Dominic Vance bukan sekadar CEO; dia adalah monster korporat yang menghancurkan perusahaan demi olahraga. Kejam, paranoid, dan tak tersentuh.
Hanya satu orang yang berani menatap matanya tanpa gemetar: Harper Sloane, sekretaris eksekutifnya yang berhati dingin. Harper membereskan kekacauan Dominic, memegang semua rahasia gelapnya, dan menjadi satu-satunya wanita yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Namun, saat Harper mengajukan pengunduran diri untuk membalas dendam masa lalunya, Dominic tidak memecatnya. Dia mengunci pintu. Baginya, Harper bukan sekadar aset. Dia adalah obsesi.
"Kau bisa lari ke ujung dunia, Harper. Tapi aku akan membeli tanah tempatmu berpijak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Tanaman yang Malang
"Bapak bertanya saya kesurupan atau tidak?"
Suara Harper masih terdengar halus, tapi kali ini ada nada riang yang tidak wajar di sana. Dia tidak menjawab pertanyaan Dominic. Kakinya yang jenjang melangkah santai menuju meja samping, tempat nampan perak berisi teko kopi cadangan diletakkan.
Dominic mundur selangkah. Insting bisnisnya yang tajam mendadak memberitahu satu hal: bahaya. Wanita ini bukan Harper yang biasanya menunduk patuh sambil mencatat perintah bodohnya di tablet.
"Harper, letakkan teko itu," perintah Dominic, matanya menyipit curiga. "Kalau kau berani menyiramku dengan air panas itu, pengacaraku akan memastikan kau membusuk di penjara sampai tua."
Harper menoleh, alisnya terangkat pura-pura kaget.
"Menyiram Bapak? Ya ampun, saya tidak sekejam itu, Pak. Bapak kan aset berharga perusahaan. Kalau kulit Bapak melepuh, harga saham kita bisa turun," jawab Harper sambil mengangkat teko perak yang masih mengepulkan asap tipis itu.
"Lalu mau kau apakan benda itu?"
"Bapak bilang kopi ini sampah, kan? Karena suhunya delapan puluh sembilan derajat. Sampah harus dibuang pada tempatnya."
Harper berbalik badan. Di sudut ruangan, dekat jendela kaca raksasa yang menghadap pemandangan kota, berdiri sebuah pot keramik antik. Di dalamnya tumbuh pohon bonsai Pinus Thunbergii yang batangnya meliuk artistik. Itu bukan tanaman biasa. Dominic memenangkannya di lelang Tokyo seharga seratus lima puluh juta rupiah bulan lalu. Dia merawatnya lebih baik daripada dia merawat kesehatan mental karyawannya.
Mata Dominic membelalak lebar saat menyadari arah gerakan tangan Harper.
"Tunggu! JANGAN!" teriak Dominic. Dia melompat maju, tangannya terulur panik.
Terlambat.
Currrrrrr.
Cairan hitam pekat yang masih sangat panas itu meluncur deras dari mulut teko, langsung mengguyur akar dan tanah bonsai malang tersebut. Uap panas seketika mengepul, bercampur dengan aroma tanah basah dan kopi premium yang menyengat. Suara mendesis pelan terdengar, seolah akar-akar pohon kecil itu sedang menjerit kesakitan karena direbus hidup-hidup.
Dominic mematung di tempat. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Dia melihat bonsai kesayangannya—simbol ketenangan dan kesuksesannya—kini mandi kopi espresso. Daun-daun jarumnya yang hijau segar tampak layu seketika terkena uap panas.
Harper memiringkan teko sampai tetes terakhir, memastikan tidak ada sisa "sampah" yang tertinggal. Lalu dengan santai, dia meletakkan kembali teko kosong itu ke atas nampan dengan bunyi klontang yang nyaring.
"Nah, sudah bersih," kata Harper sambil menepuk tangannya pelan, seolah baru saja selesai menyapu debu.
