Terlahir sebagai putri yang disayangi raja, hidupnya runtuh ketika istana berubah menjadi sarang pengkhianatan. Namanya dihapus, kebenaran dibungkam, dan ia dipaksa memikul dosa yang bukan miliknya.
Dibuang dari tanah kelahiran dan dilempar ke dunia yang kejam, ia belajar satu hal: bertahan saja tidak cukup. Dunia yang menghancurkannya harus dibalas dengan kekuatan yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riichann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maafkan aku, Theo...
Suara goresan pena di atas kertas itu memenuhi ruangan yang hening. Tumpukan berkas yang banyak yang sebagian sudah dia selesaikan dan sisanya masih lebih banyak lagi untuk diselesaikan membuat Pangeran Mahkota Victor tidak punya banyak waktu untuk bersantai. Dia mulai mengambil alih beberapa tugas-tugas Raja, mengingat tak lama lagi akan menggantikan posisi Raja.
Ruang kerja Pangeran Mahkota Victor terlihat penuh dengan berkas, gulungan peta baik besar maupun kecil. Bahkan banyak tumpukan berkas di lantai juga, entah sejak kapan mulai tertumpuk di situ. Sesekali dia menghela napas dan meregangkan badan dan tangannya. Lalu kembali melanjutkan aktivitas dengan tumpukan berkas yang tidak ada habisnya itu.
Suara ketukan pintu membuyarkan fokusnya, "Siapa?"(tanpa menoleh ke arah pintu bertanya pada penjaga yang mengetuk pintu tanpa langsung membukanya itu).
"Pangeran Theodore hendak menemui anda, Pangeran Mahkota." Suara penjaga di luar ruang kerja Victor terdengar lantang.
"Suruh dia masuk." (Victor meletakkan penanya dan melihat ke arah pintu)
Theodore masuk sambil membawa beberapa berkas. Lalu berjalan menuju meja kerja Victor. Dia meletakkan berkas itu di atas meja. Victor masih menatapnya tanpa bertanya, setelah melirik berkas yang dibawa Theodore, diapun bertanya, "Kau tak perlu memaksakan dirimu membatuku, Theo. Aku tau kau gak suka hal-hal politik begini." (Victor berkata dengan nada datar, bukan benci. Hanya memang pembawaan Victor memang begitu).
"Aku hanya ingin mencoba membantumu tanpa maksud apa-apa, Kak." (Theodore memilih kata dengan seksama).
"Yah, kuhargai niat baikmu itu. Tapi aku gak suka jika kau memaksakan diri seperti ini." (Victor membuka pelan beberapa berkas yang dibawakan Theodore.) "Meskipun begitu, aku berterima kasih padamu, Theo. Lalu ada keperluan apa kau menemuiku? Yah kau memang satu-satunya adikku, dan aku mengijinkanmu menemuiku kapanpun, sih. Dan lagi ngapain tadi kau gak langsung masuk aja?"
Theo termenung sebelum menjawab pertanyaan kakaknya itu, terlihat ekspresi ragu. Tangannya sedikit meremas kursi yang dia duduki itu. Suara Victor membuyarkan lamunannya, "Katakan apapun itu, aku akan mendengarnya."
"Anu, jadi... gimana harus memulainya ya." Theo menujukkan keraguannya lagi lalu sedikit berdehem untuk memantapkan suara, "Jadi gini. Aku berpikir akan keluar dari istana...(terdiam gak melanjutkan kalimatnya itu)".
"Kau kan sudah dewasa, mau main keluar istana ngapain ijin padaku? Bahkan kaupun tak pernah meminta ijin Ayahanda saat keluar bermain dan menyelinap di antara rakyat...."
"Bukan itu kak maksudku..(Theo memotong ucapan kakaknya) yang kumaksud adalah keluar dari istana bukan untuk main, tapi emang keluar dan gak tinggal di istana lagi. Aku tau aku gak tertarik dalam urusan politik maupun militer. Aku hanya khawatir keberadaanku di istana ini akan menjadi ancaman untukmu, kak. Meskipun aku tau kalau aku ini lemah dan gak akan menang melawanmu meski kakak dalam posisi tidur. Tapi hal ini membuatku kepikiran sejak kakak dinobatkan jadi Pangeran Mahkota." (Theo tertunduk diam)
Victor terlihat sedikit terkejut sambil memproses apa yang barusan dikatakan adiknya itu lalu menghela napas panjang, "Theo dengar, aku minta maaf jika selama ini aku gak menyadari hal itu membebanimu, perihal sejak aku dinobatkan itu berarti sejak usiamu masih belasan tahun. Aku benar-benar minta maaf, Theo. Tapi aku sama sekali gak menganggapmu sebagai ancaman. Kau adikku, keluargaku."
