NovelToon NovelToon
Menantu Cenayang

Menantu Cenayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Action / Harem
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sean Sensei

🔖 SINOPSIS :

Selama tiga tahun pernikahan nya, Satya dianggap sebagai sampah di mata keluarga besar nya. Sebagai pemuda lulusan universitas kecil di pedesaan tanpa koneksi, ia hanya menjadi suami yang mengurus dapur selagi istri nya mengejar karier. Puncak nya, Satya diceraikan secara sepihak dan diusir hanya dengan membawa satu koper pakaian.

​Tepat satu bulan setelah perceraian nya, badai besar menghantam; dunia mulai diguncang oleh Krisis Moneter 1997. Di tengah keterpurukan ekonomi yang mencekik dan status-nya yang luntang-lantung, sebuah warisan yang tertidur dalam darah nya tiba-tiba terbangun.

Satya menyadari bahwa ia adalah keturunan terakhir dari garis darah cenayang peramal legendaris. Ia mendapatkan kemampuan khusus: hanya dengan menatap wajah seseorang, ia bisa melihat masa depan, rahasia kelam, hingga peruntungan finansial yang akan datang.

🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sean Sensei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 | Warisan yang Tertidur

...----------------🍁----------------🍁----------------...

​Kamar kontrakan itu hanya berukuran tiga kali tiga meter. Dinding nya yang berjamur mengelupas, meninggalkan noda-noda kecokelatan yang tampak seperti peta penderitaan. Di atas kasur tipis yang bau apek, Satya Samantha terbaring meringkuk. Tubuh nya menggigil hebat, namun kulit nya terasa panas seperti besi yang baru keluar dari tungku pembakaran.

​Hujan di luar sana masih belum reda, mengetuk-ngetuk atap seng dengan irama yang memekakkan telinga. Namun, bagi Satya, suara itu terdengar jauh. Di dalam kepala nya, ada suara lain, suara ribuan bisikan yang saling tumpang tindih, bahasa kuno yang tidak ia mengerti namun terasa akrab di sel darah nya.

​"Panas... dingin ini membunuh ku..." Satya mencengkeram sprei usang nya. Gigi-gigi nya bergemeletuk. "Apakah aku akan mati di sini? Setelah semua penghinaan itu, apakah akhir cerita ku hanya menjadi mayat yang ditemukan tetangga karena bau busuk?"

​Pikiran nya melayang pada bayangan kecelakaan Clarissa beberapa jam lalu. Rasa bersalah mencoba menyelinap, namun rasa sakit di sekujur tubuh nya segera membakar habis empati tersebut. Tiba-tiba, kesadaran nya tersedot ke dalam lubang hitam yang dalam.

​Satya terbangun di sebuah ruang hampa yang berwarna merah darah. Tidak ada langit, tidak ada tanah. Hanya kabut merah yang berputar-putar. Di depan nya, berdiri sesosok pria tua dengan jubah hitam panjang yang dipenuhi sulaman benang emas berbentuk rasi bintang. Pria itu memiliki rambut putih panjang, namun wajahnya tampak gagah dengan mata yang bersinar seperti perak murni.

​"Siapa... siapa Anda?" tanya Satya. Suara nya bergema tanpa arah.

​Pria tua itu tersenyum, sebuah senyuman yang mengandung wibawa ribuan tahun. "Aku adalah awal dari garis yang kau teruskan, Satya. Aku adalah Sang Penenun Takdir yang diburu raja-raja kuno. Darah ku mengalir tenang dalam keturunan kita selama ratusan tahun, menunggu wadah yang tepat. Dan wadah itu... adalah seorang pria yang telah kehilangan segalanya."

​"Aku tidak butuh warisan! Aku hanya ingin hidup tenang!" teriak Satya frustrasi.