"Kau..." suara Dominic tercekat di tenggorokan, terdengar seperti cicit tikus yang terinjak. Wajahnya berubah warna dari merah padam menjadi pucat pasi. Dia menatap pot bonsainya yang kini becek dan berwarna cokelat gelap. "Itu... itu Pinus Thunbergii seratus tahun..."
"Sekarang jadi Pinus Cappucino, Pak. Varian baru," potong Harper enteng. Dia tersenyum lagi, kali ini senyum sopan yang sangat menjengkelkan. "Mungkin kafeinnya bisa bikin dia tumbuh lebih cepat. Siapa tahu besok sudah jadi pohon beringin."
Dominic menatap sekretarisnya dengan tatapan horor. Dia ingin marah, ingin meledak, ingin memecat wanita ini sekarang juga. Tapi entah kenapa, lidahnya kelu. Otaknya short circuit. Tidak pernah ada orang yang berani menyentuh barang miliknya, apalagi merusaknya tepat di depan matanya. Keberanian Harper—atau kegilaannya—membuat sistem operasi di otak Dominic error.
"Kenapa Bapak diam saja?" tanya Harper polos. "Bukannya Bapak tadi bilang tidak mau meminum air sampah? Tanaman ini tidak banyak protes kok. Dia menerima apa adanya. Tidak seperti bayi raksasa yang rewel cuma karena suhu air."
"Keluar," bisik Dominic akhirnya. Suaranya bergetar menahan amarah yang meluap sampai ke ubun-ubun.
"Apa, Pak? Kurang jelas."
"KELUAR DARI RUANGANKU SEKARANG!" raung Dominic, suaranya menggelegar sampai membuat kaca jendela bergetar.
Harper tidak terkejut sama sekali. Dia mengangguk hormat, masih dengan wajah datar tanpa dosa.
"Baik, Pak. Permisi. Jangan lupa nanti siang ada jadwal makan. Bapak butuh tenaga buat marah-marah lagi."
Harper memutar tumitnya dan berjalan keluar dengan langkah tegap. Punggungnya lurus, kepalanya tegak. Dia tidak terlihat seperti karyawan yang baru saja melakukan vandalisme pada properti bosnya. Dia terlihat seperti ratu yang baru saja selesai memberi hukuman pada rakyat jelata.
Pintu ruangan tertutup perlahan.
Dominic jatuh terduduk di sofa kulitnya. Dia memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. Jantungnya berpacu gila-gilaan. Dia menatap bonsainya yang kini berbau seperti kedai kopi. Hancur. Semuanya hancur.
Namun, belum sempat Dominic menenangkan diri, suara gaduh terdengar dari luar ruangan. Dinding kaca ruangannya tidak kedap suara sepenuhnya, dan pintu penghubung ke meja sekretaris sedikit terbuka.
TAK! TAK! TAK! TAK!
Suara ketikan keyboard.
Tapi itu bukan suara mengetik biasa. Itu suara jari-jari yang menghantam tombol keyboard dengan kekuatan penuh, seolah setiap huruf adalah peluru yang ditembakkan dari senapan mesin. Temponya sangat cepat, agresif, dan penuh emosi.
TAK-TAK-TAK-TAK! ENTER! TAK-TAK-TAK!
Dominic menoleh ke arah pintu kaca. Dia bisa melihat siluet Harper duduk di mejanya. Bahu wanita itu tegang, tangannya bergerak secepat kilat di atas papan ketik. Suara berisik itu terus berlanjut, semakin lama semakin keras, mendominasi keheningan lantai eksekutif.
Apa yang sedang dia ketik? Surat wasiat? Laporan polisi? Atau mantra santet online?
Bunyi itu membuat Dominic merinding. Itu adalah bunyi perang.
Kalo emnk km tertarik dg Harper tggal ngomong baik2 gx perlu ngrendahin org lain ,,
Dominic kasih liburan dlu deh ,,
biar fresh jiwa dn raga ny ,,
gx usah jauh2 ,,
kirim k Amazon aj laa ,,
bikin rusuh trus soalny🤭🤭🤣🤣🤣