NovelToon NovelToon
Pengantin Genderuwo

Pengantin Genderuwo

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Dunia Lain / Suami Hantu
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

Mirasih gadis yatim piatu yang di tinggal orang tuanya karena kecelakaan, di adopsi Pamannya.Tapi di balik kebaikan semu pamanya,ternyata semua harta ayah ibu nya di ambil semua ,dia dijadikan pembantu,kerap di siksa dan di pukuli hingga di jadikan tumbal pesugihan nya kepada genderuwo.Hanya secercah harapan kepada Aditya yang membuatnya kuat dan sabar menghadapi semuanya.. Apakah Aditya jujur dan setia janjinya kepada Mirasih?Sampai kapanpah Mirasih menjadi pengantin Ki Ageng sang Genderuwo itu ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Emas yang berlumuran air mata

​Fajar di hari Rabu itu terasa sangat berbeda di rumah Paman Broto. Jika biasanya suasana pagi diwarnai dengan teriakan dan omelan, kali ini rumah itu dipenuhi dengan aura kemenangan yang ganjil. Matahari baru saja naik sepenggalah, namun Paman Broto sudah rapi dengan kemeja batiknya yang paling bagus—meskipun wajahnya masih babak belur, ia berjalan dengan dagu terangkat tinggi. Di kantong celananya, tersimpan bungkusan yang sangat berat, sebuah bungkusan yang sanggup membeli kembali harga dirinya di depan para rentenir.

​Sekitar pukul sembilan pagi, sebuah mobil Jeep yang sudah sangat dikenal berhenti di depan pagar. Pak Jono turun bersama anak buahnya, wajah mereka sudah siap untuk menagih janji atau melakukan kekerasan. Namun, sebelum Pak Jono sempat membuka mulut, Paman Broto sudah melangkah keluar ke teras dengan langkah yang mantap.

​"Ini yang kamu minta, Jono," ucap Paman Broto dingin. Ia melemparkan sebuah tas kecil ke atas meja kayu di teras.

​Pak Jono mengernyitkan dahi. Ia membuka tas itu dan seketika matanya membelalak. Bukan lembaran uang kertas yang ia temukan, melainkan kepingan koin emas murni dan beberapa batu mulia yang berkilauan tertimpa cahaya matahari. Ia mengambil satu keping, menggigitnya, lalu menatap Broto dengan pandangan tak percaya.

​"Ini... ini asli?" tanya Pak Jono gagap.

​"Tentu saja asli. Nilainya lebih dari seratus juta jika kau uangkan sekarang. Ambil enam puluh juta untuk hutangku, sisanya... anggap saja tips karena kamu sudah repot-repot datang ke rumah butut ini," sahut Paman Broto dengan nada sombong yang meluap-luap. Ia menyalakan rokok klobotnya, menghisapnya dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya ke arah Pak Jono.

​Pak Jono, yang biasanya garang, kini tampak tunduk. Ia buru-buru menutup tas itu. "Baik, Broto. Urusan kita selesai. Kamu memang hebat, entah dari mana kamu dapat harta sebanyak ini dalam semalam."

​"Itu bukan urusanmu. Sekarang, pergi dari sini!" perintah Broto.

​Setelah para rentenir itu pergi, kegembiraan meledak di dalam rumah. Bibi Sumi langsung keluar dari kamar sambil memakai kalung emas baru—satu-satunya perhiasan yang tersisa dari simpanan lama yang belum sempat terjual—ditambah beberapa perhiasan yang baru saja ia beli dari toko emas di pasar setelah menukar satu keping koin mahar semalam.

​"Pak! Ayo kita ke kota! Siska ingin beli baju baru, aku juga ingin beli peralatan dapur yang bagus. Kita tidak boleh terlihat miskin lagi!" seru Bibi Sumi dengan mata berbinar-binar.

​Siska keluar dengan dandanan menor. "Iya, Pak! Aku mau beli tas yang paling mahal. Aku mau pamer pada teman-temanku kalau kita sekarang kaya raya!"

​Mereka bertiga tertawa-tawa, sibuk menghitung sisa kepingan emas di meja makan. Mereka merencanakan renovasi rumah, membeli motor baru, dan mengadakan selamatan besar-besaran agar penduduk desa tahu bahwa keluarga Broto sudah kembali berjaya. Tidak ada satu pun dari mereka yang bertanya tentang Mirasih. Tidak ada satu pun yang menoleh ke arah kamar gudang di bagian belakang.

​Di sudut gelap gudang yang pengap itu, Mirasih berbaring meringkuk di atas dipan bambunya. Tubuhnya terasa remuk. Setiap inci kulitnya terasa panas dan nyeri, seolah-olah ada energi asing yang masih menjalar di dalam aliran darahnya. Lebam-lebam keunguan di paha dan lengannya tampak semakin jelas, membentuk pola-pola aneh yang tidak masuk akal.

​Mirasih menatap langit-langit gudang yang bocor dengan mata kosong. Air matanya sudah kering, menyisakan rasa perih di pelupuk mata. Di dalam benaknya, memori tentang semalam terputar seperti film horor yang tidak bisa ia hentikan. Rasa kasar tangan sang Genderuwo, suara erangannya, dan sensasi robek yang ia rasakan di tengah hutan larangan terus menghantuinya.

​Ia merasa sangat terhina. Ia merasa bukan lagi seorang manusia, melainkan hanya seonggok daging yang digunakan untuk membayar hutang judi pamannya.

​"Ibu... Bapak..." bisiknya dengan suara yang hampir hilang. "Kenapa kalian tinggalkan Mirasih sendiri? Kenapa kalian tidak ajak Mirasih ikut waktu kecelakaan itu?"

