru banget baca tiap kalimatnya
Aira Aksara|IG:@ntii_tan: 🥹🥹
makasih lohh🙌🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!