David Mendoza adalah pria paling menakutkan dan problematik di Sao Paulo, Brazil. Selain karena ia seorang Chief Executive Officer (CEO) perusahaan minyak dan gas terbesar kedua di negara itu, David merupakan ketua kartel kelas kakap. Sehingga membuatnya amat diwaspadai, baik di dunia bawah tanah maupun dalam pergulatan bisnis. Tidak ada yang berani menyentuhnya.
Sampai pada suatu hari, Laila Cakrawala yang merupakan seorang turis asal Indonesia, membuatnya terpana. Sejak saat itu, David terobsesi untuk mendapatkan Laila yang ternyata sudah menikah.
Tetapi, hubungan rumit itu jelas memancing banyak tantangan, baik soal perasaan maupun alur kehidupan mereka, meski sekalipun David berhasil menjerat Laila dengan kedok uang pinjaman sebesar lima ratus juta!
Akankah ini semua bakal berakhir bahagia? Atau malah, sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ws. Glo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(Episode 20) Bagaimana jika satu pelukan kecil saja?
Pukul sembilan tepat, ruang tamu rumah itu sudah berubah menjadi arena pertemuan penting.
David duduk tegap di sofa utama. Setelan birunya rapi tanpa cela, rambutnya tersisir sempurna. Sorot matanya tenang, tetapi ada ketegasan yang membuat siapa pun otomatis menjaga sikap.
Di seberangnya, seorang pria dengan kemeja bermotif abstrak warna pastel dan celana putih, tampak duduk kemayu. Ia menyilangkan kaki dengan gerakan halus, jemarinya lentik, cincin peraknya berkilau setiap kali tangannya bergerak.
"Suatu kehormatan besar bisa diundang di kediaman pria paling berpengaruh di Sao Paulo ini, wahai Tuan David Mendoza," ujar pria itu dengan nada dramatis, sedikit membungkukkan kepala.
David menatapnya sekilas, sudut bibirnya terangkat tipis. "Aku banyak mendengar dari orang-orang bahwa kau merupakan desainer paling berbakat di Brazil, Steve. Jadi, jangan kecewakan aku." Suaranya rendah dan tegas. "Buatlah istriku menjadi wanita paling cantik di Brazil, pada hari peresmian pernikahan kami nanti."
Steve menangkupkan kedua tangannya di dada, seolah tersentuh. "Tentu saja, Tuan Muda. Dalam waktu tiga hari menjelang hari-H, saya akan mengerahkan seluruh kemampuan saya untuk membuat Nyonya bersinar dengan gaun yang dikenakannya, ketika saat itu tiba."
Nada bicaranya meyakinkan, penuh percaya diri. Namun sebelum pembicaraan berlanjut, ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.
"Tapi ngomong-ngomong, istri Anda di mana, Tuan Mendoza?"
David tidak langsung menjawab. Ia hanya melebarkan senyum, lalu mengarahkan tatapannya ke arah tangga besar di sisi ruangan.
"Itu dia."
Langkah-langkah lembut terdengar dari lantai atas. Laila menuruni tangga dengan gaun rumah sederhana warna lilac. Rambut panjangnya terurai alami dan wajahnya berseri-seri walau tanpa riasan berlebihan. Tetapi justru itu yang membuatnya kelihatan segar dan bercahaya.
Steve membeku sepersekian detik.
"Selamat pagi," sapa Laila sopan, menghampiri mereka.
Steve spontan berdiri. Kedua tangannya terangkat sedikit, matanya berbinar.
"Que linda! Hermosa!" serunya dalam bahasa Portugis tentunya.
Laila tersentak sesaat, lalu tersenyum lebar. "Gracias (terima kasih)."
Laila pun duduk di sebelah David dengan anggun. Jarak mereka tidak terlalu dekat, tetapi cukup untuk membuat lengan mereka bersentuhan samar.
Tanpa basa-basi, Steve menyodorkan sebuah tablet ke meja. Layar menyala, menampilkan deretan desain gaun pengantin dan jas dengan berbagai model. Mulai dari yang megah penuh renda, hingga minimalis namun modern.