"Kakak serius?"
"Aku serius. Aku benar-benar gak peduli atau mengkhawatirkan hal yang kau khawatirkan itu. Jadi kau tak perlu keluar dari istana ini saat aku naik tahta."
"Baiklah, kak. Aku undur diri dulu, kak." (Theo melihat kakaknya menganggukkan kepala tanda dia mengijinkannya keluar dari ruangan kakaknya itu).
Theo bangkit dari kursi yang didudukinya dan berjalan ke arah pintu untuk keluar. Victor tak menoleh meskipun terdengar suara pintu di buka dan ditutup. Sesaat setelahnya dia berdiri dari kursinya dan berjalan kearah jendela dan menatap keluar sambil menunggu adiknya melewati jalan yang terlihat dibalik jendela itu. Dia memandangi punggung adiknya yang perlahan menjauh. Dan menghela napas panjang sedikit mengingat masa kecilnya Theo yang selalu merengek mengajaknya bermain. Lamunan itu buyar karena suara seseorang.
"Victor..."
Victor menoleh ke sumber suara tersebut, ternyata Putri Mahkota Sylvaine telah berdiri di belakang nya.
"Kau mengejutkanku, Putri Mahkota." Victor berkata dengan ekspresi datar dan singkat.
"Ayolah, gak usah kaku gitu. Kita sudah resmi bertunangan, kenapa gak bersikap santai saat kita sedang berdua?" Ucap Sylvaine.
"Kita bukan dalam posisi seperti itu. Pertunangan ini hanyalah dengan tujuan politik." (Victor berkata dengan nada dingin)
"Kau tak menyukaiku atau kau membenciku, Victor?" (Sylvaine bertanya dengan tatapan tajam)
Victor mengangkat sebelah alisnya, "Itukah asumsimu?"
"Aku bertanya. Jika aku berasumsi sendiri, tak mungkin aku bertanya untuk memastikan." (Sylvaine tersenyum tipis).
"Teh atau kopi?" (Victor bertanya sambil berjalan menuju meja yang biasa dia meletakkan minuman, dia terbiasa membuat minumannya sendiri).
"Sejak kapan seorang Victor menyetok teh di ruang kerjanya?" (Sylvaine bertanya dengan sedikit mengernyitkan dahi sambil berjalan menuju sofa yang tak jauh letaknya dengan meja kerja Victor).
"Hanya basa basi saja." (Victor menyeduh kopi lalu menyajikannya pada Sylvaine).
Sylvaine mengangkat cangkir dan mendekatkannya ke arah hidungnya untuk mencium aroma kopi, "Ugh.. ini terlalu kuat untuk diminum seorang Lady."
"Tak usah meminumnya, cukup katakan tujuanmu menemuiku. Aku tak banyak memiliki waktu luang."(Victor menatap tajam Sylvaine).
"Baiklah, aku tak perlu bertele-tele. Hingga hari pernikahan kita, kurangi kegiatanmu terjung di lapangan."
Victor mengernyit penasaran, "Kenapa?"
"Ini masa-masa krusial, lebih baik mengantisipasi hal buruk yang mungkin terjadi."
"Apa maksudmu? Kau mengkhawatirkan keberadaan adikku?"
"Yah kau memang cepat tanggap."
Victor sedikit murka dalam hati, lalu dia menarik napas panjang dan menghembuskannya, "Aku hanya akan bicara sekali, kau memang Putri Mahkota tapi bukan berarti kau bisa mencampuri urusan keluargaku. Pahami posisimu." (Victor berkata dengan nada bicara sedikit tinggi dari biasanya).
"Memang, tapi saat aku menikah denganmu. Semua urusan internal kerajaan adalah wewenangku."(Sylvaine sedikit tersenyum sinis)
"Lakukan itu jika memang sudah tiba saatnya. Untuk sekarang hal itu belum jadi wewenangmu."
"Nanti atau sekarang tak ada bedanya, pada akhirnya tetap jadi wewenangku."(Sylvaine tersenyum percaya diri).
"Kontrol kepercayaan dirimu itu, Putri Mahkota. Silakan keluar kalau sudah tak ada lagi yang ingin dibicarakan."
Sylvaine berdecak lidah sambil membuka kipasnya untuk menutup sebagian wajahnya dan berjalan keluar dan sedikit lebih keras saat menutup pintu.
Victor merenung, memikirkan bahwa kemungkinan akan terjadi hal buruk pada adik yang disayangnya itu. Jadi dia merencanakan sesuatu untuk mengantisipasi hal buruk yang mungkin terjadi pada adiknya.
Bersambung....