​"Hidup tenang adalah kutukan bagi orang seperti mu," sahut sang leluhur, melangkah mendekat. Telapak tangan nya yang dingin menyentuh dahi Satya. "Dunia sedang bersiap untuk hancur. Zaman sedang berganti. Uang akan menjadi kertas tak berharga, dan nyawa akan menjadi komoditas. Ambil mata ku, Satya. Lihat lah apa yang tidak bisa dilihat oleh manusia yang memuja mu sebagai sampah."

​"BANGKITLAH, SANG CENAYANG TERAKHIR!"

​Suara itu meledak seperti bom di dalam otak Satya. Cahaya putih membutakan mata nya.

​"ARRGGHH!"

​Satya tersentak bangun, badannya basah kuyup oleh keringat yang bercampur dengan sisa air hujan. Ia terengah-engah, paru-paru nya seperti terbakar. Ia mencoba mengatur nafas nya di tengah kegelapan kamar.

​"Mimpi... itu hanya mimpi..." gumam nya, menyeka keringat di wajah nya.

​Namun, saat ia membuka mata lebar-lebar, ia menyadari ada yang salah. Kamar kontrakan nya yang gelap tidak lagi gelap. Ia melihat garis-garis cahaya tipis yang mengalir di sela-sela dinding. Ia melihat sebuah kecoak yang merayap di lantai, namun di atas kecoak itu, ada angka kecil berwarna abu-abu: 0.01%.

​"Apa itu? Persentase bertahan hidup?" Satya mengucek mata nya, namun angka itu tetap di sana.

​Ia merangkak menuju cermin retak yang tergantung di dekat pintu kamar mandi. Saat ia menatap pantulan nya, ia hampir berteriak. Mata nya yang semula hitam pekat kini memiliki lingkaran tipis berwarna merah darah di sekeliling pupil nya, dengan bintik-bintik emas yang berputar seperti galaksi kecil.

​Ia menatap tangan nya sendiri. Di telapak tangan nya, ia melihat angka yang terus berubah-ubah: Rp 150.000.

​"Itu... itu sisa uang di dompet ku," bisik Satya tidak percaya.

​Ia berjalan keluar kamar menuju lorong kontrakan. Di sana, ia melihat tetangga nya, Pak RT yang sedang merokok di teras. Di atas kepala Pak RT, ada aura berwarna kuning kusam dengan angka 70%. Di samping angka itu, ada sebuah simbol kecil bergambar koin yang retak.

​"Peluang kerugian finansial," tiba-tiba sebuah pengetahuan otomatis muncul di benak Satya. "Dia akan kehilangan uang dalam jumlah besar besok pagi karena judi atau penipuan."

​Satya menyender ke dinding, kepala nya berdenyut. Ini bukan sekadar cenayang yang meramal nasib cinta atau kematian. Ini adalah kemampuan analisis masa depan yang terukur secara matematis dan visual. Ia bisa melihat struktur ekonomi seseorang hanya dengan menatap mereka.

​Ia kembali ke dalam kamar nya, menyalakan radio tua milik nya. Berita malam itu sedang membicarakan stabilitas nilai tukar Rupiah.

​"Pemerintah menjamin bahwa nilai tukar Rupiah tetap stabil di angka Rp 2.400 per Dollar AS. Masyarakat diminta tidak panik..."

​Satya menatap radio itu. Matanya menyipit, fokus pada suara sang pembawa berita. Tiba-tiba, penglihatan nya menembus ruang dan waktu. Ia melihat grafik besar yang terjun bebas. Ia melihat angka Rp 2.400 berubah menjadi Rp 5.000, lalu Rp 10.000, hingga menembus Rp 15.000. Ia melihat kerusuhan, toko-toko yang dijarah, dan orang-orang kaya yang mendadak jatuh miskin dan melompat dari gedung tinggi.

​"Krisis Moneter 1997..." Satya bergumam, tangan nya mengepal kuat. "Ini bukan sekadar krisis. Ini adalah pembantaian ekonomi."