"Ini beberapa model yang sudah saya siapkan untuk dikenakan pada hari peresmian Anda berdua, Tuan dan Nyonya," jelas Steve dengan penuh gaya.
Laila melirik David. Tatapannya seolah meminta izin.
David mengangguk pelan. "Pilihlah yang kau suka."
Laila meraih tablet itu. Jemarinya menggulir layar perlahan. Beberapa desain nampak terlalu mencolok, adapun yang kentara berat karena banyak manik-maniknya. Laila ingin sesuatu yang sederhana, tetapi tetap berkelas.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan ringan. Steve menunggu dengan sabar. Sementara David senyam-senyum, memperhatikan wajah Laila yang terlihat serius. Entah mengapa, melihat Laila yang fokus seperti itu membuat dada David terasa hangat.
Akhirnya, Laila berhenti pada satu desain. Gaun putih dengan potongan simpel, garis leher lembut, tanpa hiasan berlebihan. Kesannya elegan, bersih, dan anggun. Di sampingnya, jas pria dengan warna senada berwarna putih juga kelihatan berkharisma, cocok bila dipakai oleh David yang memiliki wibawa kekayaan.
"Aku pilih ini," ucap Laila sambil menunjuk layar.
Steve menyeringai puas. "Pilihan yang bagus, Nyonya. Simpel tapi elegan. Sangat berkelas, sesuai dengan look kalian berdua."
David menatap desain itu, lalu kembali menatap Laila. "Seleramu boleh juga, sayangku. Gaun itu nampak cocok untukmu."
Laila menolehkan pandangannya cepat. Ia sedikit terkejut mendengar pujian itu. Sehingga membuat jantungnya berdegup lebih cepat, meski ia berusaha tetap tenang.
Steve sudah berdiri lagi, mengambil pita ukur dari tasnya. "Kalau begitu, mari kita ukur badan Anda terlebih dahulu, Nyonya."
Laila ikut berdiri.
Steve melangkah mendekat dengan profesional. Ia mulai dari bahu, lalu turun ke lengan. Semua berjalan normal sampai ia bersiap mengukur lingkar dada.
Tangan Steve terangkat. Namun sebelum pita ukur itu menyentuh bagian depan tubuh Laila, sebuah tangan besar mencengkeram pergelangan tangannya.
Suasana mendadak hening.
Steve terkejut. "Tuan?"
Laila membelalak. "David?"
Tatapan David berubah dingin. "Kenapa kau harus mengukur bagian itu?"
Steve berkedip beberapa kali. "Karena… itu bagian dari proses, Tuan. Sebelum membuat gaun ataupun jas, badan pemiliknya harus diukur dulu. Mulai dari lengan, bahu, dada, hingga pinggang. Kalau tidak, hasilnya takkan memuaskan. Bukankah Anda sendiri juga tahu itu?"
Telinga David terasa panas. Ia tahu hal tersebut merupakan prosedur. Ia paham. Tapi melihat pria lain berdiri begitu dekat dengan Laila, apalagi menyentuhnya walau untuk urusan profesional, tak tahu kenapa membuat darahnya mendidih.
Laila hanya terbengong. "Dia ini kenapa?" batinnya.
Dengan berat hati, David perlahan melepaskan tangan Steve. Namun sebelum benar-benar menarik tangannya, ia mendekatkan wajahnya sedikit.
"Tapi ingat. Jangan sampai tanganmu menyentuh kulit istriku sedikit pun," bisiknya dengan suara sinis, penuh tekanan.
Steve menelan ludah. "Baik, Tuan." Wajahnya sedikit pucat, tetapi ia tetap berusaha profesional. Dengan hati-hati, ia melanjutkan pengukuran, menjaga jarak seminimal mungkin, seolah pita ukur itu bisa menggigit jika terlalu dekat.
Laila tampak bingung. Situasinya agak tegang, tetapi ada sisi lucu kala melihat Steve yang tadinya percaya diri, kini bergerak kaku seperti robot rusak.
Setelah ukuran Laila selesai, giliran David. Anehnya, saat Steve mengukur tubuh David, pria itu justru santai.
