Amira yang membutuhkan uang untuk operasi ibunya, terpaksa menyetujui permintaan Celine, untuk menjadi istri kedua suaminya, Dirga.
Celine memang lebih terobsesi dengan pekerjaan, dibandingkan rumah tangganya, dan ingin sepenuhnya melepas peran sebagai seorang istri demi mencapai puncak karir. Celine pun menjebak Dirga, agar mau menikahi Amira.
Seiring berjalannya waktu, Dirga dan Amira mulai timbul benih-benih cinta. Namun, di saat itu juga, Dirga mengetahui jika pernikahan tersebut hanyalah sebatas jebakan. Lantas, bagaimana kelanjutan hubungan mereka bertiga? Bisakah Amira meyakinkan Dirga jika perasaannya benar-benar tulus? Lalu, bagaimana dengan Celine? Apakah dia rela melepaskan Dirga sepenuhnya untuk Amira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Cantik
Amira refleks mendongak, jemarinya meremas pelan bahu Dirga, tak mengerti dengan apa yang Dirga maksud.
Belum sempat Amira menjawab, kecupan Dirga turun perlahan ke bawah. Mata Amira seketika terpejam, merasakan sensasi yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.
Setiap inci pergerakan Dirga terasa begitu penuh arti, bukan sekadar gairah, melainkan sebuah cara untuk mengatakan betapa dia memuja sosok di hadapannya. Amira memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan dirinya hanyut dalam arus emosi yang semakin dalam dan tak terbendung.
"Pak Dir-ga, ah ...," bisik Amira tertahan. Nama itu keluar bersamaan dengan hela napas yang berat.
Amira refleks mendongakkan kepala, memberikan akses lebih luas bagi Dirga untuk menjelajah. Tangan Amira yang semula hanya bersandar di bahu Dirga, kini meremas kain kemeja pria itu, mencari tumpuan karena rasa lemas yang tiba-tiba melanda persendiannya.
Kecupan Dirga tidak berhenti di sana. Dia memberikan tekanan lembut, tapi menuntut di sepanjang otot leher yang tegang, sebelum akhirnya turun semakin ke bawah, menuju tulang selangka.
Suasana ruangan itu kini hanya diisi oleh suara napas yang bersahutan dan gesekan halus pakaian mereka. Ada aroma maskulin kayu cendana dari tubuh Dirga yang bercampur dengan wangi vanila dari kulit Amira, menciptakan aroma yang memabukkan bagi keduanya.
Dirga berhenti sejenak, menatap mata Amira yang sayu karena luapan emosi. Dia menarik napas panjang, mencoba mengatur ritme jantungnya yang kian liar.
"Kita pindah ya!"
"Hah?"
Dengan kedua telapak tangan membingkai wajah Amira, Dirga menatap dalam ke netra wanita itu. Kemudian, tanpa menunggu jawaban, Dirga menyusupkan lengannya ke bawah lutut dan punggung Amira.
Dengan satu gerakan, dia mengangkat tubuh Amira ke dalam dekapannya. Amira refleks melingkarkan lengannya di leher Dirga, menyembunyikan wajahnya yang merona di ceruk bahu pria itu.
Koridor pendek menuju kamar Amira terasa lebih sunyi malam ini. Pintu kamar terbuka dengan dorongan pelan. Wangi lavender yang menenangkan, aroma khas Amira menyambut mereka di sana.
Dirga merebahkan Amira di atas kasur dengan sangat hati-hati. Sprei sutra yang dingin kontras dengan suhu tubuh mereka yang kian meningkat.
Saat Dirga ikut memposisikan dirinya di samping Amira, udara di sekitar mereka kembali memadat, sarat dengan emosi yang tak lagi bisa dibendung.
"Kamu cantik."
Suara Dirga rendah, hampir menyerupai bisikan parau yang menggetarkan udara.
Dia mengulurkan tangan, menyisihkan anak rambut yang menutupi kening Amira. Di bawah cahaya lampu tidur yang temaram, Amira tampak begitu cantik sekaligus rapuh. Di dalam kamar ini, tidak ada lagi jarak, tidak ada lagi rahasia. Hanya ada dua jiwa yang siap untuk saling memiliki sepenuhnya.
"Pak Dirga ...!"
Suara Amira terdengar parau, antara takut, tapi juga diselimuti hasrat yang sudah tak lagi terbendung.
Dirga yang mendengarnya, mengartikan sebagai rintihan itu sebagai permintaan. Dia akhirnya melepaskan pakaian Amira.
"Pak, jangan ...!"
Penolakan itu, tak lagi didengar Dirga yang sudah dipenuhi hasrat. Dia terus melucuti pakaian Amira, dan melepas pakaiannya sendiri.
Ketika tubuh mereka akhirnya bersentuhan tanpa penghalang, ada sengatan listrik yang merambat di setiap inci kulit yang bertemu. Dirga tidak lagi mampu menahan gejolak yang selama ini ia kunci rapat di balik dadanya.