​Ia terduduk di lantai, tertawa kecil yang lama-kelamaan menjadi tawa getir yang memenuhi ruangan sempit itu.

​"Clarissa, Ibu... kalian bangga dengan kekayaan keluarga Wijaya, bukan?" pikir Satya dengan dendam yang membara. "Kalian merasa di atas angin karena memiliki beberapa pabrik tekstil dan deposito di bank swasta. Tapi di mataku... aku melihat kehancuran kalian hanya dalam hitungan bulan. Kalian akan menjadi pengemis di tanah yang kalian injak dengan sombong hari ini."

​Satya berdiri, mata nya berkilat dalam kegelapan. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Uang 150 ribu miliknya memang kecil, tapi dengan kemampuan melihat ini, ia bisa mengubah butiran pasir menjadi gunung emas.

​"Aku tidak bisa tinggal di sini," Satya berpikir. "Jika aku tetap di Jakarta, aku akan terjebak dalam kerusuhan yang akan datang. Aku butuh panggung yang lebih besar. Aku butuh tempat di mana uang mengalir seperti air terjun, di mana krisis adalah peluang terbesar bagi mereka yang bisa melihat masa depan."

​Ia mengambil buku catatan usang nya. Dengan cepat, ia menuliskan beberapa angka, prediksi nilai mata uang, dan tanggal-tanggal penting yang melintas di penglihatan nya. Kemampuan nya ini sangat menguras energi; ia merasa sangat lapar dan lemas, namun adrenalin nya terus terpompa.

​"China," ucapnya pelan. "Shanghai akan menjadi pusat gravitasi ekonomi baru. Di sana, tidak ada yang mengenal ku sebagai menantu sampah. Di sana, aku akan menjadi hantu yang mengatur pasar modal."

​Tiba-tiba, pintu kontrakan nya diketuk dengan kasar.

​"Satya! Buka pintu ya! Saya tahu kamu di dalam!" suara melengking itu milik Bu Kontrakan, seorang wanita paruh baya bertubuh tambun yang selalu memakai daster motif bunga.

​Satya membuka pintu. Ia melihat Bu Kontrakan berdiri dengan tangan di pinggul. Di atas kepala wanita itu, ada aura hijau terang, pertanda kesehatan yang baik, tapi ada angka merah berkedip: - Rp 500.000.

​"Kamu sudah telat bayar dua minggu! Kalau besok pagi nggak ada uang nya, koper kamu saya lempar ke got!" bentak Bu Kontrakan.

​Satya menatap mata wanita itu. Ia melihat sebuah rahasia kelam yang muncul dalam bentuk teks transparan di samping wajahnya: Menyembunyikan uang simpanan suami nya di bawah ubin dapur ketiga dari pintu.

​Satya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat Bu Kontrakan sedikit merinding. "Bu, daripada memikirkan uang sewa saya yang hanya seratus ribu, lebih baik Ibu periksa ubin ketiga di dapur Ibu. Suami Ibu berencana mengambil kembali uang simpanan nya malam ini untuk pergi ke tempat pijat plus-plus di kota."

​Wajah Bu Kontrakan pucat seketika. "Apa... apa kamu bilang? Darimana kamu tahu soal..."

​"Anggap saja itu bonus dari saya," Satya menutup pintu perlahan. "Besok pagi, saya akan pergi. Ibu tidak perlu khawatir soal uang sewa, ambil saja dari uang bawah ubin itu."

​Satya menyandarkan punggung nya di pintu. Ia bisa mendengar suara teriakan Bu Kontrakan yang memanggil suami nya di seberang sana, diikuti suara keributan rumah tangga.

​"Kekuatan ini benar-benar gila," pikir Satya. Ia merasakan sedikit kebahagiaan nakal yang sudah lama tidak ia rasakan. Selama tiga tahun ia selalu menjadi pihak yang ditekan, yang dihina, yang tidak punya suara. Sekarang, hanya dengan satu kalimat, ia bisa membalikkan keadaan.