​Ia membayangkan wajah Ibunya yang lembut, mencium keningnya sebelum tidur. Ia teringat Bapak nya yang selalu menjaganya dengan penuh wibawa. Jika mereka masih ada, tidak akan ada mahluk ghaib maupun manusia rakus yang berani menyentuhnya.

​"Mirasih ingin mati saja, Bu... Mirasih tidak sanggup," isaknya pelan. Hatinya hancur saat menyadari bahwa setiap Selasa depan, penderitaan ini akan terulang lagi. Ia telah terikat kontrak abadi dengan kegelapan. Ia merasa jiwanya sudah ternoda, dan tidak ada air kembang manapun yang bisa membersihkan rasa kotor di dalam batinnya.

​Pikiran tentang Aditya pun membuatnya semakin menderita. Ia melihat pergelangan tangannya yang kosong—gelang tali hitam itu sudah hilang. Gelang itu adalah simbol harapannya, satu-satunya janjinya untuk tetap bertahan hidup. Kini, dengan hilangnya gelang itu, Mirasih merasa harapan itu juga telah musnah.

​Bagaimana aku bisa menatap wajah Aditya nanti? pikirnya pahit. Aku sudah menjadi istri mahluk hutan. Aku sudah tidak suci lagi. Aku sudah dikhianati oleh keluargaku sendiri.

​Sekitar tengah hari, suasana rumah menjadi sepi. Paman Broto, Bibi Sumi, dan Siska sudah berangkat ke kota dengan angkutan umum, berniat memborong barang-barang mewah. Sebelum pergi, Bibi Sumi sempat masuk ke dapur dan memasakkan sesuatu yang spesial untuk Mirasih.

​Bibi Sumi meletakkan sebuah piring berisi nasi putih pulen, ayam goreng paha, dan sambal terasi di atas meja makan. Ia bahkan menambahkan segelas susu hangat—sesuatu yang sangat jarang ada di rumah itu.

​"Mirasih! Nduk!" teriak Bibi Sumi dari ruang makan sebelum berangkat. "Makanannya sudah Bibi siapkan di meja! Makan yang banyak ya, jangan sampai sakit. Ingat, kamu harus tetap sehat dan cantik!"

​Bibi Sumi kemudian menyusul suami dan anaknya tanpa menunggu jawaban dari Mirasih. Baginya, menyediakan makanan enak adalah cara untuk menebus rasa bersalahnya, sekaligus memastikan "aset"-nya tetap terjaga kondisinya.

​Mirasih mendengar langkah kaki mereka menjauh, lalu suara pintu depan dikunci. Sunyi. Hanya ada suara detak jam dinding tua di ruang tengah yang terdengar sangat keras.

​Dengan susah payah, Mirasih bangkit dari dipannya. Tubuhnya bergetar saat ia mencoba berdiri. Ia berjalan pelan, menyeret kakinya menuju ruang makan. Aroma ayam goreng itu menusuk hidungnya, namun bukannya membuat lapar, aroma itu justru membuatnya ingin muntah.

​Ia berdiri di depan meja makan, menatap piring yang dipenuhi makanan enak itu. Ia tahu dari mana makanan ini berasal. Ini bukan dibeli dengan keringat yang jujur. Ayam goreng ini, nasi ini, susu ini—semuanya dibeli dengan "mahar" yang diberikan mahluk itu semalam. Setiap butir nasi yang ada di hadapannya adalah hasil dari air mata dan kehormatannya yang dirampas.

​Mirasih menatap makanan itu dengan rasa benci yang mendalam.

​"Aku tidak butuh makanan ini," desisnya.

​Ia tidak menyentuh piring itu sedikitpun. Ia justru merasa jijik melihatnya. Ia kembali berbalik, berjalan perlahan menuju kamarnya kembali. Perutnya mungkin terasa perih karena lapar, namun harga dirinya jauh lebih perih. Ia lebih memilih mati kelaparan daripada harus memakan hasil dari perbudakan jiwanya sendiri.

​Sesampainya di kamar, ia kembali meringkuk. Ia menatap jendela kecil di gudangnya. Di luar sana, langit sangat cerah, namun bagi Mirasih, dunia sudah gelap selamanya. Ia hanya bisa berdoa dalam diam, memohon pada Tuhan agar malam Selasa tidak pernah datang lagi, atau setidaknya, agar ajalnya datang lebih cepat sebelum mahluk itu kembali menjemput haknya.

​Mirasih memejamkan mata, memeluk lututnya erat-erat di tengah kesunyian rumah yang kini kaya raya, namun terasa seperti kuburan baginya.

1
☠ 🍒⃞⃟🦅 SULLY
kelamaan kamu mnjadi bodoh Mirasih ,
apa pasrah bgtu saja hidupmu
di permainankan paman bibi mu ??
sia sia pengorbanan orangtua mu selama hidup
bangkit donk
balas perbuatan busuk mereka
Halwah 4g: ashiapppppppppp kaa...lagi pasang kuda-kuda dia..masih bucin akut dulu 🤭
total 1 replies
☠ 🍒⃞⃟🦅 SULLY
hukuman yang seperti apa akan di terima Broto dan Sumi
manusia busukk
Asphia fia
mampir
Halwah 4g: trimksih kaa 😍
total 1 replies
Evi Anjani
mampir🥰
Halwah 4g: terima ksih kka cantikkkkkk 😍
total 1 replies
Amiera Syaqilla
pengantinnya seram tapi kok juga cantik banget sih😅
Halwah 4g: iya ka🤭 biar gek jlek2 bnget
total 1 replies
Bp. Juenk
sadis amat thor sama gendruwo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!