Amira menarik napas tajam saat merasakan beban tubuh Dirga yang kokoh di atasnya. Segala keraguan menguap, digantikan oleh hasrat.
Tangan Dirga yang besar dan hangat menjelajahi setiap lekuk tubuh Amira dengan pemujaan yang dalam. Setiap usapannya meninggalkan jejak panas yang membuat Amira menggeliat pelan, kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Suara napas yang menderu kini berubah menjadi rintihan halus yang tertahan di tenggorokan.
Di tengah hembusan napas Dirga yang semakin berat di ceruk lehernya, Amira merasakan jantungnya berdegup hingga ke pangkal tenggorokan. Ada rasa takut yang samar, tapi rasa cintanya kepada pria di hadapannya jauh lebih besar, menelan segala keraguan yang tersisa.
Saat Dirga mulai bergerak lebih jauh, Amira merasakan tubuhnya menegang. Dia memejamkan mata rapat-rapat, jemarinya meremas kain sprei hingga buku-buku jarinya memutih.
Lalu, rasa itu datang. Sebuah sengatan tajam yang tiba-tiba, seolah ada sesuatu yang dipaksa terbuka di dalam dirinya. Amira refleks menarik napas panjang yang tertahan di dada, sebuah rintihan kecil yang perih lolos dari bibirnya yang bergetar.
"Ah, sakit banget."
Rasanya seolah tubuh sedang dipisahkan oleh sebilah pedang yang panas, sebuah robekan halus yang menandai berakhirnya kesucian yang dia miliki.
"Sshhh, nggak apa-apa. Aku di sini," bisik Dirga parau.
Amira menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, mencoba menyembunyikan rasa sakit yang membuat matanya seketika berkaca-kaca. Bulu matanya yang lentik kini basah oleh setetes air mata yang luruh di sudut matanya.
Rasa panas yang membakar perlahan mulai menyebar, menggantikan ketajaman rasa sakit yang tadi sempat membuatnya kehilangan napas.
Amira melingkarkan lengannya lebih erat ke leher Dirga, menyembunyikan wajahnya di bahu pria itu sambil menghirup aroma maskulin yang kini menjadi satu-satunya pelipur laranya.
Perlahan, otot-otot tubuhnya yang semula kaku mulai melunak. Dia menyerahkan seluruh bebannya, membiarkan Dirga membimbingnya melewati rasa sakit.
Bagi Amira, penyatuan ini, bukan sekadar pelepasan gairah, melainkan sebuah ledakan emosi yang selama ini terpendam. Ada rasa sakit yang manis, ada kelegaan yang luar biasa, dan ada cinta yang menyeruak di antara keringat yang membasahi kening mereka. Hingga akhirnya, leg*han panjang mengakhiri penyatuan tersebut.
Malam telah benar-benar larut, ketika percintaan itu berakhir. Hujan menyisakan suara rintik kecil di atap.
Dirga terbaring di sisi ranjang yang kini berantakan, napasnya teratur, pertanda dia sudah terlelap ke alam mimpi. Wajahnya terlihat lelah, bukan hanya karena fisik, tapi karena pergulatan yang sejak tadi menguasainya.
Sementara itu, Amira masih terjaga. Tubuhnya tertutup selimut hingga ke dada.
Langit-langit ruangan terasa asing. Sunyi terasa menekan. Beberapa jam lalu, dia masih memanggil lelaki itu dengan sebutan “Pak”. Masih menjaga jarak. Masih sadar batas.
Kini, semuanya berubah. Tangannya perlahan menyentuh bibirnya sendiri, mengingat kembali apa yang terjadi.
Sebuah garis telah terlewati, dan yang paling menyakitkan, dia tidak sepenuhnya menyesal.
Memang inilah yang harus Amira bayar, demi menyelamatkan ibunya. Dia harus mengorbankan diri untuk menjadi istri dari Dirga, dan tugas istri, salah satunya memberikan kebutuhan biologis pada suami.
Namun, Amira tak menyangka akan memberikan kesuciannya pada Dirga secepat ini. Bukan melalui sebuah ikatan sah terlebih dulu.
Air mata Amira jatuh tanpa suara. Dia tak tahu harus menyebut dirinya apa sekarang. Korban keadaan? Atau pelaku yang sadar memilih?
Di sampingnya, Dirga bergerak sedikit dalam tidurnya, tapi tak terbangun. Seolah setelah mendapatkan pelarian yang dia cari, tubuhnya menyerah pada rasa lelah.
"Aku harus gimana?"
kalau sakit ya pergi kedokter.
atau minum obat lah.
lakik di kasih orang...
kalau lakik mu dah nyaman sama yg lain. nanti kamu yang merasa paling tersakiti..
padahal kamu sendiri yang main api.
paling nanti celine bakal nyesel....trus dia balik nyalakan mira.. yang bilang pelakor lah.
awas jangan sampek kamu masok lubang yang kau galih sendiri...
..