"Lingkar dada… sempurna," gumam Steve kagum.
David hanya mengangkat alis. "Cepat."
Beberapa menit kemudian, Steve menutup bukunya. "Semua sudah selesai. Saya akan bekerja siang dan malam untuk hasil terbaik."
Ia membungkuk hormat. "Kalau begitu, saya permisi dulu."
David dan Laila mengantarnya sampai teras. Mobil Steve melaju pergi.
Belum lama mereka berdiri di sana, Leo muncul dari samping rumah. "Mari kita berangkat, Tuan."
David mengangguk. Ia memang harus ke kantor.
Laila hendak berbalik masuk ke dalam ketika tiba-tiba tangan David meraih pergelangan tangannya.
"Kau mau ke mana?"
"Ke dalam," jawab Laila polos.
David menyeringai tipis. Ia mengetuk pipinya sendiri dengan ujung jari. "Bagaimana kalau satu ciuman dulu sebelum suamimu ini berangkat kerja?"
Laila membeku. "Apa katamu??"
David memainkan alisnya, tengil. "Ayolah. Bagaimanapun, ciuman termasuk dalam bagian surat kontrak pernikahan kita."
"Memang ada begitu?" tanya Laila shock.
David tidak menjawab. Senyumannya makin melebar, jelas sekali ia hanya menggoda.
"Tidak mau," jawab Laila sambil membuang muka.
"Dasar! Dia ini benar David Mendoza si pria paling kejam di Sao Paulo itu, bukan sih? Kaya anak-anak saja," batin Laila menggerutu. Telinganya sudah memerah.
David tertawa pelan. Mendadak, ia sontak merentangkan tangan. "Kalau tidak mau cium, bagaimana jikalau sebuah pelukan kecil saja?"
Laila menoleh. Sorot mata David kali ini berbeda. Tidak tengil, melainkan lembut dan terkesan sedikit memohon.
"Dia benar-benar bersikeras, ya," batin Laila lagi. Ia maju selangkah. "Baiklah… hanya pelukan. Daripada dia tiba-tiba marah, lalu aku diapa-apain, kan jadi repot nantinya."
Hap.
Laila merengkuh tubuh David. Tubuh pria itu hangat dan kokoh. Kepalanya yang hanya setinggi dada David pun, bersandar di sana.
Detak jantung David terdengar jelas. Cepat dan kuat. Anehnya, Laila malah merasa nyaman.
David mengeratkan pelukannya. Tangannya mengusap lembut kepala Laila, jari-jarinya menyusuri helai rambut halus itu.
"Terima kasih, Laila," bisik David.
"Untuk apa?" gumam Laila pelan.
"Semuanya..."
Wajah Laila makin panas. Ia ingin melepas pelukan itu, tetapi David menahannya sedikit lebih lama.
Hingga akhirnya Laila mulai merasa sesak. "Dev… saya tidak bisa bernapas.”
"Oh." David segera mengendurkan pelukan. "Maaf."
Tetapi sebelum Laila benar-benar menjauh, sebuah kecupan lembut mendarat di keningnya.
Cuuupppp.
Singkat dan hangat.
"Aku berangkat dulu ya, kelinci kecilku…" ujar David ringan, lalu berbalik buru-buru menuju mobil. Seolah takut ditampar jika terlalu lama berdiri di situ.
Mobil melaju pergi.
Laila masih mematung di teras, tangan terangkat menyentuh keningnya.
"Apa-apaan dia ini..." gumam Laila pelan.
Ia ingin marah. Tapi sesuatu menahan dirinya untuk tidak bertindak demikian. Pipinya malah semakin merah.
"Dasar mesum," batinnya dengan wajah malu-malu. Detak jantungnya kian mengencang, seolah tidak dapat diajak kompromi lagi.
Di dalam mobil, David bersandar di kursinya. Ia menyentuh bibirnya sendiri, tersenyum puas.
"Tuan terlihat sangat bahagia," komentar Leo dari kursi depan.
David berdeham, mencoba kembali ke mode seriusnya. "Fokus menyetir saja."
Namun senyum tipis itu, tidak hilang sepanjang perjalanan.