NovelToon NovelToon
Bayang Rembulan

Bayang Rembulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:787
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Di tengah kekacauan lima klan bela diri yang saling berebut pengaruh dan rahasia kuno, lahirlah sebuah organisasi bernama bayangan kegelapan. Mereka adalah sekelompok pembunuh bayaran yang dilatih untuk menjadi mesin kematian tanpa emosi, sering kali ditugaskan untuk menghabisi para petinggi klan yang dianggap mengganggu keseimbangan atau menyimpan kekuatan terlarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 - BAJA DAN ES

Gerbang utama Benteng Sayap Hitam adalah dinding baja setebal setengah meter yang dialiri energi listrik statis. Di atas tembok, meriam panah otomatis mulai membidik ke arah dua bayangan yang meluncur dari kegelapan jurang.

"Bocah, gerbang itu tidak akan bisa ditembus dengan belati kecilmu!" teriak Hanzo sambil mendarat di atas tonjolan batu tepat di bawah tembok benteng. Ia memutar pedang lenturnya, menciptakan pusaran baja untuk menangkis proyektil yang menghujani mereka.

Kaelan mendarat dengan tenang, uap dingin keluar dari sela-sela kakinya saat menyentuh permukaan logam yang panas. "Aku tidak butuh belati untuk menghancurkan benda mati."

Kaelan menempelkan kedua telapak tangannya ke permukaan gerbang baja. Ia memejamkan mata, membiarkan Domain Kesunyian mencari retakan mikroskopis di dalam struktur logam tersebut.

"Hanzo, alirkan energi getaranmu ke titik yang aku tandai," perintah Kaelan.

"Kau memerintahku? Menarik!" Hanzo terkekeh. Ia melompat tinggi, lalu menghantamkan ujung urumi miliknya ke titik merah yang ditunjuk Kaelan. Pada saat yang sama, Kaelan menyuntikkan Qi es murni ke dalam celah tersebut.

Teknik Gabungan: Pemuaian Beku Penghancur Langit.

Prinsipnya sederhana namun mematikan: Kaelan membekukan molekul logam hingga mencapai titik rapuh tertinggi, sementara Hanzo memberikan getaran frekuensi tinggi yang menghancurkan ikatan molekul tersebut.

KRAKKK!

Gerbang baja yang legendaris itu retak seperti porselen murahan. Ledakan fragmen logam melesat ke dalam, menghancurkan para penjaga yang berdiri di balik gerbang. Kaelan dan Hanzo masuk menembus debu dan uap, bergerak seperti dua badai yang berbeda arah namun memiliki satu pusat kehancuran.

"Kau ambil lantai atas, aku ambil ruang bawah tanah!" Hanzo berteriak sambil menebas seorang kapten penjaga hingga terbelah dua. "Ingat kesepakatan kita: kau nyawanya, aku kepalanya!"

Kaelan tidak menjawab. Ia sudah melesat menuju tangga spiral pusat. Setiap penjaga yang mencoba menghalanginya berakhir menjadi patung es sebelum sempat menarik pedang. Kecepatan Kaelan kini telah mencapai level di mana mata manusia biasa hanya bisa melihat kilatan rambut putih yang lewat.

Di aula tengah, ia dihadang oleh Pengawal Elit Sayap Hitam—empat prajurit yang mengenakan zirah mekanis yang didukung oleh tenaga uap kimia.

"Subjek 07, kau seharusnya tetap membusuk di laboratorium!" raung salah satu pengawal sambil mengayunkan palu gada raksasa.

Kaelan tidak menghindar. Ia melepaskan Sutra Rembulan: Tarian Seribu Pemotong.

Benang-benang perak itu kini tidak lagi transparan, melainkan berpendar biru gelap. Benang-benang itu melilit zirah mekanis para pengawal, menarik mereka saling beradu satu sama lain. Dengan satu hentakan jari, Kaelan mengalirkan energi dingin melalui benang tersebut, membekukan uap kimia di dalam zirah mereka hingga meledak dari dalam.

Kabut asap menutupi ruangan, namun Kaelan terus maju. Indra pendengarannya menangkap suara detak jantung Arkhon yang tidak stabil di lantai paling atas. Arkhon sedang mencoba mengaktifkan sistem penghancuran diri benteng untuk melenyapkan semua data.

"Kau tidak akan lari untuk kedua kalinya," bisik Kaelan.

Di saat yang sama, Hanzo di ruang bawah tanah berhasil memutus kabel saraf utama benteng, menghentikan hitungan mundur peledakan. "Satu hutang padaku, Rambut Putih!" teriak Hanzo melalui saluran ventilasi.

Kaelan menendang pintu ruang kendali utama. Di sana, Arkhon berdiri dengan tangan gemetar memegang pistol kimia, sementara di belakangnya, sebuah helikopter mekanis kecil sudah siap lepas landas dari balkon.

"Jangan mendekat! Jika aku mati, rahasia tentang siapa yang memerintahkan penculikanmu akan hilang selamanya!" Arkhon berteriak histeris.

Kaelan berhenti selangkah di depan moncong pistol. Tatapannya sedingin maut. "Aku tidak butuh kau bicara. Aku akan membacanya dari sisa-sisa ingatanmu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!