​Namun, ia tahu ini baru permulaan. Warisan darah merah ini bukan hanya tentang melihat rahasia kecil tetangga atau angka di pasar modal. Ini adalah beban yang berat. Ia merasakan denyut di jantung nya yang semakin sinkron dengan detak jantung dunia.

​"Satu koper, satu kemampuan, dan dendam yang belum tuntas," Satya mulai mengemasi barang-barangnya kembali. Ia tidak memiliki banyak hal, namun ia merasa lebih kaya daripada siapapun di Jakarta saat ini.

​Ia melihat sebuah foto kecil di sudut meja, foto pernikahan nya dengan Clarissa. Dengan gerakan tenang, ia mengambil korek api dan membakar foto itu. Ia menatap api yang melahap wajah Clarissa dan wajah nya yang dulu tampak culun dan penuh cinta.

​"Satya yang mencintai mu sudah mati tertabrak truk dalam penglihatan ku tadi," bisik nya saat abu foto itu jatuh ke lantai. "Sekarang, hanya ada Satya sang Cenayang."

​Ia berbaring kembali, mencoba mengistirahatkan mata nya yang masih terasa panas. Besok adalah hari pertama pelarian nya. Besok adalah langkah awal menuju China. Dan besok... adalah awal dari kejatuhan ekonomi Asia yang akan ia tunggangi menuju puncak dunia.

​Di luar, hujan mulai mereda, namun guntur masih bersahutan di kejauhan, seolah-olah menyambut lahir nya sang penguasa baru yang lahir dari sisa-sisa kehancuran. Satya memejamkan mata, membiarkan aura merah di pandangan nya membimbing nya ke alam mimpi, bersiap untuk badai yang sesungguhnya di Shanghai.

...----------------🍁----------------🍁----------------...

1
LOL #555
Wihh,ini mereka bakal jadi pasangan atau cuman rekan kerja biasa
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
jadi, kekuatan mata super itu diketahui banyak orang yang Thor?
Serena Khanza
wuih wang meiling pocecip 🤭 biasanya kan cowok yang pocecip ya 🫣
Panda
cukup oke cuma wang itu terlalu telling dan kebanyakan narasi emosi dibanding "show" emosi
Syh.Mutiara
waduh gak cukup tuh untuk hidup dalam seminggu
LOL #555
emas murni sama jam tangan ? 200k? pengen ditendang ni bapak satu
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
kelazzz cuyyy, ijin copas 🤭
Hunk
Keren banget bagian ini. Ketegangan dan urgensinya kerasa nyata, apalagi saat keputusan ekstrem seperti jual Yuan dan pakai leverage besar langsung dieksekusi. Dialognya tegas dan punya power, bikin karakter MC terasa dominan dan berani ambil risiko.👍
Serena Khanza
wow adegan nya panas thor
Hunk
/Applaud/Aww terlalu dekat🤭
Serena Khanza
tinggi bener 88 lantai ya buset 😭
Alexanderia
ceritanya bagus 👍👍
Syh.Mutiara
benar jugaa ya🤔 Dunia ini akan berubah seiring waktu
LOL #555
Satrya ,kalau udah kaya di Shanghai sana , ingat ya ,aku adikmu 🤣
LOL #555
Berarti nanti anak Satya fak bakal bisa cenayang ya?
Serena Khanza
siapa nih🤔 si meiling ya
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
karakter es selalu menjadi karakter favorit aku 💪
LOL #555
Wow ,bisa nerawang kayak dukun 🤣
LOL #555
Wow ,udah didukung segitunya malah direndahin? Dasar kacang lupa kulit!
Syh.Mutiara
gilir ada cowok tulus kek gitu malah digituin ya, memang mau jenis kelaminnya apa. kalo terlalu tulus akhirnya gak bagus biasanya. gak dihargain gitu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!